Mas Adit dan Semua yang Ada Pada Lagu Nadin Amizah
Aku tidak tau bagaimana harus memulai tulisan ini tapi dari tulisan kacau ini ijinkan aku mengenalkan padamu (dengan sedikit proper, seperti janjiku yang sudah-sudah) tentang seorang laki-laki yang akhirnya berhasil meredam banyak apiku, lelaki yang kutemui secara random di titik tertidaksiapku membuka hati pada laki-laki.
Lelaki yang kesemua tingkahnya adalah pengejawantahan semua lirik pada lagu-lagu Nadin Amizah di Album Untuk Dunia Cinta dan Kotornya
Oke, mari kita mulai dengan track pertama “Jangan Ditelan”
Aku, sebelum bertemu dengan Mas Adit adalah apa-apa yang Nadin tulis di lagu ini “aku dan pahitku persetan siapa aku”. Tidak lolos CPNS dengan cara yang paling tidak terduga, tidak lolos beasiswa S3 (ya padahal ga maksimal berusaha mau ngarep apa), dan tiba-tiba harus berhenti terkoneksi dengan orang yang aku kira akan menjadi tujuku dengan banyak mimpi yang sempat kita rencanakan bersama* adalah a series of heartbreak yang membuatku berkali bertanya ini dunia bercandanya gila ya? Duniaku berhenti beberapa saat. Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana melanjutkan hari. Bahkan tiap pagi aku bangun rasanya entah harus kepura-puraan seperti apa lagi yang harus aku pakai. Tapi, kalau kata Bernadya, sialnya hidup harus terus berjalan so I just keep swimming keep swimming.
*If you happened to read this note, you are so childish, Bre :) Go get healed!
Di titik series of heartbreak itu, aku meyakini aku adalah sumber masalahnya, aku yang “penghancur seisi dunia”, aku tidak cukup untuk diusahakan — dan semua semua kebencian akanku dariku sendiri. Aku sempat berada pada titik aku tidak lagi mau menjalani hidup. Semua yang aku usahakan apapun bentuknya, hancur entah ke mana. Kacau, berantakan. Semuanya adalah aku sebabnya. Hancurku karenaku. Aku tidak bisa menghidupkan apapun.
Rayuan Perempuan Gila - Track 3
Lalu Mas Adit datang tanpa kurencanakan. Menawarkan banyak hal manis. Aku terjebak diantara perasaan mau dan tidak. Iya dan jangan. Entah berapakali pertanyaan “Mas Adit beneran sayang aku?” terlontar secara langsung atau berputar hanya di kepala. Entah berapa kali aku meyakinkan diriku dan bertanya ini akan sampai kapan? Mas Adit akan sayang aku sampai kapan? Apakah akan ada momen di mana aku bangun tidur dan Mas Adit tidak lagi menyayangiku sama seperti yang sudah-sudah? Tak pernah ada yang lama menungguku, kan?
Ah, akhirnya cinta yang tak menguras air mata. Lirik pertama pas dengerin (sembari nulis ini) aku nangis. Nangis kejer, I would say haha. Setelah banyak drama nangis-hancur-kacau-diabaikan-ditinggalkan-dibuang, kemudian ketemu Mas Adit yang mencintaiku seharus sehalusnya, yang mengusahakan banyak bentuk bahagiaku.
Ah, ternyata Tuhan baik sekali, masih memberiku kesempatan bertemu dengan orang sebaik Mas Adit yang berkali-kali membuatku terkejut karena ternyata setelah sekian banyak yang tidak tinggal, Mas Adit memilih tetap tinggal. Ternyata bahagia itu benar adanya ya?
Semua Aku Dirayakan - Track 5
Masih dengan keadaan kaget dan tidak menyangka, dengan aku dengan segudang trust issueku, aku akhirnya mulai percaya, di tengah banyak takut dan khawatirku ternyata benar ya kacau bisa luluh. Sama Mas Adit, tantrumku bahkan juga dirayakan. Clingyku di entertain. Aku yang selalu punya attachment issue ini ditenangkan berkali. Mas Adit selalu menggenggam apa yang kuragukan.
Dulu, aku menyakini bahwa badaiku tidak akan pernah reda, tapi nyatanya bersama Mas Adit aku mereda seperti semestinya. Tiada yang bilang badainya kan reda berhadapan dengan cahaya yang kerap membutakan, tiada yang bilang jawaban kan datang jauh dari seram yang selama ini kubayangkan.
Saat ketemu Mas Adit, aku adalah hancur yang paling hancur rasanya. Kacau yang paling kacau. Family problems hit me hard sejak circa 2022-2023, a series of heartbreak tadi, termasuk juga ketemu sama laki-laki childish yang ga pandai berkomunikasi wkwk, but again, sama Mas Adit yang telah hancur pelan-pelan dia kembalikan.
Sama Mas Adit, aku bisa jadi apa adanya aku. Jadi Wirda kecil yang never been loved properly bahkan oleh Bapaknya sendiri. Sama Mas Adit, Wirda kecil dipeluk dengan erat, disayang, dituruti maunya apa. Aku akhirnya menemukan orang yang memeluk raga kecilku yang menyayangi kecilku yang memeluk jiwa kecilku dan semua semua aku.
Di Akhir Perang - Track 7
Perang telah usai, aku bisa pulang?
Rasanya dari semua kejadian yang lalu lalu aku akhirnya paham dunia tidak menyakiti, Mas Adit panggil jahat yang menyelimuti sampai kutau ternyata dunia tidak lagi menyakiti.
Sama Mas Adit, aku bisa ga lagi pakai survival mode. Sama Mas Adit, aku bisa sepenuhnya mengandalkan Mas Adit :') aaaaa
Dulu aku berpikir tidak akan ada yang pernah hidup di tanganku. Dulu aku berpikir tidak akan pernah adalagi yang menerimaku sebagaimana aku yang banyak kacaunya, yang banyak lukanya, yang pecahannya sering kali melukai yang lain. Tapi, saat Mas Adit datang, tanganku yang berapi diciumnya tanpa banyak pikir, belum pernah aku menghidupkan sesuatu tapi di tanganku engkau tumbuh
Ternyata sebenarnya aku ga seindependent itu, kok. Aku sering kali tiba-tiba nangis atau ngeluh untuk hal-hal yang receh banget. Aku pikun, aku ngeselin, aku saat sama Mas Adit ngerasa jadi bocah tantrum paling tengil yang pernah aku temui. Tapi, sama Mas Adit, "siapapun aku, dia tangan yang terbuka"
Berpayung Tuhan - Track 9
To Mas Adit, if you happened to read this one, maka Mas, jalan panjang kita semoga menyenangkan!
Mas, ini rasanya terlalu awal yaaaa bilang gini, tapi aku mau kita bersama selama lama lama lama lamanya, biar kita jadi doa yang nyata, bermuara pada lapang yang indah~
Tawa & Nadin Amizah - Track 10 & 11
Dan selesai, track ini ditutup dengan semoga bahagia ceritanya, ditutup dengan kalimat “Gadis kecilku, lihat kamu banyak mimpimu sudah terwujud”
Jadi, Mas, mau mewujudkan banyak mimpi mu dan mimpiku bersama?
Aku takut. Takut sekali. Tapi, mari bersama mengusahakan hal baik kedepannya ya. I love you so much, Mas ❤️