Gemuruh langit kelabu tidak memudarkan keindahan kembang bunga sepatu
Gemuruh menderu. Diatas sana langit berwarna kelabu, nampaknya hujan akan turun sebentar lagi. Aku mengamati tumbuhan-tumbuhan yang ada di depan gedung pasca sarjana, begitu mereka menyebutnya. Ada tumbuhan dengan bunga berwarna merah, merah muda dan kuning. Ada juga tumbuhan yang tidak berbunga, warna hijau daunnya memenuhi hampir seluruh petak tumbuhan berada.
Aku melanjutkan langkah menuju perempatan. Aku berjalan dengan hati-hati, siap menyebrang. Jalanan ramai sore hari ini. Pikiranku agak kacau, akumulasi kebanyakan pikiran dan rasa cemburu. Keramaian jalan hanya membuatku semakin kesal. Aku terus berjalan hingga sampai di seberang. Aku berjalan dengan agak malas tapi cepat, aku hanya ingin segera sampai rumah. Kemudian aku memalingkan pandanganku ke kanan, aku mengamati lagi. Hanya ada pepohonan besar dengan daun yang hijau, tidak ada warna-warni bunga. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku menemukannya. Aku terbelalak sambil membuka mulutku lebar-lebar dan aku tersenyum, antara sadar dan tidak, aku tersenyum. Mungkin salah satu senyum paling bahagia yang pernah aku miliki. Aku tidak peduli orang-orang mungkin meganggapku orang aneh. Tidak sengaja aku menemukannya, berdiri dengan indah diantara warna hijau dedaunan. Warna kuning itu, bunga matahari.
Aku selalu senang dengan bunga matahari. Warna kuningnya cerah, membawa keceriaan. Namun kini, bukan hanya rasa bahagia tapi ada sedikit rasa terhimpit dalam dada. Mengingatkanku kepada suatu cerita. Lalu akhirnya, aku tertawa sendiri dalam hati dan melanjutkan perjalanan pulang. Aku sudah terbiasa melakukannya. Menertawakan kebodohanku sendiri. Biar saja, daripada ditertawakan orang lain. Aku terus berjalan ke depan sambil menengok ke kanan setiap beberapa langkah. Tidak ada pohon lain yang berbunga, selain pohon besar dengan bunga kecil berwarna kuning dan sesuatu yang menjuntai berwarna hijau. Adikku senang sekali makan itu. Aku rasa itu pohon petai cina.
Bukannya belok ke kiri melewati gang yang ada kedai bakso itu, aku memilih lurus. Pada jalan itu, aku melihat pohon lain yang memiliki bunga. Bunganya kecil, dan pohon itu berbuah. Buahnya pun kecil dengan warna merah ranum. Aku yakin sebagian besar orang pulau ini pernah memetik dan memakannya bersama-sama dengan teman waktu kecil. Di tempatku, buah itu disebut kersen, yah aku tidak tahu bagaimana pelafalannya sih. Kalau tidak, dia sering disalahartikan dengan buah ceri.
Aku terus berjalan dan sekali lagi aku memandangi langit kelabu. Semakin gelap saja. Aku berhenti untuk merasakan angin menampar-nampar kecil wajahku. Rasanya dingin. Tapi aku menikmatinya. Lalu, aku belok ke kiri melewati tukang bensin eceran. Tepat di sebelah kiri jalan, ada lagi pohon yang sangat kukenal. Pohon itu memiliki bunga kecil-kecil dan buah berwarna hijau sampai kuning berbentuk segi lima, seperti bintang. Aku tersenyum lagi, teringat pohon itu ada di depan rumahku dan masih berbuah hingga sekarang. Bosan, aku tarik ujung lengan baju kiriku dan melihat ke pergelangan tangan. Aku mendapati kulitku yang berwarna sawo matang. Oh ya, aku lupa memakai jam.
Aku kembali berjalan, sesekali menikmati benturan halus angin di wajahku. Lalu aku berbelok ke kanan dan berjalan lurus hingga ke ujung. Di ujung jalan itu ada sebidang tanah kosong dengan satu pohon besar yang memiliki bunga warna oranye. Tidak yakin, itu jenis pohon apa. Aku tidak berhenti, berbelok ke kiri, tidak lama ada belokan ke kanan. Aku terus berjalan.
Di jalanan ini, aku melihat tumbuhan merambat di pagar. Batangnya seperti kaktus tapi merambat. Aneh. Pohon itu memiliki bunga merah yang kecil-kecil. Aku tidak tahu itu pohon apa. Entah kenapa, aku mulai riang. Beberapa orang yang ku kenal menyapaku dan aku balik menyapa dengan senyuman terhangat. Melihatku berjalan kaki, teman-teman menawarkan untuk mengantarkan aku pulang. Tapi aku menolak karena sedang ingin mengamati lingkungan sekitarku. Dan aku melanjutkan perjalanan.
Perjalanan pulang kali ini terasa panjang. Aku baru menyadari, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik saat berjalan kaki. Aku menikmatinya. Aku menengadah, melihat langit yang masih mendung. Pelit sekali, hanya sedikit saja merintikkan bulir-bulir kesejukan kepada tanah dibawahnya. Dan aku masih menyimpan kembang sepatu merah muda itu dalam genggaman.