Refleksi Diri, Mengapa Aku Tidak Sakit Hati?
Masih teringat jelas pengalaman saya ketika di sekolah dasar hampir lebih dari 2 dekade lalu. Saat itu saya yang memang sejak kecil berbadan bongsor, agak tomboy, dan doyan makan ini sering sekali diejek "Gendut", "Si Atun" dan sebutan body shaming lainnya. Ketika mengingat momen itu sekarang, saya tidak merasakan hal negatif apa pun.
Lantas, saya bertanya, kenapa ya?
Padahal ejekan itu bisa saja saya persepsikan sebagai sebuah hal yang menyakitkan. Namun saya kembali berpikir, apa yang membuat saya tidak merasa sakit hati, ya?
Yang saya ingat, saat itu saya tetap berteman dengan teman-teman di sekolah. Ada kalanya kami tertawa bersama, ada kalanya kami bertengkar, ngambek-ngambekan, ada juga momen menyebalkan, ada momen menangis karena perkelahian, namun saya tetap menjalin relasi pertemanan dengan mereka. Hari ini berkelahi, besok kembali bermain bersama. Bahkan ejekan gendut dari teman-teman saat itu sekalipun tidak pernah dipersepsikan sebagai bullying oleh saya sendiri. Saya hanya menganggap itu kelakar anak-anak pada masanya.
Saya di hari ini, kembali berpikir. Kenapa saya tidak merasa sakit hati ya?
Belakangan saya menyadari, mungkin salah satu alasannya adalah karena saya tetap merasa memiliki suatu hal yang "berharga" dalam diri.
Saat SD dulu, walaupun saya gendut, tapi bisa dibilang saya siswa yang berprestasi. Saya mengamini, kalau ketika SD adalah masa keemasan saya di bidang akademik. Belajar masih tetap terasa menyenangkan. Membaca buku sejarah menjadi suatu hal yang menarik. Saat SD saya bisa mendapat nilai 10 sempurna, tanpa harus belajar. Masa emas yang tentunya tidak dapat terulang kembali di perjalanan studi setelahnya.
Jadi, walaupun saya diejek gendut, saya tetap merasa berharga dan mampu dengan bisa menjadi siswa yang berprestasi, menjadi tempat bertanya bagi teman-teman yang bingung akan pelajaran sekolah, disenangi guru, dan karena sifat saya yang tomboy membuat saya mudah akrab dengan teman laki-laki dan perempuan, di mana pada masa itu biasanya anak perempuan lebih sering bermain dengan sesama teman perempuan saja. Namun, saya merasa bisa berteman dengan siapa saja.
Saya juga ingat kalau di beberapa momen tertentu ketika ada teman yang mengejek, bercanda sampai mengganggu secara berlebihan, saya beranikan untuk melawan. Pernah suatu ketika ada teman sekelas yang saya pukul karena mengintip rok saya. Sampai-sampai anak lelaki itu yang menangis dan mengadu ke guru. Besok-besoknya kami tetap berteman dan no hurt feeling.
Saya rasa, memupuk perasaan keberhargaan diri itu menjadi hal yang penting. Ada kalanya saya bersyukur, saya tidak terlalu memakan hati ejekan teman-teman itu sehingga membuat saya merasa tidak berharga dan jelek. Kasarnya, kalau ada yang mengejek saya saat SD, saya suka melawan dengan : "emang aku gendut, tapi aku lebih pintar dari kamu". Hehe.
Jadi, saya memang mengamini diri saya gendut, tapi fakta kalau saya lebih berprestasi dalam akademik (salah satu privilege), menjadi nilai jual diri dan membuat diri saya tetap merasa berharga.
Hal ini menjadi renungan untuk saya sekarang. Terutama ketika sudah memiliki anak. Apa bekal yang saya bisa berikan pada anak saya kelak agar ia menjadi anak yang tangguh, namun tetap hangat dan pandai dalam berelasi. Mengingat, perubahan zaman dan generasi yang begitu kontras. Saya tidak bisa menyamakan periode kehidupan saya saat masih kecil dahulu, dan generasi anak saya di usia yang sama. Ada banyak hal yang berubah, ada banyak hal yang perlu disesuaikan. Namun menjadi catatan sebagai orang tua yang memiliki anak di generasi ini.
Tantangan saya juga para orang tua ke depan di generasi saat ini tentu akan berbeda.
Mungkin, bukan hanya soal mencipatakan lingkungan yang aman dan menjaga anak-anak kita bebas dari ejekan ataupun perundungan, tapi tentang membekali anak dengan rasa keberhargaan diri sehingga ia tetap bisa berdiri tegak di tengah dunia yang berubah.
Cimahi, 19 September 2025 | hanalzulfan












