-------------ā------------------
QLC adalah sebuah periode dalam hidup manusia, di mana pada fase tersebut banyak terdapat tantangan atau tuntutan dalam fungsi kehidupan yang bisa membuat cemas atau stres, QLC relevan dialami oleh individu yang berusia kisaran 20-35 tahunan. Sesuai dengan namanya, QLC biasa kita alami dalam usia krisis seperempat baya kita.
Mengapa pada usia tersebut rentan mengalami stres dan cemas sehingga menimbulkan QLC? Karena pada usia ini banyak fungsi atau aspek kehidupan yang dirasa menjadi sangat challenging, misalnya: kehidupan setelah lulus kuliah, pilihan dan tekanan di pekerjaan, perkara jodoh dan hubungan romantis dengan pasangan, serta tanggung jawab yang lebih besar sebagai seorang dewasa yang seutuhnya.
-----------------------
QLC dapat menjadi turning poin atau titik balik dalam hidup kita, apakah kita melihat masalah hidup sebagai sebuah ancaman atau tantangan. Pada usia ini, ada banyak tuntutan yang hadir sebagai gerbang kita menjadi seorang yang lebih dewasa, di mana harus dapat bertanggung jawab seutuhnya atas segala pilihan.
Masalah apa yang biasa dialami dalam QLC?
Menurut penelitian, 60% masalah yang dihadapi ketika QLC adalah terkait finansial. Hal ini sangat wajar karena pada usia seperempat baya ini kita memiliki tuntutan untuk dapat hidup lebih mandiri. Kemandirian finansial adalah hal yang sering menjadi alasan. Kita yang akan dan telah menyelesaikan bangku pendidikan, memiliki tuntutan untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, tidak lagi bergantung pada orang tua dalam hal finansial.
Masalah selanjutnya yang biasa dihadapi dalam QLC adalah perkara karir dan pekerjaan. Dream job, kadang tidak semudah yang dibayangkan dalam mendapatkannya. Bahkan yang sudah bekerja pun kerap kali mengeluh karena ternyata bidang yang digeluti tidak seusai harapan.
Perkara jodoh atau masalah relasi dengan pasangan pun acap kali membuat kita kebingungan. Siapa teman hidup yang akan mendampingi kita ke jenjang lebih serius? Untuk yang sudah punya pasangan pun, kadang menjadi pertanyaan, "apakah benar dia orang yang tepat menjadi pendampingku kelak?"
Belum lagi ketika semakin dewasa, circle pertemanan semakin mengecil. Merasa kesepian karena lingkaran pertemanan terbatas bisa jadi pemicu stres. Mungkin pada usia ini kita tidak punya banyak teman secara kuantitas, tapi bisa memperdalam hubungan yang lebih berkualitas dari circle yang ada. Kita juga gak bisa terlalu sering bergantung sama orang lain karena masing-masing tentu punya rutinitas dan kesibukan, tidak bisa selalu stand by untuk kita.
Siapa yang pernah mengalami?
----------------
Apa bedanya QLC dengan Later Life Crisis?
Later life crisis cenderung dialami ketika kita menyadari bahwa kita telah gagal mencapai goals atau tujuan dan rencana-rencana hidup; sedangkan QLC biasanya berakar dari permasalahan diri, di mana kita tidak punya goals atau rencana apapun dalam hidup, atau ketika tujuan hidup kita tidak realistis.
Jadi, coba cek kembali rencana hidupmu saat ini, apakah sudah tersusun dan terencana dalam langkah-langkah yang realistis dan bisa kamu capai dengan kemampuanmu?
Atau mimpi yang terlalu melangit sehingga sangat sulit kamu raih?
Kita bisa coba refleksikan dalam diri kita sendiri :)
---------------
Ada dalam fase QLC adalah hal yang wajar. Tapi apa yang membuat QLC sedemikian rupa menjadi pressure atau tekanan?
Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhinya:
1. Karena kita membandingkan diri dengan orang lain.
"Wah dia usia 25-an sudah punya usaha, gajinya gede, bisa punya mobil."
"Pacarnya dia cantik/ganteng. Relationship goals banget."
"Si dia lanjut kuliah ke luar negeri, dapet beasiswa lagi."
".....sedangkan aku masih gini-gini aja."
Apa tidak lelah membandingkan diri? Padahal hidup bukan ajang balapan. Masing-masing punya jalur dan waktu mekarnya sendiri, bukan?
2. Adanya tuntutan sosial
Kita memang hidup di negara dengan lingkungan yang sangat unik, di mana orang-orang bisa jadi terlalu 'peduli' (baca: merecoki dan julid) terhadap kondisi kita, sehingga sering kali bisa dianggap menekan.
"Harusnya kan usia segitu sudah mapan."
"Kok belum lulus sih?"
"Sudah kerja di mana?"
"Kapan nikah?"
Atau bisa juga kita yang terlalu baper dan sensitif, sehingga bisa menambah pikiran sendiri, padahal mungkin saja mereka cuma bertanya karena basa-basi.
3. Manajemen stres yang kurang efektif
Kalau ada problem atau masalah, biasanya apa yang kamu lakukan supaya merasa lebih baik? Menangis, nonton film yang disukai, lakukan hobi, atau mengurung diri? It's okay setiap orang memiliki caranya masing-masing. Merasa sedih, kecewa, ataupun marah adalah hal yang wajar.
Tapi untuk mengatasi masalah, kita juga perlu mengelola emosi secara tepat agar masalah tidak berlarut.
Jika stuck hanya pada satu cara, kita perlu mencoba cari cara lain untuk mengatasinya.
-------------
Quarter Life Crisis: You're not that special, karena semuanya juga mengalami. Bukan cuma kamu, semua orang pada usia ini sangat wajar mengalaminya. Hanya saja banyak yang mungkin kita tidak tahu, banyak juga yang menyimpan dalam diam. Tapi, mengenali sejauh mana kita 'mampu' dan tahu 'batasan' yang kita miliki juga penting. Sehingga bisa mengukur diri, kapan kita bisa atasi seorang diri, kapan kita perlu bantuan orang lain.
Manusia pada akhirnya gak bisa hidup sendiri.
Quarter life crisis ini bisa dianggap sebagai sebuah ancaman dan membahayakan, tapi bisa juga menjadi suatu kesempatan diri untuk bertumbuh dan berkembang. Bayangkan jika Ā hidup kalian selalu flat tanpa masalah, tentu tidak akan terdorong untuk upgrade diri. Masalah bukanlah untuk dihindari, tapi dihadapi, tentu untuk menghadapinya perlu cara-cara yang tepat.
Jadi apa yang bisa dilakukan untuk hadapi QLC?
1. Belajar hal baru dalam menyelesaikan masalah.
Belajar banyak hal dan cara baru untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Kalau satu cara yang kita lakukan mentok, coba cari cara lain. Mungkin ada cara-cara yang belum kita coba, jangan berhenti pada satu hal saja.
2. Cari resource di sekitar kita untuk bisa menghadapi tantangan hidup.
Berjejaring, brainstroming, speak up kalau memang kamu butuh bantuan sekitar. Ambil hal-hal baik yang ada di lingkunganmu. Jangan berhenti hanya di dirimu.
3. Cari kelebihan dalam diri untuk jadikan kekuatan hadapi tantangan.
Membandingkan diri dengan orang lain sering kali membuat kita selalu merasa 'kurang', sampai lupa kita padahal pernah melakukan hal baik atau memiliki kelebihan. Identifikasi apa sih kelebihan yang ada dalam dirimu. Jangan sampai hal baik yang ada dalam dirimu tertutup kabut gelap karena terlalu sering lihat rumput tetangga.
4. Buatlah rencana yang realisitis
Punya mimpi yang idealis itu baik, tapi perlu membumi agar kamu bisa petakan dalam rencana-rencana realistis yang rasional dalam mencapainya. Sesuaikan dengan kemampuan yang kamu punya. Buatlah skala prioritas.
5. Change mindset
Open your mind. Anggaplah ini sebagai tantangan hidup dan kesempatan untuk bertumbuh. Bukankah tidak semua harapanmu harus terjadi dan tidak semua yang terjadi adalah harapanmu?
6. Evaluasi diri
Kalau cara yang satu gagal, evaluasi apa yang kurang dan masih harus diperbaiki, baik dalam langkah yang diambil atau diri kita secara pribadi. Mungkin dengan demikian bisa membantu Ā kita lebih mengenal 'siapa kita' dan apa 'kelebihan yang kita miliki'.
-----------
Akhir kata,
Apakah kita membutuhkan QLC?
Tentu saja. Kita butuh masalah untuk bisa keluar dari zona nyaman, agar bertumbuh menjadi seorang pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab atas segala pilihannya. QLC adalah hal yang lumrah, bukan untuk dihindari tapi dihadapi.
QLC ini adalah sebuah kesempatan dan tantangan.
Dan untuk dapat keluar dari krisis, kita perlu mengambil tindakan, juga berani dalam mengambil risiko.
It's a normal process.
So, apakah Ā kita telah siap menghadapi quarter life crisis? :)