Update cerita PDKT dengan seseorang yang aku kira kamu.
Proses pendekatan kita ternyata tidak berjalan dengan lancar.
Aku sudah menyadarinya dari awal dan akupun sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya. Aku luaskan hatiku untuk menerima segala kemungkinan yang bisa jadi akan menyakitiku.
Kami tidak intens tanya-jawab sekalipun lewat chat. Aku pikir itu salah satu tanda bahwa dia tidak excited dengan perjodohan ini.
Setelah tahu beberapa fakta tentang dia, aku jadi tahu bahwa kita terlalu berbeda. Aku merasa kemungkinan untuk kita berjodoh sangat amat kecil.
Aku merasa sedih, karena ternyata dia bukan kamu.
Sedih karena peluangku untuk menikah dalam waktu dekat harus diundur lagi.
Sedih bukan karena aku ingin benar-benar segera menikah. Tapi sedih karena harus menunda kebahagiaan untuk keluargaku lewat pernikahanku.
Ternyata restu keluarga dari kedua belah pihak belum tentu jaminan untuk berjodoh.
Saat ini aku sedang menjalani masa pendekatan dengan seseorang, aku tidak tahu apakah dia itu kamu. Kami dekat lewat perjodohan antar keluarga.
Sudah lama tidak dekat dengan seorang laki-laki, rasanya canggung dan tidak nyaman, tapi tetap aku jalani karena itu salah satu bentuk usahaku untuk bisa menemukanmu.
Sejauh ini belum ada yang membuatku tertarik, rasanya apa yang dia miliki berbanding terbalik denganku. Sepertinya juga dia tidak tertarik denganku.
Belum ada yang menarik dari obrolan kami. Hanya basa-basi perkenalan. Meskipun obrolan kami garing, setiap kali berkirim pesan, aku mengontrol diriku sekuat mungkin agar tidak langsung membalasnya. Aku tidak ingin menjadi sosok yg terlalu excited, apalagi excited sendiri.
Aku berdoa, jika memang dia jodohku semoga Allah mudahkan hubungan kami, tapi jika bukan, semoga Allah segera beri petunjuk dan segera dijauhkan, Aamiin.
Dengan keadaan seperti ini, aku belum yakin untuk menikah :")
Semakin aku pikirkan semakin aku bertanya-tanya. . . .
Kenapa aku harus menikah?
Apakah boleh jika aku memilih untuk tidak menikah?
Semenjak install app itu, banyak sekali berseliweran tentang kriteria pasangan impian. Seperti apa pasangan yg greenflag, karakter yg harus dimiliki seorang pasangan, cara memperlakukan pasangan, dsb.
Banyak yang aku setujui karena memang hal-hal yg ditulis masih masuk akal menurutku. Tapi setiap ada postingan seperti itu, tidak sedikit yang mengingatkan di kolom komentar, untuk tidak menjadikan itu sebagai standar yg harus dipenuhi. Mungkin ini juga sebagai pengingat, bahwa tidak ada manusia dengan paket lengkap, yg dapat memenuhi semua kriteria itu. Sekaligus pengingat diri bahwa kitapun juga tidak sesempurna itu.
Dari sekian banyak postingan, ada pertanyaan menarik dan ini akan aku tanyakan kepadamu sebelum kita menikah.
"Adakah mimpi yg ingin kamu wujudkan dulu sebelum kita menikah?"
Bagiku ini penting, karena ketika kita sudah menikah, pertimbangan untuk mewujudkan mimpi kita masing-masing pasti akan berbeda.
Aku tidak ingin pernikahan kita menjadi penghalang kita dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Di sisi lain, aku juga ingin ketika kita menikah nanti kita juga merencanakan impian-impian yang akan kita wujudkan bersama. Impian-impian itu yang aku harap dapat membawa pernikahan kita bertumbuh ke arah yg baik.
Jadi, apa impian yang ingin kamu wujudkan sebelum kita menikah?
Selamat pagi, selamat bekerja. Semoga kerjaan lancar dan hari-harimu menyenangkan.
Ketemu libur semester lagi. Liburan memang selalu aku nantikan. Meskipun kadang jenuh, tapi aku bisa mengerjakan hal lain.
Pagi ini aku realisasikan keinginan untuk jalan pagi ke pasar. Sebelum kerja, dulu aku bisa tiap hari jalan pagi. Tapi ketika sudah masuk kerja, aku tidak punya waktu karena harus berangkat pagi pulang malam. Satu-satunya olahraga yg bisa aku sempatkan adalah stretching, haha itupun kalau aku tidak kalah dengan rasa malasku :"")
Salah satu ujian terberat bagiku adalah ujian keimanan. Aku selalu merasa baik-baik saja, tapi selalu merasa tidak tenang. Ibadah jadi seadanya dan sesempatnya.
Rasanya semakin jauh dari Allah
Semakin jauh
Semakin jauh
Satu persatu ibadah sunnah yang aku kerjakan berkurang bahkan menghilang entah kemana
Sholat diujung waktu
Baca Qur'an sesempatnya
Dsb.
Alhamdulillah punya rezeki yang lumayan (tidak kekurangan) tapi rasanya tetap tidak tenang.
Tiba-tiba jadi manusia yang boros, iri hati, dsb. Pujian menjadikanku sombong.
Astaghfirullah
Setelah aku renungkan, ternyata ketidaktenangan ini karena aku semakin jauh dari Allah
Tapi kenapa susah sekali untuk kembali ke "aku" yang dulu? Mendekat dengan Allah terasa sulit.
Excited sendiri itu melelahkan, tapi kenapa sulit sekali untuk aku berubah?
Aku selalu excited dalam segala hal. Dalam bercerita, berteman, dsb.
Ketika aku dan temanku merencanakan sesuatu, aku merasa aku yang paling excited. Memikirkan hampir setiap waktu. Tapi temanku terlihat tidak seperti itu. Sepertinya aku berelebihan, pikirku.
Setelah aku ingat-ingat, saat aku menceritakan sesuatu, aku terlihat menggebu-gebu, sampai kata-kata yang aku susun selalu berantakan. Padahal orang yang aku ajak bercerita ekspresinya biasa saja. Sedih tapi . . . . Sepertinya aku saja yang berlebihan.
Melalahkan ya. . .
Kadang aku berusaha untuk menahan diri, menjadi orang yang biasa-biasa saja. Tapi sulit.
Aku harap saat kita bertemu nanti, kita sama-sama excited. Karena sendiri itu melelahkan.
Edit:
Sepertinya untuk saling excited dalam segala hal juga tidak mungkin, karena kita orang yang berbeda, 2 orang yang punya selera berbeda :")
Akhir-akhir ini aku sedang memimpikan banyak hal, salah satunya tentang travelling. Sepertinya menyenangkan, meskipun sedikit menakutkan.
Setelah aku cari tahu, ternyata untuk bisa travelling butuh banyak persiapan selain biaya.
Selain Mekah-Madinah, kalau ada kesempatan, aku ingin sekali pergi ke Jepang. Tinggal di sana untuk sementara waktu juga jadi impianku. Apakah aku bisa?
Selagi mimpi ini gratis, aku akan terus bermimpi dan menjadikan mimpi-mimpi ini salah satu tujuan yang ingin aku capai.
Bagaimana denganmu? Adakah negara yang ingin sekali kamu kunjungi?
Aku sendiri bukan pencinta kopi, hanya penikmat. Aku tidak banyak tahu tentang kopi, tapi aku suka menikmati berbagai minuman yang ada unsur kopinya. Salah satunya caramel macchiato.
Caramel macchiato jadi minuman favoritku semenjak munculnya berbagai macam coffe shop. Sudah coba beberapa jenis minuman yang lain, tapi berujung CM lagi CM lagi.
Sementara ini aku suka CM dari Point coffee. Rasa kopinya lebih kuat dibanding CM dari coffe shop lain. Selain itu juga mudah carinya, bisa sekalian belanja di Indomaret.
Pernah coba CM dari Tomoro rasanya lebih kaya permen Kopiko 😂. CM dari Belikopi juga lumayan, cuma lebih creamy.
Kalau kamu suka minum kopi, kamu suka kopi yang seperti apa? Kalau tidak, minuman seperti apa yang kamu suka?
Aku harap kita bisa coffee date suatu saat nanti. Nggak harus di cafe, di rumahpun sepertinya menyenangkan 😁
Apa kamu suka mendengarkan musik? Lagu seperti apa yang kamu suka?
Akhir-akhir ini aku sering mendengarkan playlist Wave to Earth. Meskipun lagunya terkadang membuat sedih pendengar, aku tetap suka.
Aku sedang tidak menjalani kisah-kisah di lagu mereka. Tapi rasanya kesedihan dan kebahagiaan yang ada di lagu itu tersampaikan dengan baik ke penikmatnya.
#funfact
Ini beberapa musisi yang sering ada di playlistku:
1. Wave to Earth
2. Keshi
3. Day6
4. Yahya
5. Rex Orange County
Apakah diantara mereka ada yang masuk di playlistmu?
Aku penasaran. Bagaimana jadinya kalau kita tidak sefrekuensi dalam selera musik? Apakah kita tetap bisa saling menikmati selera musik masing-masing?
Aku merasa dikejar-kejar waktu perihal menikah. Padahal aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah siap menikah?
Semakin belajar, semakin banyak tahu, semakin banyak pula yang aku khawatirkan. Apakah kamu juga begitu?
Usiaku terus bertambah, begitupun usia orang-orang yang aku sayangi. Pernikahanku begitu dinanti. Akupun juga terkadang menantikannya. Aku takut satu persatu orang yg aku sayangi pergi lebih dulu. Padahal aku sendiri tidak tahu, bisa jadi aku yang lebih dulu pergi.
Membayangkan kematian begitu menakutkan. Bagaimana kalau ternyata kematian lebih dulu menjemputku?
Sebuah nasihat, dalam menanti jodoh yang belum pasti saja banyak yang harus kita persiapkan. Tapi kenapa kematian yang lebih pasti datangnya tidak pernah kita persiapkan?
Kalau ternyata kematian itu datang padaku lebih dulu. Semoga orang-orang yang aku tinggalkan lebih cepat pulih, karena kehidupan mereka harus terus berjalan.
Kalau aku pergi lebih dulu, berarti tidak ada kesempatan untuk kita bertemu di dunia. Tapi aku harap, Allah mempertemukan kita di surganya kelak, Aamiin.
Aku kira menemukanmu itu hal yang mudah. Dulu aku berangan-angan untuk menikah diusia 23 tahun. Tapi nyatanya, sampai diusia 27 tahun ini kita belum juga bertemu. Apalagi menikah.
Akhir bulan kemarin (September) aku memberanikan diri untuk menyapa orang yang aku kira kamu. Aku kira itu akan menjadi awal kisah kita. Tapi nyatanya, dia bukan kamu.
Aku menyapanya sebagai bentuk usaha dalam menemukanmu. Agar dia tau aku ada. Juga, agar kelak aku tidak menyesal jika mengetahui dia sudah bersama orang lain.
Dia adalah orang yang aku jadikan pelarian ketika aku dan teman-temanku asik membicarakan soal jodoh.
Kita tidak saling kenal, hanya beberapa kali bertemu saat kuliah. Kalau ditanya apa yang membuatku kagum dengan dia aku juga bingung.
Butuh keberanian bertahun-tahun hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyapanya. Perasaan senang seolah perut penuh kupu-kupu muncul ketika dengan cepat ia membalas pesanku.
Tapi belum ada 1 jam (sepertinya) perasaan itu berganti dengan kekecewaan, mengetahui dia yang ternyata tidak sendiri lagi. Tidak seperti informasi yang aku dapat dari teman-temannya.
Rasa kecewa dan malu menghantui hari-hariku. Aku malu karena dengan percaya diri menyapanya. Tapi setelah beberapa hari rasa sedih dan malu itu menjadi perasaan lega, karena akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa mungkin dia memang bukan jodohku.
Kalau aku tidak mengirim pesan dan menanyakan statusnya, sampai sekarang mungkin aku akan berharap dia jadi jodohku.
Allah memang sebaik-baiknya Penjaga.
Apakah kamu tau? Aku selalu berdoa, minta untuk dilindungi dari hal-hal bahkan niatan yg buruk. Lalu dengan mudahnya Allah mengabulkan.
Orang yang aku sapa itu tidak ditakdirkan untukku. Sehingga dengan cepatnya Allah pudarkan rasa suka ini, agar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Maha baik Allah dalam menjagaku. Semoga Allah juga menjagamu seperti Allah menjagaku.