Jika ditanya di umur segini soal cita-cita dan passion, hmm agak malu mengatakan bahwa cita-cita belum kesampaian. Passion juga jika "ingin" dikerjakan ya dikerjakan, jika tidak, maka kembali ke rutinitas mencari sebongkah berlian dan ridha Allah.
Jujur saya iri melihat orang-orang yang bisa menemukan bonus dari passion yang mereka kerjakan, dan akhirnya menjadi pekerjaan. Pasti menyenangkan mengerjakan sesuatu yang kita senangi, dapet duit lagi! Wah, bonus tak terkira tentunya.
Tapi saya bersyukur saat ini masih diberi kesempatan oleh Allaah untuk "berbakti" pada ummat.
Yah, saya dulu pernah berjanji, jika saya sembuh dari penyakit saya maka 60persen dari waktu yang saya punya akan saya berikan untuk ummat. Yah, ditengah keputus asaan saat itu mungkin ini hal yang mudah, pikir saya. Dan sekarang, ketika Allah mengabulkan doa-doa saya maka saya pun harus menepati janji saya, meskipun di pertengahan jalan menjadi sesuatu yang berat dan membosankan.
Umur yang tidak lagi muda ini sekarang tengah "berbahagia" dengan janji yang dibuatnya sendiri.
Saya aktif di kegiatan sosial untuk perempuan muda, dari berbagai bidang seperti dakwah, kesehatan, ekonomi, semua saya bantu jalankan. Allah memberi amanah untuk saya sebagai ketua departemen dakwah di Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang. Nasyiah itu sendiri adalah kumpulan perempuan muda dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Saya juga sebagai koordinator kegiatan posyandu remaja yang diadakan satu bulan sekali di 5 kecamatan di Kota Malang. Posyandu kami melibatkan praktisi kesehatan, psikolog, ahli gizi, juga mubaligh dan mubalighat. Semuanya adalah volunteer, alias relawan, tentunya tidak dibayar.
Saat ini saya juga bekerja sebagai penyuluh narkoba dan HIV/AIDS di lingkungan Kementerian Agama. "Terperangkap" nya saya disini membuat saya ingin sekolah lagi, mendalami ilmu agama agar pekerjaan saya menjadi lebih mudah. Tapi kadang juga ingin segera keluar ketika nanti kontrak kerja sudah habis. Dilema.
Meskipun sempat belajar biologi selama 4 tahun, belajar bahasa arab dan studi Islam selama 2 tahun, namun saya masih merasa kurang. Jadi bentuk pekerjaan saya saat ini bisa dibilang setengah-setengah. Saya menjalaninya seperti air mengalir saja meskipun jauh dari passion saya sendiri. Sedih ya? Ah ngga juga, justru disini saya mempunya motivasi dan semangat sendiri untuk melanjutkan studi islam saya.
Sekarangpun saya mengikuti short course sekolah bisnis. Ingin membangun kembali bisnis saya yang sempat gagal dua tahun yang lalu. Modal nekat aja lah, semua yang bisa dikerjakan saat ini harus segera dikerjakan.
Hal-hal menyenangkan dari semua keseharian saya diatas, baik sebagai pekerja, sebagai aktivis, juga sebagai pembelajar adalah ; saya disibukkan dengan hal-hal bermanfaat dan mengenal banyak karakteristik orang. Selain itu juga saya belajar berorganisasi dan belajar lebih sabar memahami orang yang berhadapan dengan saya. Meskipun terkadang sifat asli "galak" nya keluar. Hehe..
Hal-hal bahagia tentu diikuti dengan hal-hal tidak mengenakkan atau bahkan menyedihkan. Itu sudah hukum alam. Kadang ada orang yang memanfaatkan keseniorannya untuk menyuruh saya mengambil bagian dari pekerjaannya. Satu dua kali saya bantu, tapi seterusnya alhamdulillah saya bisa menolaknya meskipun menjadikan saya obyek "bahan pembicaraan" di kantor. But, i dont care, karena ada waktu untuk bekerja profesional, bukan kerja bakti kayak kata si ais adiknya Lintang soal orang-orang yang menyuruh kita mengerjakan sesuatu tanpa imbalan. Semena-mena.
Kadang ada juga orang-orang dalam organisasi yang susah untuk diajak bekerja sama, akhirnya jadi "kerja bakti" beneran. Event besar, yang mengerjakan hanya 5 atau 6 orang. Selebihnya hanya numpang nama dalam daftar kepanitiaan. Itu hal yang lumrah sih dalam organisasi, kan emang ngga dibayar. Tapi, ketika saya lelah hal itu menjadi hal yang menyedihkan bagi saya. Akhirnya baper, merasa sendirian, dan sebagainya, meskipun akhirnya juga ditolong Allaah dengan bantuan-bantuan tak terduga sehingga event bisa berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Ah, banyak sekali liku-liku dalam berorganisasi, namanya juga banyak kepala, sehingga saya pun harus mampu menyesuaikan diri. Ini menjadi pelajaran berharga untuk saya, disinilah saya banyak ditempa. Belajar berbicara didepan orang banyak, belajar membuat timeline pekerjaan, belajar memanage waktu, pekerjaan juga sumber daya. Saya yang mulanya minder atas kemampuan diri saya, berkat organisasi ini saya lebih pede dengan apa yang saya punya saat ini.
Menurut saya ilmu adalah pilar pokok yang harus saya punya ketika berhadapan dengan berbagai macam jenis karakter orang. Ada saatnya saya berbicara soal agama ketika saya menjadi ketua departemen dakwah. Ada saatnya saya berbicara soal managemen organisasi ketika saya berada dalam sebuah forum rapat. Ada saatnya saya berbicara soal kesehatan remaja atau apapun itu tentang ilmu hayat ketika memang diperlukan baik dalam pekerjaan, organisasi dan ketika saya jadi "buruh" koreksi ujian mahasiswanya kakak saya. Lumayan buat nambah tabungan.. Hahaha
Ilmu tidak hanya soal sesuatu yang kita pelajari di lembaga formal atau nonformal, tapi ilmu seringkali saya dapat dari lingkungan sekitar saya. Bagaimana kita pandai "menempatkan diri" agar orang-orang di sekitar kita menjadi nyaman saat bersama kita. Atau hal hal lain yang dapat kita pelajari dari sabarnya abang gojek, dari keteguhan pak becak, dan lain-lain. Intinya setiap kejadian yang kita alami pasti Allah simpan hikmah untuk kita pelajari.
Begitulah hidup saya bergulir begitu saja. Jauh dari rencana dan cita-cita masa kecil. Meskipun demikian, saya bersyukur Allah memilih jalan ini untuk saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah stres karena kegagalan di masa lalu, atau yang lebih menakutkan lagi, berbelok ke arah "kiri" mengikuti hawa nafsu dan bisikan setan sehingga waktu yang saya habiskan hingga saat ini menjadi tidak ada manfaatnya sama sekali.
Akhirnya saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Zat yang Maha Pengatur, Maha Membolak balikkan hati, Zat Maha Agung yang mengatur hidup manusia sedemikian rupa hingga tidak ada satupun didalamnya yang terlewat dari sebuah hikmah.
Meskipun jauh dari cita-cita masa kecil dan remaja, tapi saya yakin, takdir yang saya jalani saat ini adalah jalan terbaik yang dipilih Allaah untuk saya. Soal passion dan impian, toh saya bisa melalukannya di waktu luang, dan kelak menjadikannya passion yang menghasilkan, aamiin. Insyaa Allaah.
Jadi tidak perlu menyesal atas hidup yang kita jalani sekarang, ini pilihan kita, pasti Allah juga simpan hikmah yang besar seperti yang saya rasakan saat ini, dan ke depannya insya Allah, pasti Allah sedang siapkan hadiah terbaik untuk kita.
Tulisan ini adalah catatan bagi saya sendiri untuk selalu bersyukur. Catatan bagi saya sendiri untuk selalu mengingat janji yang pernah saya buat. Juga, untuk berbagi pengalaman~ semoga mencerahkan.
#challenge14 #pengenjadibaik