Hilang Arah #3 - “Menggugat Sang Pencipta”
ketika kemampuan melebihi keinginan akan ada sebuah rasa bahagia dari lubuk hati yang terdalam seolah apapun yang diharapkan sudah tercipta, terlebih ketika mengetahui jika nantinya di masa depan kita akan tau bahwa orang yang kita pandang waktu membuka mata pertama kali adalah orang yang kita harap-harapkan saat ini. maka, dengan dalih bahwa “Sang Pencipta Maha Adil dan Maha Penyayang”, aku menggugat Sang Pencipta agar aku mendapatkan apa yang aku minta.
doa-doapun aku lantunkan kepada Sang Pencipta. aku berdialog kepada-Nya, mengutarakan segala keinginanku sementara aku menuntut agar Dia membalas dialog-Nya dengan catatan takdir yang sesuai dengan apa yang aku inginkan. sama halnya aku mendikte Sang Pencipta agar menulis catatan takdir seperti skenario yang aku lantunkan.
hari demi hari, hujan demi hujan, serta kemarau demi kemarau terus berlalu, Sang Pencipta tidak juga mengabulkan apa yang aku pinta. aku meminta agar cepat disegerakannya aku dengan seseorang yang aku cinta saat ini, seseorang yang aku harap akan menjadi orang yang dimana aku melihatnya pertama kali di pagi hari ketika aku membuka mata. ku sebut namanya terus menerus ditiap doaku, seolah dia akan menjadi yang terbaik nantinya ketika aku bersamanya.
aku mendikte Sang Pencipta.
puluhan purnama telah terlewat, bukan pengkabulan doa yang di dapat justru kemampuan makin tersendat. aku terjatuh di pelupuk mataku sendiri, air mata mengguyur deras badanku. lempeng bumi bergeser. bukan gempa tektonik yang terasa, malah getaran hati yang meretakan isi kepala, pusing bukan main, terjatuh aku karena menelan pahitan rasa bergantung untuk berharap kepada keinginan seperti apa yang aku harapkan. rimpuh kaki ini menahan beban yang sudah tidak tertahan, aku hilang arah bagaikan Qois yang menjadi linglung ketika tidak mendapatkan restu bersama dengan Layla.
aku menyalahkan Sang Pencipta. karenanya aku hampir hilang akal karena cinta.












