10 Bulan 18 Hari-ku (Juni, 2016)
“My life has been better, since the day i found you.”
Sudah satu bulan ini aku bahagia bersamanya. Ia memberikan waktunya untukku. Bukan waktu luang, namun seluruh waktunya. Hampir tiap detik yang aku jalani, selalu ada dirinya. Biarpun aku belum mengerti betul bagaimana menjalani hubungan ini dengan baik, namun ia selalu meyakinkan. Ia selalu bisa membuatku yakin dengan perasaanku sendiri. Sebab, aku merasa telah menjadi orang paling tega, karena telah merebutnya dari tangan orang lain. Aku takut tidak bisa lebih baik dari orang – orang sebelumnya yang pernah juga mencintainya. Berani mendapatkan hatinya, berarti aku harus berani juga bertanggung jawab atas perasaan dan kebahagiaannya. Tidak pernah sedikitpun terpikir dalam benakku, hubungan seperti apa yang aku dan dia ciptakan nanti. Akankah ada tujuannya? Ada banyak sekali pertanyaan dalam benakku perihal hubungan aku dengannya. Jujur, aku takut karma menghampiri diriku karena pernah merebutnya dari orang lain. Dan aku takut melukai orang lain atas hubungan ini.
Mencintainya terasa begitu mudah. Cinta jatuh begitu saja, tanpa harus aku berusaha keras. Dia bisa menjadi apapun yang aku inginkan bahkan butuhkan. Dia bisa membuatku menjadi pendengar yang baik dan juga penikmat senyumnya. Aku bahagia bila ia tersenyum. Apapun akan aku lakukan untuk senyumnya. Sebagaimana dirinya yang bisa membuat hidupku menjadi lebih baik. Oleh karena itu, aku tidak pernah ingin melewatkan waktuku sedikitpun untuk bersamanya. Semua terasa ringan, bila ia ada disisi. Hadirnya begitu menguatkan, peluknya begitu menenangkan. Sampai aku pun benar – benar baru merasakan bagaimana mencintai seseorang. Sungguh berbeda dengan apa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Ia menunjukkan padaku, bahwa cinta sesungguhnya bukan menuntut menjadi yang terbaik, namun menuntun menjadi lebih baik.
Sejak ia ada, aku tak peduli ada berapa banyak bintang di langit. Karena aku sudah meyakini satu dan itu dirinya. Sejak ia ada, aku tak butuh lagi sebuah peta untuk menemukan kebahagiaan. Sebab aku menyadari, bahagiaku ada pada senyum kecil dan gelak tawanya. Sejak ia ada, aku pun bisa berdamai dengan sepi dan tak lagi gelisah bila sendiri. Semua itu karena hadirnya dia disisi.
Sejak ia ada, sejak aku menemukannya, aku berhenti mencari.
“Dunia tidak perlu tahu, mengapa dan bagaimana bisa aku mencintaimu sedalam ini. Sebab untukku, kamu sudah lebih dari cukup jika hanya ada dalam duniaku saja.”
Mungkin ini semua salah, bahkan rasa yang aku miliki adalah rasa yang salah. Namun entah kenapa, semuanya menjadi benar karena itu adalah dia. Apa ada rasa cinta yang lebih baik dari bahagia dan tenang bila didekatnya? Aku menutup telinga ketika dunia mulai menyalahkan perasaanku padanya. Aku menutup mata, ketika dunia memperlihatkan bahwa yang aku jalani dengannya adalah hubungan yang salah. Aku dan dia adalah dua kepala yang sama – sama keras. Cinta tetap menjadi alasan mengapa kita bisa bertahan. Cinta masih memenangkan segalanya.
Dalam hidup ini, kamu akan sadar tentang apa itu cinta, bila ada banyak mulut berucap dirinya tak baik, namun hati selalu terbalik. Kamu akan menerima segala kurangnya. Sekurang – kurang kekurangan yang ada pada dirinya. Seperti dirinya dalam hidupku. Ia adalah pilihanku dan aku bertanggung jawab atas apa yang aku pilih. Bagaimanapun dirinya, sebisa mungkin aku akan menerimanya. Sekalipun ada banyak yang berkata ia pandai menyakiti hati, namun apa daya jika ia sudah berada di dalam hati.
Kini aku hanya dapat bersyukur, karena Tuhan telah menghadirkan dirinya dalam hidupku. Aku lupa bagaimana rasa sakit yang aku alami sebelum bertemu dengannya. Aku tak ingat bagaimana rapuhnya hatiku sebelum aku menyayanginya. Aku mencintainya, amat sangat cinta padanya.
Memang betul, dunia ini panggung sandiwara. Selalu ada penonton yang menunggu kisah cintamu berakhir, kemudian mereka bertepuk tangan. Namun percayalah, selama kamu bisa memerankan dengan baik, penonton bukanlah lagi hal terpenting, melainkan cerita cinta dalam kisahmu sendiri. Yang aku tahu, aku hanya butuh menjadi diriku sendiri untuk mencintainya. Dan ia cukup menjadi dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang aku cintai.