Tiap kali aku kangen aku cuma harus mengingat kembali bagaimana rasanya “ tidak diinginkan”.
Monterey Bay Aquarium
Game of Thrones Daily
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Not today Justin

roma★
todays bird

if i look back, i am lost
Mike Driver
tumblr dot com
RMH
Fai_Ryy

blake kathryn
The Bowery Presents

gracie abrams
NASA
art blog(derogatory)

titsay

Jimmy Eat World
$LAYYYTER
Cosmic Funnies

seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
seen from Italy

seen from Iraq

seen from South Korea
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from South Korea

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
@hastyraasya
Tiap kali aku kangen aku cuma harus mengingat kembali bagaimana rasanya “ tidak diinginkan”.
Cerita kemarin berakhir tidak nyaman karena selalu melahirkan prasangka dan duga
Tapi yang aku tahu adalah yang aku dengar dan dapatkan saat itu
Dia bilang kehilangan dirinya sendiri selama proses ini, padahal tidak ada yang meminta dia untuk berubah menjadi orang lain, adapun hubungan yang baik seharusnya bisa membuat kita merasa ingin tumbuh lebih baik.
Mari buat kesimpulan sederhana hes just not into you
Dia tidak mengusakah untuk sekedar memperbaiki perkataan atau perbuatan yang menyakiti dan hanya memvalidasi perasaannya sendiri.
Than hes just not into you
Setiap argumentasi selalu berakhir dengan tanggapan “ terserah mau mikir apa” alih-alih mencoba sama-sama untuk mencari jalan keluar
Than hes just not into you
Dia tidak mencarimu, dia tidak merasa bersalah, dia menganggap baru keluar dari kekangan dan merasa damai, dia tidak memilihmu, atau meminta maaf atas perlakuannya.
Dia hanya ingin menunjukan kerapuhannya tanpa mau bertanggungjawab atas perbuatannya yang menyakiti.
Hes just not into you
Dia tidak peduli aku hidup atau mati, sehat atau sakit ada atau tidak ada lalu kenapa aku harus masih terus peduli dan khawatir?
Aku benar benar tidak paham pada titik perasaanku sekarang.
Rasa penasaran masih menghantui, tapi entah apa yang sebenarnya aku inginkan.
Ternyata selalu menyakitkan ketika kita adalah orang yang bisa dibuang kapan saja. Memang ternyata pada siapapun kita tidak boleh berharap.
Tapi bukankah hal yang wajar ketika kita mulai memutuskan untuk jatuh cinta. Perasaan ingin dicintai, dikasihi, disayangi juga dihargai.
Tapi ada titik yang membuatku sadar, bahwasanya hubungan yang mulai aku bangun tidak mewujudkan komitmen, dan tanggung jawab.
Aku rasa jatuh bangunnya perasaan, speeri lelah marah, gelisah adalah warna kehidupan dan tidak bersifat selamanya.
Sekalipun mereka menghampiri tak serta merta mengutuk watak juga selalu membenarkan siapa kita dikala lelah. Tapi reaksi yang sama, tentang pengabaian, adalah keputusan yang jelas dilakukan.
Percakapan yang tidak ada tujuan, atau sekedar bertanya balik keadaan seseorang yang bertanya, percakapan dua arah terjadi ketika akhirnya kita mempertanyakan kedudukan kita. Sisanya dia biarkan semua terjadi.
Tidak ada penyesalan, tidak ada pertanyaan, tidak da usaha mempertahankan bahkan memperbaiki.
Lalu untuk apa kita berdiri sendiri ?
Hal Lain dalam Kesetaraan
Dalam konteks 'kesetaraan' mencari pasangan hidup, selain hal yang fundamental, pastikan masing-masing pihak berada dalam kesetaraan untuk saling berjuang—berjuang dan diperjuangkan. Tidak melulu harus dibuktikan dengan sesuatu yang besar, megah dan menawan. Cukup ada bukti kesungguhan bahwa ia adalah orang yang terus berusaha, menghargai batasan, berjuang dengan cara benar, maupun menjaga dan nenyiapkan diri dengan sebaik mungkin.
Meskipun hasilnya bukan sesuatu yang besar dari kacamata kebanyakan orang, namun kegigihannya untuk berusaha itu menandakan bahwa diri kita layak diperjuangkan, layak untuk dijadikan partner seumur hidup. Maka dalam hal ini, bukan pada output hari ini, melainkan outcome—sesuatu yang akan memiliki dampak dan manfaat jangka panjang.
Oleh karena itu, jika dalam proses yang (barangkali) kamu lalui terasa melelahkan, seolah dari pihakmu yang merasa berjuang sendiri, maka cek ulang kembali dimana letak salahnya—apakah perasaan tersebut bisa divalidasi, atau sebatas perasaan yang berbasis keraguan semu yang menjad ciri khas sebelum akad terjadi.
Di fase inilah, masing-masing kita berada pada fase krusial. Sebuah fase yang menuntut adanya kedewasaan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan-keputusan genting. Berlindung dan minta selalu petunjuk dari-Nya. Semoga ikhtiar baik senantiasa hadir, walapun baru sebatas angan di dalam hati dan kepala.
Yeah, of course it's only my random thought. Might delete later if it gets weird, but letting it sit for now 😃
Beberapa hari lalu merasa sangat sensitif dan mempertanyakan lagi ego dalam diri.
Kenapa aku merasa tidak nyaman hanya mendengar saran dari orang yang selalu menunjukan rasa ketidaksukaannya terhadapku?
Setelah ditinjau ulang ternyata itu respon yang wajar.. tubuhku merasa terancam karena dianggap mengganggu kebebasan bertindak.
Disisi lain pesan yang sampai menjadi pesan implisit yang merendahkan. Pesan yang merendahkan dan menganggap kita tidak mampu, kurang bijaksana,atau sedang melakukan kesalahan. Dan ya hal ini sangat melukai harga diri.
Diungkit pula kebaikan yang mereka perbuat, membuatku mempertanyakan pergeseran hubungan menjadi transaksional yang tidak selesai.
Guilt tripping atau manipulasi emosional yang tujuannya seringkali agar kita merasa memiliki kewajiban moral untuk sekedar menuruti saran.
Sikap yang melanggar batasan yang menempatkan hierarki yang terus berkelanjutan, dan ini bukan pertama kalinya tapi polanya sama.
Lagi ngumpulin dopamine ada aja yang nyuruh belajar 🙃
Bertemanlah dengan orang yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lahir dan batin
Aku sakit hati
Tapi aku tahu ini dimulai dari harapanku.
Bolehkah aku memaki bahkan mengutuk manusia yang berpoles malaikat itu?
Siapa sangka kalau sayapnya menutupi sisi gelapnya.
Aku diam dan berhenti berharap ketika kenyataan selalu memberi jawaban atas apa yang aku pertanyakan, Tuhan selalu memberikan apa yang aku ingin dan butuhkan, perasaan sakit ini sebenarnya anugerah dan jawaban atas mata yang terbatas.
Kita selalu menilai manusia dengan pengetahuan yang kita punya. semua informasi baik dilihat dan didengar kita punya batasnya, sehingga pertunjukan lain yang disuguhkan, selalu bisa memberi tahu akal apa yang sebenarnya jauh dari bayangan kita.
Baik saja tidak cukup. Bahkan batasanku tidak memberi ruang untuk orang yang menyakitiku meminta maaf. Apa yang mereka lakukan, mereka lakukan dengan sadar, hubungan khilaf dan niat terselubung tak menjadi alasan untuk selalu memberi ruang pada mereka yang mempermainkan.
Batinku hanya berbicara “ setiap kali kamu mempertanyakan keputusan yang kamu ambil baik atau tidak, aku harap kamu menyesalinya seumur hidupmu”
Setiap kali kamu melihat wanitamu, kamu akan tahu bahwa kamu menyakiti wanita lain.
Setiap kali kamu mendapatkan kebaikan, kamu akan ingat bahwa kamu telah membuang kebaikan yang lebih besar.
Attachment, Negosiasi, Integrasi
Dari sekian banyak konflik yang gue alami ketika berurusan dengan orang lain, gue jadi paham bahwa bekerja bersama orang lain itu memang akan mengekspose segala sisi buruk dalam diri kita wkwk. Sisi egoisnya, sisi tidak mau mendengarkan, kemelekatan, rasa takut yang nggak rasional dan banyak lagi. Makanya muamalah memang jadi salah satu jalur mengenal orang lain.
Ada hal menarik yang juga gue dapat dari konflik. Banyak konflik yang awalnya gue kira konflik antar manusia:
"Gue kok nggak nyaman ya sama dia? Sepertinya dia memang jahat"
"Gue kok nggak suka ya sama kritiknya dia? Sepertinya dia memang sengaja nyerang gue"
....lalu gue belajar memeriksa akar segala perasaan yang tidak nyaman. Turns out banyak konflik-konflik yang gue alami tuh dipicu ego dan kemelekatan (attachment) yang tidak sehat terhadap sesuatu.
Attachment jarang terlihat besar dan dramatis. Ia sering hadir dalam bentuk yang ketenangan dan ketekunan yang rasional. Kalau nggak tertrigger nggak kelihatan. Tapi begitu tertrigger, kita sadar bahwa ada banyak hal yang kita genggam terlalu berat. Entah itu ide, arah, peran, dan banyak hal yang lain. Ketika hal tersebut diusik oleh orang lain, kita ikut terasa terguncang.
Attachment yang sehat memberi kita energi. Ia membuat kita bisa konsisten dan disiplin menjalankan sesuatu. Tanpa attachment, kita mungkin tidak punya daya juang. Tetapi attachment juga membawa beban. Ketika kita melekat terlalu dalam terhadap satu hal, maka perbedaan perspektif tentang hal tersebut jadi terasa ancaman. Bahkan koreksi dari orang lain seperti serangan. Dan kegagalan kecil bisa berkembang menjadi kekalahan pribadi yang traumatis.
Contoh konkretnya apa?
Gue ngedesain program sampai lembur malam-malam. Lalu ketika orang lain mengkritik, maka respon reflek pertama pasti membuktikan kualitas program kita. Meyakinkan biar program kita diterima. Bukan mendengarkan kritik dengan tenang.
Gue ga nyuruh meragukan diri sendiri atau sampai second guessing ya. Tapi ada bedanya orang yang mendengar untuk mendengar atau mendengar untuk menjawab ~XD Nah yang mendengar untuk menjawab ini seringkali akarnya attachment yang ga sadar. Yang bikin kita "orang ini nyerang ide baruku" sehingga kita menjadi bias dan tidak bisa memahami bahwa hal baru ya memang biasanya diragukan dulu. Apalagi kalo resourcenya dikit.
Pernah juga gue mengalami perasaan:
"Kok kalo gue achieve sesuatu, gue nggak dipuji ya? si xyz sering dipuji padahal ga setinggi gue. Si xyz vokal banget dan suaranya keras. Apa gue ngikutin dia aja biar didengerin"
kemudian perasaan tersebut berkembang:
"Apa gue iri ke xyz?"
Gue istighfar wkwkwk. Ini perasaan macam apaaa. Udah umur 35 baru mengalami perasaan semacam ini.
Negosiasi: Percakapan yang Tidak Terdengar
Suara hati kita seringkali memang suara yang paling jujur. Tapi kejujuran itu tidak sama dengan fakta wkwk. Memori manusia itu hasil rekonstruksi otak. Hampir bisa dipastikan bercampur dengan emosi. Itulah kenapa saat kita sebel sama orang, otak seringkali mengambil perspektif yang jelek-jelek tentang orang tersebut.
Again ini obrolan bukan buat meragukan diri sendiri yaaaa. Lebih mengajak untuk punya jeda saat nemu problem. Lanjutan suara hati gue yang tadi:
"Apakah Dea iri dengan xyz?"
"Apakah gue insecure sama xyz?"
..... atau gue sebenernya cuma jenuh dan merasa dunia gue terlalu kecil? gue sendiripun di posisi ga bisa mengendalikan respon orang lain terhadap sesuatu. Masak iya gue bilang ke semua orang:
"Eh kamu harus menghargai pencapaianku"
Gue pun meninggalkan percakapan ini sambil banyak istighfar. Sampai suatu hari gue sibuk kerjaan lain yang bikin gue happy dan gue lupa sama rasa nggak nyaman perkara achievement yang ga dipuji tadi.
Di titik ini gue jadi paham bahwa gue sebenernya nggak iri wkwk. Gue cuma terlalu menempelkan kampus ke identitas. Sejak itu, gue belajar bahwa kerjaan ya memang kerjaan aja. Bukan sesuatu yang perlu kita bawa sampai rumah, sampai hari libur, sampai memakan hidup kita. Biar dunia kita lebih luas.
Ini cuma contoh kasus sederhana aja. Di luar itu masih banyak lagi. Contohnya pas rapat di satu forum yang hirarkis. Mau serasional apapun argumen kita, arah respon forum akan selalu sama. Nggak akan mendengarkan kita. Gue yang dulu mikir:
"Apa gue perlu jadi orang yang kuat dulu ya?"
Sampai sekarang paham bahwa setiap tempat punya tipe pembicaraan sendiri dan punya porsi alokasi energi sendiri. Ga perlu terlalu attach dengan perdebatan. Alokasikan energi secukupnya saja.
Saat gue melewati banyak sekali gesekan, sebelum arguing keluar, ternyata ada banyak negosiasi di dalam yang perlu kita lewati. Negosiasi ini sunyi. Ia muncul dalam bentuk pertanyaan kecil: Apakah ini perlu dibela? Apakah ini tentang nilai atau tentang harga diri? Jika hasilnya tidak sesuai, apakah aku tetap utuh?
Negosiasi bukan tentang mengalah. Ia tentang memeriksa kemelekatan. Kadang kita sadar bahwa yang kita pertahankan bukan hal mendasar. Kadang kita justru semakin yakin bahwa ini memang prinsip.
Negosiasi membuat kita tidak langsung reaktif. Ia memberi jarak antara emosi dan tindakan. Tanpa negosiasi, attachment berubah menjadi impuls yang membuat kita selalu reaktif.
Integrasi: Melepas Tanpa Menghapus
Setelah proses negosiasi, biasanya ada proses integrasi. Kadang integrasi itu nampak seperti netral dan plin-plan. Atau mungkin tidak tegas wkwk. Saat muda, kita mungkin suka ketegasan. Tapi semakin berumur, ternyata yang kita butuhkan adalah keluasan sudut pandang dan kemampuan memegang kontradiksi dengan tenang.
Lantas integrasi itu apa?
Integrasi adalah kemampuan untuk tetap memegang nilai tanpa menggenggamnya terlalu keras.
Kita bisa berkata: “Aku tetap percaya ini penting.” Tapi di saat yang sama, kita bisa cukup sadar untuk mengambil sikap: “Aku tidak perlu memaksakan hasilnya.”
Integrasi membuat kita bisa menerima bahwa kita bisa benar, tanpa harus menang. Kita bisa kalah, tanpa kehilangan harga diri. Kita bisa terluka, tanpa menjadi pahit. Jangan sampai disalahpahami bahwa integrasi itu menghapus emosi. Tidak. Emosi tetap ada. Attachment tetap terasa. Tetapi ia tidak lagi mengendalikan keputusan. Karena proses negosiasi sebelumnya membantu kita memberi jarak antara emosi dan masalah sehingga ada proses regulasi di dalamnya
Ruang yang Lebih Luas
Ketika attachment dikenali dan negosiasi dilakukan dengan jujur, awalnya memang terasa sakit wkwk. Tapi setelah semua gejolak emosinya reda dan proses integrasi selesai, ruang batin menjadi lebih luas. Kita tidak lagi perlu membela semua hal. Kita tidak lagi merasa setiap perbedaan adalah ujian eksistensi. Dan dari ruang itu, kita bisa bergerak lebih ringan.
Mungkin kedewasaan bukan tentang tidak lagi melekat. Tetapi tentang mampu melihat keterikatan kita, bernegosiasi dengannya, lalu memilih hidup dengan tenang.
Dan di dalam ketenangan itu, kita tetap manusia biasa. Punya emosi, punya kehendak, dan punya keterikatan. Tapi tidak lagi dikendalikan.
Barangkali Kamu Butuhkan
Judul tulisannya demikian sebab memang mungkin tulisan ini akan menemukanmu dan mungkin kamu membutuhkannya. "Nasihat Untukmu yang Sedang Mencari Pendamping Hidup" Sudah lama tidak menulis ini dan tulisan ini muncul sebab kemarin ada yang bertanya, mungkin biar tidak mengulang, kutulis saja. Sebab pembahasan seperti ini, mungkin sekali akan menemui setiap orang. Dan membahasnya dalam obrolan sehari-hari, mungkin rasanya menggelikan atau mungkin malu untuk ditanyakan.
Nasihat tentang hal ini pun banyak sekali bertebaran di luar sana, tulisan ini pun sebatas melengkapi, dibumbui dengan pengalaman pribadi yang mungkin tidak bisa dijadikan standar umum.
Salah satu hal yang kupercayai dalam hidup adalah tidak semua permasalahan hidup itu pemecahannya selalu linear. Sebagai seorang muslim, aku menyimpan nilai itu dalam diri dan menjadi sebuah keyakinan yang kuat.
Pemecahan linear itu seperti kalau kamu lapar, maka solusinya haus. Kalau ngantuk, ya solusinya tidur. Non-linear, kamu pasti juga belajar kalau kamu ingin sekali menikah tapi belum takdirnya, solusinya justru puasa.
Tapi ada sebuah skenario besar yang kuhikmahi saat itu, apakah benar bahwa kalau aku sangat ingin menikah dan waktu itu nyari pasangan hidup kok susah banget, solusinya ya berusaha kenalan ke sana kemari, atau bagi sebagian orang lain - tebar CV? Hal itu pernah kulakukan karena aku berpikir cara linear dari permasalahanku mencari pasangan hidup yang sesuai kriteria ya dengan terus mencari dengan berkenalan ke sana sini.
Hingga akhirnya aku menemukan satu cara, bisa jadi cara kita menemukan pasangan hidup yang baik dan sesuai kriteria justru dengan nganterin ibu ke pasar atau bantu beres-beres rumah. Atau bisa jadi, mijitin bapak yang kecapekan pulang kerja. Atau bisa jadi, bagi yang telah lama merantau, ya sering-sering pulang ke rumah untuk lebih banyak ngobrol sama orang tua. Bagi yang punya rezeki berlebih, menyenangkan ortu dengan pergi umroh bareng misal.
Waktu itu, satu tahun setengah aku melakukan cara itu. Dan berakhir pada tiba-tiba (tentu saja sebenarnya ini skenario Allah) kok ketemu dan jarak antara aku mengatakan niat ke pernikahan cuma 3 bulan.
Metode non-linear untuk memecahkan masalah pun saat ini kupakai dalam berbagai macam hal. Bisa jadi kesulitan kita dalam bekerja, solusinya ya mendengarkan cerita orang lain. Bisa jadi solusinya justru membelanjakan sesuatu yang disukai sama pasangan.
Kebingungan dan kekhawatiran kita atas masa depan, bisa jadi solusiya ya sering-sering nyambung silaturahmi ke berbagai orang. Atau bahkan mengirim hadiah untuk teman-teman kita. Kembali ke topik awal. Kalau selama ini kamu terus menerus menggunakan cara linear untuk kebingunganmu mencari pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang kamu butuhkan (kriteria). Coba cari cara yang non-linear, sesuatu yang tidak berhubungan dengan masalah utamamu, sesuatu yang mungkin memudahkan orang lain, atau membuat bahagia orang-orang yang kamu cintai.
Agar kamu juga tidak berlarut-larut dalam kekhawatiran dan kebingungan, mengulang proses yang sama berulang-ulang. Seolah tidak ada jalan. Bisa jadi, jalanmu bukanlah mengikuti jalan yang udah ada, tapi membuka jalanmu sendiri. KG
Ya Allah aku pengen rezeki yang banyaak biar bisa bantu banyak orang
Ngeliat banyak hal tapii gak bisa bantu secara fisik atau wujud nyata kadang ngerasa kurang.
Ya Allah ini apa doa doang cukup ya ? Ya Allah mampukan kami jadi penolong dan pembuat keseimbangan alam dunia ini. 🥹🥹🥹
Mama minta di beliin kambing sejodoh
Kata mamah dulu rumah yang kita punya juga hasil dari ayah beli kambing setelah kakak pertamaku disunat.
I was imagine.. kayanya emang aku harus beliin karena bisa jadi investasi, apalagi di kampung.
Kepikiran juga buat beli ayam petelur biar mamah nanti gak susah susah nyari telur kan terus sisanya bisa dijual di tetangga.
Kepikiran juga minimal bisa beliin kendaraan entah itu motor tapi pengennya bisa kebeli mobil wkkwk Aamin ya Allah meski beli motor juga ini oseh osehaan.
Tapi dari semua hal diatas aku cuma kepikiran kalau aku harus bisa ngasih itu rasanya sebelum ketemu “suami” padahal nemu calonnya aja belom.
Tapi karena gak tau calonku orang mana, gak tau kan dibawa kemana, aku pengen seengaknya buat mamah nyaman di rumah.
Alhamdulillah rumah udah bisa ke renov, ke perbaikin 🥹 gak nyangka ajaa udah sejauh ini hidup ya Allah
Ngeliat trend tiktok yang nyeritain di depan temen gimana, depan keluarga atau orangtua gimana, sama depan pasangan beda-beda.
Tapi yang aku sadar kayanya aku belum pernah ngerasa aman buat nunjukin diriku seutuhnya sama siapapun deh 🥹.
Aku selalu menyesuaikan energi mereka, mirroring apa yang aku dapatkan dan rasakan dari mereka.
Tapi kalau ditanya lebih dalem lagi, aku selalu butuh ditanya, aku butuh seseorang yang punya rasa ingin tahu atas siapa dan bagaimana aku, atau setidaknya bisa membuatku aman menunjukan diriku.
Aku suka sekali deep talk, aku butuh orang yang bisa mengurai percakapan bukan cuma buat jawab tapi bisa lihat sisi emosionalnya gimana, nyangkutin ke perasaan dan keadaan yang dihadapi, narik empati dari setiap pelajarannya.
Aku rasa gak ada yang bener-bener kenal aku selain diriku sendiri
Kritis – Korektif – Konstruktif
Adalah sebuah kemampuan diri, dimana kita berusaha untuk memusatkan perhatian pada sebuah fenomena dengan mengkaji, menunjukan kekurangan dan kesalahan serta memberikan solusi alternatif yang lebih baik untuk fenomena tersebut.
Kemampuan ini merupakan salah satu tanda, bahwa diri kita mulai belajar mendewasakan jiwanya, karena sejalan dengan bertambahnya usia, tak semua insan memilih untuk mendewasakan jiwanya, maka beruntunglah diri kita, yang senantiasa menjadi bijak dan dewasa dalam menjalani hari-hari kita.
Dewasa ini, arus informasi begitu deras, jika diibaratkan ombak, ombak informasi hari ini, kian hari kian membesar, bahkan siap menerjang tanpa peduli waktu, kondisi dan keadaan apapun yang sedang diri kita alami. Tak jarang manusia dibuatnya serba salah, ditambah dengan semakin banyaknya informasi-informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Salah menerima informasi, tentunya akan mempengaruhi fikiran, mental, bahkan jiwa manusia. Untuk itu perlu kiranya, diri kita mengembangkan kemampuan berfikir kritis, korektif, dan konstruktif, guna mencegah diri kita, menjadi korban dari gelombang informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Allah swt memerintahkan kepada kita, untuk senantiasa berfikir, hal ini terdapat dalam surat cinta-Nya QS Ali Imran ayat 190-191 yang mengandung arti :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Cara mengembangkan kemampuan berfikri kritis - korektif – konstruktif
Amati dan kenali, apa sih masalah utamanya ?
Pertanyakan hal-hal yang layak dipertanyakan, fokus pada solusi
Cari informasi dari sumber lain, apakah informasi yang kita temukan valid dan dapat dipertanggung jawabkan
Cobalah untuk berempati, mencari hal yang menyebabkan informasi tersebut bisa muncul, bukan menghakimi sebelah pihak
Ketika semua hal yang kita kritisi sudah menemukan jawabannya, selanjutnya tentukan sikap, apakah akan mengabaikan informasi tersebut, atau mencoba mengambil nilai-nilai dari informasi yang ada.
Manfaat mengembangkan kemampuan berfikri kritis - korektif – konstruktif
Kita akan menjadi pribadi yang visioner, dengan senantiasa berfikir tentang masa depan, beriktiar yang terbaik, dan bertawaqal dengan sebaik-baik tawaqal kepada-Nya
Memiliki sikap analisis pada setiap fenomena untuk mengantisipasi terjadinya bahaya baik pada dirinya maupun pada lingkungan sekitarnya
Senatiasa mengkaji firman-Nya lebih mendalam, Bersama para ahli dan para pakar
Senantiasa bersyukur atas anugrah akal sehat yang Allah berikan Semoga kita senantiasa dapat berlaku bijak, guna menjaga hati, fikiran, dan jiwa kita dari informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Semoga kita senantiasa dapat berlaku bijak, guna menjaga hati, fikiran, dan jiwa kita dari informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
#CeritaTyaHariIni: Sesi 1 CUPYTS – Perempuan, Cita & Cinta
Gue bersyukur banget beberapa hari yang lalu iseng ngeliatin IG story orang-orang, trus pas di Kak Gita, nemuin dia ngeshare soal ini. Tentu saja gue terpancing untuk ikutan nyalain reminder di Youtube karena wOY KAPAN LAGI GITASAV DAN MAUDY AYUNDA NGOBROL BARENG DALAM SATU FRAME???? Mau sungkem aja sama Bu Ela deh pokoknya.
Akhirnya, gue nonton malem ini. Saking excitednya, pas gue ngambil orderan go food, HP masih gue bawa, dan alhasil agak kesusahan waktu mau masuk kamar lagi wkwkwkwk
Kak Gita sama Kak Maudy levelnya dah jauh banget diatas gue, tapi gue bener-bener ngerasa lega ketika mereka bilang bahwa mereka baru mulai tau ‘mau jadi apa’ waktu merantau dan tinggal jauh dari orang tua, because honestly, same. Gue keluar dari buble ranking 1 gue yang cuma tau pelajaran di kelas doang dan baru ngeh kalo gue tertarik sama isu sosial tuh ketika merantau untuk kuliah. Walaupun cuma beda provinsi, gue tau pasti kalo state of mindset gue ga akan sama kalo gue tetep ada di kampung gue. Ga kebayang seandainya gue beneran punya kesempatan seperti mereka untuk tinggal di negeri orang. Pasti challenging dan life changing banget.
Apakah ini berarti gue jadi pengen S2 ke luar negeri? Oh ga juga :) wkwkwkwk
Anyway, gue juga salut ketika denger cerita mereka berdua dibesarkan oleh ibu yang sehebat itu, yang mendorong mereka dari kecil untuk berpikir kritis, untuk mandiri, kuat dan pinter. Gue respect karena mereka mengakui bahwa hal yang mereka dapetin sekarang ga lepas dari privilege of having that kind of mother.
Kemudian mereka ngomongin soal kaitan antara label 'kepinteran’ yang mereka sandang dengan hubungan dengan pasangan. Gue suka banget ketika Kak Maudy bilang,
“Kalo kita bilang ‘perempuan itu kepinteran, jadi ga dapet jodoh’, kita berasumsi bahwa pasangan yang baik itu adalah pasangan yang memiliki hierarchy of intellegence, yang menurut aku, that’s not the value. Justru partnership itu kan komunikasi yang baik, visi misi yang sama, alignment dan lain-lain.”
Meanwhile, Kak Gita bikin gue sangat iri ketika dia cerita tentang Kak Paul,
“Syukurnya, aku dipertemukan sama suami yang bahkan dia ga ada view on masculinity yang shallow. Dia bilang, “Aku ga merasa kelaki-lakian aku bergantung sama gimana counter-parts aku. I’m me being human aja.” katanya gitu.”
Bu Ela menyimpulkan,
“The best relationship actually makes you smarter. In a good relationship, you push each other to be better, to learn together. Sebetulnya bukan soal cowonya lebih pinter atau cewenya lebih pinter, tapi memberikan ruang ke dua-duanya untuk improvement. Mudah-mudahan yang lagi dengerin dan sambil berdoa 'semoga aku dapet pasangan yang kek gitu’ semuanya terkabul. Aamiin.”
Now playing: Amin Paling Serius :)
Sebelum itu, Bu Ela becandain Kak Maudy, apakah dia punya syarat bahwa pacarnya harus lebih pinter dari dia. Trus jawabannya bikin gue tepuk tangan beneran:
“Aku ngerasa bahwa mindset yang tadi kita bahas itu berasumsi bahwa kepintaran cuma punya satu dimensi. Pinter tuh apa sih sebenernya? Are we talking about IQ, apakah kapabilitas berpikir secara logis, atau apapun itu.”
Gue langsung yang, “NAH INIIIII.”
Because funny thing is, sebelumnya, gue juga berusaha memaknai kata ‘belajar’. Selama sekolah, gue mengartikan belajar sebagai persiapan buat ulangan sama ujian, udah gitu doang. Akhir-akhir ini, gue ngerasa makna kata itu evolving, at least for me personally. Ruang lingkup belajar bukan cuma di sekolah atau kampus. Di luar itu, ada baaanyaaaak banget hal lain yang ga kalah penting untuk dipelajarin. Belajar mendengarkan, belajar berempati, belajar memahami sesuatu dengan menyeluruh, belajar menyuarakan pendapat dengan fakta, belajar menerima perbedaan, dan banyak lagi. Jadi seperti kata ‘belajar’, ‘pintar’ juga punya banyak dimensi.
Hal lain yang menarik adalah ketika ngomongin soal kebiasaan ‘belajar’. Kak Gita, as you all know, lebih outspoken. Sebaliknya, Kak Maudy adalah tipe yang pemikirannya internal, dia resapi informasinya, trus dipikirin dari sudut pandang A sampe Z, trus overthinking, yang akhirnya membuat dia sulit untuk menyatakan ‘This is where I stand and this is what I think should be done’ gitu. Trus, Bu Ela memberi jalan tengah untuk menulis sebagai media meluruskan pikiran. So, it’s like in between being outspoken and keeping it all in the head. Jadi nanti bisa disaring, mana yang bisa dikeluarin, mana yang disimpen sendiri.
Mereka bertiga punya cara yang beda, yang entah kenapa gue bisa paham banget sama tiga-tiganya. I used to be like Kak Gita, but in a worse way. Outspoken tapi reaktif tanpa mikir. Ga mencoba untuk ngeliat lebih dalem dan luas. Setelah gue mulai sadar itu ga bener, gue jadi kek Kak Maudy, kelamaan mikir. Di saat yang bersamaan, gue juga lagi belajar untuk rajin-rajin nuangin pikiran gue ke tulisan. So it’s kinda cool how I can connect with these point of views.
Pokoknya baru satu sesi itu aja, gue merasa seperti gelas yang isinya seuprit, trus dituangin penuh banget sampe mo tumpah.
Sebagai kesimpulan, gue akan mengutip definisi pinter menurut dua wanita panutan ini:
“Perempuan yang pinter itu perempuan yang tahu worth-nya dia, dan dia self-conscious sama identitas-identitas yang dia miliki.”
– Gita Savitri Devi.
“Kepintaran itu keinginan dari seseorang, mau itu perempuan atau bukan, untuk mengembangkan dirinya, to have that growth mindset. Se-simple itu. Menurut aku, orang yang pinter justru sadar bahwa banyak sekali hal yang mereka tidak tahu di dunia ini.”
– Maudy Ayunda.
Di sesi 1 aja udah sangat berfaedah begini. Di sesi 2 dan sesi 3 juga ga kalah mantep, apalagi penutupnya adalah Dian Sastrowardoyo sama Dewi Sandra. Watching these cool women having meaningful conversations, genuinely listening and complimenting each other, not only got me feeling insightful but also happy at the same time. So, thank you so much for hosting this amazing talk, Bu Ela! 😭💖
Kalo mau nonton fullnya, ada di link ini ya. Babay.
—-
23:17; 16.08.20 // tya yang karena ngehype ini dari isya baru nyadar kalo ternyata kerjanya dikit doang hari ini.
Renungan mengenai Eksistensi Diri
Saya mengambil potongan dari Koran kompas edisi 11 Juli 2025 yang lalu mengenai "Eksistensi", karena beberapa waktu belakangan mungkin saya mengalami "Krisis Eksistensi" kecil, saya mencoba memperhitungkan diri saya ini diluar pekerjaan yang kita miliki. Belajar dari beberapa orang yang saya kenal, memasuki masa pensiun ataupun terpaksa kehilangan pekerjaan, mereka seperti kehilangan sebagian diri-nya sehingga sering kali merasa tidak percaya diri, padahal dirinya sesungguhnya lebih besar dari sekedar label yang didapatkan dari pekerjaan.
Artikel diatas yang saya coba ambil memiliki banyak poin menarik yang bisa dibahas lebih lanjut melalui tulisan saya ini, saya sengaja membagikan kliping artikel tersebut tanpa menghilangkan penulisnya karena menurut saya lebih baik para pembaca juga membaca langsung dari sumber asli nya untuk mendapatkan nilai yang lebih lengkap. Seperti di awal tulisan saya ini, Eksistensi sering dikaitkan dengan pekerjaan yang kita lakukan, mungkin karena sebagian besar waktu kita setiap harinya dihabiskan di tempat kerja, nah, yang menjadi persoalan adalah ketika harus kehilangan pekerjaan, pertanyaan sederhana "Siapa kita?" atau "Siapa Saya?" menjadi tidak sederhana lagi, maka dari itu, kita yang saat ini masih memiliki pekerjaan ada baiknya juga berusaha menemukan jawaban pertanyaan "Siapa Saya?" sebelum kehilangan pekerjaan, karena kita tidak pernah tahu kapan kita kehilangan pekerjaan tersebut, dan perlu disadari pekerjaan tidak sepenuhnya milik kita, dan apabila tiba saatnya, kita tidak terjatuh karena kita kehilangan identitas diri kita.
Hal yang menarik, dalam hidup ini (lagi-lagi saya mengambil bagian dari artikel diatas), kita selalu bergerak, merajut, mengubah dan membentuk diri kita, kita ini selalu berkembang dari waktu ke waktu, mungkin mendapatkan tugas sebagai orang tua, sahabat atau anggota masyarakat, sehingga sebetulnya label kecil semacam "Saya Dokter, Saya Manajer dan lainnya" tidak lah pas untuk menggambarkan siapa diri kita. Kita bisa menentukan diri kita itu siapa dari tindakan-tindakan nyata ketika menghadapi suatu situasi dalam hidup ini.
Menurut saya, menjadi panggilan hidup kita untuk menyikapi potensi dan identitas diri kita, terlepas dari label sempit seperti pekerjaan, karena kembali, pekerjaan itu tidak pernah abadi, mungkin selama ini kita menekuni suatu bidang pekerjaan bertahun-tahun, karena lamanya durasi pekerjaan tersebut, dia sudah mengakar begitu dalam di hidup kita, dan tidak sadar "Ia" sudah menjadi diri kita, dari sinilah kita perlu bertanya dan terus bertanya "Siapa diri kita?" ketika jawabannya adalah pekerjaan atau jabatan kita, mungkin kita perlu lebih mendalami Nilai yang kita pegang dalam hidup.
Membicarakan Nilai hidup, ini sebetulnya bisa kita lihat, ketika kita hadir dalam suatu situasi, apakah kita menjadi orang yang penuh empati? atau kita orang yang ramah? Nilai yang bisa kita hadirkan inilah yang bisa jadi merupakan identitas kita yang belum kita sadari.
Selain itu, sering kita terlalu asik dengan memperhitungkan pandangan orang lain terhadap diri kita dan memendam hasrat diri kita yang sebenarnya, satu hal, mungkin orang lain tidak sebegitu pedulinya dengan diri kita dan hal lain, kita sudah membohongi diri kita dengan memendam hal yang sebetulnya kita mau. Kejujuran terhadap diri kita sendiri adalah kunci terpenting untuk menemukan "Siapa Saya".
Mungkin ketika akhirnya kita menemukan identitas diri kita, bisa jadi hal itu tidak "Wah" untuk orang lain, tetapi membuat hidup kita penuh, dan identitas kecil tersebut bisa jadi semacam "Pendongeng Kehidupan", "Pewarta kabar gembira", "Orang baik yang suka mendengarkan", "Si paling sigap membantu orang lain" dan lain-lain, dan mungkin titel itulah yang sebetulnya dibutuhkan dunia ini daripada "Manajer perusahan ABC" tetapi tidak pernah ada untuk orang lain yang membutuhkan.
Saya ingin menutup tulisan dan renungan ini dengan kutipan dari artikel diatas, Eksistensi adalah ketika kita hadir utuh, sadar siapa kita, apa nilai kita dan apa kontribusi yang kita pilih, ini menjadikan penemuan jati diri "Siapa Saya" adalah tugas kita sepanjang hidup ini dan tentunya agar kita tidak sibuk melabeli kita dengan hal yang salah dan menjalani hidup yang tidak sesuai dengan diri kita.
Ternyata aku selalu mulai membenci diriku sendiri ketika aku mulai ingin menganggtungkan diriku dengan orang lain.
Nyatanya, kehidupanku hanya berputar untuku dan keluargaku aku sudah terbiasa dan bisa mengendalikannya, ketika seseorang datang, aku kadang jadi tidak mengenal siapa diriku, ada anak kecil yang keluar, tidak dia bukan anak kecil tapi remaja sayang saat itu terpaksa lebih dewasa dari umurnya.
Menyakitkan ketika kita menyadari apa yang orang lain pikirkan dibenarkan oleh orang yang mungkin kita harap mengerti kita.
Perasaannya sama, semua menjadi kosong, aku tidak bisa melabeli perasaan ini, aku tiba-tiba menjadi buta.
Entah sampai kapan, aku tidak tahu harus seperti apa, aku ternyata masalahnya.
Aku tidak sehebat itu, sebaik itu, pada akhirnya akulah yang selalu menyakiti orang yang datang padaku.
Menurutmu, apa yang paling ditakutkan oleh seorang pengusaha muslim yang benar dalam bisnisnya?
Penjualan yang menurun?
Tidak bisa bayar gaji karyawan?
Ditipu supplier atau pembeli hingga rugi ratusan juta?
Hal-hal diatas memang bikin was-was, tapi percayalah tidak ada yang lebih menakutkan daripada:
"Ketakutan bahwa maksiat dan dosa yang dilakukan sengaja ataupun tidak, memengaruhi bisnis yang dijalani."
Fluktuatif penjualan dalam bisnis adalah hal lumrah, kondisi cashflow yang tiba-tiba ga baik-baik saja juga sesuatu yang sering terjadi, supplier ataupun customer yang berniat menipu juga banyak, semua itu adalah risiko yang memang sudah siap ditanggung ketika ketika seseorang memilih berbisnis.
Seorang pebisnis mampu menakar kapabilitasnya dalam menghadapi semua risiko tadi, ada banyak strategi yang bisa dilakukan untuk meraup untung dan lepas dari ancaman risiko, jadi memang tidak semenakutkan itu.
Justru ketakutan itu datang dari diri sendiri, takut tiba-tiba lalai dan melakukan dosa sehingga berimbas hilangnya keberkahan dari bisnis yang dijalani, dan tanpa adanya keberkahan bisnis, semua strategi akan sia-sia, dan sebegitu mudahnya Allah bisa mencabut rezeki dari tangan-tangan para pebisnis.
Bukan cuma satu-dua aku mendengar cerita runtuhnya bisnis milyaran dalam semalam, uang yang awalnya melimpah habis tak tersisa. Tak hanya mendengar, akupun melihatnya langsung di bisnis pertama si Abi. Bisnis belasan cabang yang telah berdiri puluhan tahun tutup begitu saja dalam waktu bulanan. Rumah di kawasan hunian mewah harus dijual untuk menutupi hutang bank dan pindah ke kontrakan sederhana, dari yang punya banyak hal menjadi tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan esok hari tak selalu tersedia. Si Ummi cerita, saat itu kesalahan Abi cuma satu, meminjam uang dari Bank, sesuatu yang akhirnya Ummi haramkan dalam bisnis selanjutnya.
Sebenernya yang ditakutkan seorang pebisnis ketika dosa yang ia lakukun berpengaruh ke bisnis yang dijalaninya bukan hilangnya bisnis, tapi adanya orang-orang tak bersalah yang menanggung akibatnya. Ada karyawan yang kehilangan mata pencahariannya, ada anak dan pasangan yang tak lagi bisa dipenuhi keinginannya, karena kesalahan kita, orang-orang ini terkena dampaknya. Itulah ketakutan yang sebenarnya.
Maka aku ingin menasihati diri sendiri, mengingatkan lagi untuk menjaga niat dalam menjalankan titipan Allah ini, amanah bisnis yang hanya sementara ada di dunia, agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan dampak ke umat & agama, agar dijaga kebersihan hati & dirinya dari sombong dan perbuatan semena-mena, agar terlindungi dari dosa dan maksiat yang berpotensi memengaruhi bisnis kedepannya.
Semoga Allah senantiasa menjaga dan mengarahkan kepada jalan kebaikan di dunia, untuk menggapai akhirat.