Halo, saya boleh memulai kembali di sini, kan?
D.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always

pixel skylines
Lint Roller? I Barely Know Her
trying on a metaphor

PR's Tumblrdome
$LAYYYTER

No title available

⁂
Claire Keane
occasionally subtle

#extradirty
Mike Driver
Keni
he wasn't even looking at me and he found me
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

★
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
DEAR READER

seen from India
seen from Türkiye

seen from Australia

seen from Germany

seen from Israel

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from United States

seen from Poland

seen from United Kingdom
seen from Tunisia

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@helloditta
Halo, saya boleh memulai kembali di sini, kan?
D.
365
Akhir tahun selalu jadi kebiasaan saya untuk memikirkan apa saja yang sudah saya lakukan setahun terakhir ini.
Dan bagi saya, 2015 adalah salah satu tahun terbaik saya.
Di tahun ini saya kenal banyak orang yang membantu karir saya, juga berhasil melakukan hal-hal yang sebelumnya cuma sebatas harapan tanpa kesempatan realisasi, tahun ini saya berhasil melunasi harapan itu.
Tahun ini bisa dibilang awal pembuktian diri bagi saya.
Mendapat berbagai pekerjaan, berhadapan dengan banyak orang baru, mengurusi hal-hal yang belum pernah saya coba sebelumnya, memikul tanggung jawab yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan bisa saya selesaikan.
Namun, tidak semua hal baik terjadi. Ada banyak pelajaran keras yang saya dapat juga di tahun ini.
Dimulai dengan gagalnya hubungan saya dengan seseorang. Kehilangan pekerjaan. Tersandung masalah kecil. Kerepotan mengurus diri sendiri saat harus kembali hidup sendiri di Bandung sambil berusaha memenuhi biaya hidup sendiri. Bahkan kehilangan salah satu sahabat terbaik.
Terlepas dari semua hal itu, banyak pencapaian yang saya lakukan tahun ini, seperti bersama dengan seorang teman berhasil mengurusi sebuah event bulan agustus lalu, berhasil memperbaiki nilai kuliah saya sebelum akhir tahun ini. Mulai bisa mengontrol kegiatan sendiri, juga lebih hati-hati dalam menentukan hal yang perlu diprioritaskan. Menambah relasi melalui komunitas baru. Dan mulai terbiasa tidak tergantung pada orang lain.
Tidak ada sedikit pun penyesalan dari hal kurang menyenangkan yang terjadi pada saya. Saya tahu bahwa semua terjadi ada maksudnya.
Tanpa disadari, setiap tahun selalu ada yang berubah, entah teman nongkrongmu, tempatmu biasa menghabiskan waktu, kegiatanmu, atau sekedar siapa yang membuatmu sibuk memikirkan dia.
Pertemuan. Perpisahan. Pertengkaran.
Semua terjadi untuk menjadikan saya orang yang lebih baik, tinggal sayanya saja cukup peka untuk mau menyadari kesalahan saya, memperbaikinya, dan kembali melanjutkan yang baik.
Sejauh ini, saya sudah melakukan yang terbaik semampu saya.
Beruntunglah saya yang masih memiliki keluarga dan banyak teman yang memberi bantuan moral atau lainnya.
Thanks guys! It’s means a lot :D
Menjelang akhir tahun, beban di bahu saya seperti terus terangkat pelan, seolah ada yang membantu membopongnya, iya, kalian :)
Terima kasih telah menjadi bagian dari 365 hari saya setahun ini.
Semoga tahun depan menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
Ah, kalendernya sebentar lagi diganti. Sudah siap untuk petualangan baru besok?
Beberapa hal yang dimulai sama-sama, kadang harus diakhiri sendirian
Dtt Aml Srvt
Ada saatnya salah satu dari kita berkorban demi kebahagiaan yang lain. Bahkan tanpa dia perlu tau bahwa kebohongan dan rasa sakit yang kita beri adalah demi dia. Dan yang sebenarnya paling merasa sakit adalah diri kita sendiri.
D. Amelia
Lari
Saya lari lagi.
Kali ini bukan dari kenyataan. Bukan pula dari masalah. Tetapi dari keinginan saya untuk bermimpi.
Akhir-akhir ini saya merasa bahwa saya sudah tidak sanggup lagi memiliki cita-cita. Dulu saya adalah orang yang selalu ingin mencoba banyak hal, memiliki banyak target dalam hidup, dan berkeinginan untuk mewujudkan semua itu.
Semakin hari, semakin banyak kekecewaan yang saya dapat, saya tidak berekspektasi, tidak pula pesimis terhadap keinginan saya. Tetapi apa daya, sesuatu yang harus dikerjakan bersama jika rekan yang lain sudah tidak ingin melanjutkan, maka hanya ada dua pilihan, mundur atau melanjutkan sendirian.
Saat ini saya sedang mengalami kondisi ini.
Sebenarnya saya masih sanggup melanjutkan ini sendirian. Hanya saja kurang baik rasanya jika apa yang dimulai bersama harus diselesaikan sendirian.
Tapi tak apa, karena hidup adalah pilihan, mungkin ini adalah pilihan mereka. Dan saya pun memilih untuk tetap meneruskan sisa mimpi saya. Dan setelah mimpi ini selesai, saya akan bangun.
Lari itu melelahkan, terlebih saat masih bermimpi, alam bawah sadar juga merasa lelah.
Garis finishnya sudah terlihat, dan nanti mari kita lihat, apakah saya masih sanggup berlari di garis baru atau harus duduk, memperhatikan pelari lain yang sedang menggapai mimpinya.
--------------------------------------------------------------------------------
Ditta Amelia, 4 Mei 2015. Sebenarnya sudah tanggal 5, karena sudah lebih 24 menit dari tanggal 4.
Mencoba lagi
Ah, selamat malam. Sekarang saya benar-benar tidak bisa tidur di bawah jam 11 malam. Dan juga kesulitan bangun di bawah jam 7. Ngomong-ngomong, lama tidak menulis. Terlalu banyak hal yang saya pendam sendiri sekarang. Cukup menjadi beban terlebih saat tidak punya orang terpercaya untuk menampung cerita saya. Saya baru gagal lagi. Dan langsung mencoba bermain game baru. Saat game over, beberapa orang punya beberapa pilihan; mereset, mengganti game atau mematikan console game. Saya sudah menyerah dalam upaya mereset, sudah berkali2 reset yang saya lakukan hingga rasanya saya hanya perlu mencoba mengganti game. Hidup kadang memang seperti permainan. Kamu tinggal berusaha untuk menang atau memutuskan menyerah. Saya tidak percaya dengan kalah, yang ada hanya belum mendapat kesempatan. Lucunya, dalam monopoli justru kamu akan mendapat beberapa kali kesempatan. Wah, sepertinya saya sudah mengantuk. Selamat malam, lagi. ------------------------------------- Ditta Amelia, 28 April 2015, 00:05. Baru saja sakit perut karena makan mie goreng tengah malam
Biru
Aku memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'. Selain karena tidak tahu nama panggilannya, dia juga memang lebih tua dariku. Apa kabarnya saat ini, ya? Sudah 3 tahun berlalu sejak aku berhenti mengejarnya. 3 tahun lalu, aku hanya sekedar anak sekolah biasa yang secara tidak sengaja bisa berkenalan dengannya. Tidak pernah benar-benar berjumpa, tidak pernah benar-benar menatap wajahnya atau sekedar berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Hal seperti itu hanya sekedar angan dalam pikiranku. Karena nyatanya yang kami lakukan hanya mengobrol virtual lewat chatting. Lucunya, aku tahu alamat dia karena pernah memberinya hadiah ulang tahun. Tetapi aku bukan stalker yang akan dengan percaya dirinya mendatangi rumahnya. Gila. Hmm.. Sudah dua tahun juga sejak aku menjauhi segala hal yang berhubungan dengan dia. Band kesukaannya, kampusnya, tim sepakbola kesukaannya. Kadang mengingat semua itu hanya membuatku sadar bahwa apa yang pernah aku lakukan hanya membuktikan kebodohanku sendiri. Hai, Kak. Apa kabar? Apa saat ini langit yang kita lihat sudah semakin berbeda? ---------------------------------------- Ditta Amelia Saraswati, 21 Januari 2015. Dibuat sambil melihat kaca samping bis.
Takut
Terjadi lagi, entah sudah keberapa kali. Ketakutan ini muncul lagi, menempel dalam pikiran berusaha akrab dengan akal sehat. Diam! Saya lelah. Sungguh. Ada saat di mana ternyata saya benar-benar takut. Kali ini terjadi karena ya, begitu, hubungan kandas lebih dari sekali, ditinggalkan, dibiarkan sendiri, dan merasakan kesepian lagi. Bahkan sekarang saya benar-benar sulit membuka diri kepada orang lain. Kembali beku. Istilah yang seseorang berikan pada saya. Saya pun sekarang jadi sulit percaya, kegagalan dalam hubungan dan perasaan disia-siakan ternyata bisa berdampak sefatal ini. Saya belum tahu akan seperti apa lagi dampak dari apa yang saya alami hampir setahun ini. Mungkin hanya terdengar drama, tapi, ini sungguh terjadi. Saat seseorang menyakitimu, maka kamu bukan lagi orang yang sama. Lalu bagaimana jika yang melakukannya lebih dari satu orang? Ah, sudah. Saya mulai melantur. Mungkin karena sudah agak mengantuk. Terimakasih, semoga bahagia, ----------------------------- Ditta Amelia Srvt, 12 Oktober 2014, 22:22. Sedang berusaha untuk tidur.
Kosong
"Berhenti membual! Aku muak membuang waktuku hanya untuk mendengar omong kosongmu!" Itu hal terakhir yang dia ucapkan sebelum membanting pintu apartemenku dengan keras. Hey! Itu pintuku! Tidak sopan. Menyebalkan. Haaa... Kurebahkan tubuh ke sofa. Mungkin satu lagu Pure Saturday akan membuat malam ini tetap terasa keren. Ah sial, tidak pernah ada yang keren dengan patah hati. Dan aku baru saja patah hati. Tapi mungkin tetap perlu lagu Pure Saturday untuk memastikan semua baik-baik saja. Ayolah, satu lagu saja dan ini akan terasa keren, percaya padaku! Kuraih iPod di dekatku, mulai memilih lagu mana yang akan kudengarkan. Memilih lagu kadang jadi hal yang sulit. Saat ingin mendengarkan lagu apa, tapi malah mendengarkan lagu yang lain.. ...seperti hubungan. Ah! Hentikan, hentikan! Baik, kembali fokus memilih lagu. Nah, ini dia.. Kosong. Sama seperti hati. Ah, tolonglah, bisa berhenti sebentar berkata menjijikan begitu? Aku berdebat dengan pikiranku sendiri. Nada yang terasa menyenangkan tapi lirik yang sangat salah jika didengarkan orang patah hati. Lalu? Siapa peduli. Sshh diam... Suar, sang vokalis di lagu Kosong ini mulai bersenandung. *Coba untuk ulangi apa yang terjadi* *Harap `kan datang lagi* *Semua yang pernah terlalui* *Bersama alam menempuh malam* *Walau tak pernah ada kesempatan* *Terjebak dalam jerat mengikat* *Namun tekad nyatakan bebas* Hm, mulai agak membaik. Apa perlu secangkir teh chamomile? Ah tidak usah, hanya akan menyayat luka yang baru saja ada. Badanku mulai melorot dari sofa. Sang vokalis masih bernyanyi.... *Temukan diri di dalam dunia* *Tak terkira…* *Semua mati dan menghilang* *Terlalu pagi temukan arti* Hm.. Mati dan menghilang. Iya mati saja manusia sialan yang membanting pintuku dengan keras. Sebenarnya bukan karena dia membanting pintu. Tapi.... Arrrgh!! sudah kuberitahu kan? Aku sedang patah hati. Orang patah hati biarkan saja ingin berkata apapun. Aku melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka. Hujan. Semesta sedang berada di pihak orang bodoh yang patah hati ini. *Jalan panjang semakin lapang* *Hanya dahan kering yang terpanggang* *Tak ada teman telah terpencar* *Namun waktu terus berputar* *Peduli apa terjadi* *Terus berlari tak terhenti* *Untuk raih harapan* *Di dalam tangis atau tawa* Aku tertawa, tapi pipi ini menjadi basah. Semakin keras aku tertawa, semakin deras pula air mata yang mengalir. Aku meringkuk, sambil menangis, sesekali tertawa. Untung di sini hanya ada aku sendiri. Jika tidak, mungkin aku sudah disebut sinting. Patah hati ternyata bisa membuat segalanya menjadi kacau, tidak heran kenapa banyak sekali orang yang dengan sukarela meminum obat nyamuk, atau gantung diri, atau yah membunuh pasangannya supaya tidak menjadi milik siapapun. Sedikit bersyukur aku masih punya pikiran yang agak waras. Iya. Fyuuhh... Ah, lagu Kosong ini hampir selesai... Memasuki bait terakhir. Bagian kesukaanku. Aku mulai berdiri, menyeka air mata dengan ujung kaos, ah ada ingus, menjijikan. *Temukan diri di dalam dunia tak terkira* *Tak berarti tak akan pasti* *Terlalu gelap…pergilah pulang* Aku mulai berjalan... Ah! Aku terpleset.. Kepalaku pusing. Terbentur lantai cukup keras. Kucoba meraih sesuatu, tapi tak sampai.. Dan semuanya benar-benar menjadi gelap... Apa ini waktuku pulang? Eh.. Tunggu sebentar, apa tadi sudah terasa keren? ----------------------------------------- Ditta Amelia Saraswati, Bandung 10 Agustus 2014. Diketik sambil menghabiskan susu coklat kemasan kotak. Anyway ini #fiksi kok.
Kisah dan Buku
Saya ingin kembali menuliskan kisah tentangmu, lalu membacanya lagi, terus hingga saya hapal benar. Atau kamu ingin menjadi sang pendongeng? Wah, kehormatan bagi saya jika seperti itu. Tapi itu tak mungkin lagi. Kisahmu sekarang telah ada di buku yang berbeda. Kisahmu memiliki tempat di buku lain. Bukunya. Ingin rasanya melempar pulpen, tinta, atau meja sekalipun ke arahnya, pemegang buku itu. Saya benci dia memiliki kisahmu. Bagaimana ini? Tiba-tiba ada rasa ingin memonopoli kisahmu, hanya untuk saya. Kembali saya mencubit pipi, tidak, ini bukan mimpi. Bangun! Terima kenyataan bahwa saya sekarang sudah tak boleh memiliki kisahmu seperti dulu, membacanya berulang-ulang hingga hapal benar. Sekarang bagaimana? Apa saya harus menunggu hingga dia mengembalikan kisahmu di buku saya? Ah lihat! Ternyata ada kisah baru muncul di buku saya. Maaf, sepertinya saya tak perlu menunggu. Terimakasih karena telah berbagi kisah dan mendongengkan kisahmu, tapi sekarang, kita saling mengurus kisah dan buku masing-masing saja. Bukan begitu? ----------------------------------------- Ditta Amelia S, 24 Juli 2014, 03:13. Ditulis setelah selesai membuat seporsi makanan instan.
Jam pasir itu kembali dibalik. Desiran pasirnya begitu lembut. Sampai kapan kita harus berpura-pura? Hey! Pasirnya sudah habis lagi.
@dittameliaa
Seporsi makanan cepat saji dan segelas susu coklat hangat sudah cukup untuk membuat kotak ingatan kembali terkuak dengan paksa.
D. Am. Srv
Ya sudah teruskan saja
Jika ada yang bertanya "apa yang paling kamu syukuri dalam hidup?" Maka akan saya jawab "bisa lahir di dunia ini." Terdengar klise dan basi, tapi memang begitu. Hal yang paling saya syukuri adalah karena saya bisa lahir. Di sini. Di tempat yang kita sebut dunia. Sebenarnya, saya selalu mengutuk diri saya sendiri dan berandai-andai supaya menjadi orang lain yang sesuai keinginan saya. Sejenak melupakan bahwa kita telah mendapat skenario dan peran masing-masing dari Sang Sutradara Semesta. Terkadang terasa lucu, lalu kemudian terasa bodoh. Dan akhirnya menertawakan pikiran sendiri. Seperti misalnya begini, saya suka berpikir "seandainya dulu saya engga lahir dari keluarga ini/kenal dengan orang ini/melakukan hal ini/dsb." Lalu pikiran-pikiran itu diakhiri dengan kalimat "...tapi seandainya saya ga lahir di keluarga ini/kenal orang ini/melakukan hal ini maka saya ga bakal bisa seperti sekarang.." See? Seburuk apapun kehidupan saya, semenyebalkan apapun orang yang ada di sekitar saya, sesalah apapun hal yang telah saya lakukan. Saya percaya, semua ini ada maksudnya, ada tujuannya. Dan apa yang harus saya lakukan selain bersyukur dan melakukan sesuatu semampu saya? Tak ada. Maka, ya sudah, lanjutkan saja. ----------------------------------------- Ditta A. Srvt. | 18 Juli 2014 | 18.15 | Dipikirkan sejak menaiki sebuah angkutan umum dari arah Bandung.
Ada saatnya kamu menyadari bahwa kamu bukan siapa-siapa, tanpa mereka yang mendukungmu
D. Amelia
Bukannya lebih menyenangkan saat kamu dikenal sebagai diri kamu sendiri? Bukan karena mirip orang lain.
D. Amelia
Pura-pura
Ada saat di mana saya berharap tidak pernah mengetahui tentang mereka, apalagi mengenal mereka... Iya, mereka, mereka yang sekarang gemar berkeliaran di salah satu sudut pikiran saya. Tolong... Pergi... Saya tidak pernah meminta untuk bisa mengenal mereka.. Mungkin ini konspirasi semesta yang lain. Supaya saya punya semakin banyak hal untuk diceritakan. Meskipun terkadang, tidak tahu lebih baik daripada kamu mengetahui terlalu banyak hal. Saat ini saya terlalu banyak mengetahui tentang berbagai hal, kuping saya lelah mendengar, mata saya lelah melihat, bibir ini lelah berbohong berkata bahwa "saya tidak tahu." Ah, apa kabar kita? Sepertinya masih melanjutkan drama pura-pura saling tidak kenal ini. Mungkin memang tidak mengenal itu lebih baik daripada pura-pura saling tidak kenal. Bukankah itu tidak nyaman? Tidakkah itu menyakitkan? Meskipun akan tiba saatnya kita melupakan sesuatu —atau pura-pura melupakan. Sama halnya seperti kamu yang akan melupakan saya. Sebentar, boleh saya bersiap dulu? Dan apa yang akan kita lakukan sekarang? Terus melanjutkan sandiwara murahan ini sambil bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Semoga harimu tetap menyenangkan. Selamat berbahagia. ------------------------------------ D. A. Sarasvt, 2 Juli 2014. Di waktu senggang saat duduk di sebuah ayunan.