1. January https://www.instagram.com/p/BsmZCnFhjh8/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=7pkim22j8hvh

bliss lane

titsay
will byers stan first human second
YOU ARE THE REASON
cherry valley forever
Monterey Bay Aquarium

PR's Tumblrdome
occasionally subtle

Product Placement

roma★
The Bowery Presents
almost home
tumblr dot com
Stranger Things
todays bird

@theartofmadeline
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola

seen from Russia

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Spain
seen from Greece

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from Italy
seen from United States
seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Ireland
seen from France
seen from France
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Germany
@hemasyoshioka
1. January https://www.instagram.com/p/BsmZCnFhjh8/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=7pkim22j8hvh
Cerita
Tidak ada waktu yang terbuang. Setiap detik, menit, jam, hari, bahkan tahun yang kita lewati tak akan terganti. Setiap langkah kaki kecil kita menggoreskan perasaan orang yang menghabiskan waktu bersamamu. Walaupun aku tidak mengingatnya, atau kamu tidak mengingatnya, atau bahkan dari kita berdua tidak ada yang mengingatnya. Akan selalu tersimpan di alam bawah sadar kita.
Ketika aku melewatkan momen bersamamu, aku berharap akan ada kesempatan lain agar aku dapat menggantikan momen yang terlewatkan itu. Karena aku ingin terus membuat kenangan bersamamu. Agar aku bisa menceritakan kepada semua orang tentang kamu yang selalu memenuhi hari-hariku. Agar orang lain tahu bahwa aku bahagia bisa melewatkan waktu bersamamu. Karena kenangan akan terus diceritakan. Tak pernah tergantikan.
Sampai Kapan?
Sampai kamu benar-benar mengawalinya.
Mengawali adanya jarak.
Mengawali ketidakpedulian.
Mengawali keegoisan.
Mengawali yang lebih pasti.
Saat Ini
Kamu kamu kamu dan kamu Saat ini tulisanku penuh dengan kamu Saat ini kamu adalah ideku Saat ini kamu adalah penyemangatku
Dan nyatanya “saat ini”nya kamu masih berlanjut “Saat ini” yang tidak ada batasnya “Saat ini” yang dulu selalu aku nantikan “Saat ini” yang kamu juga menikmatinya
Akankah “saat ini” terhenti? Mungkin iya “Saat ini” kali ini memang benar “Saat ini” yang selalu dinanti kini tenggelam
Sementara
Saat itu Aku hanya melihatmu dari jauh Memperhatikan tingkah laku konyolmu bersama teman-temanmu Merindumu yang bahkan kamu sendiri pun tidak tahu aku Berharap kamu bisa mengenal diriku
Tapi apalah dayaku saat itu Tidak pernah saling sapa Tidak pernah bertatap mata Bahkan kamu tidak tahu namaku
Takdir Tuhan berkata lain Tuhan beri kesempatan mengenalmu lebih dekat Bergabung dengan kekonyolanmu Bahkan menolongmu juga
Saat rasa itu melebar Saat rasa itu melebihi batasnya Saat rasa itu menginginkan lebih Saat itu pula Tuhan mengizinkan kamu pergi
Jangan pernah menganggap penyesalanmu adalah yang terburuk. Jangan pernah menganggap pula keputusanmu adalah yang terbaik. Dunia bukan lah tempat untuk dirimu sendiri. Nikmati waktumu dengan bertemu banyak orang. #wip #comingsoon
Rasa
“Apa kabar?”
Kata-kata yang singkat namun sangat berarti bagi banyak orang. Tak peduli pertanyaan dari siapa dan terlontar untuk siapa. Seseorang yang melontarkan pertanyaan tersebut bisa sangat khawatir, bisa hanya untuk basa-basi untuk memulai bincangan, atau juga seseorang yang sangat rindu. Seseorang yang ditanya pun akan sangat senang, benci, campur aduk atau apapun itu untuk menjawab pertanyaan.
Terbiasa untuk selalu bersama, terbiasa untuk sendiri, terbiasa untuk selalu mengkhawatirkan atau terbiasa untuk dikhawatirkan. Terbiasa untuk tidak peduli, terbiasa peduli, terbiasa bertanya, bisa juga terbiasa menjawab. Dari pertanyaan tersebut bisa muncul jawaban yang akan menimbulkan rasa nyaman. Rasa nyaman karena keduanya saling terbuka untuk setiap masalah. Masalah yang membuat diri mereka lelah, diri mereka tidak berarti atau apapun itu.
Sebagian orang sulit untuk mendapatkan rasa nyaman tersebut, ada juga yang dengan sangat mudah mendapatkannya. Mudah disini tak berarti benar-benar mudah, mungkin dia harus menganggap dirinya menyenangkan bagi orang lain agar masyarakat luas menerimanya dengan mudah. Kehidupan ini penuh dengan kepura-puraan yang banyak orang lain tak sadari.
Begitu pula dengan rasa ini. Rasa nyaman terhadapnya. Rasa ketergantungan akan dirinya yang tidak bisa jauh, tidak bisa tidak menanyakan sesuatu akan dirinya, tidak bisa tidak mengetahui keadaannya saat ini. Rasa nyaman yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan, atau rasa kepercayaan terhadap dirinya bahwa dia akan selalu berada disisinya.
Semakin tua seseorang semakin banyak pula pengalaman yang mereka hadapi. Seharusnya dan memang sepatutnya manusia belajar dari pengalaman tersebut agar tidak menimpa dirinya lagi. Tapi pada kenyataannya manusia tidak bisa belajar dari pengalaman tersebut jika rasa nyaman sudah ada dalam dirinya.
Upaya?
“Jangan jatuh kedalam lubang yang sama.”.
“Jangan lupakan sejarah.”.
Dua kalimat yang sering orang tua ceramahkan kepada orang yang lebih muda. Memang betul pengalaman mereka lebih banyak daripada anak-anak muda yang didapatkannya. Tapi bukan berarti anak-anak muda tidak mempelajari pengalaman mereka, yang walaupun hanya sedikit.
Bukannya ingin menggurui. Bukannya ingin melawan. Tapi akan lebih baik jika anak-anak muda diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Mengeluarkan isi hatinya tentang keinginan mereka. Mereka sadar akan apa yang akan dipilihnya. Pasti. Dan akan bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya.
Kisah ini bukan tentang bagaimana mengeluarkan pendapat atau tidak. Ini tentang “Jangan jatuh kedalam lubang yang sama.”. Lubang yang sama berarti dia hanya berputar diwaktu yang sama, jatuh dengan keadaan yang sama, tapi tidak dengan orang yang mengalaminya.
Ya ini rumit. Alasan kenapa orang tidak mempelajari pengalamannya. Lubang itu terlalu asik. Hingga kita terlalu senang didalam lubang itu. Padahal sebenarnya yang menemani didalam itu sudah pergi entah kemana, dengan mudahnya. Sedangkan dia, masih asik. Menunggu orang yang akan jatuh kedalam lubang itu juga. Kemudian yang menemani itu pun pergi lagi. Begitu seterusnya hingga ada orang yang ingin benar-benar mengangkatnya dari lubang itu. Atau menutup lubangnya.
Sudah dipastikan. Dia masih berada dilubang itu, menunggu orang lain datang untuk menemaninya, selama orang lain itu mau, asalkan dia senang, sudah cukup.
Tali merah mereka bilang. Tali yang mempersatukan dua insan muda yang mungkin akan putus. Saat itu tali merah masih sangat bening, tidak terlihat. Kamu membangun kenyamanan tersebut. Warna merah tali semakin menjadi-jadi. Dia menganggap kenyamanan itu tanpa upaya darinya. Padahal sebenarnya terdapat upaya yang dilakukannya, yaitu menikmatinya.
Upaya tersebut semakin menjadi-jadi. Seperti kekuatan yang diberikan iblis, jika dipakai terus menerus maka kekuatan itu akan menerkamu hidup-hidup. Gawatnya, upaya tersebut hampir seperti itu. Upaya yang selama ini dia kira tidak ada, ternyata sudah ada didalam dirinya sejak awal.
Dia tidak pernah sadar. Upaya itu terlalu menyenangkan. Kamu pun juga begitu menikmatinya, pikirnya. Orang-orang bilang, “Hey santai. Jangan dibawa serius.”. Tapi, bagaimana mereka tidak menganggap semua ini serius? Lalu serius pada kehidupan itu seperti apa?
Tali merah yang telah mereka buat semakin menjadi-jadi. Sulit sekali untuk dirapihkan. Orang-orang bilang, “Kusut. Sudah gunting saja.”. Gunting berarti tali tersebut akan putus. Dia tidak menginginkan itu, terlalu nyaman untuknya. Apa kamu juga begitu?
Hey, jawablah. Dia bertanya, tidak sopan sekali kamu tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sulit kah? Iya? Seperti nya begitu. Tapi sayangnya dia tidak ingin mengerti. Bukan tidak ingin, tetapi tidak mengerti. Tidak mengerti karena kamu tidak berterus terang.
Menurutmu itu sulit. Kalau begitu temani saja dia didalam lubang itu, nikmati kenyamanan kalian. Dia tidak akan pergi kemana-mana kecuali dirimu yang memulainya duluan.
Tapi, apa kamu tega? Kamu dan dia. Tidak ada yang memulai. Tidak akan ada cerita baru. Masih berdiam diri ditempat. Baiklah, tutup saja lubang itu, agar tidak ada yang jatuh kembali. Agar upaya tersebut tidak ada lagi. Agar kalian berdua terkubur sia-sia, tanpa upaya yang sebenarnya.
Yes yes. I can understand too la :))))
Terima Kasih.
Hujan deras baru saja berhenti. Orang mulai beramai-ramai keluar dari tempat berteduhnya untuk melakukan aktivitas kembali. Dan aku pun sama, untuk kembali ke tempat tinggal (read:kos). Dua tahun setengah bukan lah waktu yang singkat. Memang terasa lama, tapi juga “sudah tidak terasa”. Waktu menuntut kita berjalan lebih cepat.
Senang, sedih, tertawa terbahak-bahak, nangis, sebel, kesel. Semuanya pernah terjadi disini. Dan iya, sudah menjadi rumah yang kesekian kalinya bagiku.
Bertemu dengan banyak orang. Pengetahuan yang didapat pun sudah lumayan banyak. Berbagai sifat pada setiap orang dapat ditemui. Semakin sini rasanya kita semakin dekat, juga semakin jauh.
Terkadang aku memikirkan hal kedepannya, “Kalau ga ada kegiatan kayak gini apa kita masih bisa saling sapa?”. Karena pada nyatanya isi komunikasi kita selama ini hanya tentang, “Besok pengamatan bagaimana?”, “Sekarang lagi dimana?”, “Udah di acc belum?”. “Hari ini rapat ya.”, atau ”Makan yuk sekalian bahas kegiatan kemarin”. Bosan. Muak. Lelah. Iya itu perasaan hari ini. Kita terlalu sibuk dengan rutinitas semu kita.
Tapi itu yang membuatku memiliki kalian semua. Memiliki bahwa aku tidak selamanya sendiri. Memiliki kenyamanan kalau aku bersama kalian. Memiliki kebahagiaan yang selama ini memang aku inginkan. Memang, teman setiap jenjang berbeda-beda. Dan semuanya memiliki kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
Pada akhirnya terima kasih sudah percaya padaku. Terima kasih sudah ingin menjadi teman baik selama ini. Terima kasih sudah ada dalam hari-hariku. Dan aku harap komunikasi kita lancar seperti ini. Kegiatan kita akan berbeda-beda, jangan jadi penghalang untuk menanyakan keadaan masing-masing.
Dariku yang akan selalu rindu padamu.
Selasa, 08 Desember 2015
Pelabuhan
Seperti pelabuhan kapal. Banyak sekali yang datang dan pergi. Datang untuk menjemput, pergi pun untuk menemui. Bukan berarti tidak ada yang menetap. Hanya saja waktu dan tempatnya belum tepat. Kalau saja kedatanganmu bisa aku atur. Mungkin sudah dua atau tiga tahun lalu aku lakukan. Tapi takdir berkata lain. Tuhan memberikan jalan seperti ini. Sabar untuk menunggu yang tepat.
Kita.
Dulu, dengan mudahnya aku memberi janji yang pasti akan aku tepati. Dulu. Hari ini, ketika teknologi semakin canggih, jadwal kita yang sulit untuk disesuaikan. Semuanya terasa seperti angan-angan yang tinggi. Terlalu rumit untuk diceritakan, terlalu lemah orang-orang bilangnya. Ya. Aku memang rindu. Rindu kita. Kamu pasti merasakannya juga, mungkin. Tapi tidak semua orang berani mengatakan rindu kepadanya. Semoga takdir selalu membawa kita ke jalan yang benar. Yang diakhir kehidupan ini kita akan bersama.
White tiger by Alexander Kharitonov
Why did I do this.
Dear OP, I don’t care why you did it. Just know I’m grateful that you did xD
Hahahaahahaha xD
White Lion by Pat Stotler
White lions are not albinos, nor a separate species, but carry a recessive gene unique to the Timbavati area near Kruger National Park, South Africa. In a region characterized by white sandy riverbeds and long pale grasses, their blonde through near-white coloration serves as appropriate camouflage. Local communities revere white lions and hold them sacred.
Here you can find some detailed information regarding health problems and genetic disorders of white lions:
Source 1
Source 2
ini cakep bangeeeettttt ;A;
Miku Expo
Ngasih judul "Miku Expo" biar kece yaaa :"")))
Hari itu hari Kamis tanggal 29 Mei 2014. Emang udah ngerelain buat ga dateng ke expo nya. Rapopo lah.
Eh pagi-pagi si bapak bilang "Teh siap-siap. Kata bibi mau ke JHCC."
"Hah JHCC? Sama ga sih kayak JCC?" bodonya malah nanya kayak gitu.
"Iya kali sama. Siap-siap, yang lain udah pada nunggu di rumah bibi."
Yowes aku siap-siap. Sekitar 30 menit aku udah beres, kecuali sarapan. Kira-kira itu jam 8 pagi. Katanya sih berangkatnya jam 8 eh tapi si emak belom siap sama sekali. Biasa lah jam karet.
Jam pun nunjukin jam 9. Semua udah siap. Kira orang rumah yang lain mau pada kumpul di ruko. Eh ternyata udah pada ngumpul di rumah bibi. Ya telat lah yaa. Buru-buru aja bertiga ke rumah bibi. Si emak ngomel mulu lagi ga berhenti-berhenti.
Pas nyampe rumah bibi kayak biasa salam tangan ke sodara-sodara yang lain juga. Dan senengnya ada si Fahriii!!! Hahahaha calon anak yang bakal diajak ke festival mulu entar kalau dia udah SMP, sayangnya masih kelas 3 SD. Ada Fia sama Nazwa jugaaaaa, terus ada Keenan (bayi sekitar hampir setahun kali ya), sayangnya si Nadhira ga ikut, tuh anak dititipin ke tetangga sama emak nya hahaha.
Setengah jam kali ada diem dulu di rumah bibi, akhirnya pergi. Dan ternyata JHCC itu SAMA SEKALI BUKAN JCC. Iyalah. Dan ternyata kami-kami itu mau belanja baju di Thamrin. Tau gini.....
Nyampe sana langsung jalan-jalan cari-cari baju. Nemu banyak banget toko baju dan belum ada yang pas sama para ibu itu.
Dua jam berlalu. Si Fahri kakinya udah ga kuat lagi, minta es krim mulu lagi dia. Kalau lagi bete nyebelin banget emang. Kakinya yang nulis juga udah ga kuat, efek futsal tanding 3x sehari masih ada ini belum ilang-ilang.
Dan akhirnya ngampar di toko Hello Kitty, untung Fia dan Nazwa beli sesuatu di toko itu, jadi bebas mau ngampar juga, bareng Fahri dan yang lainnya juga.
Habis itu si Fahri ngadat lagi, pengen es krim yang ga ada di warung. Terserah dia deh. Akhirnya cari tempat makan dulu sekalian istirahat, makan di Lotte, dan disitu bapak-bapak juga dateng mau pada makan. Habis beres makan para ibu, Fia, dan Nazwa ngelanjutin perjalanan mereka. Aku sam Fahri udah ga kuat, yaudah nongkrong berempat plus si bapak penulis dan bapaknya Fahri. Sambil nongkrong penulis dan Fahri beli es krim, kentang dan kopi (buat para bapak). Duh selama ngantri ketawa-ketawa mulu. Si Fahri anaknya emang ga bisa diem, ngomel mulu lagi. Giliran kami berdua mesen, Penulis udah ngomong duluan eh si Fahri nyamber, pengen banget dia yang ngomong, yaudah dibiarin. Habis itu kami-kami nikmatin es krim nya.
Hampir dua jam kali nongkrong di Lotte akhirnya udah jam setengah 4an, tiba nya sekalian shalat. Lumayan jauh dari Lotte ke masjid. Dan ternyata di tempat luarnya masjid itu banyak para bapak yang tidur, nungguin ibu nya belanja kali ya hahaha. Beres shalat penulis dan Fahri baca-baca tentang agama gitu yang nemplok di dinding.
Habis baca, penulis dan Fahri duduk-duduk di depan masjid. Dan rasanya ngantuk bangeeetttt. Dan akhirnya penulis dan Fahri tertidur di depan masjid. Antara tragis dan geli ini. Bangun-bangung jam setengah6. Emang efek capek kali yaa. Berapa lama kemudian adzan magrib dan shalat berjamaah. Beres shalat ngobrol lagi sama si Fahri. Berempat kami menuju mobil. Kan pake dua mobil tuh, bapaknya Fahri nanya "Mau di mobil uwa ato ayah?". Fahri jawab "Mau bareng Teh Hemas". Hahahaha bagus deh, biar di mobil ga sepi.
Jalan aja si mobil, dan ternyata banyak mobil yang keluar juga. Di mobil kelaperan, dan akhirnya makan tahu yang asin banget. Fahri nanya "Wa ada minum ga?". Si bapak ngasih botol. Si penulis ngomong "jangan diabisin!" Dan Fahri ngasih botol. "Si budak malah diabisin kaaannn."
"Wa masih aus." "Yaudah sana ambil di mobil ayah. Deket kok deket. Depanan kan."
Ya kali lagi macet tiba-tiba anak SD keluar mobil cuma buat minta minum ke mobil depan =))
Selagi macet kami bertiga ngobrol banyak....pas nyampe para ibu nunggu akhirnya si Fahri turun dan kembali ke mobi ayah nya. Di mobil tinggal penulis, bapak dan emak.
Penulis minta anter ke JCC, jam menunjukkan pukul 19.30. Estimasi waktu dari Thamrin ke JCC 30 menit. Selama 30 menit udah keliling-keliling ampe nanya ke orang di pinggiran jalan. Ampe sempet mewek karena si emak ngomel mulu gara-gara si bapak salah ngambil jalan. Malu-maluin sih ini sebenernya XP
DAANNN AKHIRNYA SAMPAI DI JCC! Jam menujukkan pukul 20.00. PAS!! X)
Masuk ke Cendrawasih Room. "Sepi yaaa." Iya lah udah jam 8 malem. Konser kayaknya masih berlangsung :") Tapi disana akhirnya cuma foto-foto dan beli merchs (towel warna biru dan pin acak, dapetnya Miku)
Foto-foto sama frame nya doang :"") Untung ada emaaakkk, jadi bisa motoin. Makasih emak. Ga kebayang kan kalau beneran sendirian disana. Udah jadi anak ilang aja kan nantinya :"")
Dan si kamera malah abis batrenya. Akhirnya pake kamera punya emak :""")
Ini beberapa penampakan selama di JCC :))
Si cuyung Kaito <3
Bergaya ala Kaito :')))