Di awal Ramadhan 2024, sore hari, menjelang waktu berbuka. Aku pulang dari luar membeli beberapa takjil. Tiba-tiba aku melihat bunda terduduk lemas. Padahal tadinya aku melihat bunda masih menyapu lantai. Aku terkejut. Kuhampiri bunda. Kukira lemas biasa. Ternyata agak lama, bunda tak memberi respon ketika aku panggil. Aku berteriak memanggil ayah yang sedang di dapur. Panik. Sangat panik. Bunda tampak kesulitan dalam bernapas, sesak. Pikiranku sudah jauh melayang. Apakah ini detik detik kematian?
Aku hanya bisa memanggil-manggil bunda, dan menggegas ayah untuk segera membawa bunda ke rumah sakit. Dengan rasa takut, akhirnya terlontar dari mulutku untuk menuntun bunda,
“Laa ilaaha illallaah…” sambil memeluk bunda, dan mengusap kepalanya.
“Bunda.. ikuti ilfa… laa ilaaha illallaah…” aku terus mengusap rambut bunda yang ternyata sudah penuh dengan warna putih. Tubuh bunda pun ternyata terasa sudah tak setegap dulu.
Namun bunda tak juga merespon. Waktu berjalan, terasa sangat lama.
Ayah terus memanggil nama bunda. Menggoyang-goyangkan seluruh tubuh bunda yang sudah lemah. Akhirnya bunda membuka mata, dan menyahuti panggilan kami.
Ayah mengangkat bunda, dan membaringkan bunda di kursi depan. Aku duduk di samping kursi itu, sambil terus mengusap rambut bunda. Tak kubiarkan sekian detik pun berlalu tanpa kupandangi wajah bunda yang pucat itu. Aku ingin memastikan apakah bunda sudah benar-benar sadar. Kudengarkan bunda menceritakan bagaimana kronologinya, dan apa yang bunda rasakan. Sambil bercerita, sambil kuusap terus kepala bunda. Tak pernah aku secemas ini dalam hidupku. Melihat bunda sudah lancar berbicara, aku merasa sedikit lega. Tak pernah aku merasakan lega yang seperti ini dalam hidupku.
Lirih aku berbisik dalam hati, “Jangan sekarang yaa Allah… aku mohon…”
Tangisku pecah, mengalir deras, tak dapat terbendung. Rasanya saat itu aku tak ingin beranjak sedikitpun dari bunda. Ingin kuperhatikan terus gerak napasnya. Ya Allah... aku masih butuh waktu lebih lama lagi bersama bunda.
Malam itu, malam di bulan Ramadhan. Malam yang terasa sangaaaat panjang. Rasa resah dan gelisah memenuhi dadaku. Doaku tak seperti biasa. Aku meminta kepada Allah sejadi-jadinya. Aku takut setakut-takutnya. Air mataku tak henti-hentinya mengalir ketika aku mengingat detik-detik kritis itu. Aku takut bagaimana kalau aku tak menemukan bunda lagi di esok hari?
Katanya, kurang tepat kalau kita meminta umur yang panjang karena umur adalah takdir yang tak dapat kita ubah. Tapi malam itu, aku berharap agar Allah menetapkan takdir untukku, agar Allah panjangkan umur bundaku, dan juga ayahku. Baktiku masih sedikit. Belum cukup untuk membalas segala kebaikan dan kasih sayang kedua orang tuaku, dan selamanya tak akan pernah cukup. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersama kedua orang tuaku. Berikan aku waktu sekali lagi untuk bisa menjadi anak yang lebih baik kepada orang tua, menjadi anak perempuan yang sholeha. Agar kelak ketika waktu kematian itu tak dapat terelak, aku bisa memberikan hadiah surga kepada mereka, dan kami sekeluarga dapat berkumpul bersama, bersenang senang di surga selama-lamanya.
Di sisi lain, aku berterima kasih kepada Allah atas peringatan ini. Aku berterima kasih kepada Allah, bunda masih ada bersamaku. Baru aku sadari, aku sungguh terlena dengan nikmat hidup diberi. Padahal kematian selalu mengintai setiap detiknya. Baru terbayang betapa sulitnya hidupku jika tanpa bunda. Maka, untuk setiap hela napasnya, dan untuk setiap detik bersamanya, aku harus menikmatinya dan bersyukur kepadaNya. Agar tiada penyesalan ketika sudah waktunya tak lagi bersama.
Untuk setiap kebersamaan, kebahagiaan, rasa sedih, rasa kesal, rasa marah, apapun itu, asalkan bersama ayah dan bunda, aku mengucapkan terima kasih banyak banyak kepada Allah. Semoga Engkau curahkan terus kasih sayang ini ke dalam keluarga kami, menjadikan kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, fiddunya wal akhirah. Aaamiiin.