The Terrorizers (1986), dir. Edward Yang

pixel skylines
RMH

#extradirty
he wasn't even looking at me and he found me

❣ Chile in a Photography ❣

PR's Tumblrdome
𓃗
official daine visual archive
sheepfilms
Cosimo Galluzzi
🩵 avery cochrane 🩵
wallacepolsom
todays bird
Not today Justin
TVSTRANGERTHINGS

Discoholic 🪩
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price
untitled
Xuebing Du
seen from Netherlands
seen from Philippines
seen from Philippines
seen from Philippines

seen from United Kingdom

seen from Nepal
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Algeria
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from Italy
@hereisn0why
The Terrorizers (1986), dir. Edward Yang
official nintendo statement: princess peach is a nasty bitch that gets into heat often and begs rosalina to split her open with her 11 inch cock
KOOONG - Iwan Simatupang: Tentang Pencarian
Terjadilah saling cari-mencari
Pak Sastro mencari perkututnya. Si Amat Kalong, si Jangkung, Pak Lurah dan hampir seluruh pria desa itu mencari Pak Sastro. Dan perkutut itu sendiri- ingin mencari makna sebenarnya dari kebebasan dan kemerdekaan. Atau seperti yang dikatakannya sendiri, ukuran tambahan pada penglihatannya di luar sangkar.
halaman 89
Akhirnya hari ini selesai juga membaca novel 99 halaman hasil rekomendasi bapak penjual toko Ampera Palasari yang dibeli entah dari zaman kapan. Sebagai pembaca sastra Indonesia pemula yang waktu itu masih ga tau nama besarnya Iwan Simatupang, sebenarnya saya jadi agak ogah-ogahan bacanya. Apalagi dengan cover jadul yang kurang menjual dan deskripsi isi buku tanpa review, makin lama lah proses pembacaan buku ini. Namun, lewat sepertiga halaman buku, ketika pengembangan masalah dan pengenalan tokoh sudah selesai dijabarkan, baru deh terasa “khas” dan kedalaman alur ceritanya. Banyak yang ingin buku setebal 99 halaman ini ingin katakan. Diawali dari kaburnya perkutut Pak Sastro, duda kaya terhormat, yang tak bisa koong, Iwan Simatupang membawa kita ke suatu perjalanan tentang rupa-rupa makhluk yang berjalan ke arah yang sama: tujuannya masing-masing. Banyak pertanyaan yang terbentuk sebari membaca roman yang satu ini. Berapa lama, berapa jauh jarak yang harus kita tempuh untuk bahkan mengetahui kemana kita harus berjalan? Walaupun jawabannya terasa gamblang dan sederhana tapi ternyata di dalam hidup selalu terasa rumit dan kabur untuk bahkan dipandang. Dihalangi ketamakan, kekenesan atau mungkin ego yang bertengger nyaman di depan mata yang selalu tak pernah terlihat. Atau mungkin kita bahkan mengejar-ngejar suatu fatamorgana hasil proyeksi “dari segala kekosongan dan kegagalannya. Dari segala harapan dan titik-titik yang tak sempat diwujudkannya." Seperi layaknya Pak Sastro dan burung perkututnya atau si Amat Kalong dengan otot-ototnya. Harus ada yang kita lepaskan agar terlepas Harus ada yang kita bebaskan untuk terbebas Untuk menjadi sebenar-benarnya kita..
Alangkah jauhnya jarak ke diri sendiri. halaman 67
KOOONG!
Sofia Coppola, 2003 - photographed in Tokyo by Hiromix during the filming of Lost in Translation
After reading dorce's wikipedia page i desparately need to know other publicly out indonesian queer figures
— Laura Basuki and Putri Marino in “In the Middle of Love” (2018, unreleased)
Waria - Fulvio Bugani
In Indonesia, [queer amab's] are known as Waria, a term which is a combination of two Indonesian words: “wanita,” which means woman, and “pria,” which means man.
In a country with a conservative culture and where the majority of the population is Muslim (approximately 202.9 million of believers - 87.2% of Indonesia’s total population and 13,1% of the World Muslim population) they face a certain level of marginalization and discrimination. They are prone to ridicule, violence, and poverty, since their job opportunities are generally limited.
Many waria leave the island where they were born, to go to Yogyakarta, the old cultural capital of Java, where the atmosphere is more tolerant and relaxed. Here live approximately 3 million people and almost 300 Waria, usually gathered in isolated communities to help and support each other. Only few of them manage to have stable job and a relationship with a man. Everyone struggle to have a semblance of normal life. Often their families don’t know who they really are.
“Whenever there’s a mosque, there’s a church nearby.”
“Why do you think that is? Is it some kind of competitive thing?”
“Its trying to be bhineka tunggal ika, You know how it isss~”
“Ohhh… “trying” right?~”
*laughs*
….
“But religion plays such a big role in here huh?”
“That’s why…”
“That’s why what?”
“There’s no place for us here.”
-Selamat pagi, malam (2014)
Hiromix 01
hiromix 2008
Hiromix photography (1998)
Clarice Lispector, from A Breath of Life
martyr by paul fryer
Fetish, photography by David Lynch for Christian Louboutin, 2007
Nibble
Mantis and woodsorrel