Yang kamu tunjukkan kepadaku hanyalah sebuah kemungkinan—tentang ‘kita’, tentang masa depan yang seolah bisa diperjuangkan bersama. Itu yang luput dari sadarku, bahwa aku hanya menafsirkan sendiri. Dibiarkan berharap, seakan semua yang kamu tawarkan memang untukku. Tapi kamu tak pernah berjanji, dan aku tak pernah benar-benar memastikan. Mungkin sejak awal, aku hanya diajak bermimpi, bukan untuk benar-benar menjadi bagian dari cerita itu.
Mimpi yang terlalu nyata. // Andira W.














