Dea....tadi aku lihat videonya Dedy Corbuzier sama ustadz Wijayanto yang ngomongin kafir. Well kalo denger jawabannya bapak ustadz, diplomatis banget sih. Aku pengen dapet penjelasan dari kamu. Soalnya kamu biasanya bisa jelasin dengan gamblang banget dengan bahasa yang enak. Kalau misal agamaku katholik, kamu nyebut aku kafir apa ahli kitab? Sebenernya pengen tanya via japri. Tapi lebih suka via tumblr biar kamu jawabnya bisa panjang hoho. Happy ramadhan btw 😊 Awal juli aku di Sby. Ayok ngopi
Haloo mas anon yang tidak anon ~XD sorry baru sempet jawab pertanyaan ini. Sampe diingetin via WA :p
Jawaban pertanyaan ini panjang kali lebar. Saya butuh suasana tenang biar ga keliru.
yang pertama, mas harus tau bahwa istilah kafir itu ada bukan untuk blasphemy atau bullying. Tapi karena sekarang banyak orang yang menggunakan istilah tersebut untuk kepentingan masing-masing, kata kafir itu jadinya berasosiasi dengan kebencian dan makian.
Jadi kalau kita bahas istilah kafir di tulisan ini, mas harus ngerubah persepsi terlebih dahulu untuk menempatkan istilah ini di posisi yang netral.
Yang kedua, kalo mas baca terjemahan Al Qur’an dan menemukan ayat-ayat yang menyuruh kami memerangi kafir, mas perlu tahu kalo ayat itu turun berkenaan dengan kafir yang memerangi ummat Islam. Jadi nggak semua kafir harus diperangi. Perkara ini, saya bahas lagi di paragraf selanjutnya.
Nah….kafir dari segi bahasa artinya tertutup. Kalau secara istilah artinya adalah orang yang hati dan akalnya tertutup sehingga tidak bisa menerima kebenaran Islam. Dalam islam itu ada konsep rukun Islam dan rukun iman. Kalau salah satu rukun islam tidak kami tunaikan, Islam kami tidak sempurna tapi kami tidak masuk golongan kafir. Kalo salah satu rukun iman tidak dipenuhi, kami bisa langsung masuk golongan kafir. Simpelnya seperti itu.
Rukun islam pertama itu syahadat yang mempersaksikan bahwa Allah itu Tuhan kami dan Muhammad itu Rasulullah. Kalau kami bersyahadat, otomatis kami sudah memenuhi dua rukun iman yaitu iman kepada Allah dan iman kepada Rasulullah. Konsekuensinya, kami harus menunaikan satu rukun iman lagi yaitu iman kepada Kitab Allah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an) dimana Al Qur’an mendefinisikan kafir seperti yang saya sebutkan di atas.
Salah satu ayatnya bisa di cek di sini QS 5:17
Itu yang mendefinisikan Al Qur’an, bukan saya. Jadi saya nggak bisa mengganti definisinya. Dan saya harus percaya definisi ini sebagai konsekuensi karena saya memilih Islam.
Memang dalam Al Qur’an ada banyak ayat yang bicara bahwa orang kafir masuk neraka. Dan lagi-lagi ini wilayah believe. Percaya atau tidak, kami yang muslim diwajibkan percaya. Yang non muslim, sama sekali nggak diikat dengan Al Qur’an. Jadi nggak perlu terprovokasi dengan ayat ini.
Di awal tadi, saya kan nyebut kalo kafir itu bukan dibuat untuk blasphemy atau bullying. Ini label yang digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Contohnya….negara Islam itu kenal konsep zakat dan jizyah. Zakat dibebankan kepada penduduk muslim, jizyah dibebankan kepada kafir (atau kalo mas belom nyaman dengan istilah ini, selanjutnya tak sebut non muslim). Dimana besaran zakat itu jauh lebih besar daripada jizyah.
Kami mengenal dua jenis non muslim. Yang pertama kafir harbi yaitu orang non muslim yang memerangi kami. Yang kedua adalah kafir dzimmi atau ahlu dzimmah, yaitu non muslim yang tidak memerangi islam.
Dalam hal berhubungan antar sesama manusia, hak ahlu dzimmah ini sama dengan sesama muslim. Mereka berhak dijenguk kalau sakit, berhak ditolong bila terjebak dalam kesulitan, berhak dijamin keamanannya saat beribadah, berhak dapat jaminan sosial kalau berada di negeri muslim dan seterusnya. Kecuali dalam hal warisan, pernikahan dan kepemimpinan negara. Kami tidak diizinkan menikah dengan non muslim. Non muslim juga tidak berhak dapat warisan dari orang muslim. Tapi dalam islam kan ada konsep hibah (pemberian), harta orang yang meninggal itu boleh dikasih ke orang lain maksimal 1/3 baru habis itu dibagi ke ahli waris. Nah orang non muslim, biasanya dapat jatah dari yang1/3 bagian tadi. Biar bisa sama-sama legowo.
Nah masalah kepemimpinan kenapa tidak diizinkan? Pemimpin itu harus mengerti seluruh hak dan kewajiban rakyatnya. Dalam islam itu agama bukan sekedar jadi tatacara ritual ibadah, dia juga mengatur kehidupan yang lebih luas. Dikhawatirkan kalau pemimpinnya non muslim, nanti hak dan kewajiban rakyat tidak terpenuhi dengan baik. Tapi non muslim tetap berhak dimintai pendapat dalam hal bernegara karena negara Islam itu mengayomi seluruh manusia, bukan yang muslim aja.
Trus gini, masalah kepemimpinan tadi itu berlaku di negeri yang udah menerapkan syariat Islam aja. Kami nggak diizinkan untuk memaksakan masalah pemimpin ini ke negeri yang tidak didasari syari’at Islam. Di Indonesia, orang non muslim berhak mencalonkan diri. Dan kami sebagai muslim berhak untuk tidak memilih dengan reason “tidak diizinkan oleh agama”, undang-undang nya dijamin pasal 29 UUD 1945.
Kalau sampai kejadian yang terpilih itu non muslim, tidak ada perintah dalam Alqur’an agar kami memerangi pemimpin tersebut. Karena yang terpenting adalah kami sudah berusaha menjalankan Islam semaksimal yang kami bisa.
Perlu mas tahu, Islam tidak menyuruh kami untuk berperang hanya karena agama yang berbeda. Kami hanya disuruh berperang bila ada kedzaliman yang ditebarkan. Itupun ada tahap-tahapnya. Hal ini bisa dibaca dibuku ustadz Salim A Fillah yang judulnya Lapis-lapis keberkahan dalam bab Atap Naungan Islam. Hanya saja, kebetulan ada banyak kisah tentang orang yang kafir sekaligus dzalim dan seringkali yang disorot cuma kafirnya doang. Bukan zalimnya. Tentang ini, coba baca kisah tentang Khosrou (Persia), Vlad Dracul (Turki Ottoman), atau Perang ‘Ain Jalut.
Pada prakteknya dalam kaitan hubungan politik muslim dan non muslim, di Dinasti Abbasiyah ada banyak ilmuwan dan politikus yang non muslim dan sangat dihormati. Mas juga bisa baca kisah tentang masjid Umar sebagai contoh toleransi yang diajarkan. I can’t write those stories here. It’s too long. Mending mas baca sendiri.
Kalau kafir harbi, memang harus diperangi untuk menghilangkan kerusakan yang lebih besar. Logikanya kan sama kayak Indonesia yang memerangi Belanda zaman penjajahan. Perang itu sesuatu yang kita benci namun dalam kondisi tertentu, kita memang harus berperang.
Dalam Al Baqoroh (lupa ayatnya), ada lafadz Laa ikraaha fid din. artinya tidak ada paksaan dalam beragama. It means kami tidak boleh memaksakan keyakinan kami ke orang lain. Kalau yang demikian saja nggak boleh, apalagi berperang tanpa sebab.
Jadi saya berharap phobia terhadap Islam bisa berkurang dengan penjelasan ini.
Apakah mas bisa saya sebut Ahli Kitab?
Sebelumnya kan saya bilang kalo salah satu rukun iman adalah beriman kepada kitab Allah. Kitab itu ada empat yaitu Taurat, Injil, Zabur, Al Qur’an. Dimana keempat-empatnya mengajarkan tauhid (beriman kepada Allah).
Injil yang kami imani berbeda dengan injil yang mas percayai. Taurat yang kami imani juga berbeda dengan taurat yang diimani orang Yahudi. Ahli kitab adalah orang-orang yang percaya dengan Injil dan Taurat kami yang artinya mereka juga percaya tentang kenabian Muhammad SAW, percaya bahwa Tuhan mereka adalah Allah. Bukan yang lain. Itu artinya, ketika Ahli kitab itu bertemu dengan Rasulullah, mereka otomatis akan berislam dan langsung menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup mereka. Karena dalam kitab mereka, diberitahukan bahwa Muhammad adalah penyempurna risalah.
Ahli kitab yang disebutkan dalam Al Qur’an itu sudah tidak ada hari ini. Mereka ada di era antara masa Nabi Isa AS sampai Nabi Muhammad SAW. Kalau mas pengen tau profilnya Ahli Kitab, mas bisa cari dengan keyword Waraqah bin Naufal. Beliau masih family dengan Khadijah isteri Rasulullah.
Di penjelasan ini nggak ada yang ditutupi, dan saya berusaha ngasih gambaran utuh sejauh yang saya tau. Dan saya ngejawab, Insya Allah bukan buat nyenengin kamu hehe. Kalau memang ada yang terlewat, mungkin saya yang khilaf.
Endingnya, saya harus nyebut mas apa? Kriterianya Insya Allah sudah sangat gamblang untuk disimpulkan sendiri. Mustahil ada orang yang muslim sekaligus kafir. Tapi manner yang diajarkan Al Qur’an terhadap orang kafir itu tidak seseram yang kamu bayangkan meskipun juga tidak seindah yang kamu harapkan.
Banyak yang berharap kami mengganti kriteria dalam memilih pemimpin. Tapi lagi-lagi, Al qur’an ada untuk kami jalankan. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini.
Happy dapat THR, happy cuti bersama :p