would love to get a copy of it, be it as belated congratulatory gift or my upcoming birthday present.
buku ini sudah di tangan. Thanks for Pak Dosen yang baik banget.

No title available

JBB: An Artblog!
almost home

PR's Tumblrdome

★
Show & Tell
cherry valley forever
we're not kids anymore.

Janaina Medeiros
hello vonnie
NASA
AnasAbdin

JVL

tannertan36
Stranger Things

pixel skylines
tumblr dot com
wallacepolsom
Not today Justin
todays bird
seen from Puerto Rico

seen from France
seen from South Africa
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States

seen from Indonesia
seen from Türkiye
seen from Morocco
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Lithuania
@hiraisa
would love to get a copy of it, be it as belated congratulatory gift or my upcoming birthday present.
buku ini sudah di tangan. Thanks for Pak Dosen yang baik banget.
Day Two
kemarin seabrek pikiran negatif menghantuiku seputar beasiswa. aku sih heran kenapa aku punya perasaan yang yang negatif (padahal tidak ada yang namanya perasaan positif dan negatif, semua perasaan itu baik dan valid) seperti itu, padahal aku sudah merasa punya pandangan yang positif tentang proses perjalanan mencari beasiswa. akhirnya aku biarkan saja aku merasakan persaan yang kubilang negatif itu.
pagi harinya, hari ini, aku merasa lebih baik, tidurpun cukup dan aku sampai pada kesimpulan bahwa wajar sekali (memvalidasi perasaan sendiri) aku punya perasaan tersebut.
kronologinya, senin malam aku impulsif beli tiket kereta ke surabaya, selasa pagi jam 7 kereta berangkat, tapi aku masih belum dapat hasil antigen negatif. tes dibuka jam 6, artinya aku cuma punya waktu kurang dari satu jam. hectic sekali hari itu, banyak orang yang ngantri dan berangkat jam 7, beberapa orang gelisah dan naik pitam karena menunggu hasil tes.
Selasa sorenya aku sudah di gresik, di rumah. keesokannya aku langsung ke bungah, gresik, dan surabaya untuk ngurus skck. karena aku gak suka bolak-balik aku memutuskan beli tiket kereta balik ke Jogja sore itu juga setelah kelar di polda. jam 2 aku sampai di stasiun, berharap dapat hasil tes antigen negatif dan bisa balik ke Jogja jam 3.15.
sampai di Jogja hampir jam delapan, hujan lagi. sampai kos aku capek.
keesokannya, hari Kamis, alias kemarin. aku sedih dan pesimis plus capek banget. ga mau ngapa-ngapain. terus berdatanganlah perasaan dan pikiran negatif. dan mungkin ini yang dimaksud bahwa "sometimes, You are not the best person to talk to you about you right now." Belajar satu hal lagi tentang perasaanku sendiri. It is totally okay to feel like a shit because you are literally, maybe because you are very tired or tired. accept it wholeheartedly or talk to someone you trust to validate your feelings or you just can validate your own feelings.
Kamis malamnya, aku ga nyentuh sama sekali berkasku dan ga belajar toefl buat ujian sabtu besok, karena aku lelah dan sedih. aku cuma nonton youtube tentang cerita jatuh bangun orang-orang yang dapat beasiswa. dan itu membantuku untuk tetap punya harapan.
"Sometimes, You are not the best person to talk to you about you right now."
Glad, I wrote something about this because I have so much to write about how one year later I feel about my journey getting scholarship.
Day Three
Tadi malam, aku ngobrol sama Nad. Aku cerita bingung mau pilih belajar buat iBT atau IELTS, karena ITP masih sangat terbatas peruntukkannya untuk beasiswa. Akhirnya hari ini aku memutuskan untuk belajar iBT saja. Karena iBT sepertinya lebih sulit dan tes tersebut menekankan untuk belajar berargumen baik secara lisan maupun tulisan. Belajar menulis argumen dan mengartikulasikannya merupakan goals aku. Jadi, iBT saja.
dan baru separuh belajar, aku merasa bahwa kalau semisal nanti ambil IELTS tidak akan jauh berbeda, karena basic-nya sudah dipelajari di iBT.
Life updated!
Dapat beasiswa IELTS dan alhamdulillah skor yang lebih cukup untuk daftar master LN. Jadi, IELTS gak semenyeramkan itu.
Agama itu laku yang berhati-hati dan memperbaiki diri untuk menjadi yang terbaik terus menerus, bukan parade kesalehan yang tampak mata.
-kepikiran ketika ada pengajian ramadan setelah ashar dengan pengeras luar. Si so-called modin menjelaskan konsep cantik dan jelek dengan seberapa centi tingginya tulang hidung. Ia menerangkan hadis, katanya dengan menakut-nakuti "barangsiapa yang tidak A B C, nanti hidungnya growak". Kebetulan ada bapak di dekatku dan menggelengkan kepala "opo-opoan", aku dalam hati "bullshit". Ini kenapa aku gak cocok sama beberapa ustad kampung, tentu masih ada generasi penerus yang lebih baik dari ustad yang itu. And I am not gonna let my children hear that kind of words, beragama itu harus pinter, biar ga malu-maluin agama, dan ga percuma juga ibadahnya.
PS: saya tahu wajahnya, dan mungkin tergolong bridge nose-nya meninggi satu milimeter tapi mungkin dia ga pernah belajar biologi tentang evolusi dan tergolong ras apa suku Jawa ini sehingga dalam pikirannya cantik itu ya seperti kaukasia. idih.
Masuk akal banget, tujuan parenting abad 21th bukan lagi semoga menjadi anak yang berbakti kepada orangtua, bangsa, dan negara. Tetapi, tujuan pengasuhan adalah untuk meminimalisir trauma yang dialami oleh anak.
People like us, we don't need to walk in our family's shadows, not anymore. Yoshii-Pachinko-eps6
Where do I want to live my life?
Hometown? the place where a survivor of sexual assault had been bullied throughout her childhood until adolescent. She was just a kid who did not know how terrible it was being teased and repeatedly told that "hey, you are raped" with euphemism. She never asked her parents so did the parents never knew that their daughter suffered. The child is always proving to other people that she excels academically. She is well-versed in English also well-read. Thanks to her edification in higher education, she can shift her mindset that she should not be ashamed about what happened in the past. It was not her fault being such a compliant daughter who was very happy to run errand to help her mother. The daughter ever resented her mother "why her mother should asked her to go to that damn house at that time!". what-ifs the mother did not do that, she would not experience the horrifying moment that will always haunting her. The daughter does not know yet what will be the impact of that long-buried assault. She, you could say, is directly not yet experience the trauma but what if she found the man she likes and somehow that experience affects their relationship. What if deep down, she feels that there is no love exist in this world. That is why, despite her mother want to keep her in the mother's side, her father always tells that you should live outside our neighborhood, fly as high as you can, study as far as you can, and just don't live here. You are too worth being here.
When it's cold outside I should get my dose of antihistamine. Otherwise I will get severe hives.
dan kebetulan di feed wordpress-ku ada tulisan ini
https://hak1m.wordpress.com/2022/03/02/poin-penting-studi-lanjut-di-ln/
By not pursuing master degree overseas, my adviser thinks that I am doing a disservice to myself. He pinpoints that somehow I am lack of mental resilience and not trust myself enough that I can achieve anything that seems impossible. My excuses are weak before him. He indirectly said where there is a will there is a way. So do I. I wonder why if I am holding on to myself. I am torn.
Life Update
I attended commencement last Wednesday and my family came. The Dean explicitly congratulated me by call my name. I was touched. Then I saw him before the building and asked for photo together.
Met a guy for the very first time but only learned his name and professionalism. He has a pair of dark brown eyes and slim fit body. He also possesses a radiant smile. He smiled a lot that when learning how hopeless I was before his camera.
Started my part time job last Friday with my cool lecturer. She is so productive and also mother of three. I learned a lot from her. She is easy going and talkative. The money and the restaurant were good . The important thing is I know that I have something to offer and people seem love my work.
Next?
Apply to a contract job, give shot to a couple of scholarships, probably extend my stay in Jogja for one month because my diploma will be issued about 3-4 weeks after convocation, take a serious consideration to publish my honors thesis.
I feel great!
Day Three
Tadi malam, aku ngobrol sama Nad. Aku cerita bingung mau pilih belajar buat iBT atau IELTS, karena ITP masih sangat terbatas peruntukkannya untuk beasiswa. Akhirnya hari ini aku memutuskan untuk belajar iBT saja. Karena iBT sepertinya lebih sulit dan tes tersebut menekankan untuk belajar berargumen baik secara lisan maupun tulisan. Belajar menulis argumen dan mengartikulasikannya merupakan goals aku. Jadi, iBT saja.
dan baru separuh belajar, aku merasa bahwa kalau semisal nanti ambil IELTS tidak akan jauh berbeda, karena basic-nya sudah dipelajari di iBT.
Day Two
kemarin seabrek pikiran negatif menghantuiku seputar beasiswa. aku sih heran kenapa aku punya perasaan yang yang negatif (padahal tidak ada yang namanya perasaan positif dan negatif, semua perasaan itu baik dan valid) seperti itu, padahal aku sudah merasa punya pandangan yang positif tentang proses perjalanan mencari beasiswa. akhirnya aku biarkan saja aku merasakan persaan yang kubilang negatif itu.
pagi harinya, hari ini, aku merasa lebih baik, tidurpun cukup dan aku sampai pada kesimpulan bahwa wajar sekali (memvalidasi perasaan sendiri) aku punya perasaan tersebut.
kronologinya, senin malam aku impulsif beli tiket kereta ke surabaya, selasa pagi jam 7 kereta berangkat, tapi aku masih belum dapat hasil antigen negatif. tes dibuka jam 6, artinya aku cuma punya waktu kurang dari satu jam. hectic sekali hari itu, banyak orang yang ngantri dan berangkat jam 7, beberapa orang gelisah dan naik pitam karena menunggu hasil tes.
Selasa sorenya aku sudah di gresik, di rumah. keesokannya aku langsung ke bungah, gresik, dan surabaya untuk ngurus skck. karena aku gak suka bolak-balik aku memutuskan beli tiket kereta balik ke Jogja sore itu juga setelah kelar di polda. jam 2 aku sampai di stasiun, berharap dapat hasil tes antigen negatif dan bisa balik ke Jogja jam 3.15.
sampai di Jogja hampir jam delapan, hujan lagi. sampai kos aku capek.
keesokannya, hari Kamis, alias kemarin. aku sedih dan pesimis plus capek banget. ga mau ngapa-ngapain. terus berdatanganlah perasaan dan pikiran negatif. dan mungkin ini yang dimaksud bahwa "sometimes, You are not the best person to talk to you about you right now." Belajar satu hal lagi tentang perasaanku sendiri. It is totally okay to feel like a shit because you are literally, maybe because you are very tired or tired. accept it wholeheartedly or talk to someone you trust to validate your feelings or you just can validate your own feelings.
Kamis malamnya, aku ga nyentuh sama sekali berkasku dan ga belajar toefl buat ujian sabtu besok, karena aku lelah dan sedih. aku cuma nonton youtube tentang cerita jatuh bangun orang-orang yang dapat beasiswa. dan itu membantuku untuk tetap punya harapan.
"Sometimes, You are not the best person to talk to you about you right now."
kalau punya privilese, ya mungkin cukup mikir gimana caranya biar dapet beasiswa sedangkan uang ga perlu dipikir karena ortu masih senang-senang aja ngasih. tapi kalau enggak, ya emang harus kerja, entah paruh waktu atau penuh waktu, pinter bagi waktu buat kerja dan mempersiapkan syarat beasiswa.
karena dalam bayanganku, nyari beasiswa itu susah, dapetnya susah, terus kalau dapet ya tetep susah harus adaptasi dan belajar segala rupa agar lulus bawa ilmu dan gelar. memang hidup ini bersusah-susah. sesuatu banget. yang kerja juga sama aja kayaknya. eniwei, dalam kamusku dapat beasiswa itu udah terhitung kerja, kerjanya belajar, nulis, baca buku. digaji per bulan. itungannya termasuk karier juga. soalnya ada orang yang emang cita-citanya jadi dosen, sampai usia kurleb 30 masih sekolah dan dikomentarin "kok kamu sekolah mulu, ga kerja", yasalam #facepalm dianya jawab "ya emang saya mau jadi dosen, kerjanya ya sekolah ibuuk julekha"
note lagi, ga ada beasiswa yang sempurna, yang ada hanya poin plus dan minusnya, kuncinya bersiap-siap.
Beasiswa is a Marathon
meskipun ijazah belum di tangan, aku mau bonek aja coba daftar beasiswa untuk pertama kalinya. berbekal SKL dan transkrip sementara yang sedang dalam proses penerjemahan, aku mengisi formulir beasiswa. aku sih 'nothing to lose', berusaha aja, urusan diterima atau nggak, serahkan sama yang di Atas.
ternyata aku menikmati proses ini.
aku cenderung lebih tertarik dengan beasiswa yang disediakan oleh negara tujuan belajar daripada beasiswa dari pemerintah sendiri. alasannya tentu karena tidak ada syarat 2n+1.
nah, tadi malam sampai jam 3-an aku nyisir grup telegram beasiswa negara B yang dikelola oleh PPI. cukup kudet aku, seharusnya aku tahu dan bergabung grup ini jauh-jauh hari. oleh karena itu, #tips1 cari komunitas beasiswa negara tujuan biar update dengan perkembangan terbaru beasiswa. aku kaget bahwa ada persyaratan yang berubah.
salah satunya, kampus negeri terbaik mereka sudah tidak terima toefl itp. aku kadung daftar tes buat tgl 22 besok. tetapi gak papa karena bisa buat daftar beasiswa lainnya. jadi mulai mikir, mau belajar iBT atau IELTS. sekarang belajar bahasa Inggris jadi prioritas. sedangkan univ Islam mereka malah ga mensyaratkan bahasa, wkwk. tetapi aku kurang tertarik di situ.
ternyata beasiswa ini juga 'standar' menurutku tingkat kesulitannya. aku udah baca beberapa aplikasi awardee mereka dan ya, emang biasa dan standar banget. tetapi aku 'kan tidak tahu proposal mereka bagaimana. apalagi univ tujuanku kan research univ (R1) jadi bukan univ pembelajaran biasa.
aku juga mau daftar beasiswa negara K karena tenggatnya akhir bulan ini. bakal sibuk mesti dan keluar uang banyak. alhamdulillahnya hari ini ditawari kerja lepas sama Bu Dir di kampus, bantu-bantu nulis, beliao menjanjikan ada kompensasi. selain itu, kayaknya aku harus pulang bentar buat SKCK di polda.
aku juga belum kirim surat rekomendasi ke dua dosen favoritku. salah satunya ngasih aku tugas untuk nyari jurnal yang cocok buat nerbitin skripsiku. aku malu kalau bilang ga bisa fokus ke situ karena sedang asyik-asyiknya ngejar beasiswa. semoga bisa barengan dan kukerjain di sela-sela waktu. aku udah ngunduh buku tentang cara menerbitkan jurnal, tetapi belum dibaca. kayaknya bagus deh, jadi di buku itu lengkap sampai ada-how-to-publish dalam 12 minggu. Keren.
Selain itu, aku juga mulai belajar di hackchinese lagi buat 20 hari ke depan. ganti akun lagi biar dapat gratisan hehe. tetapi setelahnya mungkin aku akan langganan.
aku menuliskan "Beasiswa is Marathon" di halaman depan cetakan aplikasi beasiswaku sebagai pengingat. kalau mau nyari beasiswa harus terstruktur, terstrategi, santai, dan tangguh. terstruktur agar kita gak stres karena kita punya langkah-langkah yang jelas. terstrategi agar kita bisa baca pola acceptance mereka. santai agar tidak capek sendiri dan akhirnya putus asa. tangguh artinya tidak mudah menyerah melewati segala proses, entah nanti dapat beberapa penolakan setelah bertahun-tahun. tetapi semuanya indah dan bermakna menurutku, karena beasiswa itu memang ditujukan untuk orang-orang yang memang pantas terpilih. jangan kaget tidak hanya setelah kesusahan ada kemudahan, tetapi juga setelah kesusahan juga ada kesusahan lain yang mengikuti, seperti lepas dari kail pancing ya tersangkut lagi ke kail pancing yang lain.
kalau mau jujur, aku merasa belum pantas sekolah lagi karena aku menilai diriku masih belum bisa menulis dengan baik dalam bahasa Inggris. salah satunya adalah menulis argumen. aku mau belajar secara otodidak lagi bagaimana agar aku bisa menulis argumen. aku udah nemu bukunya, sepertinya bagus karena udah sampai edisi kesebelas. nanti aku akan cetak biar lebih mudah mempelajarinya. tetapi aku harus membaca buku tentang migrasi yang kucetak kemarin. harus konsekuen lah. kalau mau cetak buku lagi ya buku kemarin harus dibaca dulu, biar ga mubadzir.
semoga orang tuaku sehat dan terus mendukung proses pengembangan diriku karena mereka penyemangatku. meskipun bapakku ga secara langsung bilang bahwa beliau ingin aku sekolah lagi. beliau selalu ngode aku dengan bilang "eh, si S lagi S2" atau "eh, anaknya si M bingung mau ambil beasiswa S3 di Malaysia atau Australia" dsb. lucu sih, semoga kesampaian ya Pak, anaknya bisa lanjut sekolah lagi.