“Lebih baik anakku terluka karena ia berlari lalu terjatuh daripada ia terluka karena ia datang padaku lalu sikap dan perkataanku membuat hatinya patah sampai berkeping-keping.”
—taufikaulia
Luka karena terjatuh bisa jadi pengalaman dan pelajaran, tapi luka karena salah asuh bisa jadi trauma dan preseden buruk bagi perkembangan kepribadian anak di masa depan.
Saat Oji sakit kemarin, saya orang yang paling tega melihatnya menangis dan meronta karena disuntik atau dipasangi infus berkali-kali. Saya sangat mengerti, itu demi kesembuhannya.
Namun tadi siang saat saya sedang bicara di meeting kantor, Oji datang sambil digendong @clarissaintans. Oji ceria sekali, baru dibelikan balon oleh omanya. Dan di depan pintu Oji memanggil-manggil sambil melihat saya, “Babaaaaah, babaaaaaah, babaaaahhh.” Matanya yang bening itu antusias sekali. Oji belum bisa bicara. Mungkin maksudnya, ayaaaah, ayaaahh, lihat nih Oji punya baloooonnn ayo main sama Oji yaaahh. Saat itu saya hanya bisa menjawab dengan kode: iya sebentar ya sayang.
Menyesal sekali rasanya. Ingin saya langsung menghambur saat itu juga kepada Oji.
Setelah menikah dan menjadi orang tua, dunia saya dan Intan berubah drastis. Ada satu makhluk kecil nan lucu yang tiap hari makin pintar yang hidup di tengah-tengah kami. Prioritas-prioritas kami berubah. Tentu kami bahagia dan ini yang kami harapkan. Karenanya kami jadi pembelajar dan ingin lebih banyak belajar lagi setiap harinya. Makhluk pintar ini harus tumbuh jadi sebaik-baik manusia.
Luka pengasuhan adalah luka yang paling kami takuti tertoreh pada diri anak-anak kami. Orang tua kami telah begitu luar biasa membesarkan dan mendidik kami, tapi kami ingin jadi orang tua yang lebih baik lagi.
Ngomong-ngomong soal luka pengasuhan, menurutmu apa saja luka pengasuhan yang mesti kita waspadai sebagai orang tua?
















