Cobaan
Satu tahun ke belakang, saya lagi dapet banyak cobaan yang lebih nonjok dari yang pernah dialami sebelumnya.
Secara default, saya memikirkan betapa banyak kerugian materiel yang saya alami.
Teorinya saya ngerti. Dunia itu di tangan, jangan di hati. Tapi tetep aja saya ngerasa rugi ketika inget opportunity loss yang terjadi.
Saya punya banyak impian dan wishlist. Pengen bayarin istri ikut ini itu, pengen beli barang-barang tertentu yang udah lama ditahan-tahan, atau minimal pengen investasi ke suatu hal. Semua itu saya pertimbangkan dengan hati-hati supaya setiap materi yang dialokasikan tepat guna dan bermanfaat.
Tiba-tiba saya harus kehilangan kesempatan-kesempatan itu begitu aja, poofff, karena cobaan-cobaan ini.
Nyesek banget. Saya butuh waktu lama untuk memproses semua ini. Tapi ini jadi momen buat saya untuk restart dan refresh lagi hubungan saya dengan materi.
Saya memaknainya seperti Allah sedang "mengambil" perhatian saya supaya saya inget lagi tentang apa yang esensial dalam hidup.
Selain itu, saya juga jadi introspeksi, mungkin saya secara ga sadar udah menumpuk dosa yang sangat banyak.
Maka, meski ga mudah, saya berusaha ikhlas atas takdir yang saya jalani dengan meresapi empat gagasan ini:
I've been so lucky, so comfortable, in a very long time compared to many people. Saya cuma baru sekarang aja dapet cobaannya. Banyak orang lain yang dapet cobaan yang berat lebih dulu. It's just a matter of time. Semua orang akan dapet giliran untuk dapet cobaan karena dunia ini emang tempatnya kepahitan dan kesusahan.
Saya tidak kehilangan apa-apa karena pada dasarnya saya ngga punya apa-apa. Semua yang saya miliki hanya dilewatkan oleh Allah kepada saya, bukan untuk disimpan selamanya. Nanti ada tempatnya saya diberi hal-hal yang bisa saya simpan selamanya, tapi bukan di sini.
Saya ga jadi bahagia dengan menolak tadir saya. Yang ada saya malah tambah miserable. Sementara takdirnya tidak bisa saya hindari juga. Jadi yang lebih baik adalah terima dengan ikhlas lalu move on.
Ada beberapa hadits yang intisarinya menyebutkan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka hamba itu Allah beri musibah sebagai hukuman yang disegerakan di dunia (supaya di akhirat dosa-dosanya lebih ringan atau sudah bersih). Maka saya ikhlas dengan ujian dunia yang tidak seberapa kalau dibandingkan dengan hukuman di akhirat. (Source)
Wallahu'alam.














