Masih teringat jelas. Saat pertama kali aku melihat mu, melihat bertemu dan bertatap dengan sebenar-benarnya. Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya tanpa sadar. Kala kamu remaja dan aku masih sebocah itu.
Sangat jelas tersimpan memori tentang bagaimana aku jatuh hati. Jatuh dalam tanpa alasan yang jelas. Mengingat kejadian itu membuat ku tersenyum sendirian.
2015 pertemun pertama itu. 3 hari tepat setelah hari raya idul fitri. Momen terberat di hidup mu, saat kamu kehilangan sosok Ayah. Saat segala hal yang ada didalam rumah menjadi tanggung jawab mu karna kamu anak sulung.
Pagi itu Mama mengajak ku untuk ikut ke rumah duka, katanya teman dekat Mama Papa meninggal dunia. Tanpa tahu jelas itu siapa, aku ikut saja.
“Anak nya kerja ditempat yang sama seperti ayah nya dulu. Kalian sering ketemu pas kecil, tapi kayaknya sekarang dia udah dewasa sekali.”
Entah siapa yang dibicarakan Mama. Dia hanya berkata, “anak pertama. Dia tiga bersaudara semuanya laki-laki, adik nya yang bungsu itu juga adik kelas kamu di kampus.”
Sesampainya dirumah duka. Kami masuk. Hal yang sangat menyayat hati saat kehilangan orang yang kita cinta. Aku duduk didalam bersama tamu lainnya yang juga teman-teman sejawat kedua orang tua ku.
Setelah mendoakan almarhum, Mama pun selesai berbincang dan berbagi kabar dengan teman-teman nya lalu kami pamit pulang.
Aku berdiri barisan paling terdepan dari Mama dan adik bersiap keluar. Sebelumnya di perjalanan Mama bilang sesuatu, katanya seperti ini; “kalau nanti ketemu si A (anak sulung almarhum) dan kamu gak diladenin, jangan baper (maksudnya tersinggung). Anak nya cuek, dingin, eye contact sama orang aja jarang, lebih tepatnya mungkin pemalu.”
Kondisi ku saat itu ya hanya sebodo amat karena aku tidak tau siapa yang di maksud. Kurasa bertemu pun tak pernah.
Hingga akhirnya saat aku berjalan ke arah luar, seorang laki-laki bertubuh tinggi berbaju koko putih dengan tampilan rahang tegas namun matanya sayu tiba-tiba menghampiri ku dan mengulurkan tangan nya. Tertegun ku sambut tangan nya untuk bersalaman dengan sedikit mendongakkan kepala karena tubuh ku jauh lebih pendek darinya.
Tersenyum padaku dengan hangat kemudian berkata, “terimakasih ya..”
Tuhan, seketika hatiku bergetar. Ternyata dia si sulung yang dijelaskan Mama, nyatanya dia sehangat itu.
Saat pulang pada hari itu hingga saat ini, aku masih memikirkan nya. Hatiku selalu berdegup kencang saat mengingatnya. Bahagia sendiri padahal tidak pernah ada momen lain. Bertemu pun bisa dihitung dengan jari. Hanya dengan mengingatnya sangat bahagia. Tidak pernah berani untuk ku menghampirinya. Menyapa nya pun melalui whatsapp aku tidak berani. Mengingat hal itu sangat membahagiakan. Aku hanya melihat last seen whatsapp dia melalui whatsapp Papa. Last seen beberapa menit yang lalu pun, berhasil membuat ku senyum kegirangan.
Sejak 2015 hingga saat ini, jatuh hati ini ku rasa tak pernah luntur. Ku serahkan pada Tuhan saja semua urusan ini. Sama sekali tidak berani untuk berharap lebih. Biarkan Tuhan mengatur skenario selanjutnya.