Tes IELTS tanpa Les IELTS
Dulu, saya sempat ragu antara mengambil tes IELTS langsung atau justru saya mengambil les IELTS terlebih dahulu. Alasanya sederhana, saya tidak mau mengambil tes IELTS dua kali. Targetnya, saya hanya mengambil IELTS sekali dan langsung masuk batas minimum IELTS yang dibutuhkan.
Sebelum masuk ke poin inti, saya mau membahas dulu kenapa kita harus mengambil tes IELTS. Setiap orang punya alasan masing-masing kenapa mengambil IELTS. Kebanyakan karena ingin melanjutkan studi dan menjadi syarat penerimaan sekolahnya. Tapi, buat saya, mengambil tes IELTS adalah modal awal persiapan untuk kesempatan-kesempatan di masa depan. Saya sering menemukan kesempatan dadakan seperti fellowship dengan deadline yang mepet. Ibarat membuat passport, saat kita sudah siap dari jauh-jauh hari, kalau ada kesempatan dadakan, setidaknya kita sudah punya modal agar langsung berangkat.
Selain itu, saya lebih sering mendengar orang mudah mendapatkan nilai IELTS dibandingkan nilai TOEFL IBT. Ya ini mungkin faktor subjektif yang hanya ada di lingkungan saya saja. Tapi kalau boleh berargumen hal ini cukup wajar mengingat jawaban di IELTS adalah isian, bukan pilihan ganda seperti TOEFL. Saat soalnya pilihan ganda, kita lebih mudah terjebak karena bisa jadi alternatif jawaban lain juga muncul dalam teks/section listening yang kita dengarkan. Jawbaanya kadang masih bisa diperdebatkan.Karena jawabanya implisit, biasanya kita jadi ragu dan bimbang.
Sebagai tambahan, IELTS menilai seseorang dengan membulatkan ke atas. Tentunya hal ini membuat kita menjadi lebih mudah mendaptkan nilai tinggi. Triknya, jika kamu lemah di satu bagian, selama kamu bsia cukup baik tampil di bagian lain, nilai kamu bisa tetap bagus.
Speaking IELTS juga lebih manusiawi karena kita berhadapan langsung dengan native speaker. Akibatnya bentuknya bisa lebih toleran dibandingkan dengan speaking TOEFL IBT yang menggunakan mesin perekam suara. Jika kita kelebihan speaking di TOEFL, speaking kita secara otomatis terpotong dan justru mengurangi nilai.
Saya belum bisa membandingkan IELTS dengan TOEIC karena saya belum pernah mengambil tes TOEIC. Tapi, sejauh yang saya dengar, pada saat tes TOEIC kita akan disodorkan 200 pertanyaan yang diselesaikan dalam waktu 120 menit. Artinya kita harus berpikir ultra cepat. satu soal harus dijawab dalam waktu 36 detik. Tentu sangat melelahkan.
Sayangnya tes IELTS jauh lebih mahal dibandingkan tes-tes lainya. Kita harus membayar biaya 205 dollar sementara TOEFL IBT hanya terpaut 10 dollar lebih murah (195 dollar). Kalau TOEIC, sejauh yang saya pernah dengar dari teman saya, kita cukup merogoh kocek sekitar 700 ribu (kalau gak salah).
Karena biaya tes IELTS yang mahal inilah membuat orang ragu apakah mereka akan langsung mengambil IELTS atau justru mempersiapkan diri melalu les IELTS terlebih dahulu. Padahal jika dibandingkan, kadang-kadang biaya untuk meyiapkan IELTS bisa sampai setengah dari biaya tes IELTS sendiri. Tentunya ini jadi faktor yang membuat keputusan mengambil / tidak mengambil les IELTS menjadi berat.
Mengapa kita mungkin tidak membutuhkan les IELTS
Sejujurnya tulisan ini tidak sepenuhnya valid karena saya sempat mengambil beberapa les. Tapi justru dari situlah saya ingin berbagi beberapa materi yang saya terima selama les agar teman-teman tidak perlu lagi mengambil les serupa.
Sebagaimana labilitas remaja pada umumnya, saya sempat kalap mengambil beberapa les bahasa Inggris. Wajar saja, kemampuan bahasa inggris saya sangat culun. Tidak tanggung-tanggung, saya sempat mengambil les IELTS di TB*, les TOEFL di BLC* dan yang paling niat saya pernah menetap beberapa pekan di kampung inggris, Pare, Jawa Timur. Tapi justru dari pengalaman inilah saya semakin yakin bahwa kita tidak harus mengambil les bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri mengambil tes IELTS.
Ilustrasi : brosur-brosur les ielts..
Ada 2 argumen saya tentang hal ini. Pertama, sekaligus alasan paling kuat, fokus materi yang diberikan selama IELTS tidak seluruhnya kita butuhkan. Saya asumsikan teman-teman sepakat bahwa bagian aktivitas aktif(Speaking dan Writing) lebih sulit dibandingkan aktivitas pasif (Reading dan Listening). Sayangnya dua aktivitas aktif ini sedikit kurang difokuskan. Kalau mau ekstrim, kita tidak membutuhkan les jika ingin melatih Reading atau Listening karena banyak buku-buku/sumber dari internet yang sudah dilengkapi kunci jawaban benar atau salah secara mutlak. Kalaupun kita melakukan kesalahan di dua kegiatan ini, kesalahanya biasanya muncul karena kesalahan teknis seperti malas membaca ulang, ragu dan kurang konsentrasi. Bentuk kesalahanya pun pasti kesalahan absolut. Benar atau salahnya sangat jelas. Hal ini berbeda dengan aktivitas aktif (Speaking dan Writing) yang penilaianya sangat sulit dilakukan. Sulit mengestimasi nilai sebuah essay / speaking karena tidak ada jawaban mutlak. Bisa jadi kita merasa benar tapi sebenarnya salah.
Lantas, khusus untuk speaking, bukankah selama les kita juga dilatih untuk Speaking ? Ya, benar sih. Sayangnya sejauh yang saya rasakan, speaking di tempat les hanya dilakukan bersama teman-teman. Akibatnya justru kita lebih sering becanda dan toleran dengan teman sendiri. Kita juga tidak mengetahui dimana letak kesalahan kita. Sangat sedikit kita mendapatkan koreksi langsung dari teacher dan bisa mengetahui kesalahan kita dimana. Cukup wajar, aktivitas speaking adalah aktivitas one-to-one. Jumlah teacher hanya ada 1 selama aktivitas speaking di kelas. Jadi, agar seluruh anak-anak merasakan aktivitas speaking, kelas dibagi dua. Kelompok pertama melakukan speaking sementara kelompok kedua menyimak. Selanjutnya giliran kelompok kedua yang melakukan speaking dan kelompok pertama mendengarkan.
Sebenarnya yang kita butuhkan adalah private coach. Pendampingan one-to-one terutama dalam hal speaking dan writing. Semakin banyak kita dikoreksi, semakin banyak kita belajar. Sayangnya bentuk pendampingan one-to-one di lembaga les biayanya sangat mahal.
Meskipun begitu, saya bisa mengerti kadang-kadang kita membutuhkan les karena ingin membeli seseorang yang mengawasi bagaimana kita menggunakan waktu. Kita membayar orang lain agar bisa mengawasi progress belajar kita karena biasanya saat tidak ada yang dikorbankan, kita cenderung lalai dan bersantai. Tidak ada yang salah, hanya saja saya rasa kalau kita bisa disiplin dengan melatih diri sendiri uang untuk biaya kursus bisa dihemat dan digunakan untuk tes IELTS.
Alasan Kedua, karena apa yang kita terima selama kursus bahasa inggris tidak seluruhnya hanya bisa didapat di kursus tersebut. Ada beberapa hal yang bisa didapatkan di luar kursus tanpa harus mengikuti kursus tersebut (Detailnya akan saya jelaskan selanjutnya di bagian TIPS dan trik IELTS).
Kalau kamu sudah yakin bahwa kamu tidak butuh les, saya mau sharing beberapa metode yang saya terima selama belajar di berbagai tempat sekaligus beberapa metode yang saya terapkan ke diri sendiri selama beberapa bulan ke belakang. Agar nyaman, saya bagi-bagi menjadi beberapa bagian.
Sebelum kamu memutuskan untuk tidak mengambil les IELTS, ada baiknya kamu tetap mencari sisi lemah diri sendiri. Benchmarking istilah kerenya. Tidak ada salahnya kamu hanya ikut placement test les tertentu untuk mengukur posisi diri sendiri tanpa perlu mengikuti lesnya. Kalau ditanya sama mba-mba administrasi les XYZ, “kapan mau mulai start belajar di les XYZ?”, bilang aja “masih dipikirin dulu, nanti diputusin..”. Kamu juga bisa ambil beberapa IELTS simulation gratisan-biasanya ada di acara-acara pameran pendidikan luar negri- atau berbayar-di tempat les tertentu. Dari sini kamu bisa dapet gambaran bagaimana kemampuan kamu.
Banyak orang menggunakan apps untuk menghafal sekian vocabulary dalam sehari. Sayangnya hal ini tidak efektif karena vocabulary yang dihafal tidak digunakan. Selain itu konsistensi menghafal vocabulary biasanya turun seiring waktu. Jadi jika kamu menggunakan apps, jangan lupa untuk menerapkanya dan tetap konsisten agar efektif.
Gunakan dengan bijak torrent downloder. Coba download beberapa materi. Gunakan website ini http://kat.cr (yang ini insya allah gak diblokir internet positif). Untuk mencari magnet link dan kamu bisa mulai mencari dengan keyword-keyword favorit seperti : “Band 8 IELTS vocabulary”, “Cambridge IELTS preparation”. Ingat, Use it wisely !
Berbicaralah dengan diri sendiri menggunakan bahasa inggris. Kadang-kadang kita sering berpikir internal di dalam kepala. Ada ucapan-ucapan, bisikan batin di otak kita. Mulai sekarang coba ubah bisikan tersebut menggunakan bahasa inggris.
Coba jadi subscriber bacaan-bacaan bermutu. Kamu bisa melakukan subscribe ke national geograhic, kotaku atau bacaan berat seperti berita. Mulailah membaca dengan bacaan yang kamu suka. Secara perlahan coba tingkatkan kualitas bacaan menjadi bacaan yang lebih berat misal business insider.
Buat notes, coba tulis ulang bacaan kamu dengan bahasa yang lebih sederhana. Ini juga sekaligus melatih kemampuan menulis dan rephrasing kamu.
Latihan skimming. Teknik ini penting dan tidak terikat dengan bahasa tertentu. Pertamakali saya mendengar istilah ini saat saya membaca buku Quantum speed reading. Kamu bisa coba gugel keyword ini lebih lanjut.
Saat tes, bagian reading mungkin bagian yang paling sepele karena dianggap sudah terbiasa. Sayangnya banyak yang menyepelekan dan tidak memperhatikan waktu. Cobalah dengan tegas membatasi diri dengan melatih membaca sekaligus menjawab pertanyaan dari buku-buku soal dengan waktu setengah dari waktu normal (10 menit, 13 pertanyaan). Dengan demikian kamu terbiasa dengan beban bacaan dan proses mencari jawaban dengan cepat dari teks.
Biasakan nonaktifkan subtitle saat menonton film/serial favoritmu dan coba untuk mendengarkan. Memang ini berat, kadang-kadang saya juga tidak bisa mengikuti alur ceritanya. Tapi metode ini metode paling murah yang bisa kamu coba.
Setel BBC radio. Ini salah satu radio paling bagus untuk belajar bahasa inggris aksen inggris asli karena memang disiarkan langsung dari sana. Kamu bisa memutar streamingnya di BBC iPlayer : www.bbc.co.uk/iplayer . Sebagai pengguna firefox, saya selalu “pin as Tab” radio player bbc ini agar secara otomatis terbuka saat menjalankan browser. Jadi meskipun saya beraktivitas yang lain, saya tetap bisa curi-curi mendengarkan bbc radio.
Coba dengerin podCast BBC di : http://www.bbc.co.uk/learningenglish ini cukup enak juga dan berseri.
Jadikan thesaurus sebagai sahabatmu. Semakin terbiasa kamu menulis dengan beberapa alternatif kata, kamu semakin kaya dan punya kemampuan rephrase yang semakin baik. Salah satu thesaurus yang saya suka ada di http://thesaurus.com. Thesaurus ini dilengkapi fitur filter by complexity yang membuat kamu semakin mudah vocabulary mana yang punya “nilai jual” tinggi saat menulis essay. Dengan demikian kamu bisa show off tulisan kamu di depan evaluator.
Untuk melakukan rephrasing, kamu bisa mengubahnya menjadi kalimat pasif, ganti kata, deskripsi. Ini memang agak teknis sih, tapi inilah yang diajarkan di TB*.
Coba latihan melakukan populating words. Maksudnya, misal diberikan topik tentang mobil. Lalu coba kita tuliskan seluruh kata kerja, kata benda dan kata sifat yang terkait dnegan mobil. Metode ini bisa membuat kamu memiliki ide tentnag apa yang harus kamu tulis. Ini saya dapatkan juga dari TB*.
Coba buat alternatif grammar yang mungkin muncul dalam tulisan. Karena dalam bagian writing yang dilihat adalah show off kamu menuliskan tulisan, coba buat beberapa alternatif grammar / pattern tulisan, baru pikirkan bagaimana agar grammar ini bisa muncul dan pas di dalam argumen essay kita. Cara ini agak kebalik dari cara biasa sih yang normalnya merencanakan konten terlebih dahulu baru menyesuaikan grammar. Sayangnya cara normal itu biasanya menghasilkan grammar yang itu-itu aja. Nah agar lebih variatif, coba balik proses berpikirnya.
Tiru bagaimana tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh native speaker. Lihat patternya. Untuk melatihnya, bacalah sebuah teks di bacaan bermutu, coba kamu tulis ulang kalimatnya. Selanjutnya coba ganti subjeknya. Lalu ganti objeknya dan terakhir ganti kata kerjanya. Perlahan lahan dan secara bertahap. Jika kamu sudah terbiasa dengan pola tulisanya bisa membuat kamu seolah-olah native speaker. Kamu bisa saja menghafal pola ini untuk ditulis di bagian essay ielts.
Jika kamu rasa tulisanmu kurang banyak jumlah katanya, coba expand kalimatnya dengan menggunakan komparasi. Ini agak teknis sih tapi ini yang saya pelajari selama di TB*. Saat menjeaskan kalimat, coba jelaskan juga dengan lawan katanya. Sebagai contoh, perhatikan potongan kalimat berikut:
.. Jakarta-Bandung train is very fast. It can shorten the travel time between two cities. ..
Coba jelaskan dengan deskipsi kata atau contoh. Nah teknik ini teknik favorit saya karena bisa menambah panjang tulisan hingga 2/3 kalimat.
suasana di the center , sumber instagram the center bandung
Saat mendengarkan aksen inggris, berpura-puralah seolah kamu benar-benar berasal dari sana. Coba tiru bagaiamana pengucapan (pronounciation) mereka. Agak konyol sih, tapi dengan sedikit imajinasi cara ini bener-bener efektif.
Kalau agak mau niat, coba toton video series pronounciation yang benar dari bbc : . Saya pernah mendownload dan memutarnya berkali kali. Awalnya mungkin sulit membaca simbol fonetik, tapi setelah terbiasa kita akan mengerti bagaimana mengucapkan sebuah bunyi kata dari simbol fonetiknya.
Read it aloud ! Saat membaca teks bacaan inggris, coba ucapkan secara nyaring. Metode ini saya pelajari saat belajar di the center. Walaupun terdengar konyol, tapi saya menjadi sadar dimana letak-letak kesalahan pronounciation.
Ikut speaking club / Debate club. Ini jauh lebih efektif melatih kamu berbicara dibandingkan ikut les. Saya pernah ikut salah satu debate club di kampus meskipun pada proses seleksi akhirnya saya gagal menjadi anggota karena kalah mental. Saya rasa kita harus sedikit lebih percaya diri untuk masuk ke komunitas ini. Sejujurnya kadang saya juga merasa inferior saat berkomunikasi dengan anggota klub karena biasanya mereka jago-jago jebolan debate club SMA mereka. Tapi toh namanya juga orang belajar, jadi kalau salah wajar. Untuk speaking club, saya pernah mengikuti jadi member komunitas the center. Mereka mengadakan pertemuan untuk berdiskusi menggunakan bahasa inggris setiap hari senin-kamis. Lokasinya di jejeran ruko depan RS Advent. Kalau jalan dari atas (satu arah) , posisinya sebelum ciwalk di sebelah kiri jalan (agak masuk). Ikut komunitas ini juga lumayan oke. Karena biasanya kita bisa dapet temen baru dari berbagai latar belakang dan umur berbeda.
Saat tes, gak perlu memaksakan diri harus panjang. Usahakan tetap proporsional dan bisa mengakhiri kalimat dengan baik. Ini kesalahan saya selama kemarin mengambil tes. Karena saya anggap harus panjang, saya cenderung memanjang-manjangkan speaking tapi topiknya gak teratur dan akhir dari kalimatnya menjadi ngambang. Akhirnya nilai speaking saya tidak maksimal.
Pura-pura jadi orang bule dan belajar intonasi itu penting. Meskipun keliatan sepele, intonasi yang berbeda bisa membuat nilai speaking kamu berbeda. Kalau dingin dan datar bisa jadi nilainya berkurang.
Siapkan template jawaban ! Mungkin tips ini lebih cocok untuk section 1 dari speaking saat pertanyaanya berupa pertanyaan umum. Tidak ada larangan dalam menyiapkan jawaban selama kamu bisa menyesuaikan diri agar tepat dan tidak “menghafal”. Semakin terlihat tidak natural semakin gugup dan biasanya malah membuat nilai IELTS-mu berkurang.
Coba subscribe ke youtube channel English IDP atau Engvid. Disana cukup jelas dan kita bisa belajar langsung bagaimana native speaker mengucapkan kalimat.
Kalau mau niat, gunakan apps recorder handphone dan mulai rekam saat kamu berbicara. Saat kamu merekam, kamu bisa mendengarkan ulang lagi bagaimana kamu berbicara dan memahami dimana kesalahan kamu.
Biasakan diri dengan waktu yang terbata (2 menit). Tujuanya saat di section 2 speaking biasanya kita terlanjur ngobrol ngalor ngidul dan tidak menyampaikan seluruh poin yang diminta. Akibatnya nilai Task Achievement kita saat speaking menjadi tidak tercapai dan membuat skor kita berkurang.
Nah mungkin itu dulu aja, Bukankah itu semua bisa kamu dapatkan tanpa harus mengambil les IELTS ? Sisa tips tambahanya bisa kamu baca di link-link di bawah ini (kalau perlu baca isi link ini dan scroll sampe paling bawah):
How to become fluent in English
How can I be able to fluent speak in English within a month
How can I improve my speaking.
Selamat mengambil IELTS !