Anak Sukses dari Keluarga Pendidik (Baca hingga selesai jangan hanya judul saja)
Mungkin anda yang membaca tulisan ini akan terheran dan membantah, dan yang ada di pikiran anda ialah bahwa orang tua pendidik adalah dari golongan intelektual seperti guru dan dosen. Tepatnya bukan itu. Tugas seorang tenaga pendidikan adalah mengajar dan mendidik pada suatu institusi pendidikan, meskipun pada praktiknya saat ini lebih mementingkan pembelajaran dan melupakan pendidikan moral di kelas.
“Pendidik” artinya adalah orang tua, yang peduli dan mendidik anak-anaknya. Dan keterkaitan moral sebenarnya tak akan lepas dari keilmuan agama, karena ilmu dan hukumnya langsung dari Tuhan YME bukan seperti ilmu buatan manusia yang “sok” melogikakan fenomena dan mempersulit suatu perkara yang Tuhan sendiri sudah menjelaskannya pada kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada utusan-utusan-Nya. Orang tua yang mendidik adalah orang tua yang tidak mengajari anaknya untuk mengkambing-hitamkan sesuatu bahkan tidak mengajari menghina Tuhan. Lalu sperti apakah praktiknya? Misalnya saja dengan perkataan orang tua,
“Cup, cup, cup, ndi le kodok-e, nakal yo kodok-e, tak tuthukke.”
“Jangan nakal lho kamu, nanti tak bawa ke dokter biar disuntik.”
“Kamu mau jadi seorang mubaligh, besok anak istrimu mau kamu kasih makan apa?”
“Banyak-banyak ikut kegiatan kampus, biar dapat relasi, biar gampang cari beasiswa dan cari kerja. Sabilillahnya dibagi dulu, biar gak stress, kalo gak bisa ya ditinggal.”
Percaya atau tidak anda harus dan wajib percaya bahwa semua perkataan itu menjerumuskan. Anda sebagai orang tua yang seperti itu, anda mencetak seorang provokatur, pengadu domba, pencari kambing hitam, suka menyalahkan keadaan bahkan Tuhannya saja disalahkan. Percayalah, rizky itu datangnya dari Allah. Dia kan datang pada kita dan kita tinggal menjemputnya. Dan rizky itu bagaikan jodoh, tidak akan salah alamat. Lalu bagaimana kita menjemputnya? Ya kita kembali lagi, menjemputnya kepada yang memberikan rizky dengan jalan sabilillah. Akan tetapi selama ini dengan orang tua sering melontarkan perkataan-perkataan di atas malah membuat putra putrinya sering memuja dan berbinar matanya dengan dunia yang hanya sementara. Banyak di antara saya, orang – orang hebat secara lahir dan batin sukses karena memprioritaskan agamanya. Rizky di dunia ini, nas-nya, 10% ada di pertanian dan 90% ada di perdagangan, untuk segi keuntungan. Tapi yang paling menenangkan bagi batin adalah pertanian. Orang bertani, gagal panen, dia masih bisa makan dengan yang ada disekitarnya. Sedangkan pebisnis bangkrut yang terserang adalah hati dan pikirannya. Jadi jika ingin berbisnis kuatkanlah dahulu agamamu, pelajari bisnis yang benar menurut aturan-aturan yang telah diberikan oleh Allah.
Ini adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari salah satu keluarga sukses dunia akhirat di antara banyak teman saya. Nama beliau adalah bapak Ahmad Sumardi (lupa nama jika tidak Sumardi ya Sumarji) usianya 73 tahun, dan beliau adalah seorang petani salak. Tinggal di daerah Turi, Sleman, Yogyakarta. Memiliki 3 putra dan 5 putri dan kesemuanya adalah mubaligh mubalighot. Keenam anak beliau merupakan lulusan UGM, bahkan predikatnya Cum Laude. Dan telah sukses di tempat mereka masing-masing. Ada yang bekerja di balai plannologi, balai pertanian, pengelolaan sumber air gunung, juga di bidang kehutanan. Yang saya sangat kagumi adalah, semua diserahkan pada Allah yang Maha Kuasa. Termasuk salah satu putranya (seorang mubaligh) yang pada saat itu sedang kontrak pegawai di Bogor kemudian ditawari untuk membeli rumah yang ia kotrak dengan harga 200 juta dan dengan modal doa serta insya Allah, Allah memberikan rizky dimana harga rumah tersebut turun menjadi sekitar 100 juta. Selain itu kakaknya yang sekarang mengurusi pertanian salak juga seorang mubaligh sukses dan petani salak yang sukses, mas Wahyu Hidayat namanya.
Banyak wejangan dan nasehat yang sangat luar biasa dari pertemuan saya dengan beliau, dan beberapa poin saya rangkum di bawah ini:
Jika ingin merintis usaha atau jadi pebisnis benahi dulu agamanya dan kuatkan imannya dahulu, jangan sampai sekali pun melalaikan yang namanya sabilillah dan mengaji hanya untuk mengejar harta dunia atau kita akan kecanduan dengan dunia dan kehilangan segalanya. Tambahan saja nih ya, seperti juga halnya jodoh, jika cara mendekatinya saja sudah salah, pacaran, sentuhan yang bukan mahrom, naudzubillahi minzalik hingga pelanggaran had berupa zina, keluarga dan hubungan yang sudah dibangun itu pun tidak akan barokah, Allah tidak pernah meridhoinya. Jangan menghinakan diri sendiri teman, dengan membuka jarring syetan, dan terutama bagi wanita menyerahkan kehormatannya pada seseorang yang belum tentu jodohnya. Bakal menyesal seumur hidup, ingatlah Allah itu sangat memulyakan hambanya bahkan wanita sekali pun. Untuk itulah aturan untuk wanita begitu banyak.
Boleh kita berteman seluas – luasnya, tetapi mayoritaskanlah teman dekat kita dengan orang – orang yang alim. Bukan bermaksud pilih – pilih tetapi karakter kita akan terbentuk dari lingkungan itu.
Bagi yang tidak sempat dan tidak bisa mondok bahkan sampai di pondok pesantren mahasiswa saja tidak bisa, pol-polkan atau bersungguh-sungguhlah dalam dapukan sabilillah. Ikhlas. Karena semua perihal dunia itu akan dibantu dari situ. Benar memang, dunia itu kecil ibarat tali dhadung sedangkan akhirat itu besar ibarat sapi. Kita beli dhadung ya enggak mungkin dapat sapinya, tapi kita beli sapi sudah pasti dapat dhadungnya. Itulah gambarannya. Kita kejar yang besar berupa bekal kehidupan akhirat, kita bakal dapat kebahagiaan dan ketenangan di dunia.
Lebih baik “dianggap” kuper dan masih aman dalam keimanan daripada “dianggap” gaul tapi lepas keimanan kita dan pada akhirnya semakin jauh dari masjid, semakin lepas iman dan hidayah kita.
Intinya buatlah skala prioritas, bukan terus kita pasrah tidak berusaha untuk dunia, tapi buatlah beriringan dan tetap prioritaskan agama mu.
Yah, itulah poin poin pendidikan yang saya dapatkan dari belia bapak Sumardi dan putranya mas Wahyu, yang beristrikan seorang mubalighot. Itulah yang namanya pendidikan. Tidak lupa sarana mendidik putra-putri adalah prinsip saling percaya, melatih menjadi mandiri dan tangguh, dan adanya kejujuran. Jika, orang tua saja tidak bisa percaya pada anaknya dan tidak melatih anaknya tanggung jawab serta tegas menentukan pilihan, anak tersebut akan menjadi anak yang terkesan manja dan selamanya jadi “anak-anak”. Masih banyak lagi, kisah orang-orang disekitar saya yang berangkat dari kegigihannya mengejar akhirat, disekolahkan oleh Allah dengan media manusia dan beasiswa hingga s3 di Jepang, hingga sekolah setinggi tingginya, jadi orang – orang penting dan sukses, jadi pendonor dana yang dermawan bahkan hingga hidup di luar negri pun sanggup. Semua dari orang tua yang mendidik, terutama akhlak dan agamanya. Semua adab dan akhlak serta cara mendidik anak telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad baik dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist tinggal sekarang mau mempelajarinya atau tidak? Setelah dipelajari mau diterapkan atau tidak? Dan tentunya yakin atau tidak? Jika tidak yakin bahkan doa kita setiap hari pun tidak akan terkabul hingga timbul keyakinan di hati kita bahwa Allah akan memenuhinya.
Ini adalah kisah satu diantara banyak. Semoga apabila saya masih diberi waktu, napas, dan kesempatan saya masih bisa menuliskan kisah sukses lain keluarga yang pijakan pertamanya adalah Agama dan ilmunya. Bagi calon ayah dan ibu, perbaikilah diri kalian, jadilah nanti menjadi orang tua “pendidik” yang menjadi panutan bagi putra putrinya.