YOU ARE THE REASON

⁂
Sweet Seals For You, Always
AnasAbdin
NASA
Today's Document

Origami Around
Show & Tell

PR's Tumblrdome
Cosmic Funnies
Stranger Things

Kaledo Art

blake kathryn

tannertan36
🪼
Sade Olutola
will byers stan first human second

if i look back, i am lost
hello vonnie
No title available

seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from Dominican Republic

seen from Singapore

seen from Ireland
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Singapore

seen from Vietnam
seen from United States
@ibraheems-stuff
Juni, izinkanku menulis kembali.
Belum genap pendar sinar terbit dari ufuknya. Pada yang terhenti ketiknya mencoba merapal kembali kata-kata nya.
Mendewasa bukan menyoal bertambahnya usia, ia makna terdalam dari bentukkan jiwa. Secangkir teh hangat menepi diujung jemari. Merendah suhu panasnya masih dinanti. Sistem penandai cuaca meramal hari ini kan ada hujan akan susul menyusul di hitungan waktunya. Cuaca sudah semenjak shubuh mengabarkannya, raga dibalut lebih untuk menghangat. Soal usia, ternyata beberapa kali ia mampu mengubahnya, tertambahnya tak serta merta teriringi kedewasaan, tertingkatnya produktifitas, atau menggandakan kualitas yang tertambahnya, sesekali ia malah membutakan jalan, menjadikannya merengek kembali pun merangkak tanpa arahan yang pasti.
.
Pintu terketuk.
“masih pagi sekali” gumam hati mendapati adzan shubuh pun baru berkumandang beberapa waktu lalu. Tersebab shubuh selalu mampu menjadi bahasa cinta, tercegatlah keadaan mengutuk kenyataan. Dihampirilah yang menghampiri.
Teman lama.
Ia dengan bunga mataharinya.
Beranda rumah menyaksikan tersuguhkannya susu hangat, ‘kesukaanmu’ begitu ungkapmu. Aku dengan teh hangat ku. Tapi aku berbeda, ku minum apa saja, tak ada yang paling ku suka, bagiku semua sama saja.
Sapa mu bukan “hai” sebagai mana orang biasa menyapa. Kau menyapaku yang diam ditempat sekian lama dengan karya. Rupanya, kita bukan lagi sama dengan kita yang dulu ya.
Aku masih kikuk kaku. Kau juga tampak masih ‘sedikit’ begitu, sama denganku. Tapi tempaan panjang jalanmu kini mengajarkan aku.
“Haha” maaf. Aku mulai dengan tertawa, menertawakan kisah masa lalu yang ternyata lucu. Kau yang datang pagi ini dulu nya yang jauh ku tinggal pergi. Meski entah apa alasanku. Kita sama sama menyadari masa lalu. Kala aku yang juga masih sama dengan sekarang -lempeng-lempeng aja- dan kamu yang juga masih sama -berambisi-nya. Pertengkaran dihati memang tak pernah benar-benar beranjak jika tak diselesaikan, ia merambat pada episode episode selanjutnya, sampai hati kita sama-sama berdamai.
Maaf, kalau dulu aku terlambat menyadari medan persaingan yang kau ciptakan, Karena memang aku menyukai kedamaian. Tenang, dari dulu hingga kini, aku tak pernah menganggap semua itu sebagai persaingan, aku hanya berusaha menjalankan apa yang tergariskan. Hingga dititik kita di tautkan bersama kau bercerita, tentang kisah yang tak pernah mau ku duga, tapi apa daya kisah itu membuat hatiku patah. Di titk itulah, aku yang tadinya -lempeng-lempeng aja- menjadi mengambil jarak, tapi jarak yang kuciptakan bukan sebagai arena persaingan, melainkan sebagai arena penyembuhan. Ya, penyembuhan untuk hatiku.
Sudah. Bahasan masa lalu kita memang begitu. Dan setiap manusia terberi kesempatan. Begitu pula kita. Di izinkan menata kembali apa yang tersekat, terjarak, terpisah.Terlebih, hati hati kita.
Aku mengudara, berpindah benua. Kau bertumbuh di tanah yang sama seperti sedia kala. Tapi pencapaian kita yang tak saling bertegur sapa kini berbeda. Seperti sapamu pagi ini, kau menyapa dengan karya, sedangkan aku hampa tanpa kata. Tak apa, aku tak melihatnya sebagai persaingan, tapi terimakasih sudah tiba-tiba datang menghampiri, karyamu diam diam menjadi guru untuk diri.
Juni ini, pada bulanmu, aku izin diri.
Mencoba bermain dengan rentetan kata-kataku lagi. Memenuhi kembali isi kepalaku dengan bacaan yang beragam, agar kata ku tak lagi bungkam. Buku yang sudah terbit itu sudah berapa jumlahnya?
.
“kau hidup dengan apa?” ___”eih, ku rasa yang tepat, kelak kau akan meninggalkan apa?”
Masih dengan secangkir teh yang tak kunjung diminum, harusnya terjawab;
“aku akan meninggalkan kata,”_____”yang tertulis untuk mengagungkanNya”
Azzamku pada senandika.
pada satu di juni dua ribu dua puluh.
Aku mencoba berkompilasi dan moga teriring konsistensi.
Ada yang hatinya terluka namun dia diam memaafkan. Yangemah namun hanya kekuatan yang berusaha ditampakkan. Yang sedang terpuruk tetapi mata lain melihatnya baik-baik saja. Baik lisan maupun perbuatannya hanya menampakkan keadaannya yang baik. Yaitu hati yang jujur mengharapkan keridhaan Allaah.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizahullaah: "Kejujuran hati mengharap ridha Allaah mengharuskan kita berlaku baik dan bertutur kata yang baik meskipun sedang dalam kondisi tidak baik."
- instagram story wantiasriani
Jangan patah, jangan nyerah, jangan redup, jangan berhenti. Ada Allaah. Minta pertolonganNya dan jangan lemah.
Itulah kalimat yang sering kali aku ucapkan akhir-akhir ini.
“Setidaknya kita pernah sama-sama berdoa dengan doa yang sama, meski Allah mengijabahinya dengan jawaban yang berbeda untuk kita. Sebab pelajaran hari ini adalah soal mana yang terbaik dari Allah, bukan dari kita.”
—
Yang ditakdirkan untukmu tidak akan menjadi milik orang lain, sekalipun dipaksa atau diusahakan dengan segala cara. Dan apa yang menjadi takdirmu akan tetap datang padamu, meski harus menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lama.
Jika saat ini ia belum juga datang, mungkin sedang dijalan. Sabar.
@jndmmsyhd
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.
Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya . Seperti Ummu Habibah . Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu . Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya . Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin !”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu .
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak .
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .
Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .
Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses . Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu . Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri . Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor . Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia.
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
Semoga terinspirasi…
✍🏻 WA BIS ( Belajar Ilmu Syar'I Akhwat )
🍂🍃Untuk para ibu dan calon ibu
Ya Rabbi, you line my heart with a love so deep even the ocean goes in search of it, but who would have thought that this love that you have embedded in my heart had only ever been there because of your infinite mercy over me.
Makhluk Tuhan Penuh Keinginan
Perempuan tidak pernah bisa mengatakan apa yang mereka inginkan dengan jelas. Terkadang mereka ingin pulang, namun tak tahu kemana harus kembali. Terkadang juga mereka menginginkan pergi, namun tak tahu kemana harus dituju.
Ketika mereka berteriak sekencang-kencangnya, tidak ada yang mendengarkan, bahkan tidak ada yang ingin. Saat terdiam, orang-orang sebaliknya mencibirnya sebagai orang menyedihkan, meski dada mereka telah sesak dibuatnya.
Kalau mereka sedang ingin tertawa, ada saja yang mengatakan gila. Sesaat mereka menangis, mereka justru diam saja, meski air matanya telah kering.
Tidak pernah ada yang menyadari kehadirannya saat ia ada, pun ketika ia menghilang, tidak ada yang mencari, meski langkah kaki-kaki mungil mereka hanya begitu dekat. Serumit itu menjadi perempuan.
Begitu banyak keinginan yang tidak sabar mereka wujudkan, belum lagi dengan keinginan yang sempat terpendam. Ingin mereka wujudkan kepada orang-orang yang disayangi
Baginya, malam adalah hal paling romantis, sebuah kesempatan yang paling indah. Kesempatan untuk menaruh beban, menangis sejadi-jadinya, mengadu hingga tertidur, termasuk melupakan dan memaafkan, dan doa mereka hanya agar esok hari mampu menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih tangguh, bahkan lebih baik.
Sayangnya, mereka tidak pernah sungguh-sungguh bisa mengatakan apa yang mereka inginkan. Kata-kata mereka tertahan di rongga dada, terlalu banyak, terlalu rumit, dan ketika telah sesak maka hanya mengalir menjadi air-air mata.
Perempuan tidak pernah sungguh-sungguh bisa mengatakan keinginan mereka dengan baik. Mereka juga tidak akan pernah menjadi makhluk yang sempurna. Toh perempuan memang tidak pernah diciptakan demikian. Namun, sekali ia menjatuhkan hatinya pada satu laki- laki, mereka selalu bisa menyayanginya dengan cara yang sempurna.
Dan keinginan-keinginan mereka akan selalu ada, begitu hebat, hingga suatu hari datang laki-laki tangguh yang memiliki komitmen sepanjang hayat untuk membantu mewujudkan impiannya satu persatu tanpa berpandai-pandai dulu mengucap janji-janji manis.
Keinginannya akan hal-hal sederhana yang menyenangkan, pergi ke tempat-tempat yang namanya sulit diucapkan, mencicipi makanan yang sejak lama diinginkan, melakukan perjalanan jauh dengan pemandangan indah di sekitarnya, termasuk membantunya mengingat-ingat daftar mimpi-mimpinya dulu. Semuanya, meski perempuannya telah lupa bahwa ia pernah memimpikannya.
Tahu kenapa perempuan makhluk yang rumit? Barangkali karena mereka tidak pernah sungguh-sungguh bisa mengatakan apa yang mereka inginkan.
Ialah perempuan, makhluk Tuhan penuh keinginan.
Besok Wisuda, 24 Juli 2018 | Seto Wibowo
#true
Ada yang hatinya terluka namun dia diam memaafkan. Yangemah namun hanya kekuatan yang berusaha ditampakkan. Yang sedang terpuruk tetapi mata lain melihatnya baik-baik saja. Baik lisan maupun perbuatannya hanya menampakkan keadaannya yang baik. Yaitu hati yang jujur mengharapkan keridhaan Allaah.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizahullaah: "Kejujuran hati mengharap ridha Allaah mengharuskan kita berlaku baik dan bertutur kata yang baik meskipun sedang dalam kondisi tidak baik."
- instagram story wantiasriani
“Nothing is permanent in this life.”
—
Pahitnya Pernikahan
Beberapa waktu yang lalu dan di waktu lainnya lagi, saya mendapatkan pesan serupa yang dikirim ke salah satu media komunikasi saya. Dikirim oleh orang yang tidak saya kenal dan bahkan tidak pernah ada rekam interaksi sebelumnya. Pesan yang tiba-tiba berisi pernyataan tentang rumah tangganya yang sedang bermasalah, kondisinya, dan bertanya apa solusinya.
——-
Sering ngerasa pengen mengakhiri hidup. Aku didiagnosa memiliki gejala salah satu masalah kesehatan mental. Kemarin sempat kambuh.
Sekarang lagi hamil 8 bulan dan sebentar lagi lahiran tapi keuangan juga tidak memadai. Ditambah tinggal sama mertua dan suamiku tidak mau jauh dari keluarga. Aku bingung. Dia selalu marah-marah kalau kusarankan untuk berpisah rumah. Aku sedih dan putus asa.
——–
Satu diantara begitu banyak pesan yang pernah kubaca. Tentu, saya tidak bisa menjawabnya. Selain karena tidak kenal sama sekali siapa orangnya. Permasalahn serupa itu tidak bisa seketika dijawab hanya dengan berdasarkan informasi yang sepanjang satu-dua paragraf, apalagi hanya dari satu sudut pandang informasi.
Dan, tidak hanya satu. Saya mendapatkan pesan serupa, cukup banyak meski dengan pokok permasalahan yang berbeda-beda. Beberapa akhirnya kulihat berakhir cerai, beberapa tetap terlihat manis di media sosial. Bertolak belakang dengan apa yang pernah diceritakan.
Ada yang saya balas, ada yang tidak. Tapi kebanyakan tidak. Selain saya bukanlah pakar dalam bidangnya, kebanyak selalu sarankan untuk melibatkan konsultan keluarga atau psikolog/psikiater. Saya juga sering melakukan riset di direktori putusan-putusan pengadilan senegeri ini. Di sana saya membaca laporan-laporan kasus yang pernah ditangani oleh pengadilan baik perdata maupun pidana, dan tentu saya tidak tahu orang-orangnya. Tapi, saya mendapatkan banyak sekali gambaran kejadian.
Mungkin, ada di antara teman-teman di sini yang sedang menjalani pernikahan dan sedang merasakan pahitnya keputusan yang saat ini diambil; menikah tapi jauh dari kebahagiaan. Hal-hal seperti itu memang jarang ditampilkan ke permukaan, ada yang pada akhirnya terjebak pada toxic-relationship. Alih-alih berumah tangga membuat dua individu menjadi sepasang suami istri yang saling support, justru saling menyakiti.
Perceraian juga dianggap menjadi hal yang tabu (silakan baca opini saya tentang cerai, klik di sini). Bisa jadi, keputusan itu menjadi sangat rumit ketika kehadiran anak. Kasihan anak. Meski, harus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak ada rasa dan tujuan, tapi demi anak, orang tua bisa melakukan semuanya itu. Pura-pura menjadi keluarga yang utuh padahal sudah tercerai berai.
Apabila kamu sedang berada dalam fase ini, atau mungkin kamu sedang berada dalam sebuah rumah tangga dengan segala kondisinya. Dan ada nasihat yang ingin kamu sampaikan ke orang-orang yang membaca tulisan ini. Mungkin kamu bisa menuliskannya, reblog/reply.
Saya sendiri selalu mengulang ulang nasihat yang sama : lebih baik gagal di proses sebelum menikah daripada gagal di tengah pernikahan. Sebuah hal yang selalu kusampaikan ke teman-temanku yang hendak menikah. Kalau kamu mendapati ada sesuatu dari calon pasangan yang tidak bisa kamu terima, tidak perlu mengada-ada alasan untuk menerimanya.
Akhirnya, keputusan berumah tangga akan menghadirkan realita yang mungkin di luar ekspektasimu. Butuh banyak sekali energi untuk membangun sebuah rumah tangga, jangan sampai energi itu justru dihabiskan untuk berdebat dan berselisih. Dan semoga, untuk teman-teman yang mungkin saat ini sedang merasakan pahitnya keputusan menikah, semoga segera bisa beranjak dari masalah ini. Apapun keputusan nanti yang akan diambil, kudoakan itu yang terbaik.
Salam hangat,
22 April 2021 | ©kurniawangunadi
Mumpung masih suasana lebaran, mungkin aja ada yang pengen oleh-oleh wallpaper HP sebelum kembali ke kota tempat mengais nafkah.
Versi original bisa diakses pada tautan berikut: bit.ly/hamasah1439
Di luar sana akan kau temui perempuan yang lebih cantik, yang lebih menawan, dan mungkin lebih dalam segala hal dariku.
Tapi semogaku, semoga kamu selalu meluaskan rasa syukurmu semenjak awal memilihku.
Bahwa cukup aku yang menjadi alasanmu untuk menjaga pandangan, terlebih hatimu.
@menyapamentari ❤🌻
Anak Perempuan
Anak perempuan, adalah gambaran yang mewakili cerminan ayahnya, ibunya, saudara laki-lakinya bahkan keluarga besarnya. Itulah mengapa Allah menyematkan untaian kisah Maryam dalam firman abadi-Nya, bahwa kebaikan Maryam sangat berkaitan dengan kebaikan ayah dan ibunya.
Itulah yang membuat betapa takzimnya kita melihat ibu dari seorang wanita hebat. Allah dan Rasul-Nya berkali-kali memberi sinyal, bahwa keberhasilan ayah dan ibu dalam mendidik anak-anak terutama anak perempuannya, buahnya adalah surga.
Salah satu bentuk terkabulnya doa-doa mu adalah kau akan merasa tenang dengan hal-hal apa saja yang akan menimpamu nantinya.
Sebab kau paham bagaimana hakikat pasrah hanya kepada-Nya. Meski sakit yang kau rasa, meski tangisan selalu datang menyapa.
Namun hatimu damai atas apapun yang telah kau miliki ataupun yang telah kau lewatkan.
Ia memberikan kedamaian dan kebaikan pada hamba-hambanya yang telah Ia kehendaki.