Di usia ini aku baru sadar, sepinter apapun orang, dia nggak bisa pinter sendirian. Setiap orang butuh yang namanya teman sparing mental - emosional - intelektual.
(*mau itu teman, mentor, ortu, saudara, bisa siapa aja)
Yang harus sama-sama cukup tough untuk menangani hard convo (konflik), harus cukup punya energi untuk menyelami deep convo, dan harus cukup punya ketahanan belajar untuk dapat mengikuti heavy convo.
Tentang hard convo bisa rujuk ke sini
Tentang jenis-jenis convo (hard, heavy, deep) bisa rujuk ke sini
Tentang teman sparing (teman melukai ego) bisa rujuk ke sini
Keuntungan punya teman sparing adalah jadi punya "mata lain" yang bisa nge-address blindspots kita di mana. Punya "otak lain" yang kadang-kadang pemrosesan informasinya mungkin aja beda dengan kita. Dengannya kita dapat melihat kehidupan lebih dari satu sudut pandang. Dan konsekuensinya adalah harus siap mendapati diri kita mungkin salah dalam memandang sesuatu. Skill belajar nerima kita bisa salah tuh susah banget karena kecenderungan setiap manusia pengen dianggap bener.
Kalo aku pribadi mah, sebagai bentuk mensyukuri teman, suka bilang, "pengen minjem otak" ke dia pas lagi butuh brainstorm wkwk.
Jadi jangan gampang kesenggol bacok. Namanya juga sparing. Titik-titik sensitif mah mungkin aja kena, baik disengaja ataupun tidak. Yang terpenting adalah harus saling membangun trust bahwa teman sparing kita itu kapabel dan nggak punya motif apapun ke kita selain sama-sama pengen bertumbuh dan pengen selamat. Jadi sekalipun ada konflik, penyelesaiannya juga cepat beres tanpa residu prasangka atau residu feeling too much.
Soalnya dalam hal bersparing, justru butuh orang yang nggak too much di mata kita, dan kitanya nggak too much di mata dia. Harus jadi diri sendiri seapa adanya kita (otentik). Supaya bisa ke-address nih titik-titik mana aja yang harus diimprove.
Apa sih yang teman sparing ini sebenarnya saling lakukan?
Kata Cania, sebenernya sesuatu yang so fvcking obvious sih: FEEDBACK. Tapi ternyata, gak semua orang bisa spot celah improvement dengan tepat, sehingga feedback-nya jadi sia-sia (gak relevan dengan potensi partnernya yang lagi digarap).
Sejak lima tahun lalu, aku kayak menjalani heavy training bersama teman sparingku ini untuk all-in personal development. Intinya optimalize semua potensi yang udah sama-sama kita punya, baik yang belum tergarap sama sekali atau sudah tergarap setengah atau seperempat jalan. Identifikasi bareng-bareng, bentuk mentah atau bentuk paling kekanakan dari satu bakat itu apa. Bentuk paling sehatnya bakal kayak gimana, itu yang dijadiin goals.
Nah, aku banyak banget dibenerin bahkan di bagian fundamental; kayak logika, cognitive empathy, stabilitas dalam merespon (me-non-otomatisasi tombol senggol bacokku), memisahkan kata dari emosiku (pemilihan diksinya bebas nilai), belajar unlearn sesuatu, dsb.
Jadi level kami udah bukan lagi kedekatan emosional. Kayaknya kalau itunya kelebihan, nggak terlalu berguna juga ya ketika mau bertumbuh di mental dan intelektual. Justru secara emosional mah harusnya emang jangan terlalu deket, sebab nanti sensitivitasnya malah tinggi pas sparing, jadi jatuhnya malah sungkan dan tanggung. Maka ada jarak-jarak emosional yang perlu disetting supaya kedekatan mental dan intelektual juga bisa dicapai.
Ini mungkin rada tabu dan pick me ya. Kebanyakan pertemanan di kalangan ukhti tuh masih di level emosional dan kaya akan word of affirmation (fake appreciation, pansos, rentan prasangka, senang dipuji dan menikmati egonya dikasih makan pujian). Nah level ini akan mudah lepas kalau stage emosi masing-masingnya berjalan ke arah yang berbeda/tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Ganti vibes dikit, langsung turn off dan ganti temen :v
Emotional excitement yang berlebihan tanpa diiringi pertumbuhan intelektual juga bakal rentan terkungkung di subjective reality-nya sendiri. Ngerasa deket tapi ya menurut pov dia aja sendiri wkwk kasian.
Kenapa aku coba ngangkat kasus itu, selain pengalaman pribadi ya juga karena ada concern pribadi bahwa menurutku para ukhti juga perlu bertumbuh secara framework, secara mental, dan secara intelektual. Kenapa perlu? Karena hasad tuh bisa diatasi dengan pertumbuhan-pertumbuhan itu.
Kupikir bersyukur soal seseorang tuh nggak melulu tentang berterima kasih ke Allah dan larut menghayati keterharuan emosional. Aku lebih suka mengartikannya memberdayakan diri melalui teman dan sebaliknya, memberdayakan teman melalui diri. Inilah yang dimaksud pertemanan yang tulus. Ga cuma nyentuh emosi, tapi silaturahmi akal juga, adu kuat-kuatan mental tanpa ngotorin emosional juga.
Seperti menanam benih, ada alasan mengapa kita diberi ruang yang cukup. Tidak berimpitan, agar ada tempat untuk kita berkembang; berperan di hadapan dunia, bermakna di hadapan Tuhan. Dan tidak berjauhan, agar ada sempat untuk kita berbincang; bermakna bagi satu sama lain. Dekat tak sikut-sikutan, jauh tetap kedengaran.
Semoga desak tak menghambat gerak. Semoga jarak tak membuat kita saling berteriak.
Akhir kata, semoga setiap orang dapat menemukan tempat di mana dia diterima apa adanya lalu kemudian bisa bertumbuh jadi versi dirinya yang paling otentik. Bagi yang udah punya, semoga dimampukan untuk memberdayakannya (khususnya untuk diri sendiri sih inimah).
Bagi yang udah nikah, mungkin orang itu suami/istrinya yach wkwk. Tapi sebenarnya lebih seru kalau punya temen sparing kayak gini dari sebelum nikah. Karena sehat mental, emosional, dan intelektual (nggak aadatan) tuh emang harus diusahakan dari sebelum nikah. Jadi pas nikah tuh udah clear peer-peer dalam dirinya. Udah dalam versi terbaik dirinya. Udah jadi manusia yang enakeun.
— Giza, pengen jadi manusia yang ngenaheun agar batur tidak sangeunahna