Almost done. Room sweet room. :*
RMH
todays bird

祝日 / Permanent Vacation
occasionally subtle

⁂

@theartofmadeline
will byers stan first human second

izzy's playlists!
One Nice Bug Per Day
hello vonnie
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Product Placement
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩

Andulka
macklin celebrini has autism
almost home

if i look back, i am lost
dirt enthusiast

Love Begins
seen from Russia

seen from Canada

seen from United States
seen from Brazil

seen from Argentina
seen from Brazil
seen from Argentina

seen from New Zealand
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@ikalmojo
Almost done. Room sweet room. :*
Pizza vinyl toping warna siang kara santan murni wati adek budi gigit gih.
Ginian bosen gituan
Jemput kantuk
Esop kengas
Ar yu duwin gudeh? #mojosartwork2016 #artwork #illustration #relep
Orderan ibu ibu PKK 😬
Sabtu menyenangkan, ga kaya kamu.
Estiga siangsoreseluncuran
Mbak idola dengan papan seluncurnya. 😬
One flew over the cuckoo nest.. Great movie. House that made of stone. An assylum that we call home.
Karna ledeng tak selalu nyala.
Celemot.
Catch me #artforsar
Wouldn’t it be Nice
Lama udah ga nulis yang beginian, ketika jualan yang paling laku adalah membenci, mari mulai menjual komoditi yang terlupa, cinta. grin emoticon
Wouldn’t it be Nice
“Mencari ide menulis dengan mendengar lagu lama lagi?..” Aku terkejut, Josephira sudah di belakangku, membuka satu dari earphone yang menempel di telingaku. “Ah, kamu mengejutkan saja.. Hampir Selalu.” “Haha, Aku kan memang kejutan dalam tiap detikmu, lagu wouldn’t it be nice itu nyaring sekali terdengar.. kau tuli?”.. Josephira tertawa, deretan gigi rapinya membuatku selalu iri. “Haha, iya, aku kangen sama Beach boys nih.. Aku bosan seminggu ini mendengar album baru dari The Libertines yang kurang 'kenceng’ menurutku.” “Oh.. The Libertines sudah rilis album baru? emm, kamu kangen Beach Boys aja? gak kangen aku?” Josephira memeletkan lidahnya kepadaku. “Emang kamu tau the Libertines?”. “Tau dong, Tau Pete Doherty aja sih, CAKEP!!.. Ka..” “Aku kangen kamu” Aku memotong ucapannya, paling dia mau bilang lupa sama idolaku satunya karib si Pete, Karl Barat. “Kapan datang Phir?”. “Kemarin malam, oh iya ini, buat kamu.” “Apa ini?” Aku mengambil bungkusan yang disodorkan Josephira, rapi terbungkus kertas kado warna favoritku, Biru. “Buka sendiri ah,. siapa tau isinya testpack dengan tanda dua garis.. hahahaha” Josephira tertawa keras sekali. Aku tersandar di kursiku, melirik sedikit ke arah Josephira yang berdiri di belakang jendela, memilin ujung renda gorden yang kubuat seminggu lalu. “Heh, malah melongo, buruan buka? ntar basi loh!”. Aku menelan ludah, kemudian perlahan membuka bungkusan itu, menarik benda berbahan plastik, seperti spidol besar, tapi lebih pipih, aku fikir itu brush pen dari Pentel yang kuimpikan, tapi ternyata.., benda itu jatuh dari tanganku,. “bagaimana mungkin Phir, kita kan belum pern..” “Hahahahaha, cerminan deh kamu sekarang, liat tampang begomu yang sempurna sekali Dre.. Itu testpack yang dijual di Prank toys shop, aku fikir ini bakal lucu sekali. Heh, kamu ga’ berfikir aku hamil beneran kan? hahaa.. Dre, Dre. Hamil sama siapa coba?” Aku buru-buru menutup mulutku, tapi aku masih kaget luar biasa,. “Aku ga tau mau ngomong apa lagi Phir kalo beneran.” Josephira mengerling kepadaku “Kenapa kalo beneran? Kamu kan bakal jadi paman, anakku pasti senang nanti punya paman yang punya banyak talenta, pinter nyanyi dan bikin lagu walau ga pernah pengen direkam serius, suka menggambar, gambarannya bagus, absurd dan banyak mesumnya sih, penulis lirik dan cerita yang romantis walaupun nyatanya ga begitu romantis dan tampangnya yang biasa aja.” Josephira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, matanya menerawang ke luar jendela. “Aku ga mau jadi paman dari anakmu, aku mau jadi ayah dari anakmu.” “Hah? itu barusan Kamu yang ngomong? mau jadi ayah dari anakku? Kamu cuma jago merayu di lirik lagu dan ceritamu Dre. Bilang suka aku aja kamu gak berani. Harus dikerjain kaya gini? Baru kamu berani ngomong? Kamu ga terbiasa ditolak Dre?” Aku menggaruk-garuk telinga, diberondong pertanyaan sulit sebanyak itu aku jadi nervous, lebih nervous lagi rokokku habis, salah satu jagoan pengalihan nervousku. “Pertanyaanmu sulit sekali dijawab, aku harus mulai jawab dari pertanyaan mana?” “Terserah..” “Aku fikir kamu sudah tau aku suka kamu dari banyak waktu yang kita punya dan kita lewati Phir, banyak laguku pun tentangmu, kamu ga pernah itu semua tentangmu? Kamu bukan anak SMP lagi kan? yang harus dinyatain cinta? Aku ga terbiasa ditolak? Aku sudah 10 tahun selalu berada di sekitarmu, sudah beberapa kali juga kau berbagi cerita cintamu dengan lelaki lain, aku mungkin sesekali juga bercerita dengan wanita lain di dekatku, ujung-ujungnya, kamu terlihat tidak suka, terdengar cemburu. Aku juga sering cemburu, cemburu dalam diam. Aku bukan terbiasa ditolak, aku terbiasa dengan ceritamu, dan aku masih percaya aku masih punya kesempatan karena selama engkau dengan ‘ceritamu’ kau masih selalu ‘butuh’ aku. Begitu saja aku bahagia, aku bangga, lantas apa lagi? memilikimu? itu Bonus.” Josephira tertegun lama, beranjak menuju kasur di belakang meja kerjaku di kamar 3x4 ku yang belum rapi dan sesak aroma rokok. Kinta menghempaskan tubuhnya di atas kasur. “Aku jahat sekaligus bodoh juga ya Dre? ah, aku ga mau bodoh sendiri, kamu juga bodoh Dre. Kamu gak mau memperjuangkan aku?” “Di usiamu yang masih ingin berpetualang seperti itu? Aku fikir mungkin belum sekarang, setidaknya aku memantaumu dengan bijak.” “Ah ngomongmu berat Dre.. pokoknya sediain hati yang nyamanmu buat aku nantinya ya?” “Iya, kalo aku panjang sabar”. Aku berdiri dari kursiku, mematikan komputerku, menjitak pelan kepalanya. "Aku lapar Dre, sarapan di depan yok? Kamu sikatan dulu sana, bau jigong.” “Iya aku sayang kamu juga.” “Iiih, ngomong apaan? Aku bilang lapar kamu jawab sayang, hahaha dasar ”. Josephira melompat memelukku dari belakang, mencium pipiku dari kanan, aku sigap menggendongnya. “Kamu lebih berat dari kamu awal kuliah Phir.” “MULAI DEH NGOMONGIN BERAT”. Josephira memekik, Aku tertawa, tertawa bahagia sambil menyanyikan wouldnt it be nice nya The Beach Boys.
(Rizkimojo_ Bada Isya, 19.04WIB 21September2015)
https://soundcloud.com/ikal_modjo/juwita-malam-cover