Trust the timing of your life.
Follow @mostimportantproject for motivational posts!

Origami Around
Sade Olutola
todays bird

PR's Tumblrdome

祝日 / Permanent Vacation
Alisa U Zemlji Chuda
No title available

Janaina Medeiros
TVSTRANGERTHINGS
I'd rather be in outer space 🛸
sheepfilms
occasionally subtle

roma★

❣ Chile in a Photography ❣
Misplaced Lens Cap
YOU ARE THE REASON
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
KIROKAZE
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from Spain

seen from Malaysia

seen from Uzbekistan

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
@imadenz
Trust the timing of your life.
Follow @mostimportantproject for motivational posts!
Things I’m working on…!! u.u
Act Without Expectation, Selflessly.
وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’ : 28)
Ternyata lagi-lagi lalai. Masih saja terbersit dalam hati kecilnya sebuah pengharapan terhadap sesuatu yang telah dilakukannya; yang telah diupayakannya. Jauh lebih bahaya lagi, terhadap sesuatu selain Allaah SWT, terhadap makhluknya yang bernama manusia. Astaghfirullaah.
Padahal,
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب
“Dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Asy-Syarh : 8)
— Bandung, 1 April 2020 | ©imadenz
Tulisan : Respon
Lautan itu pada dasarnya tenang, anginlah yang membuatnya memiliki ombak. Manusia itu pada dasarnya sama, tapi bagaimana ia merespon suatu kejadianlah yang menjadikannya berbeda.
Kemampuan diri untuk merespon sesuatu itu bergantung pada banyak hal. Pada kemampuan mengendalikan emosi, kedalaman berpikir, pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya. Kemampuan merespon itu adalah salah satu cara untuk melihat bagaimana kualitas diri kita sesungguhnya.
Bagaimana saat kita merasa jatuh cinta, bagaimana saat kita sedang marah, bagaimana saat kita sedang menerima kritik, respon yang akan kita berikan berdampak besar pada banyak hal dalam hidup kita.
Mungkin kita tidak menyadarinya, sebab semuanya seperti dalam bawah sadar. Tapi, seketika kita menyadarinya, bukankah kita seringkali menyesal setelah berbuat sesuatu?
Yogyakarta, 13 Agustus 2019 | ©kurniawangunadi
Pray when it hurts: when you are so down on your luck and someone to turn to.
Pray when you are happy: when you finally got all you wanted and even more.
Pray when you are lost and confused: when you have no idea what’s right or wrong.
Pray to fill in the spaces, the gaps.
Pray constantly and fervently in search of peace of mind and stability.
Aku jatuh cinta pada tulisanmu. Pada caramu bertutur. Pada kata-katamu yang mengalun padu. Pada pikiranmu yang bersenyawa dalam aksara. Tak memburu, juga tak membara, kau berkata apa adanya.
Candaanmu tak pernah meleset, selalu berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Perasaan semacam sedih dan senang mengalir begitu saja. Deretan huruf yang kau susun itu amat fasih mengutarakan rasa. Titik dan komamu menjadi saksi aku ikut lebur ke dalam emosimu.
Lamunanku, akan seasyik apa bila nanti kita bercengkerama berdua?
Pintaku cuma satu, jangan berhenti menulis sekalipun kita tak pernah ditakdirkan untuk bertemu.
— Taufik Aulia
Salah satu bentuk terkabulnya doa-doa mu adalah kau akan merasa tenang dengan hal-hal apa saja yang akan menimpamu nantinya.
Sebab kau paham bagaimana hakikat pasrah hanya kepada-Nya. Meski sakit yang kau rasa, meski tangisan selalu datang menyapa.
Namun hatimu damai atas apapun yang telah kau miliki ataupun yang telah kau lewatkan.
Ia memberikan kedamaian dan kebaikan pada hamba-hambanya yang telah Ia kehendaki.
Akankah Menjadi Lebih Baik?
Andai yang dulu datang adalah kamu, akankah semuanya menjadi lebih baik?
Andai yang dulu ditunggu-tunggu akhirnya datang, akankah semuanya menjadi lebih baik?
Apakah semuanya kita sangka akan menjadi lebih baik, jika kita bisa mengulang yang pernah terjadi dan mengambil ulang keputusan yang pernah kita buat dan memperjuangkan lebih kuat untuk hal-hal yang kita inginkan?
Apakah semuanya akan menjadi lebih baik, sedang kita sendiri tidak benar-benar tahu tentang yang terbaik untuk kita?
Bukankah kekecewaan itu lahir dari berandai-andai, dari ukuran-ukuran kita yang keliru tentang rasa syukur, dari prasangka-prasangka kita yang kita turuti.
©kurniawangunadi
Menerima
Jika pada waktu itu tiba. Dimana hati memilih berlabuh pada seorang pria. Ketika cinta memilih jatuh pada yang telah dipilihkan-Nya. Maka disaat itu, sang pria tak perlu lelah berfikir akan penerimaan yang telah aku tanamkan.
Dia tak perlu menjadi pria paling pintar, karna hafalan, bacaan Al-Qur'an serta ilmunya. Bila suatu saat akan ada kekurangan dari itu semua, membuatnya terlihat murung sebab terbongkar didepan mata wanitanya. Dia tak perlu berusaha menjadi lelaki yang terlihat terlalu tampan ataupun indah parasnya, bila suatu saat telah bersama, dia terlihat malu sebab menunjukan ada cacat pada kulitnya. Dia tak perlu menjadi sosok pria paling penyabar atau paling baik sedunia, bila suatu saat ketika sedang berdua saja, ada amarah yang tak dapat ia redam, karna kesalahan wanitanya. Dia tak perlu aku minta seperti itu. Dia tak perlu jadi yang bukan dirinya, jika ingin diterima, sebab itulah yang akan kita hadapi lebih nyata dalam berumah tangga. Dia sudah punya kebaikan akhlak yang cukup, takwa yang baik tak ada yang perlu kulebihkan porsi agar dapat bersamanya, itulah nanti pada akhirnya terasa indah dengan belajar berdua untuk lebih meningkatkan kualitas diri dihadapan-Nya.
Belajarlah untuk tak menuntut kelebihan-kelebihan yang harus dipunya pasangan kelak, tapi belajarlah untuk menuntut diri sendiri agar dapat membersamainya disaat kita dapati kelebihan dan kekurangannya. Belajarlah untuk tak sekedar ingin mendapat yang baik, jika keburukan yang kita dapati nanti darinya tak bisa kita tutupi dan sabari.
Bukan kah jika kita ingin diterima, kita harus belajar menerima?
My mother taught me the power of tahhajud since I was a little girl. She told me that when life gets hard, the last third of the night holds the keys to my ease. Til this day, I race fajr by a few minutes to soak my palms and my feet- and come to You in desperation and need. I tell You my secrets though they are already planted in Your knowledge. ‘My Lord, I am aching. My Lord, I am breaking. My Lord I have wronged you. My Lord, I have wronged myself. Please take me back. Please don’t leave me. Oh Opener of ways, open for me a path out of my self inflicted despair!“ And surely enough, my mother’s wisdom and Your infinite mercy saves my undeserving soul from self destruction.
Tahhajud is key. (via faramosh)
Always believe the power of Doa :)
Rasa kagummu kepada seseorang tidak akan mengantarkanmu kepada orang tsb kecuali kamu menjadikan langkahmu bergegas ke arahnya. Menjadi perjuangan-perjuangan kecil yang mungkin akan memantik doa-doa yang besar. Kekaguman yang kamu wujudkan menjadi tindakan baik. Setidaknya, jika kamu tidak bisa bersama orang yang kamu kagumi, ia berhasil menjadi alasanmu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
It was never you who hurt me, today I realised it was always me. Doing both, the loving and the hurting.
Nidhi Bhasin (via wnq-writers)
If you’re an introvert, follow us @introvertunites.
Learning to love yourself is hard, but here’s a self-love hedgehog to help you out! :D <3
You must believe that every time you don’t get what you want, it is so He can give you something better. And every time you are given what you don’t want, it is to protect you from something worse. Allah only wants good for you. Remember He has more mercy for you than a mother to her child. Have only a good opinion of Him.
Yasmin Mogahed (via islamicrays)