jika ku bernyanyi pada orang tuli, jika ku tersenyum pada orang buta, jika hangat badan kuberikan pada api, apa aku gagal? - HR

shark vs the universe

oozey mess

No title available
Keni
🩵 avery cochrane 🩵
Three Goblin Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
tumblr dot com
Sade Olutola
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium

Kaledo Art
wallacepolsom

blake kathryn
official daine visual archive
cherry valley forever
Mike Driver

⁂
seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Uzbekistan

seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Mexico
seen from Mexico
seen from United States
@imagili
jika ku bernyanyi pada orang tuli, jika ku tersenyum pada orang buta, jika hangat badan kuberikan pada api, apa aku gagal? - HR
Impi
Ranting itu jatuh menjumpai bumi
Terkulai lemas memandang sepi
Dikejauhan awan menyibakan rambutnya
Tak peduli apa yang ada di bawahnya
***
Sore itu, mungkin sesuatu terjadi
Seseorang mati di ujung jalan.
Ngeri.
Mega memburai, indah dipandang
Mengaburkan kenyataan darah tuan bercecer di tanah
Mimpi pun hadir serupa ancaman
Tentang bayang pohon yang bernyanyi
Tentang bunyi klakson yang berubah sepi
Tentang bumi tanpa gravitasi
Tentang keinginan menghidupi manusia
Tentang keinginan mencinta
Lalu Tentang keinginanku untuk membunuh Mimpi
...
Apa aku salah?
jiwa ini toh ingin menyepi
terkubur dalam tanah, tenggelam di dasar laut, melayang di atas awan
Tak apa lah,
jiwa ini ingin menyibakan rambut sang awan
Meninggalkan rongga yang sudah tak bertuan.
Tentu benar kata orang, Manusia hidup dan kemudian mati
Thurston Moore - Schizophrenia
I went away to see an old friend of mine
His sister came over she was out of her mind
She said Jesus had a twin who knew nothing about sin
She was laughing like crazy at the trouble I'm in
Her light eyes were dancing she is insane
Her brother says she's just a bitch with a golden chain
She keeps coming closer saying "I can feel it in my bones
Schizophrenia is taking me home"
My Future is static
It's already had it
I could tuck you in
And we can talk about it
I had a dream
And it split the scene
But I got a hunch
It's coming back to me
Indonesia Masih Merdeka Tahun 1945
Hari ini, tanggal 17 agustus, biasanya akan dilalui dengan bendera merah putih di depan rumah. Hari ini biasanya adalah hari makan kerupuk, menggigit sendok dan memegang belut di pekarangan RT. Hari ini biasanya saat yang tepat untuk berkeringat.
Hari ini pada saat yang sekarang adalah diskon 17 % di supermall seluruh kota. Hari ini pada saat yang sekarang adalah buy 1 get 1 free Converse classic yang sudah lama tak bisa kubeli karena harganya yang mahal. Hari ini pada saat yang sekarang adalah: perayaan.
Dalam buku sejarah yang sudah lecek di laci kamarku, aku pernah menghapal bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945. Hari yang sedang kami rayakan sekarang. Saat itu Indonesia menyatakan diri merdeka dari segala bentuk penjajahan, perbudakan dan penindasan. Bebas dari segala bentuk diskriminasi.
Meski setelah itu masih ada agresi militer dan pertumpahan darah lagi sampai diakui kedaulatannya tahun 1949, Indonesia tetaplah merdeka tahun 1945.
Meski tak lama setelah itu rakyat kembali jatuh miskin ketika Istana bermain wanita. Ketika yang kaya raya berjudi sedang rakyat miskin makan kulit jeruk. Indonesia tetaplah merdeka tahun 1945.
Meski setelah 20 tahun, 3 juta orang dibunuh. Lebih banyak lagi yang dihilangkan, disiksa, diasingkan dan ditangkap tanpa diadili. Ketika ribuan orang kehilangan keluarga karena berbeda ideologi. Indonesia tetaplah merdeka tahun 1945.
Meski setelah masa itu, Indonesia memasuki zaman di mana diskriminasi menjadi kata yang tak asing dan moncong senjata akrab menyapa muka manusia. Ketika anak muda ditembaki peluru tajam, buruh mati dibunuh karena menuntut keadilan dan kenaikan upah. Orang dihilangkan secara paksa. Banyak yang diculik dan disiksa tanpa diadili. Ratusan perempuan etnis cina dibunuh dan diperkosa. Ribuan orang kehilangan keluarga.
Indonesia masih saja merdeka tahun 1945.
Pernah suatu ketika adik temanku masuk ke kamarku. Ia memintaku membantunya menghafal pelajaran karena keesokan harinya ia akan ujian. Pelajaran sejarah rupanya. Aku buka buku itu dan rupanya buku yang masih sangat baru itu menuliskan Kemerdekaan Indonesia masih jatuh di tahun 1945. Lalu saya pun membantu adikku menghafal.
Aku heran..
Meski hari ini banyak saudara kita, gerejanya ditutup, mesjidnya dibakar, tidak bisa beribadah. Meski hari ini masih banyak saudara kita tanahnya dirampas, rumahnya digusur, hanya untuk bisnis penguasa.
Indonesia masih merdeka tahun 1945.
Indonesia masih merdeka tahun 1945?
to know what you're really means or what you're really thinks
just keep it wordless
Merry Crisis
25 Desember.
Hadiah terindah yang ingin kuberikan adalah
ucapan selamat dan rasa aman. Betapapun sederhananya, rasanya inilah yang dibutuhkan. Di saat yang merasa memiliki kebenaran mengeluarkan parang, celurit dan pedang tanda perang, di saat yang merasa membawa nama tuhan mengumpat, mengancam, melarang hingga membunuh. Di sisi lain, sang empunya wewenang dan penanggung amanat pemberi rasa aman duduk leyeh-leyeh tak peduli sambil diam-diam mengamini segala ancaman dan larangan itu.
Sungguhpun aku tidak mengerti apa yang ada di benak orang-orang itu. Sungguh saya tidak ingin bicara tentang iman di sini, ketika lawan bicaraku ini sudah mendahului imannya pada tuhan dengan menghakimi. Aku hanya ingin menyinggung rasa takut dan amarah yang seharusnya tak perlu ada.
Aku yang hanya diam di rumah malam ini, melalui tanggal 25 seperti hari-hari biasanya hanya ingin memberikan (atau melihat karena tak punya daya) rasa aman, agar 25 Desember menjadi sebuah perayaan dan kekhusyukan untuk-Nya oleh mereka. Tanpa perlu memikirkan akan ada apa di luaran, akan seperti apa tanggal 25 ini atau adakah mereka (yang lain) dalam jubah putih membawa parang, melempar batu datang menghardik dan berseru "kafir!". Adakah nyawa mereka terjaga dalam balutan kenangan yang mengerikan, ancaman yang datang setiap saat.
Yang aku inginkan adalah rasa saling menghargai, betapapun sulitnya bagi mereka yang lain itu, untuk tidak mengurusi mereka yang berbeda, dan sibuk menghakimi. Memahami bahwa kita hidup di sebuah negara yang majemuk dan mengerti konsekuensinya.
Yang aku tawarkan adalah sebuah ucapan selamat yang menanti di 25 dan bantuan sekecil apapun itu. Ingin sekali ku berkata, "jangan takut, 25 mu akan baik-baik saja, tetap menjadi perayaan".
Melihat 25 Desember keluar di jendela ku yang sempit ini, maka aku melihat satu dari sekian banyak krisis yang diderita negeri ini, yang entah sampai kapan berlangsungnya.
..
Selamat datang 25 Desember. Semoga tuhan melindungi kita semua
dan tak ada lagi dentuman itu
darah yang tumpah dari seorang kristiani yang berdoa.
Menjadi Manusia Tanpa Pretensi
Apa jadinya kalau surga dan neraka tak ada? Atau bagaimana bagi mereka yang tidak percaya akan surga dan neraka, konsep dosa dan pahala? Masihkah manusia mau berbuat baik? Adakah alasan manusia berbuat baik? Untuk menjawab pertanyaan itu saya rasa ada yang layak dijadikan rujukan.
Albert camus.
Ia memperkenalkan kita pada konsep Absurditas. Memberikan kita pilihan, jalan hidup baru. Menawarkan sebuah keadaan, bukan kebenaran. Jalan hidup yang mungkin dapat dipilih bagi mereka yang tidak percaya tuhan atau bagi mereka yang mau berjuang untuk keadaan dan tidak pasrah.
Camus menawarkan pilihan: Hiduplah untuk hidup. Bahwa masa depan adalah absurd dan kehidupan tidaklah untuk dijelaskan tetapi untuk dihidupi. Absurditas adalah hidup tanpa 'untuk apa' dan 'mengapa'. Suatu keadaan tanpa pretensi.
Di dalam konsep agama, ada yang dinamakan ikhlas. Keadaan yang tidak mengharapkan imbalan kebaikan. Namun konsep ikhlas dalam agama ini akan selalu berbeda dengan keadaan tanpa pretensi, karena dalam agama tentu konsep dosa dan pahala sudah tertanam, di mana sebuah perbuatan baik akan selalu mendapat balasan berupa kenikmatan dan janji akan surga. Di sini dapat dikatakan tidak ada kondisi yang benar-benar ikhlas dalam paradoks yang ditawarkan agama.
Kalau begitu, apa yang mengikat kita dalam absurditas? Apa yang dapat mendorong orang berbuat baik?
Pergulatan Camus terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC) di usia 17 tahun, sebuah penyakit yang mematikan pada zamannya, sedikit banyak mempengaruhi pemikirannya tentang absurditas. Ia sadar dan mengamini pendapat Nietsche bahwa manusia pada dasarnya telah divonis mati. Dari situlah pergumulan Camus mencari pemaknaan hidup memunculkan konsep absurditas.
Pengertian absurd akan realitas yang dimiliki Camus berangkat dari pemahamannya akan dunia sebagai sesuatu yang ada, tanpa harus menjelaskan bagaimana dan mengapa dunia itu terjadi. Albert Camus percaya setiap manusia baik pada dasarnya. Bahwa setiap manusia memegang nilai kebaikan yang dibawa alamiah.
Bagi Camus, kejahatan disebabkan oleh ketidaktahuan. Niat baik tanpa didasari pengetahuan dapat membawa keburukan. Menurutnya sifat jahat yang paling parah adalah kebodohan yang mengira mengetahui segalanya. Kebaikan haruslah dibarengi dengan pengetahuan.
Camus tidak pernah mempermasalahkan agama. Bahwa agama adalah hal yang personal dan merupakan kebutuhan masing-masing orang untuk tunduk atau tidak, ia mengakuinya. Namun ia menolak ketika agama membutakan. Ketika agama dipakai sebagai motif melakukan pembenaran atas suatu 'ketidaktahuan'. Yang dia inginkan adalah orang berjuang sekuat tenaga melawan kematian (kebathilan) tanpa mengangkat pandang ke langit tanda pasrah.
...
Pemikiran Camus sebenarnya tidak rumit dan bahkan dapat dimiliki semua orang. Seseorang tidak perlu belajar Camus untuk mengerti konsep absurditas. Camus hanya menggambarkan secara tepat dan indah tentang konsep yang dimiliki seorang manusia yang berhati baik, seorang manusia yang berempati dan meng-ada pada realitasnya. Seorang manusia 'palang merah', jika merujuk pada istilah yang diberi Sartre.
Albert Camus mengajak kita untuk tidak pasrah terhadap keadaan, tidak menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Ia mengajarkan kita untuk bersinggungan dengan dunia. Mencari kebahagian dengan bertindak atas apa yang ada tanpa perlu memikirkan apa yang lalu dan apa yang akan datang. Karena kebaikan harus dilakukan karena perlu.
Kalau sudah begitu, syarat yang ada hanyalah tak berpretensi akan apapun. Maka kita sudah menguasai apa yang dalam agama diberi nama ilmu iklhas, tanpa membaca kitab suci atau pujian sehari-semalam. Hanya perlu menggali kembali nilai kebaikan yang ada dalam diri kita.
Selamat menjalani jalan hidup baru, dan
Selamat manjadi ada
Aku Ingin Mati Dikenang
Jarak antara hidup dan mati itu tipis. Aku bisa mati kalau aku mau. Sebentar lagi, beberapa detik lagi, detik ini, atau sejam lagi setelah aku meminum kopiku yang terakhir. Atau esok saja setelah aku menyelesaikan tulisanku yang terakhir.
Aku bisa saja mati sebentar lagi. detik ini atau beberapa jam lagi. Semua ada di tanganku. Bisa dengan pisau atau benda tajam apapun yang ada di ruangan ini. Bisa dengan minum obat nyamuk atau jenis cairan apapun yang berbahaya. Atau dengan menabrakan diri di jalan raya, Atau ini yang paling nikmat dan mungkin kupilih: loncat dari gedung tinggi di belakang kampus.
..
Tapi tak sekarang.
..
Tidak saat hidupku hanyalah kesia-siaan. Saat hidupku hanya gumpalan masalah yang tak berguna. Saat pergumulan yang kubawa tak menemu yang dituju
Tak ada yang dikenang dalam rawa sepi penuh kabut.
..
Kasian ibu mengandung. Aku ingin sebelum tiba saatnya aku pernah dibutuhkan. Meski tahu hidup adalah kegagalan yang berulang. Meski tahu tidak ada yang terberi, Meski hanya sepi pada akhirnya,
Setidaknya aku ingin mati dikenang. Dikenang sampai 100 tahun mendatang.
...
Aku ingin mati dikenang,
Seperti bunga anggrek yang tanggal saat masanya.
Tidak seperti tikus yang mati di jalanan,
perlahan kan menyatu ia dengan aspal
Angin
Ini hari di penghujung tahun
Langit berubah gelap
Hujan memeluk dingin, tanda pekat
Lalu angin berhembus cukup kencang
lebih kencang dari biasanya
...
Satu pagi cahaya menyeruak
masuk membelah pekat,
abu bertemu kuning dan dinginpun tersinggung
Cahaya semakin dalam, dan akupun menguap
Terurai
Lalu tiada ku
terhembus angin yang cukup kencang
lebih kencang dari biasanya
dan tak kembali
hilang
tak ada yang tahu
dan ingin tahu
Aku Ingin
musik mengalun dalam sebuah malam yang berpendar kuning
karena dikelilingi bintang yang tak hentinya menari
dan menguning
malam yang cerah tidak lagi memberikan dingin
dalam peluh dan keterbukaan
dalam diam dan keberadaan
dan dekap, aku ingin
berlangsung selamanya
aku ingin
memainkan musik yang semakin kencang
menggusur ragu dalam pilihan
menyungging senyum dalam usaha
menanti kemarahan dalam kesungguhan
dalam peluh dan keterbukaan
dalam diam dan keberadaan
dan untuk kesempatan, mengada, aku ingin
dan untuk berlangsung selamanya
aku ingin
dalam musik yang mengalun semakin kencang lagi, di malam yang bependar kuning
karena dikelilingi bintang yang tak hentinya menari
ia terlelap
Siapa Punya?
Siapa punya?
Keputusanku untuk melangkah keluar rumah di senja kala yang basah
Siapa punya?
Pilihanku memilih kemeja bergaris dan bukannya putih kaos polos
Siapa punya?
Maki teriakanku pada supir angkutan yang berhenti di simpang jalan,
menghalangi jalanku
Siapa punya?
Kecemasanku pada kota yang disulap menjadi pasar, dengan transaksi di mana mana
Siapa punya?
Kebencianku pada aparat yang menghakimi warga, tanpa peduli tai
Siapa punya?
Tanahku yang semakin muram dan membosankan ini
Siapa punya?
Ideku untuk menghiasi dinding di ujung jalan dengan pilox hitam
Siapa punya?
kekesalanku pada engkau yang mangkir dari janji dan selingkuh dengan materi
Siapa punya?
Kemarahanku karena kau menjual kami
Siapa punya?
Tubuhku yang terlanjur basah kau kibuli oleh hukum yang tak tegak berdiri
Pada Malam Sedari Dalam
Tanpa sadar kita berdua merasa
Teringatku obrolan di suatu senja pada dua buah mangkuk sop kaki
makanan pelipur lara
Lalu apa itu namanya?
Tanpa sadar kita berdua merasa
Namun aku rasa hanya malam yang terlalu dalam
dan kabut asap menyelimuti hari ini
dengan dialog dalam hati yang tak terputus
mencoba mengatakan instrospeksi
namun lupa diri
..
Ingin kucuri caramu
dan menjadikanmu guru
.
..
.
*(pada akhirnya
yang tersisa tinggal rindu
Terang Bulan
Bulan bersinar terangnya malam ini ya kau tahu itu. Di saat seisi kota menggigil Menyambut jatuhnya fajar dan cendawan
Kakiku menjulur keluar Nampak dari sisi trotoar Kain sarung membaluti Kotak kotak, merah muda, hijau dan jingga dan coklat, menandakan kusam,
Bulan bersinar terangnya malam ini kubenci itu tidurku jadi tak nyenyak, ngilu ini menusuk tulang Haruskah kumembalutnya lagi dengan dedaunan karena kutak sanggup menutupinya dengan kain apapun
Malam ini kutidur sendiri Di tengah lalu lalang orang berpacu dalam kuda mesin, dan terkadang kucing datang mengaisi makanannya di depanku atau tikus got yang lewat dari satu lubang ke lubang lainnya
Bulan bersinar terangnya malam ini Tak ada yang mendekapku walau ku mencoba mendekap hanya dengkul dan pahaku yang ada di dekapan dengan alas batu alam Karena kutak sanggup mengalasinya dengan kayu apapun
Ku sadar Tak ada kesempatan, untuk ada Lebih baik aku segera tidur, dan mendekap makananku untuk esok hari sebelum kucing dan tikus merampasnya Selamat malam kota semoga esok sinarnya berkurang
31/7/2013 dalam sebuah surat ke negeri matahari
Bunga Hitam ini special untukmu #HUT #TNI #Kamisan #Bandung #Adili #Jendral #Pelanggar #HAM – View on Path.