Di antara semakin padatnya jadwal twitwar, terdengar kabar dari timur pulau jawa bahwa bulan maret ada perhelatan akbar di pesisir selatan Jember, tepatnya di pantai Papuma. Acara apakah itu? Berdasarkan kode-kode enigma yang berhasil dipecahkan salah satu member BP48 idola saya Mas Akarpena, acara tersebut adalah Gathering Malam Puisi Jawa Timur ke II. Wah! Ternyata kabar biasa aja. Kirain apaan~
Oh, iya, mengenai kota Jember selaku tuan rumah Gathering Malam Puisi ke II, beberapa minggu lalu saya numpang lewat di daerah Rembangan. Di sana ada urban legend yang berkembang di sebagian masyarakat Malam Puisi Jember yaitu Tikungan KM35. Urban legend merupakan mitos atau legenda kontemporer yang seringkali dipercaya secara luas sebagai sebuah kebenaran. Kebanyakan berkaitan dengan misteri, horor, humor, atau bahkan kisah moral. Sedangkan pada KM35 ini berkaitan dengan misteri hilangnya kekasih (perempuan) di tikungan. Horor!
Pada jalanan menuju puncak Rembangan, tepat di tikungan dekat jembatan menjadi awal mula kisah KM35 ini menyeramkan. Tikungan-tikungan yang berakhir perih dan tak bisa terelakkan.
KM35 mempunyai serangkaian pola atas hilangnya perempuan yang dibonceng kekasihnya ketika melintasi tikungan tersebut. Untuk itu, berikut wawancara eksklusif yang gak eksklusif eksklusif amat dengan sesepuh setempat. Dia adalah Abah DekUnyu, nama yang aneh untuk seseorang dengan panggilan abah yang masih menyertakan 'Dek' dan ‘Unyu'.
"Saya ini sesepuh, cuma agak ngepop aja, sih," ucapnya tiba-tiba seperti menebak apa yang saya pikirkan. Waduh bocah tua sakti nih~
Konon, keunyuan Abah ada sejak sejumlah T-Rex pergi ke dokter gigi dan memasang behel. Sebab predator pada masa itu terkenal kekejamannya saat memangsa kulit ayam kaefsi, biota laut dan hewan-hewan lemah lainnya. Dan setelah itu dapat dipastikan mereka akan kerja bakti untuk mengangkat selilit daun sawi yang nyelip di gigi setelah maem indomie goreng rasa koka-kola. Sejarah yang aneh. Emang~
Kembali pada niat mewawancarai Abah DekUnyu tadi, saya sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang ringan--mengingat belio sudah uzur dan udah jarang bereaksi bila lihat Saori Hara Beli Tahu Tek di Depan Kosan.3gp
Abah: Kesuwen, bosss~ Sido wawancara po ora iki?
[Saya kaget, lalu membuka catatan kecil berisi materi wawancara dari saku celana.]
Saya: Baiklah, Bah. Bagaimana awal kisah KM35 ini terjadi?
Abah: Awalnya ada pemuda yang boncengin dedek gemesnya ke arah puncak, tepat di tikungan itu tiba-tiba sesuatu terjadi. Dedek gemesh yang diboceng pemuda itu raib!
Saya: Apa ada indikasi pemuda tersebut ditikung, Bah? :3
Abah: Gosah pake emot itu tapipak~
[Saya malu. Terpaksa pertanyaan tadi saya ulang]
Saya: Apa ada indikasi pemuda tersebut ditikung, Bah?
Abah: Kalau masalah ditikung itu biarlah menjadi kisah pahit saya (loh?). Tapi raibnya dedek gemesh di KM35 ini sebenarnya disebabkan oleh asap misterius yang mengepul di pojokan tikungan itu, tepat di ujung jembatan.
[Abah Dek Unyu menggosok-gosok lengannya. Merinding, lalu melanjutkan ceritanya.]
Abah: Lima tahun setelah kejadian itu, usut punya usut ternyata asap itu dibikin oleh teman pemuda itu yang konon juga naksir dedek gemesh yang dibawa pemuda tadi.
Saya: Hm. Nikung pakai metode asap, ya. Kenapa harus asap, sih?
Abah: Karena pemuda yang menikung itu adalah tukang sate. Dan sialnya dedek gemesh yang tiba-tiba hilang itu ternyata beli sate.
Saya: Yailah. Kirain ending-nya syerem. Beraque!
Abah: Kamu sih! Kata 'tikungan' di situ kan ambigu banget. Wkwkwk~ Bagaimanapun cerita KM35 tadi sangatlah menyeramkan. Sebab saya adalah saksi hidup sekaligus korban pertama dan satu-satunya yang selamat saat terjadinya penikungan oleh oknum teman saya sendiri itu--yang tak lain dan tak bukan adalah pemuda tukang sate itu. HAHAHA! :(
Untuk beberapa saat saya dan Abah DekUnyu berpelukan sebagai ucapan terima kasih dan untuk saling menguatkan tersebab kesamaan nasib pernah kandas tikungan, tapi saat itu juga tiba-tiba kami dikagetkan oleh lirih suara perempuan dari belakang.
"Bang, satenya sepuluh tusuk, Bang," ucap Suzana sambil menyodorkan lima lembar daun kelor.