Sesuatu,
Jelang tengah malam, udara masih basah, pohon mangga di depan kontrakanmu meneteskan buliran demi buliran air sisa yang tercurah dari langit sore tadi.
Slarak pintu yang berkarat di geser kekiri. Lalu pintu terbu jikka, rambutmu masih basah sehabis keramas, seperti biasanya tak menunggu kering lalu seperti ruang tunggu yang lama senyummu merekah seperti bunga.
Sepeda motor masih terparkir, kamu tetiba membonceng, sambil mendekatkan kedua tanganmu di pinggang, serta dagu yang kurasakan sendernya di bahu sebelah kanan.
"Mau kemana kita?
"Sebentar aku hitung dulu, hari ini tanggal berapa?"
"Tanggal tujuh"
Pandangan matamu menatap jemari satu persatu. Seakan memastikan tidak ada yang terlewat.
"Oke kita ke barat daya"
"Hah, kemana?"
"Ke Jogja yuk.." nadamu lirih sedikit malu.
"Hayuk.."
Memutar gas memulai perjalanan. Sangat menyenangkan bukan menjalani sesuatu tanpa begitu direncanakan matang, lalu menjalaninya begitu saja.
NHidup memang tak melulu soal berhitung, menganalisis dan berefleksi, tapi jua soal menghadapi keadaan yang tak terduga, tiada menerka apa saja peristiwa yang akan hadir, manusia menyebrang begitu saja di sungai-sungai kahanan.
Tak lengkap rasanya perjalanan malam tanpa bau kampas rem dan kepulan asap bus cepat. Bus-bus yang diburu tujuan, yang kadang tuas gas dihajar ugal-ugalan supaya akad antara penumpang dan supir terlaksana. Meraung-raung suara mesin memecahkan keromantisan kami, sepasang lengan yang nekat melawan dingin demi kecintaan pada hati.
Di jalanan kemiskinan juga tampak hadir kontras. Di sebuah lampu merah, pengamen yang terlelap dengan gitar kecil di lapak yang tutup mencuri pandangku. Betapa menariknya hidup dalam buru cepat bis malam, di pinggir arena balapan itu lelaki itu melambatkan waktunya, mengusir lelah dan meredakan segala kebenciannya pada nasib dan cinta. Sementara kami yang dalam momentum sama justru merasai kehadiran cinta yang mendebarkan itu,perasaan yang membersamai sepanjang malam.
Aku dan Nala seperti tak henti membicarakan sesuatu, tak jarang lontaran tanya mengusik batin untuk menjawabnya dengan jawaban terbaik. Atau berdialektika tentang hidup, tentang apa saja yang pernah kita alami. Dekapan tangannya makin rapat. Degup jantung makin rapat ritmenya.
Rintik tipis air menyambut di kali Opak, di sisi selatan candi Siwa mulai kuhirup kembali udara itu, dengan segala romantisme yang hadir di pikiran, segala ketenangan yang pernah datang terundang kembali untuk datang, seperti ada sesuatu memang di kota ini, namun apa?.
Gemericik kali Opak membuyarkan sekelebat lamunan, waktu yang terhenti membawaku pada banyak lipatan masa yang berlalu. Namun kali ini lain, dengan pengalaman yang lain, dengan getar dan nuansa yang lain sama sekali dengan sebelumnya.
Lampu jingga gemerlapan diantara pohon raksasa, penjaga pom masih melayani satu dua pelanggan, sementara itu kami menghirup lagi udara itu, udara basah seperti rumah. Apakah itu engkau? Kasih.
— bersambung









