Sebab kalian tidak menyukaiku, kalian pun menderita.
Warga kampung kalian sungguh membingungkan. Mengapa kalian tidak bisa berterima kasih kepada Ilham yang sudah mabuk setiap hari, setiap malam, di sepanjang jalan gelap?
Warga kampung kalian sejak lama sudah tidak mau melihat peristiwa yang lazim. Mereka kehilangan minat untuk setiap pengulangan. Baru akan tertarik apabila sesuatu itu luar biasa, apalagi jika sebelumnya tidak pernah ada.
Ia mesti seperti cerita yang menanggalkan formula lama, sehingga di ujung cerita itu lahir sosok hero unik, serbabaru, dan memiliki tenaga bagai seribu kuda. Kisah semacam itu menarik hati warga kampung kalian. Sebelum kelak, kalian tahu, pengkhianatan akan terjadi.
Leluhur tempat di mana aku berasal yaitu Prancis mungkin tak pernah menyangka hari nelangsa ini akan tiba. Dahulu pada abad ke-19 kami digunakan untuk urusan percetakan membuat gambar dan teks, tetapi sekarang kami dipermanfaatkan untuk melabeli apa saja yang terlihat membosankan dan mudah ditebak. Tak terkecuali kebaikan.
Dan pada tubuh kami yang ringkih ini terekam jejak pedih sebuah peyorasi.
Memang benar Ilham mabuk sehari-harinya—mungkin suatu hari kebiasaan ini bisa membunuhnya, namun yang sudah pasti ia tidak pernah meniatkan sesuatu yang jahat.
“Saat ini kamu sedang sadar atau tidak?” tanya Sidiq. Dia kan sosok petugas keamanan kampung kalian?
“Sabar, Pak,” kata Ilham sambil tertawa kecil dengan muka sudah lebam. Aku bisa merasakan sensasi geli dari kalimat yang barusan dia dengar. Sebagai predikat yang ditanam dalam raga kalimat, tidak sulit bagiku memahami apa yang Ilham rasakan. “Suatu hari mungkin saya akan sadar,” katanya lagi.
“Kamu itu mengganggu sekali, Ham. Sudah banyak warga kampung yang melaporkanmu karena setiap kamu mabuk, kamu akan membuang botol mirasmu di sembarang tempat.”
“Saya melakukannya karena mereka membutuhkan itu, Pak. Seberapa banyak minuman yang saya minum itu bergantung dengan kebutuhan warga.”
“Kamu pandai berkelit, tapi kalau saya tadi terlambat dua menit warga pasti sudah membakarmu.”
“Apakah mereka akan memakai botol yang saya sebar ke rumah mereka? Kalau itu yang terjadi, saya tidak masalah mati terbakar. Sejak lama saya bilang ke mereka botol-botol miras saya pasti akan berguna.”
Ilham memang benar botol mirasnya dipakai oleh warga kampung kalian yang memiliki warung untuk menjual bensin. Di mulut saja mereka protes, tapi di hati gembira karena tidak perlu repot-repot cari botol untuk menampung bensin eceran.
Sejak pom bensin antre panjang karena bahan bakar langka, sejumlah warga mulai membangun proyek Pertamini—begitu kalian menyebutnya. Bagi yang malas mengantre bisa belanja bensin di Pertamini.
Warga yang ingin membuka usaha ini hanya perlu memodifikasi motor mereka dengan tangki yang lebih besar. Dengan begitu, mereka bisa mengisi bensin lebih banyak, yang berarti persediaan mereka lebih unggul. Lalu setelah itu urusan akan jadi lebih mudah.
“Rupanya kamu masih tidak kunjung sadar,” ucap Sidiq.
Ia lalu menampar Ilham yang sudah meringkuk di lantai balai pengamanan. Sidiq lanjut menginjaknya beberapa kali. Di titik ini rusuk Ilham mungkin ada yang patah. Aku asal menduga saja sebab manusia pada umumnya bisa begitu.
“Semua warga itu benci denganmu, termasuk aku. Bahkan harusnya aku tidak perlu menyelamatkan pemabuk sepertimu. Cuma karena tadi Kepala Desa memikirkan hal yang berbeda, kulitmu pun tidak jadi gosong. Orang yang pernah membuang botol mirasnya di halaman masjid buatku tidak layak untuk diberi ampun.”
“Siapa yang,” kata Ilham sambil tersengal, “semalam membangunkanmu sahur?”
“Kamu segitu peduli denganku? Tuh, napasmu sudah nyaris mencapai batas. Tapi kalau memang kamu mau tahu, semalam aku dibangunkan oleh iringan anak-anak yang berkeliling membangunkan sahur. Denting botol mereka nyaring sekali.”
“Syukurlah. Berkat botolku kamu bangun sahur sehingga kamu masih punya energi untuk menendang rusukku sedahsyat tadi.”
“Sebentar, maksudmu anak-anak kampung kami memakai botol miras untuk membangunkan orang sahur? Bajingan! Kau ajarkan apa pada anak-anak kami!”
Ilham kembali menerima tendangan berkali-kali. Anak-anak di kampung kalian tidak mampu menemukan botol bekas sirup saat Ramadan. Tak ada lagi warga kampung kalian yang mau membeli sirup sebagai bentuk protes. Mereka meyakini apa-apa yang manis akan menghasilkan streotipe belaka. Sebagai gantinya, Ilham pun berinisiatif menyediakan botol-botol itu untuk menjamin keriangan anak-anak di bulan suci.
Sebelum matahari membenam, Sidiq yang ingin buka puasa mengurung Ilham ke dalam jeruji. Tidak mendapat pengobatan atau apa, mungkin Ilham mati malam nanti. Aku asal menduga saja sebab manusia pada umumnya bisa begitu.
Ia membekam di dalam sel setelah semalam Fatma, sepulangnya dari kegiatan Ramadan, menusuk laki-laki yang ingin memerkosanya di semak-semak sesudah jembatan kecil. Fatma berusaha meraung minta tolong, tetapi mulutnya dibekap amat erat oleh si lelaki. Hanya jeritan tertahan yang terdengar. Tak cukup untuk mencapai rumah warga yang masih berjarak 200 meter dari jembatan.
Di tengah lebat rerumputan dan pekat kegelapan, botol bekas miras milik Ilham jadi persenjataan satu-satunya yang dapat dijangkau tangan Fatma yang hampir putus asa dan telah asal meraba. Fatma memukul kepala lelaki itu. Pecahan botol yang runcing ia tancapkan ke leher lawannya—seketika menggelepar. Hijau yang semula menghitam oleh malam kini bercampur merah yang gelap tersebab darah.
Ilham yang isi kepalanya dituduhkan akrab denganku selalu meyakini: Di balik kegelapan ada kejahatan. Itu alasannya mengapa ada banyak botol ia sebar di tempat-tempat tak bercahaya.
Sebetulnya aku kasihan dengan Ilham. Menjalani hidup sebagai pemabuk saja sudah sulit, kini harus pula diembel-embeli denganku. Kendati susunanku hanya dua suku kata, aku ditolak di mana-mana. Hampir semua orang di kolong langit ini benci bila ada yang mengatakan gaya berpakaiannya norak. Sebab menjadi norak artinya menjadi seperti aku.
Tetapi, Ilham tidak begitu. Ia bergeming saja saat warga kampung kalian mengatainya aku. Ini membuatku merasa tak pantas dilekatkan kepadanya. Ia terlalu baik buatku. Bagaimana bisa seseorang yang pandai nujum seperti Ilham, yang sudah memberi peluang kepada penjual warung, anak-anak yang membangunkan sahur, dan Fatma korban pemerkosaan harus dihukum seperti ini?
Seharusnya kalian merayakan Ilham dan sudah pasti caranya bukan mengerangkeng.
“Karena kamu buang botol sembarangan kamu terlibat dugaan pembunuhan, Ham,” kata Sidiq kepadanya.
Fatma lolos karena dianggap membela diri. Keluarganya yang telanjur malu telah mengunci Fatma di balik pintu. Mereka mengganggap apa yang terjadi dengan Fatma merupakan aib. Sementara warga kampung kalian marah karena matinya si pemerkosa yang belum tuntas dengan dosanya itu tetap perlu ada yang bertanggung jawab. Bagaimana pun botol itu tidak serta-merta ada di sana. Dan yang terpenting kalian punya nama untuk disalahkan.
Warga yang sudah menumpuk amarah ke Ilham atas tabiatnya yang tidak kunjung berubah langsung bergegas mendatangi kediamannya. Tanpa banyak cincong, Ilham yang masih pengar oleh sisa mabuk semalam digilir pukulan dan tendangan. Ia pasrah menerima semuanya seperti kumpulan surat cinta dari kekasih.
Sidiq datang sebelum bensin dari botol miras akan dituang ke badan Ilham. Di belakangnya ada seseorang membuntuti dengan rambut klimis dan memasang senyum tipis. Yang datang bersama Sidiq adalah Kepala Desa.
Aku pun mengenal baik Kepala Desa kalian. Sosok yang ditakuti warga kampung kalian. Jangan salah bicara atau keliru bersikap saat berada di hadapan Kepala Desa, begitu imbauan yang beredar. Kalian muak dengannya, tetapi kalian tidak berani untuk berucap. Semua perangkat desa, kalian tahu, tunduk padanya.
Kepala Desa bisa dengan seenak hati memutuskan suatu perkara dan apabila ada yang menentangnya siap-siap saja diangkut Sidiq untuk diingatkan kembali siapa penguasa dan siapa yang ditindas.
Saat Kepala Desa, yang dulu masih berstatus calon, muncul dengan perangainya yang santun dan sederhana—tampak berasal dari kalian dan untuk kalian—banyak yang menaruh percaya kepadanya. Seiring waktu kalian mulai sadar watak dia yang sebenarnya, betapa penuh siasatnya dia, lantas kalian pun merasa dikhianati.
Namun, tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Warga kampung kalian telah dibikin bungkam. Kendati begitu senyap, sebagai upaya perlawanan yang tersisa, kalian pun menyematkan protes melalui simbol-simbol. Harapan kalian pesan itu bisa disadari oleh Kepala Desa, sang penguasa, tanpa membuatnya tersinggung.
Salah satunya untuk mengoreksi janji manisnya dahulu, kalian sepakat memboikot produk minuman manis. Termasuk sirup, tetapi itu pun tidak cukup. Oligarki kadung menyusup ke dalam kampung kalian sejak lama.
Karena semakin muak kalian mulai menempatkan aku sebagai frase yang lekat dengan Kepala Desa. Tetapi, diam-diam saja dari belakang. Tidak seterang ketika kalian mengucapkannya di muka Ilham. Kalian mencap Kepala Desa sebagai kepemimpinan yang sama saja dengan sebelumnya, untuk tidak menyebutnya lebih buruk.
Sementara saat ada pemuda mabuk yang bisa menolong perempuan yang terancam diperkosa, cerita tentangnya pun tidak lagi menarik buat kalian. Konon tidak ada yang baru dari itu. Kejadian semacam itu kelak akan memudar dan menjalani nasib sebagai kisah remeh. Seperti yang terjadi pada pemberi makan anjing, si pelacur yang bertobat, si penjudi yang beribadah, dan seterusnya.
Kebaikan pun menjadi semu belaka sekaligus menunjukkan bagaimana warga kampung kalian membenciku: Sebuah babad yang klise.