Jika anda ngeyel, ingin caci maki, otak bluber sebelah,,, mampirlah ke rumah saya. Kita duduk santae di bawah toren aer untuk nyender.
RMH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Love Begins
Peter Solarz
d e v o n

No title available

#extradirty

JVL
we're not kids anymore.
No title available

izzy's playlists!

Origami Around
todays bird
Sweet Seals For You, Always
AnasAbdin

blake kathryn
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸
Not today Justin
Cosimo Galluzzi

seen from Greece

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from South Korea

seen from Singapore
seen from United States

seen from Mexico

seen from Austria

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from India

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
@inianrf
Jika anda ngeyel, ingin caci maki, otak bluber sebelah,,, mampirlah ke rumah saya. Kita duduk santae di bawah toren aer untuk nyender.
ya saya pikir, si pemilik rusa tanpa sebab memotong tanduknya hingga berdarah-darah. oh siasat si pemilik memikirkan mereka tidak saling menusuk antar gerombolan tergopoh-gopoh dari kanan-kiri, juga depan-belakang. "penikam ada di manapun mereka cengengesan" katanya,,, #photography #madewithstories #indophotography #lightroomindonesia #instagrampost #rusa #pohon #tanah #hewan #hutan #animal #sajak #gabut (di Taman Rusa) https://www.instagram.com/p/CG7WrTPlKhx/?igshid=1x6hd061u3uag
Coba kalian cacah deh, berapa manusia yang masih sanggup bercengkrama dengan jiwa-raga ala kadarnya diri 😂 #photography #indophotography #creativephotography #zonaphotography #instagrampost #madewithstories#lightroompresets #lightroomindonesia #fresh #sepeda #main #lapangan #kawansejalan #life #series (di Lebak Sawah, Cijantung) https://www.instagram.com/p/CG3mPlyl7-V/?igshid=1io91h30czrg9
Dari mula. Awak beranjak dari tilam saban hari, hilir mudik netra terbuka mencari destinasi. Dari fajar hingga petang mangut-mangut atas insiden yang sudah menerjang.
Pernah meramaikan Si Senyap mencuat menguntit bencah-bencah bagaskara
Menuntun perlahan hingga ia becus
menelisik permukaan dengan bidik celah indra visual miliknya
Namun bilamana sudah terlihat silau, persilahkan ia melilit tirta sampai tepian
Pernahkah dia bertanya pada malam?
Mengapa malam selalu hadir disaat lelah sudah tertanam?
Apakah karena lentera bintang benderang sehingga dia lupa terpejam?
Ataukah bulan dengan keindahan yang merajuk begitu jauh?
Menjadikannya gugur bersama dendam.
Menjerat gelap yang bersembunyi dibalik genggam.
Seakan tak ada lagi hitam yang tersimpan di dalam malam.
Setiap hari ke dua puluh empat,
terserah kamu memikirkan bulan sekian dan tahun ke berapa
Memori menuturkan keterlibatan dia mencampuri rasa
Aku diadu perlahan setiap selubung sebuah kata
yang tanpa diakhiri salam dan kebijakan dari orang itu
Aku memukul otak mengapa terjadi demikian
Terlintas beberapa kemungkinan seperti;
ia tertindih matahari,
menopang matahari,
atau lebih parahnya dia membuat matahari sendiri
Aku harap setelah dia mampu memoles matahari sendirian tanpa aku atau dengan seseorang,
dia tidak segan memantulkan sinarnya untukku,
hingga sampai pada kegelapan di ujung barat ini
Gelap, pekat, mengendus, berbayang, dan hening
Dia berbagi kehangatan kepada orang lain
Dia berbagi penerangan, juga mungkin untuk orang yang lebih dekat dengannya
Tapi sekiranya,
aku berharap dia berbagi pandang arah barat untukku
Seperti ini, bukan tuan yang menghendaki semuanya. Itupun tuan juga tidak mau menjadi seburuk-buruknya kenangan. Tapi apa yang tuan tinggalkan akan menjadi sebaik-baik pengajaran. Semoga.
Hujan menghapus tapak kaki jutaan anak-anak putus sekolah, menunggu di jalan meminta iba.
Mungkin kau tidak menyadari. Aku juga.
Sedangkan gedung-gedung makin kokoh, menjolok langit menandingi tuhan.
Peradaban apa yang sedang kita pertahankan?
Di dunia, senja makin sesak kehilangan rasa.
Dan kita, sunyi menyendiri.
Tak ada majas yang perlu disebar
ataupun diksi yang ingin ditabur
Sebab narasiku sudah tersaji
Dengan seiringnya,
apakah lakonmu masih tersedia lagi dalam ceritaku?
Oh, ternyata aku perlu menambahkan tokoh lain
untuk memperliku kita
Aku punya secangkir teh melati, barangkali bisa mengurangi sendu, angkara, murka, atau mungkin kau inginkan kopi untuk berpahit-pahit jua denganku?
Di latar kayu kenangan kakek,
kakiku kembali bertemu pijakmu
“Bukankah dulu ini putih?” tanyamu
“Seingatku dari dulu hitam” jawabku
Aku dan kamu sama ragu tentang hitam atau putih,
tentang yang sirna atau masih
“Aku ingat,”
“Yang putih adalah koi punyamu!”
Terlihat jelas cuap terakhir di ujung singgah itu
Sepuluh jarimu mencari ikan-ikan periang
"Sekarang ikannya sudah jangkang" aku menyanggah
“Yang lalu hayat, maksud sekarang?” kau sergap ihwal
“Hilang, mungkin tak di hargai” aku diam
Kau diam, melahap keramaian menyandung riak air
Prespektif indra tergantung pemiliknya.
Meyakini mentah-mentah semua yang di dengar, bahkan yang matang tanpa was-was. Selalu ada tiga sisi dalam sebuah cerita. Milikmu, milik mereka, dan kebenaran.
Ini sekedar pelataran dengan tajuk pinggiran besi untuk membatasi jembatan tuan..lihat, dibawahnya ada rel seakan-akan hidup yang diselingi batuan kerikil terlampau harian terjal. Lihat juga diatas jembatan ini tuan, ada kapas putih yang dingin senantiasa menaungi getir penopang setiap insan menghirup dan mengendus. Dan juga sekelebat pohon sayup menyapa keraguan dan menampar pipi dengan dahannya, jika ditemui celah merah pada catatan malaikat Atid.
Ada diri bersua, tapi enggan menyapa.
Katanya, pakai penutup telinga.
Sulit.
Tuli.
Yang satu tidak berani teriak.
Lalu, ego mana yang harus dikalahkan?