Jalan setapak itu tak pernah lurus. Ia melengkung mengikuti sabar tanah, menyempit di antara rumput liar dan jejak kaki yang entah milik siapa. Setiap langkah di atasnya adalah pengakuan: bahwa hidup tak selalu memberi jalan lebar, kadang hanya cukup untuk satu orang berjalan perlahan.
Di kanan kiri, pohon-pohon berdiri sebagai saksi. Mereka tak bertanya ke mana aku pergi, hanya mengajarkan cara bertahan—berakar kuat meski angin sering datang tanpa permisi. Jalan setapak ini sunyi, namun justru di sunyinya aku belajar mendengar diriku sendiri.
Batu-batu kecil melukai telapak, ranting kering membuat langkah tersendat, tapi di sanalah makna berdiam. Bahwa jatuh tak selalu berarti kalah, dan luka bukan alasan untuk pulang sebelum tiba. Jalan setapak mengajarkanku tentang keberanian yang sederhana: terus melangkah, meski tak ada yang bertepuk tangan.
Dan ketika ujungnya belum terlihat, aku tetap berjalan. Sebab jalan setapak bukan tentang cepat sampai, melainkan tentang siapa yang tetap memilih maju, walau sendirian.


















