Sepekan yang lalu pada istirahat siang:
kamu masih menemuiku secara teratur. Biasanya, kamu mengajak ke kantin sekolah dimeja favorit dekat kolam ikan. Bahasa tubuhmu menunjukkan kamu yang sedang bahagia. Karena tersambar panah asmara. Muda- mudi selalu tak tahu diri saat berbicara tentang cinta. Kamu menginjak kakiku berkali- kali tanpa kamu terasa. Tidak sakit memang, tidak ada luka juga. Tapi siapa sangka, aku mendadak sesak dada.
Aku bertanya pada diriku sendiri, “dimana udara yang selama ini kuhirup rapat- rapat dan kulepaskan tanpa rekat berada? Selama ini aku selalu menjaga tubuhku agar sehat dan bugar, sesak nafas juga tak ada dalam daftar riwayat penyakit keturunan. Entah organ mana yang terganggu sebab aku sesak?
”Yang aku dengar, kamu menyebut sebuah nama tak asing bagiku “Ayunda”. Si pintar dan cantik dari belahan sekolah ini. Ternyata kamu jatuh cinta pada sahabatku. Dan aku jatuh cinta padamu.
Aku ingin mengalah. Untuk kamu dan sahabatku bahagia.Tapi aku sendiri rapuh. Aku ingin marah tapi tak mungkin. Aku ingin pergi tapi tak bisa.
Lalu, aku memilih untuk mengatakannya padamu. Aku mengatakan bukan untuk memaksamu menerimaku agar menjadi kekasihmu. Tidak.
Aku hanya ingin kamu mendengar. Biarkan aku menghilangkan sedikit beban perasaan. Mungkin dengan begini, kamu akan menjauhiku dan aku percaya bisa melupakanmu.
Dan hari itu, kamu benar- benar menjauhiku.
Aku siap dengan segala resikonya. Aku dengar, kamu dan Ayunda sudah menjalin asmara tiga hari yang lalu. Aku adalah orang pertama yang mengetahui itu. Aku berpura- pura bahagia, saat Ayunda bercerita tentang ucapan cintamu. 10 puisi yang kamu kirim di satu bulan pertama saat kamu akan menyatakan cinta telah tuntas kubaca. Masih ada 20 lembar puisi yang belum kubaca. Kata Ayunda, puisi yang terakhir adalah yang membuatnya berani memutuskan.
Aku membaca puisi itu sendiri didalam kamar, dimalam- malam yang biasa penuh harap. Kini bintang yang biasa kugami tak terlihat indah lagi, bulan pun terlihat tertutup awan dan seolah tak ada yang sanggup menyamarkan kesedihanku malam itu. Bahkan aku membenci rindu dan angin malam, yang biasanya membuatku bersemangat menciptakan puisi cinta untukmu.
Saat itu, perasaanku memang selabil itu.
Sampailah pada hari kelulusan SMA. Aku masih begitu takut membaca puisi cintamu yang ke 30 untuk Ayunda, yang katanya, sajak- sajaknya membuatnya memutuskan sesuatu. Ada rasa penasaran yang beriringan dengan ke-engganan.
terakhir kali bertemu, kamu melambaikan tangan dan tersenyum padaku. Aku tahu, mungkin kamu memaafkanku.
Malam harinya, Ayunda menemuiku dirumah. Sekalian berpamitan karena akan berangkat ke ibukota untuk melanjutkan sekolah. Sedang aku, akan melanjutkan sekolah di kota kembang ini. Ayunda menceritakan tentang betapa rindunya ia padamu. Ia sangat menyesal tak dapat mengatarkanmu ke bandara untuk melapasmu pergi ke Eropa melanjutkan sekolah. Asal kamu tahu, sepulang wisuda, diam- diam aku berangkat ke bandara. Aku melihatmu dikejauhan. Orang tuamu tampak berat melepasmu. Mungkin kamu tak pernah tahu, yang berat bukan hanya keluargamu. Tapi juga aku.
Aku: yang gagal menjadi sahabat sejati, yang katanya akan mendengarkan 1000 cerita hidupmu, yang akan memberi nasehat dan mengingatkanmu.
Saat kamu tak lagi disini, aku berpikir untuk membaca surat cintamu yang ke 30.
Biar hari ini perasaan sesak karena kepergianmu, sekalian aku pun merasakan sesak karena surat cintamu.
Merapikan Cinta yang mulai Patah
Aku dengar kamu mencintaku diam- diam.
Mungkin semenjak kita berteman. Semenjak bertukar nomor handphone dan akun facebook. Semenjak kita sering belajar bersama.
Jika kuperhatikan, kamu tak juga pandai berpura- pura. Bagaimana tidak?
Aku bisa mendengar degup jantungmu, tutur katamu dan pengorbananmu.
Ungkapan cintamu yang begitu terlambat dan aku yang menjauhimu
Aku tak akan menjadikanmu kekasihku.
Karena aku tahu, kamu menjaga hatimu mati- matian agar tak mengkhianati sabda Tuhan.
Kamu merawat hatimu untuk tetap tegar menjaga iman saat dilema mengembara dalam pikiran.
Walau kehabisan kata- kata saat berjumpa denganku. Kamu tetap menunjukkan bahwa kamu tak mengapa?
Sadarkah kamu, aku pun terluka. Kita sama- sama terluka pada kisah cinta yang kita rasakan sendiri.
Kita terkungkung hebat dalam perasaan yang terbawa. Perasaan itu malawan iman dan mencoba merobohkan dinding pertahanannya.Sadarkah kamu?, kita memiliki perasaan yang sama tapi tak bisa apa- apa.
Yang aku punya untukmu hanya doa. Aku pikir saksi- saksi bernyawa tetap saja seperti kita. Bodoh dan statis.Aku tak sanggup untuk tahu tentang perasaan sakit kita lebih dalam.
Berpisah bagian dari hidup. Hinggap dan tinggal hanya masalah waktu dan jarak.
Kita sama- sama bodoh dan tidak romantis.
Biarlah seperti ini, aku menyukai situasi ini.Karena dengan ini, aku tetap bisa menjagamu, bercanda dan bertukar kata denganmu.
Ku ulangi sekali lagi. Biar aku mencarimu dalam mantra- mantra malamku.
Aku: Seresah yang jatuh dari ketinggian yang amat sangat. Dan berharap kau ambil untuk dirawat. (2010).
Selembar puisi itu, tidak ada kalimat yang mengatakan bahwa Ayunda wajib memilih dan entah mengapa kalimat demi kalimat itu, sebenarnya bukan untuk dia.
Kuperhatikan jam dinding: 11.14 malam
“Waalaikumsalam…. Ada apa?, tumben malam- malam?”
“surat yang ke 30…..”. belum selesai kata- kataku. Terdengar dari balik telepon, Ayunda tertawa.
“hei dengarkan aku”, katanya kemudian sambal sedikit berisik, sisa- sisa tawanya. “semua surat itu untuk kamu. only you”
Aku semakin tak mengerti dengan arah percakapan kita.“dia mengagumimu sejak lama, tapi untuk saat ini. dia memilih untuk menjagamu saja daripada menjadi kekasihmu. Dia ingin menjaga mu dalam doanya. Maaf kan aku ya, yang pandai berpura- pura”, katanya yang disusul tawanya.
“jadi selama ini…..”, kalimatku menggantung. Setetes air mata jatuh ditelapak tangan. Mengapa ini lebih menyakitkan daripada sebelumnya?, tanyaku dalam hati.
“hei… sudahlah. Lupakan dia. Rawatlah hatimu. Jika kau sanggup, rawatlah pula cintamu dalam doa. Jodoh tak akan kemana, selama kalian berdiri di bawah langit yang sama”.
Benar adanya, kisah kita belum selesai secara perasaan.
Irishophiaa. Malang, March 2 2012