Ramadanku dan suka dukanya
Memori masa kecilku tentang ramadan tuh indaah sekali, mungkin sama juga seperti para milenials yang lain. Bedanya aku (merasa) punya dua privillage lain saat ramadan. Yang pertama, karena aku anak guru agama jadi setiap ramadan selalu ikut kegiatan agama walaupun bukan peserta, kayak cuma ikut-ikut aja gituu karena bapanya guru agama hehe. Yang kedua rumah aku depan mesjid persis! Karena biasanya setiap kegiatan tempatnya selalu di mesjid, jadi aku merasa aksesku sangatlah mudah. Buka pintu bisa langsung main dan melihat keramaian, selalu tau kalo ada acara, dan kalo ada apa-apa tuh deket. Pokonya seruu!
Punya bapa guru agama dan rumah depan mesjid di bulan ramadan itu combo maut banget buat bocil. My bigest “flexing” saat itu, pas aku berangkat ke mesjid bareng bapa dan setiap pulang selalu nyampe rumah duluan disaat yang lain masih nyari sandal HEHE.
Tahun-tahun berlalu privillage ramadan aku mulai terasa biasa ajaa. Mungkin karena aku lebih banyak mengahabiskan ramadan di tempat rantau daripada dirumah. Namun siapa sangka si ramadan yang selalu menyenangkan itu, mulai memberi aku beberapa rasa baru. Aku diperkanalkan pada rasa kehilangan di bulan ramadan selama beberapa kali.
Perasaan kehilangan itu membuat aku takut untuk kembali “merayakan” ramadan. Hanya berani menjalaninya saja, tidak lagi merayakan.
Aku bingung harus memilih perasaan yang mana saat ramadan datang. Perasaan suka cita dan mengingat kenangan masa kecilku yang menyenangkan ituu atau perasaan duka cita yang terjadi di bulan ramadan saat aku dewasa ini.
Awalnya aku memilih untuk memaksakan diri merayakan, tapi melihat kurma saja aku bisa menangis. Teringat dengan kurma yang ditinggalkan seseorang dan tidak pernah ia habiskan itu.
Lalu aku putuskan untuk berduka saja. Tapi kemudian aku merasa bersalah, di bulan yang seistimewa ini dengan memori masa kecilku yang sempurna ini aku harus melaluinya dengan duka. Rasanya tidak adil sekali bukan?
Bertahun-tahun aku menjalani ramadan dengan bingung. Antara suka dan duka. Bahagia namun bersedih.
Memori masa kecilku terlalu berharga. Namun rasa kehilanganku pun masih terasa nyata.
2026. Masih dengan perasaan yang sama; bingung. Tapi, tahun ini akhirnya aku berani beli kurma! Bagiku itu sebuah pencapaian baru, sungguh. Akhirnya aku berani melihat kurma dengan sejawarnya. Aku juga akhirnya berani memakan kurma tanpa rasa yang menyesakkan di dada, meskipun hari pertama masih menangis tapi hari berikutnya sudah sepenuhnya nikmat. Terima kasih ya Allaah untuk kesempatannya :))
Ramadan tahun ini aku masih mengizinkan diriku untuk menangis saat rindu dan membiarkan diriku merayakan hal yang memang ingin aku rayakan dengan sepenuh hati.
Selamat merayakan ramadan semuanyaa :)