Semua manusia itu Bodoh, namun hanya sebagian yang mau Belajar.
Mau kita bahas dari sudut manapun, faktanya semua manusia itu bodoh. Semua manusia pasti melakukan sebuah kesalahan, pasti disuatu masa manusia mengambil keputusan yang salah. tidak dapat dipungkiri manusia memang tempatnya salah.
Jika kita mau mempertanyakan hal ini, ada 2 sudut pandang yang bisa kita jadikan acuan.
1. Agama : Sejatinya Tuhan pasti mengangap umatnya bodoh, karena Ia dengan jelas dalam beberapa perintahnya memerintahkan kita untuk belajar dan mencari ilmu. ilmu apapun itu namun Tuhan terus memerintahkan kita mencari ilmu sebanyak mungkin, karena Tuhan tau umat nya bodoh dan harus terus belajar. Dilihat dari setiap keputusannya pun sama, Tuhan memberikan kita ujian dalam perjalanan hidup tidak lain ya untuk belajar, agar kita mau terus berkembang. agar manusia terus memperbaiki diri, karna Tuhan mengangap kita bodoh, dan memerintahkan manusia untuk terus belajar.
2. Science : ketika saya menyebutkan bahwa semua manusia bodoh itupun termasuk para ilmuan tentunya. gelar profesor bahkan guru besar sekalipun termasuk kedalam "semua manusia itu bodoh", maka dari itu mereka para ilmuan itu harus terus melakukan penelitian. Mereka tidak tau apa hasil dari setiap penelitian yang akan mereka mulai, itulah mengapa mereka memulainya. dan ketidaktahuan itu adalah sebuah kebodohan yang tidak bisa kita pungkiri. justru menjadi paradoks jadinya ketika ilmuan akan melakukan sebuah penelitian namun ilmuan tersebut sudah tau secara valid hasil dari penelitian yang akan dia lakukan, lalu untuk apa ia melakukan penelitian tersebut? faktanya saja hanya berapa persen dari Bumi yang sudah manusia fahami, berapa persen dari luar Bumi yang manusia sudah bisa jelaskan secara keilmuan nya. belum jika berbicara Fisika Quantum yang bahkan bisa membuat para ilmuan terbagi menjadi beberapa kelompok interpretasinya masing-masing.
Maka kesimpulan dari sini bahwa kita harus menyadari bahwa semua manusia itu Bodoh, namun hanya sebagian yang mau belajar. jadi yang akan menjadi pembeda manusia dengan lainnya ialah apakah ia mau belajar atau tidak. maka tidaklah menjadi sebuah masalah besar ketika kita sebagai manusia membuat kesalahan, karna sejatinya kita memang bodoh. pertanyaan nya justru seharunya "lalu apa yang kita pelajari dari sebuah kesalahan ini?", "apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini?", "apa yang menjadi sebuah pembelajaran untuk bisa kita berikan kepada manusia lain?".
Kesepakatan memang sulit didapat, perlu ribuan pertimbangan atau bahkan jutaan pengalaman untuk membuat hati yang takut, dan pikiran yang penuh pertimbangan itu bersatu. Membuahkan keputusan yang sama mengenai tindakan yang akan dilakukan apalagi ketika tindakan dari keputusan itu membutuhkan waktu yang panjang serta konsistensi yang kuat.
Sebuah cara untuk menerapkan Habit Baru dalam hidup.
Ada kalanya manusia berhasrat untuk merubah kebiasaannya apalagi kebiasaan buruk, namun tak jarang manusia juga kesulitan dalam mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka dalam kehidupan sebelumnya, apalagi Ketika menemukan titik jenuh, yang membangkitkan kembali nafsu kebiasaan lama untuk Kembali dilakukan. ini bisa terjadi karena memang yang dibutuhkan dalam sebuah perubahan bukan hanya Hasrat keinginan yang kuat, namun kesiapan tubuh dan kesadaran pikiran akan konsekuensi yang akan terjadi, juga penerimaan atas semua resiko yang akan terjadi. maka disini selain menguatkan tekad dan keinginan ada hal lain yang yang tentunya harus diperhatikan.
Yaitu kesiapan tubuh untuk menjalani hal baru, dan yang paling penting alasan manusia untuk apa ia berubah. proses mencari alasan inilah yang terkadang tidak dihiraukan, bahkan dirasa tidak terlalu penting, atau hanya menggunakan alasan yang sederhana, seperti alasan untuk tidak boros, agar bisa menabung dan bisa membeli barang yang diinginkan. Tentu alasan ini tidaklah kuat bagi manusia yang terbiasa boros (walaupun boros untuk keperluan sendiri), tapi diperlukan alas an yang sistematis, berpondasi, dan menjadi dasar kan kuat nantinya Ketika habit baru yang akan diterapkan menemui titik jenuh, maka pondasi untuk perubahan yang diinginkan menjadi kuat dan takan tergoyahkan.
maka cara yang bisa dilakukan manusia ialah dengan menerapkan 3 tahapan siklus perubahan. tahapan ini tidak bergantung pada kurung Waktu, tahapan ini bisa lebih fleksibel dengan menyesuaikan kurung siklus yang lebih pas untuk setiap tempat, Waktu, bahkan manusia itu sendiri. 3 tahapan siklus ini ialah Trial, Evaluate, dan Stability (TES) :
Trial : Pada tahap ini manusia harus bisa mengobservasi apa yang menjadi kebiasaan dia, lalu tulis (rekam/catat/ingat) setiap detail kejadian dan terus upayakan untuk mengobservasi. Pada tahap ini tidak ada tuntutan tinggi dimana konsisten menjadi musuh Utama perubahan, pada tahap ini tidak ada konsisten yang diwajibkan, hanya mengobservasi dan analisis apa yang menjadi kekurangan dan apa yang menjadi kelebihan, juga menguatkan apa alasan manusai harus berubah, faktor apa yang mempengaruhinya, juga dampak apa yang terjadi dalam jangka pendek(terasa saat itu juga) dan jangka panjang (akan terasa nanti). kumpulkan semua alasan yang mengarah kepada perubahan yang hendak dilakukan, juga temuan-temuan disini nantinya bisa menjadi validasi dari perubahan yang hendak dilakukan, apakah perubahan yang diinginkan nantinya memang dibutuhkan, memang harus segera dilakukan, atau hanya sebatas angan dan tidak harus diterapkan, bahkan bisa jadi pada tahap ini manusia malah menyadari beberapa hal baru, dimana kebiasaan yang telah ia lakukan sebenarnya sudah baik, dan tinggal beberapa hal lagi dihal lainnya yang harus diubah, maka tugas kedepan menjadi tidak terlalu berat.
Evaluate : tahap kedua yang harus dilakukan ialah mengevaluasi setiap kebiasaan-kebiasaan lama (hasil dari tahap Trial), dan mulai menerapkannya pada tahap kedua ini. pada tahap ini pula belum ada tuntutan yang tinggi untuk konsisten, justru setiap hal baru yang ditemukan pada tahap Trial bisa kita uji coba ditahap Evaluate ini, sambil meyakinkan kesadaran manusia untuk bisa menerima perubahan yang akan dilakukan, sambil terus dievaluasi apa yang menjadi kelebihan, kekuatan, kekurangan, dan kelemahan dari setiap perubahan yang dilakukan, juga mulai membiarkan tubuh merasakan apa yang menjadi kesulitan, dan perbedaan dari kebiasaan lama. karena pada tahapan ini belum ada tuntutan untuk kosisten maka setiap evaluasi yang dilakukan ini bahkan bisa menjadi penguatan alasan untuk perubahan nanti yang akan diambil, ya diambil, karena bisa jadi pada tahapan ini hal-hal baru yang ditemukan tentang perubahan yang benar dan baik dilakukan manusia untuk diterapkan pada tahapan Trial juga dikuatkan pada tahapan Evaluate ini menjadi lebih kuat lagi, karena alasannya bukan datang dari sang motivator ataupun sosok yang dikagumi yang sering bias kondisi. tapi datang dari diri pribadi dan tubuh manusia itu sendiri. maka capaian dari tahapan ini cukup penting dimana manusia harus bisa mengambil keputusan bahwa perubahan yang hendak / diinginkan untuk diterapkan itu memang murni harus segera dilakukan, juga memang baik untuk kehidupan manusia itu kedepan. namun tak jarang juga justru hasil dari tahapan ini malah membuat manusia menjadi ragu dan tidak bisa memutuskan perubahan yang ingin dilakukan itu harus dilakukan, justru ini lebih baik karena manusia jadi tidak harus membuang-buang waktu untuk merubah sesuatu yang nantinya tidak akan ia ambil dampak baiknya, karena pasti akan putus ditengah perjalanan karena tidak mendapatkan alasan yang cukup kuat ketika mulai masuk ketahapan terakhir.
Stability : Barulah pada tahapan terakir ini menjadi tahapan yang panjang karena konsistensi mulai ditegakkan, setiap hasil evaluasi dari tahapan sebelumnya, juga hasil analisis yang cukup mendasar dan kuat,dijadikan alasan manusia untuk bisa konsisten ketika keputusan perubahan yang akan dilakukan itu sudah diambil, karena ketika sudah memasuki tahapan ini tidak ada jalan kembali, tidak ada keputusan baru, semua pertimbangan keputusan sudah harus dilakukan pada tahapan Evaluate, pada saat mengevaluasi menjadi tahapan penting pengambilan keputusan ini, ketika manusia mulai menginjak tahapan Stability maka sudah menjadi resiko untuk keputusan perubahan yang ia ambil, harus dilakukan, pun itu seharusnya tidak menjadi masalah besar lagi, karena, pertama kesadaran sudah menemukan alasannya untuk apa ia melakukan hal baru ini, kedua tubuh juga sudah mulai menerima setiak konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang sejak siklus evaluasi mulai ditunjukan semua opsi yang ada. maka secara otomatis tubuh dan pikiran manusia akan dengan sendirinya melakukan setiap perubahan yang diinginkan, bahkan bisa dikatakan memang dibutuhkan.
Dan alasan mereka bekerja pasti untuk kehidupan itu. jika perusahaan tidak bisa menjamin kehidupannya, maka pekerja sulit untuk bisa fokus dalam pekerjaannya.
Memang menjadi sebuah resiko yang akan terjadi antara kedua belah pihak, tapi itulah alasan mengapa ada pekerja dan mengapa mereka dibutuhkan. Saat perusaan bisa menjamin kehidupannya, pekerja bisa dengan bebas mencurahkan waktu dan pemikirannya untuk perusahaan. bukan sebaliknya. karna simbiosis yang terjadi haruslah Mutualisme. jika tidak, ya jelas yang terjadi pekerja akan kehilangan fokus dalam bekerja karena pekerja akan bekerja hanya dengan keterpaksaan saja. siapapun dan kapanpun manusia pasti akan mendahulukan kehidupannya itu, termasuk pekerja.
sedikit cerita tentang karyawan Penjahit yang tidak punya alasan untuk bertahan disuatu konveksi yang kurang bisa menjamin kehidupannya.
Kita kalo mau punya rumah itu dibangun, dibuat, didirikan menggunakan pondasi yang kokoh dan harus awet, tahan lama, tahan bencana. kita bisa tinggal lama didalamnya bahkan bisa diwariskan kepada penerus kita. Rumah dibangun sendiri yang pertama menempatinyapun kita sendiri.
Beda dengan kontrakan, kita bisa bebas memilih mau dimana saja, mau kapan saja. Sudah jadi, sudah pernah ada yang mengisi. Tapi belum tentu betah lama tinggal, dan setelah kita keluar pasti akan ada orang lain yang terus bergantian menempatinya. Ya namanya juga kontrakan.
Sulitnya bangun rumah itu bukan soal materi saja. Dan tinggal di kontrakanpun dilemanya bukan soal kepemilikan saja.
Prosa
Yang aku tahu hanyalah hukum kekekalan energi. Ketika ada yang berkurang, maka sudah menjadi barang pasti disuatu lokai tertentu ada yang bertambah.
Selama ini kau hanya sedang memainkan peran Nona, agen ganda disiang hari yang menanggap dirinya malam.
Benar yang kau ucapkan Puan, laki-laki hanya akan dihargai ketika ia memiliki materi.
Tapi ini bukan tentang seorang lelaki. ini hanya tentang sebuah pemikiran malam yang panjang, yang mudah-mudahan membuahkan suatu jalan untuk semua ilusi yang nyata dan nampak didepan mata.
Kebohongan itu seperti penyakit, ia menular namun bukan ke orang lain, melainkan kebohongan menular kepada kejujuran dan bisa sampai kebenaran, kenapa? karena perlu integritas yang kuat untuk mempertahankan kebenaran, dari sebuah validitas data yang benar, dan kesepemahaman bersama yang masif. maka dari sini kebohongan pun bisa menjelma dalam kebenaran yang membuat kebenaran menjadi bias.
jika diibaratkan kejujuran yang kita bicarakan setiap harinya adalah sebuah titik-titik kecil dalam sebuah kotak, maka kebohongan ini akan meracuni semua titik-titik ini hanya untuk menvalidasi setiap bait kebohongan yang diucapkan, yang artinya setiap satu kebohongan yang manusia ucapkan, ada kejujuran yang harus dihancurkan, dirubah, dimanipulasi dan disesuaikan dengan kebohongan yang telah diucapkan.
kemudian kebohongan-kebohongan tadi akan terus divalidasi dengan kejujuran-kejujuran lain yang dimanipulasi, terus menerus hingga sebuah kesalahan yang awalnya nampak jelas, berubah menjadi bias dan membuat manusia mempertanyakan kembali definisi kebenaran yang mereka miliki. dan setelah definisi kebenaran yang mereka miliki divalidasi dengan kejujuran-kejujuran yang dimanipulasi, disitulah kesalahan berubah bentuk menjadi sebuah kebenaran yang dengan ironi nya manusia akan percayai dan pegang terus hingga ada siklus baru (kejujuran/kebenaran baru) merubahnya kembali.
maka berhati-hatilah kepada manusia yang suka berbohong atau pernah sekali berbohong. karena ketika semua kejujuran yang ia miliki menjadi telah menjadi sebuah kebohongan dimana kebohongan itu sudah menular, maka setiap kebenaran yang ia pegang akan menjadi sebuah kesalahan dan sulit untuk dipercayai. penyimpangan-penyimpangan keputusan akan terjadi, arah jalan kesalahan yang akan dia tempuh, dan sulit sekali untuk divalidasi ulang.
Dalam pesatnya pertumbuhan teknologi saat ini, terjajahnya manusia dengan media sosial, tentunya manusia semakin dimudahkan dalam proses mendapatkan informasi. bahkan kabar dari manusia lain yang jaraknya bisa setengah lingkaran bumi pun bisa kita dapatkan hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Namun sayangnya ini malah menjadi sebuah paradoks informasi, dimana informasi yang seharusnya menjadi sebuah jawaban untuk setiap masalah manusia, informasi yang seharusnya menjadi sebuah pertimbangan manusia dalam mengambil keputusan, saat ini malah menumpuk dan memberikan manusia sedikit waktu untuk mengambil tindakan atas masalah yang dialaminya. justru seharusnya informasi-informasi yang manusia terima itu bisa melahirkan sebuah/beberapa keputusan. yang terjadi malah manusia terlena dengan banyaknya informasi yang bisa mereka dapatkan, mereka tampung dengan dalil menimba ilmu, namun hasilnya minim sekali tindakan yang manusia lakukan.
jika ada sebuah data yang bisa menunjukan perbandingan tingkat cepatnya sebuah informasi yang bisa didapat manusia dengan tingkat cepatnya perkembangan teknologi dari masa ke masa, pastinya data tersebut menunjukan semakin tinggi informasi yang didapat manusia, membuat semakin lambat perkembangan teknologi yang dibuat manusia.
kenapa saya mengatakan demikian, karena semakin banyak manusia dibuat mudah dengan sebuah hal yang biasanya sulit didapat (sebuah informasi) justru semakin malas manusia untuk bisa beranjak dan melakukan sesuatu atas hal tersebut. manusia yang semakin dimudahkan urusannya akan semakin tumpul insting bertahan hidupnya. dibuat nyaman dengan keadaan justru evolusi manusia semakin lambat, bahkan tidak akan berevolusi sama sekali yang dalam hal ini tidak akan melakukan usaha untuk bertahan hidup yang kaitannya dengan perkembangan teknologi diatas.
dilematik sebuah teknologi (sosial media) saat ini membuat manusia tidak melakukan apapun, akhirnya mereka hanya menjadi sebuah bank informasi. bahkan menurutku disebut bank informasi pun terlalu bagus. karna faktanya setiap motivasi, ide bisnis, saran perubahan, jawaban masalah, psikologi, ilmu hidup sehat, dan lainnya yang manusia dapatkan faktanya dalam kehidupan sehari-hari pun mayoritas manusia masih belum saja selesai menyelesaikannya. bisa dibilang mereka hanya kecanduan bermain dengan teknologinya bukan hidup didalamnya. manusia sudah mati karna terlalu banyak infomasi.
Sudah jelas terlihat keriput di ujung mata kanan itu. Tersirat manisnya senyum dibalik masker yang menandakan adanya sebuah kebahagiaan yang dirasakan.
"Kita sekolah lagi" "Aku akan bertemu dengan teman-teman ku" Sesuatu yang dinanti terpancar dari apa yang dia pandang.
Sesuatu yang diharapkan terjawab dari apa yang terjadi. Dan sesuatu yang di rindukan terlihat dari apa yang dia kenakan.
The value of life does not belong to those who close their eyes, but to those who feel every continuous journey.
Karena Berlian pun takan sempurna jika tidak dipola, dipotong, diasah, dan di gosok. Semua ini tentang proses.
Maka nikmati semua prosesnya menuju versi terbaikmu. karena kamu tidak akan tau kemana semua rintangan ini berlabuh. yang kamu tau, semua ini untuk membuat kamu semakin kuat menghadapi kehidupan.
Kadang beberapa kesalahan tak perlu dibenarkan. karena apalah artinya kebenaran tanpa pelajaran.
Ya begitulah hidup. berproses menjadi lebih baik setiap harinya. dan kesalahan adalah kuncinya. justru ketika kita tidak melakukan kesalahan kita tidak bisa berubah.
Teman saya mengatakan " kamu harus salah. agar kamu berubah". maka ketika kita melakukan kesalahan kita punya tiket untuk berubah. hanya pernyataannya menjadi lain, apakah kamu mau berubah?