Klo km bertanya kenapa?! Coba kembalikan pertanyaan itu dan jawab!
"Tempat yang semestinya nyaman, tak lagi dirindu bahkan dirasa"
-umaira- Ruangkata | 14 Desember 2019 | 9.47 PM

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Egypt
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Croatia

seen from United Kingdom
seen from China
Klo km bertanya kenapa?! Coba kembalikan pertanyaan itu dan jawab!
"Tempat yang semestinya nyaman, tak lagi dirindu bahkan dirasa"
-umaira- Ruangkata | 14 Desember 2019 | 9.47 PM
Rumahlah
Lebih dari sekedar makna kata benda dengan serangkaian fungsinya. Yang menghangatkan, meneduhkan, menyejukan, membahagiakan, menenangkan dan menajadikan cerita panjang dari sebuah pencarian arti kata rumah. sesekali menjadi sesak saat kita lupa akan hal-hal penting dan apa yang dibutuhkan. Namun, saat hal-hal penting itu kembali terfikirkan dan kembali kita rasakan, seketika sesak berubah menjadi isak biru yang berharap kembali.
Bolehlah kita pergi, dari tempat yang nyaman dan indah. Ada saatnya kita harus beralih dari ranjang nyaman dan redup lampu meredupkan rasa lelah. Berpisah dengan cangkir kesayangan yang menemani kita dipagi hari dan tumpukan buku yang belum tertuang semua dalam isi kepala. Semua langit terlihat sama, membiru jauh dan diam. Hal yang membutnya beda ialah awan yang berusaha menari dengan bentuknya yang sesekali manusia imajinasikan. Yang beda bukan langitnya, tapi dari sudut mana kita melihat lagit yang sama ini. Bukan langit yang beda, karena langit tetap satu. Yang mungkin membuatnya berbeda yakni ditempat mana kita berdiri.
Langit itu jauh, namun langit yang jauh membuat rumah terasa lebih dekat saat tertatap dan melangitkan lisan ini. Tidak ada yang jauh selama masih ada langit yang sama, arah yang sama dan ikhrar doa yang sama.
Tempat Pulang
Kau pasti tau rasanya kehilangan. Terlebih kehilangan tujuan mu, kehilangan tempat mu untuk pulang. Apa kau pernah merasakan pelik nya kehidupan diluar sana? Lantas ingin sebentar saja meringankan beban di bahu mu, sebentar saja untuk melepaskan beban beratmu, dan bersiap menghadapi nya lagi? Apa kau punya cara untuk mengisi kembali energy mu, sedangkan kau sudah tidak punya tujuan lagi, bahkan tujuan untuk pulang.
Dulu ada tempat yang sering aku kunjungi setiap akhir bulan, atau setiap warna di kalender berwarna merah selama 4 hari berturut turut. Tempat yang aku jadi kan alasan untuk mengisi ulang tenaga ku yang hampir habis karena pelik nya kehidupan diluar. Akan ada seseorang yang dengan senyum yang merekah selalu berdiri didepan pintu “rumah” menyambut dengan hangat siapa saja yang datang. Di tempat yang aku sebut “rumah” begitu hangat kala itu, hangat hingga aku enggan beranjak.
Tempat yang aku sebut rumah merupakan stasiun pengisian bahan bakar energy ku, sudah sangat lama stasiun itu sepi, bahkan tidak ada penghuni nya. Penjaga stasiun yang biasa aku sebut ibu yang dengan senyum merekah nya kini sudah tidak lagi bekerja di stasiun pengisian bahan bakar energy itu. Alasan nya, Tuhan menugaskan ibu untuk menjaga tempat yang lebih besar di atas sana. Aku yang menjadi pelanggan tetap nya pun merasa kecewa dengan keadaan. Apa yang bisa aku lakukan saat tau tujuan ku hilang?
Kau tau rasanya kehilangan? Aku baru saja belajar dari sakitnya pengharapan, aku baru belajar dari sulit nya bangkit tanpa pegangan. Bahkan ketika kau begitu ingin pulang, bahkan ketika kau ingin kembali mengisi energy yang telah kosong tapi tidak kau dapati tempat untuk pulang, satu satu nya yang bisa kau manfaat kan adalah sebuah ke ikhlas an.
RUMAH INDAH MERTUA
Sudah enam tahun aku bertahan di rumah ini. Rumah orang tuamu.
Yang awalnya terasa asing, perlahan menjadi biasa. Yang awalnya serba canggung, perlahan berubah menjadi keseharian.
Kadang aku berpikir, mungkin aku menantu yang paling tidak tahu diri. Paling banyak merepotkan. Paling sering membuat lelah orang tuamu.
Tapi ada satu hal yang mungkin tidak semua orang tahu: aku juga sedang mati-matian bertahan.
Bertahan karena memilihmu. Bertahan karena percaya bahwa setiap perjuangan yang kita jalani hari ini akan menemukan jalannya sendiri suatu saat nanti.
Tidak mudah hidup di rumah yang bukan rumahku sejak lahir. Tidak semua yang ingin kulakukan bisa kulakukan. Tidak semua yang ingin kukatakan bisa kukatakan.
Begitu juga orang tuamu. Aku tahu mereka pun pasti banyak mengalah.
Yang membuat semuanya terasa berat adalah karena sering kali tidak ada pihak yang benar-benar salah. Orang tuamu sudah berusaha menerima. Aku juga berusaha menyesuaikan diri. Namun hidup bersama tetap membutuhkan banyak kompromi yang diam-diam menguras tenaga.
Apalagi ketika masih berbagi dapur yang sama. Berbagi ruang yang sama. Berbagi kebiasaan yang berbeda-beda.
Ada hari-hari ketika selera makanku berantakan. Ada hari-hari ketika aku ingin memasak sesuatu, tetapi mengurungkannya. Ada hari-hari ketika aku hanya ingin diam tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dan semakin ke sini, aku mulai menyadari bahwa kenyamanan terkadang hadir saat rumah sedang sepi. Saat hanya ada aku dan anak-anak.
Aku bisa memasak sesuka hati. Makan kapan saja. Menyusun rumah dengan caraku sendiri. Menjalani hari tanpa banyak rasa sungkan.
Bukan karena aku tidak menyayangi mereka. Bukan karena aku tidak bersyukur.
Justru karena aku bersyukur, aku bisa bertahan selama ini.
Namun ada satu hal yang jarang kuucapkan: aku tidak sedang ingin pergi, aku hanya rindu memiliki ruang yang bisa kuatur tanpa merasa sungkan.
Ruang tempat aku bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya. Ruang tempat anak-anak tumbuh dengan cerita-cerita kecil kami sendiri. Ruang yang tidak membuatku merasa harus terus-menerus menyesuaikan diri.
Mungkin terdengar egois. Mungkin terdengar tidak tahu diri.
Tapi setelah enam tahun, aku belajar bahwa rasa syukur dan rasa lelah bisa tinggal di hati yang sama. Rasa sayang dan keinginan untuk memiliki ruang sendiri bisa tumbuh bersamaan.
Dan jika suatu hari nanti kita memiliki rumah kita sendiri, yang paling kuingat dari masa-masa ini bukanlah betapa sulitnya aku bertahan.
Melainkan betapa kerasnya kita semua berusaha saling memahami, meski sering kali sama-sama lelah. 🌿
Aku tidak tahu harus kemana lagi melangkah
Hidup seperti tanpa arah
Saat ini tidak ada satu hal pun yang bisa kusebut sebagai rumah
Bukan Rumah
Kita kalo mau punya rumah itu dibangun, dibuat, didirikan menggunakan pondasi yang kokoh dan harus awet, tahan lama, tahan bencana. kita bisa tinggal lama didalamnya bahkan bisa diwariskan kepada penerus kita. Rumah dibangun sendiri yang pertama menempatinyapun kita sendiri.
Beda dengan kontrakan, kita bisa bebas memilih mau dimana saja, mau kapan saja. Sudah jadi, sudah pernah ada yang mengisi. Tapi belum tentu betah lama tinggal, dan setelah kita keluar pasti akan ada orang lain yang terus bergantian menempatinya. Ya namanya juga kontrakan.
Sulitnya bangun rumah itu bukan soal materi saja. Dan tinggal di kontrakanpun dilemanya bukan soal kepemilikan saja.
Tapi ini bukan tentang Rumah
Mohammed menghabiskan empat puluh tahun hidupnya bekerja di Prancis. Saat ia pensiun, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Maroko, di mana ia habiskan seluruh tabungannya untuk membangun rumah megah di desanya sembari menunggu kedatangan anak-anaknya untuk tinggal bersamanya. Sebuah novel memilukan tentang hubungan orang tua dan anak, Tempat Pulang memotret kontras yang mencolok antara nilai-nilai dunia lama dengan yang baru, serta impian para imigran akan tempat untuk pulang. Tahar Ben Jelloun, Tempat Pulang, Novel, Yogyakarta, Basabasi, Okt 2022, 180 hlm, 65.000 #TaharBenJelloun #TempatPulang #Novel #PenerbitBasabasi (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CloFouRh5bG/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Ini adalah bagian dari yang ingin kuutarakan di 2021 kemarin, sebab tahun itu adalah salah satu tahun aku benar-benar butuh tempat pulang tapi tak kutemukan.
Aku menemukan tulisan ini di Tiktok, sengaja ku post disini sebagai bagian dari perjalanan #30haribercerita ku.
✨✨✨
Hari ini aku menyadari sejak Sekolah Menengah Pertama aku memang sangat suka ketika temanku berbagi cerita kepadaku. Aku senang saat mereka mendatangiku, meminta bantuan padaku.
Hingga berlanjut di Sekolah Menengah Atas, aku sangat-sangat senang saat teman-teman dekatku meminta pendapat ku, menanyakan pandanganku, bagaimana solusi yang bisa kuberikan.
Dan dimasa perkuliahan, beberapa teman juga kadang datang padaku, berbagi cerita, meminta bantuan bahkan meminta solusi.
Bukan maksud aku ingin berbangga diri, ria atau bahkan menyombongkan diri. Nauzubillah, tidak, jangan sampai.
Disini aku hanya ingin berbagi kisahku bahwa aku yang sesuka itu dijadikan tempat berbagi cerita oleh teman-temanku, aku senang menawarkan kehadiranku pada mereka untuk berbagi (kamu butuh aku, aku disini. Cari aku).
Meskipun kadang aku sedang sibuk, kadang saat aku tengah dirundung masalah, bahkan beberapa kali sambil menangisi masalahku sendiri, aku masih mampu membalas curhatan teman-teman ku melalui pesan WhatsApp. Aku masih mampu menyemangati mereka.
Meskipun yang kuberikan hanyalah beberapa kalimat penenang ataupun penyemangat, bukankah bisa jadi dari kalimat-kalimat sederhana dari hati yang kita berikan bisa menjadi penyembuh atau solusi bagi sebagian orang.
Sekali lagi aku menekankan bahwa, nauzubillah, aku tidak bermaksud menyombongkan diri.
Hingga pada satu titik, menjadi pendengar bagi orang-orang adalah healing bagiku.
Tapi,
Kenapa aku tidak bisa menemukan seseorang yang seperti diriku? Bahkan dititik lelahnya aku menjalani hidupku, tidak kutemukan seseorang yang menawarkan diri menenangkanku.
Bahkan saat aku kesulitan bernapas akibat sesak dan tangis, yang kutemui tetap diriku yang memeluk diriku sendiri.
Kenapa aku menginginkan orang yang menemukanku, menawarkan dirinya,
Sebab, aku pernah terbuka dan berujung dikecewakan, dipatahkan, menjadikanku sangat sulit kembali mudah bercerita. Itulah mengapa seseorang yang menawarkan diri menurutku tidak akan membebaninya jadi kita tidak merasa sungkan berbagi.
Menemukan rumah tempat pulang menjadi salah satu harapanku di 2021 yang sekarang membuatku sadar adalah,
Tidak perlu seseorang yang sama sepertiku, biarlah aku tetap aku, karena jika memang hanya aku, maka biarlah aku yang menjadi rumah untuk aku.