FIKIR DUA KALI SEBELUM MENGASIHANI MEREKA!
Mata setiap orang, terutama mereka yang bergelar suami dan istri mungkin akan berkaca-kaca, lalu dengan sendirinya jatuh berlinang air mata setiap kali melihat foto keluarga ini.
Apalagi ketika jemari mereka mulai menjelajah isi instagramnya satu persatu. Membaca history-nya dari awal, meng-klik setiap kronologi fotonya, hingga sampai pada postingan terbarunya. Tak kuat, Tak tega.
Ya, saat ini mungkin sebagian besar orang sudah tahu akan kisah pasutri ini. Kisah suami istri yang rupawan, dengan perekonomian mapan, tinggal di negeri nan jauh disana (Amerika), hingga pada akhirnya datang masa dianugerahi sang buah hati impian. Bella namanya.
Bayi mungil nan menggemaskan, yang rupanya ditakdirkan lahir dengan Pfeiffer Syndrom type 2 (low chance to “life” menurut dokter).
Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana kondisi sang bayi. Silahkan anda cari tahu sendiri infonya yang telah banyak bertebaran di berbagai linimasa.
Atau mungkin, dari melihat fotonya sejenak di postingan ini anda sudah tahu beberapa gambarannya dan dapat mengambil kesimpulan.
Yang jelas, dalam kondisi Bella yang seperti itu; kepayahan, kesakitan, penuh ketidakberdayaan, dia membuktikan diri untuk bisa terus kuat dan mampu berjuang hidup sampai detik ini! MasyaAllah..
Lalu apa sebenarnya kaitan judul diatas dengan tulisan ini?
Apakah tidak pantas mengasihani keluarga yang diberikan cobaan ‘sakit’ pada sang anak? Saya jawab, pantas.
Manusia terlahir dengan gharizah nau’ nya, tentu tidak ada orangtua yang tidak ingin memiliki anak yang sehat dan normal. Apalagi sebagai human society, cobaan itu ikut menyesakkan semua orang.
Lantas, apakah tidak boleh juga mengkhawatirkan mereka? Boleh, silahkan saja. Anda mengkhawatirkan Jonru yang ditangkap polisi pun itu juga hak anda.
Ini hanya soal keberpihakan perasaan karena ikatan takdir yang sama, sama-sama kelak tiap orang akan merasakan/sudah memiliki anak. Pasti sakit sekali membayangkan di posisi mereka, bukan?
Tapi fikir dua kali, tidak, mungkin lebih, ketika akan mengasihani keluarga ini atau yang semacam ini.
Why? Wait a minute, tahan dulu untuk mengatakan saya intoleran dan apatis, simak secara perlahan penjelasan saya di bawah ini. Seka air matanya, mari merenung.
Satu. Keluarga mereka diberikan cobaan, lalu mereka berhasil bertahan. Sedang mungkin diantara kita ada yang langsung broken home, talak 3, pisah ranjang, KDRT, atau bahkan terjadi pembunuhan.
Dua. Sang bayi diprediksi dokter tidak memiliki umur panjang karena penyakitnya, tapi ternyata dia mampu bangkit dan membuat berbagai keajaiban kesembuhan.
Sedang mungkin diantara kita ada yang kena demam dikit saja langsung mager, ninggalin sholat, mengabaikan amanah, menyalahkan takdir Allah, bahkan mereka yang tervonis tak lama hidupnya sampai bunuh diri karena tak kuasa menanggung ujian.
Tiga. Orang tua dari sang anak ini tak pernah mengeluh walau mendapati kondisi anaknya demikian. Ia tetap sayang dan merawatnya dengan kelembutan, dan keimanan.
Sedang mungkin diantara kita ada yang mendapati anaknya berbuat salah sedikit saja langsung dipukul, di cap anak durhaka, dikurangi uang jajannya, dibiarkan saja agamanya, dibiarkan saja pergaulannya, sampai tak tahu sang anak melakukan zina setiap malam minggu bersama sang pacar.
Empat. Bella selalu mendapat pendampingan orang tuanya disaat suka dan dukanya. Sedang mungkin diantara kita terlahir sebagai orangtua yang prematur, mau anaknya shalih dan jadi hafizh Qur'an,
tapi ketika sang anak lelaki mulai berjenggot, atau sang anak perempuan mulai memakai hijab lebar dan bercadar, malah dikira ikut aliran menyimpang. Cuma mau terima jadinya, tapi tidak mau ikut membimbingnya dalam ketaatan.
Padahal setiap orang akan dimintai tanggung jawab pada apa yang dipimpinnya. Tak terkecuali orangtua pada anaknya. Begitulah sedikit gambaran people jaman now. Sangat mengkhawatirkan keluarga lain, tapi lupa mengkhawatirkan keluarganya sendiri.
Bangga melihat anak artis idamannya jadi alim, tapi anaknya sendiri dibiarkan dalam kubang kemaksiatan. Suka memberi ungkapan pujian terbaik pada orang lain setinggi langit, tapi anaknya sendiri jarang diapresiasi.
Cemas kalau anaknya tidak kaya harta, tapi cuek ketika anaknya miskin ilmu agama. Merasa malu ketika anaknya terlahir buruk rupa, padahal dia sendiri lupa kalau urusan surga dan neraka tidak tergantung rupa, tapi ketaqwaan pada Allah semata.
Jadi, siapakah sebenarnya yang paling patut kita kasihani? :)
*Anda boleh belajar S3 sampai ke Jepang, tapi untuk urusan bersyukur, cobalah sejenak belajar pada gadis tangguh bernama Bella.
Tertanggal: 5 Oktober 2017