Hari ini, sudah 10 hari diberlakukan social distancing sebagai bentuk pencegahan terhadap virus corona di Indonesia. Aku pribadi baru menerapkan full ga keluar rumah selama 2 hari karena sebelumnya klinik tempat aku praktik tetap beroperasi. Jangan tanya rasanya, bosan setengah mati. Aku yakin ga cuma aku yang merasakan, semua orang pasti sama.
Apalagi setelah melonjaknya jumlah pasien positif corona per hari ini sebanyak 790 orang. Orang-orang mulai panik, yang kaya sudah bersiap memborong kebutuhan pokok, bahkan masker, hand sanitizer, handscoon, dan bayclin. Hmm.. barang-barang yang semula pasti jarang orang beli sekarang jadi barang mewah, semua berebut. Semua ingin sehat, semua ingin selamat dari corona. Tapi beda cerita dengan saudara-saudaraku yang kurang beruntung, yang masih harus kerja di tengah kepanikan masyarakat. Betul aku ga merasakan apa yang mereka rasakan dan aku pun ga bisa bantu banyak, tapi aku berdoa semoga Allah limpahkan rahmat Nya untuk kalian semua, Allah lancarkan rezeki kalian dan Allah cukupkan kebutuhan kalian. Aamiin ya robbalalamin
Kembali lagi pada ceritaku. Akhirnya ku memutuskan untuk tidak praktik dan menghindari kerumunan setelah sebelumnya aku menolak dan acuh dengan social distancing ini. Semula aku memang termasuk kedalam kelompok masyarakat yang menganggap remeh virus ini. “Ah cuma kayak flu biasa kok, lagian cuma virus, pasti sembuh sendiri” atau “Yaudahlah.. ngapain juga takut toh takdir udah diatur Allah” bahkan adikku sendiri bilang “kayaknya cuma lo deh dokter yang ga perhatian sama corona”. Awalnya aku bisa ketawa tapi semakin kesini aku berpikir, kenapa ya temen-temenku segitunya menyerukan social distancing ? lalu membatasi tindakan jika tidak emergensi. Apa karena sudah punya cukup uang ? jadi ga perlu praktek lah.. work from home aja enak. Beda sama aku yang baru lulus kemaren, duit ga punya jadi giat banget cari duit. Bahkan aku masih melakukan scaling dan preparasi gigi saat itu. Demi uang, pikirku.
Tapi bukan itu gaes. Mereka aware dengan penyakit ini karena sudah paham betul bahwa virus ini memang berbahaya. Virus ini bagai musuh dalam sekam, ga terlihat tapi mematikan. Sangat mudah dan cepat menginfeksi manusia, syukur-syukur ga bergejala, tapi ingat ya.. kita berperan sebagai carrier dan membahayakan orang-orang disekitar kita. Ini bukan masalah uang lagi. Ga ada gunanya uang yang kita kumpulin kalo pada akhirnya kita sakit dan amit-amit mati. Naudzubilahiminzalik
Oke, ku kesampingkanlah niat mencari uang ku. Akhirnya ku ganti niat, mau bantu orang lain, siapa tahu ada pasien yang butuh pertolongan karena memiliki kasus emergensi. Satu hari, dua hari, ku coba evaluasi.. alhamdulillah ga ada pasien, pikirku oh alhamdulillah semua orang pada sehat, tiba-tiba satu waktu ada pasien datang. Gusinya bengkak, ga ada yang bisa ku lakukan, karena ada pembatasan tindakan, ujung-ujungnya hanya kuberikan resep. Alat pelindung diri (APD) di klinik pun tidak mumpuni. Sangat berisiko sekali sebenarnya jika terus kulanjutkan bekerja, tapi tetap kuluruskan niat. Aku tetap datang jadwal praktik hingga hari ke 8 setelah diberlakukan social distancing. Sampai muncul lah banyak fatwa yang menganjurkan untuk tidak melakukan kegiatan berkerumun, bahkan beribadah di mesjid sekalipun serta kewajiban untuk mematuhi anjuran pemerintah. Apalagi ternyata ada hadist riwayat tentang larangan untuk meninggalkan suatu tempat ketika ada wabah. Astaghfirullah mulailah aku sadar. Bahkan ustadz dan ulama yang jauh lebih paham agama dari aku, sangat mendukung social distancing ini. Ditambah lagi semua klinik di daerahku dan tempat temanku praktik juga di tutup sementara, dan daerah tempatku tinggal sudah diumumkan oleh pemerintah daerah sebagai zona merah corona. Artinya, kasus ini harus ditanggapi dengan serius.. Sudah tidak ada lagi ngotot datang praktik.
Setelah hampir seminggu orang tuaku menceramahiku untuk izin kerja, akhirnya di hari ke-9 social distancing ini aku nyerah. Aku sadar sekarang aku hidup di kondisi yang tidak kondusif. Bukan berarti panik, tapi harus waspada. Aku sudah pasrah dan menyerahkan semua urusan duniaku kepada Allah. Semoga Allah mengganti dengan sebaik-baiknya bentuk.
Sekarang aku lebih aware untuk menjaga kebersihan terkhusus mencuci tangan dan mengenakan masker jika terpaksa harus keluar rumah sekadar membeli kebutuhan perut. Ga perlu lah kita pake handscoon pas belanja, karena ga ada pengaruhnya juga. Bukannya selamat tapi bikin sengsara orang lain yang membutuhkan, terutama para tenaga kesehatan ataupun orang-orang yang secara ga langsung bersentuhan dengan pasien corona seperti petugas kebersihan, petugas sterilisasi, dll. Sama-sama bijak lah menanggapi situasi ini. Jangan buat APD ini menjadi barang langka sehingga melonjak harganya dan tidak bisa dijangkau oleh mereka yang membutuhkan. Cukup sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand rub berbasis alkohol sesuai anjuran WHO. Jangan sok ngide... yang paham ilmunya aja ga sebegitunya
Mudah-mudahan kepanikan ini segera berlalu. Semoga Allah mengangkat segala bentuk penyakit, memusnahkan si covid 19 ini, karena ga ada yang ga mungkin bagi Allah jika Dia berkehendak, dan sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit jika tidak ada penawarnya. Semoga dengan kejadian ini juga kita semakin mawas diri untuk selalu dekat dengan Allah, mungkin ini salah satu caraNya agar kita kembali berserah diri. Mungkin ini teguran juga buat aku yang selalu lalai dalam beribadah dan selalu mengejar dunia, semoga aku sadar dan berubah. Semoga setelah Allah mengangkat penyakit ini dari muka bumi, kita selalu mengingatNya, bisa beribadah lebih khusyu, dan jadi lebih toleran dengan orang lain. Apalagi sebentar lagi ramadhan :(, semoga bisa taraweh di mesjid, bisa beli bukaan puasa, bisa solat Ied sama-sama. Insha Allah badai pasti berlalu.
Teruntuk para dokter dan tenaga kesehatan yang sedang berjuang dalam kasus covid 19, aku ucapkan terima kasih banyak. Semoga dengan adanya penyakit ini menjadi ladang amalan untuk kalian. Pengen banget bantu, gamau rebahan aja di rumah sebenernya, pengen berguna dan bermanfaat, tapi apa daya. Semoga dengan dirumah aja aku bisa membantu memutus penyebaran corona.
Dan teruntuk para dokter dan pasien yang telah mendahului kami semoga husnul khotimah. Semoga Allah menerima segala amalan kalian dan menempatkan disisiNya yang terbaik. Allah ga salah pilih dan takdir Allah adalah yang terbaik. Semoga penyakit kemarin menjadi penggugur segala dosa. Allah ganti dengan surgaNya. Aamiin ya robbalalamin