Katanya rindu bermula di ujung sua. Tak hilang sampai pertemuan selanjutnya. Nyatanya rindu hanya mereda, kemudian bertambah tiap kali berpisah.
cih, apalah ini.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Fai_Ryy
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Show & Tell
cherry valley forever

titsay
d e v o n
Interview Vampire Daily
sheepfilms
art blog(derogatory)
No title available

No title available

roma★

No title available
h

❣ Chile in a Photography ❣
Misplaced Lens Cap
Cookie Run:Kingdom Official!

Game Changer & Make Some Noise
Keni

seen from Malaysia

seen from Canada

seen from India

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Canada
seen from Chile
seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from Canada
seen from Chile
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye
seen from New Zealand
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@izam-nurulloh
Katanya rindu bermula di ujung sua. Tak hilang sampai pertemuan selanjutnya. Nyatanya rindu hanya mereda, kemudian bertambah tiap kali berpisah.
cih, apalah ini.
untuk apa mencemaskan yang tentu Allah beri kepastian?
kadang, atau aku saja, kadang mencemaskan sesuatu yg digariskan Allah. Pun itu di dunia. Hanya untuk kehidupan dunia.
Bagaimana dengan akhiratmu? Bukankah itu lebih tidak pasti? Sudahkah dirimu cemas?
-aku yang suka mak tratap sama kata2 orang. bukankah dy sayang padamu? yang selalu senang menasehatimu? yang tanpa ragu memberitahumu? yang selalu bersemangat untuk melihatmu lebih baik?
aku takut menemuimu, rinduku akan hilang.
- aku
// Ed Sheeran - Divide //
Happier
Supermarket Flowers
Save Myself
/tap on photos to see clearer/
Lof,
TUNJUKKAN SIAPA DIRIMU SESUNGGUHNYA • Sebelum jujur kepada orang lain, sebelum mengatakan kepada dunia sipa dirimu yang sebenarnya, cobalah untuk belajar jujur kepada diri sendiri. • Tentu semua itu lebih sulit dari yang bisa kita bayangkan. Bukan saja karena kadang kita takut menunjukkan diri kepada dunia siapa diri kita sebenarnya, tetapi juga karena sulit sekali untuk memahami diri kita sendiri—dengan segala hal yang kita inginkan sebenarnya dalam hidup ini. • Namun, sambil kita menggali ke dasar diri, menemukan jati diri kita yang sesungguhnya, penting buat kita memahami bahwa kita tidak perlu menjadi “tiruan” orang lain. Tidak perlu menjadi fotokopi orang-orang sukses yang kita kagumi dalam hidup kita. • Jadilah dirimu sendiri. Lebih baik jadi yang asli dari pada jadi KW Super Premium sekalipun, kan? • Seorang penulis Inggris, Edward Young, yang dikenal banyak mengalami kesulitan dalam perjalanan hidupnya, suatu kali pernah menulis, “Kita semua terlahir original, mengapa banyak orang memilih mati sebagai tiruan?”. • Salah satu puisi Young yang terkenal berjudul “Night Thoughts”. Dalam puisi itu ia mengekspresikan kesedihannya tentang kematian orang-orang yang ia saya gi, termasuk istri dan anak perempuannya. • Di sana Young menulis bahwa hidup ini sangat singkat dan ia berharap kita tidak menyia-nyiakannya. “Penundaan adalah pencuri waktu!” Kata Young. • Sekarang, meski kamu sedang mencari tahu siapa dirimu yang sesungguhnya, apa yang ingin kamu capai, apa ukuran kesuksesanmu dalam hidup ini, jangan buang-buang waktu dengan menunda untuk menunjukkan siapa dirimu yang sekarang! • Barangkali inilah saatnya: Tunjukkan pada dunia siapa dirimu sesungguhnya. Let it shine, let the show begin! • FAHD PAHDEPIE
Iya ya,
Mimpi siang tadi,
Ntah kenapa. Siang tadi kutidur di studio dan mimpi aku tidur di studio. Aneh memang. Tapi sering.
Oh tadi aku bermimpi, bahwa aku sedang bermimpi tindihan dalam tidurku. Aku tak mampu membuka mata bahkan untuk berteriak.
Dalam mimpiku, ada seseorang yg datang. Tapi kutakmampu melihat. Dalam mimpiku, rohku bisa melihat kau ada disampingku, dan bisa meraihmu.
Tapi apa yg kau lakukan? Kau sadar mencekik ku? Tapi cekikan mu membuatku tersadar dari tidur. Dalam mimpiku aku mampu kembali bernafas.iya, dan terbangun dengan terengah2.
Tapi sadarkah, ketika ku mampu bernafas kembali, tangan hangatmu menggenggamku. Tangan yg lebar dan sedikit kasar masih mencoba menenangkanku. Aku tak mampu menatapmu. Tak mampu mendongakkan kepalaku sekadar melirikmu. Tak mampu memgucap terimakasih misal.
Yang kusadari di akhir, aku hanya mampu menatap siluet mu dari balik punggung mu. Aku termenung.
Bukan kamu kan ?
Bersyukur yang (Tak Pernah) Mudah
Bersyukur seringkali terlihat mudah. Padahal itu bukan sekadar mengucap Alhamdulillah. Atau mengadakan syukuran dari sederhana hingga mewah. Ada pula yang mewujudkan dalam bentuk sedekah. Namun justru pasca itu kegelisahan kembali merekah.
Ada hal-hal yang seringkali kita lupakan dari syukur itu sendiri. Ketika kita melalaikan amanah jabatan, padahal tak semua orang mendapat kesempatan memegang tampuk amanah yang telah dipercayakan. Ketika kita bermalas-malasan dalam pekerjaan, padahal di luar sana masih banyak pengangguran.
Bahkan terkadang ada hal-hal kecil yang kita anggap itu biasa, namun barangkali itu bentuk kekufuran. Makanan yang tidak kita habiskan, padahal nun jauh di papua sana masih ada anak-anak yang kelaparan. Listrik yang kita hambur-hamburkan, lampu yang tak dimatikan, sementara masih banyak masyarakat yang mengharapkan.
Termasuk hal-hal yang Allah anugerahkan kepada fisik kita. Kedua mata yang mampu melihat normal, justru tak kita pergunakan menambah hafalan. Padahal banyak mereka yang tak berpenglihatan menjadi hafidz-hafidzah Al-Quran. Lisan yang jarang mengucap nama-Nya dan bershalawat kepada RasulNya, padahal Allah dan MalaikatNya pun senantiasa bershalawat, juga seluruh makhlukNya yang tak pernah putus dalam zikir. Kedua telinga yang jarang sekali diajak untuk mendengar sepatah dua kata dalam kajian. Tangan dan kaki yang belum istiqomah untuk berlari menuju panggilanNya.
Sebab itulah, jangan lelah bermuhasabah. Memang benar firmanNya bahwa nikmatNya takkan mampu kita hitung. Bahkan barangkali tak semua nikmatNya telah kita syukuri. Karena syukur, bukan tentang apa yang terucap di lisan. Tapi syukur, juga tentang apa yang terpatri dalam tindakan.
- Jakarta, 10 Februari 2018 -
....
Saat aku menyuruh orang lain untuk bersyukur, mungkin kesyukurannya jauh lebih banyak daripada yang kuucapkan. Saat aku menasihati orang lain untuk bersabar, mungkin kesabarannya jauh lebih besar daripada yang kumiliki. Aku hanya tidak tahu, tidak juga mencari tahu.
Saat aku merasa berhak untuk berkeluh kesah atas ujian-ujian yang menimpa, mungkin harusnya aku lebih pantas untuk malu sebab ujianku tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain.
Kini, hati dan pikiranku lebih terkendali. Lebih berhati-hati dalam berucap, tidak lagi sibuk menilai, juga tidak lagi merasa berhak untuk memberi nasihat tanpa diminta. Sebab, aku menyadari. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang mereka hadapi, aku bahkan belum pernah menjalani masalah serupa, bagaimana mungkin aku bisa memberikan jawaban yang baik, nasihat yang tepat?
Kini, hati dan pikiranku lebih tenang. Kini, aku merasa lebih tepat untuk menemani dan mendengarkan.
©kurniawangunadi | 4 Februari 2017
mau repot
“mbak, kalau kamu mau anakmu jadi anak yang mandiri, berdaya, peka dengan sekitar, terasah empati dan emosinya, itu gampang. kuncinya satu, kamu harus mau repot.
membuat anak terus-menerus merasa terhibur dan memilih menghindarkan anak dari layar sebelum waktunya memang repot. lebih enak beri saja teve atau hape, biar nonton dan berhenti rewel. tetapi ini melatih anak untuk bisa membuat dirinya sendiri terhibur dengan yang ada di luar layar. ada banyak yang lebih menarik di sekitar.
membuat anak mau makan sambil duduk, apalagi makan sendiri, dengan rapi, tidak acak-acakan, dan makannya tetap banyak memang repot. lebih enak gendong dan suapi sambil jalan-jalan, makannya biasanya akan lebih banyak. tetapi ini melatih kesadarannya bahwa dia sedang makan. bahwa makan harus duduk. bahwa makan adalah bagian dari bersyukur.
membuat anak mau buang air di toilet, bisa duduk tenang, mencatur setiap pagi dan malam, memang repot. lebih enak pakai popok sekali pakai, biarkan saja buang air sesukanya. tetapi ini mengajarkan aturan dan menunjukkan bagaimana berperilaku yang baik. lebih sehat.
membuat anak memiliki jadwal yang rutin, jam tidur rutin, jam makan rutin, jam mandi rutin, memang repot. lebih enak biarkan saja anak semaunya. tetapi ini mengajarkan kebiasaan, yang saat besar akan memengaruhi perilakunya pula, kedisiplinannya.
mengikuti dunia anak dan tidak "memutus” begitu saja yang sedang dilakukan atau diinginkannya memang repot. harus menunggu sampai puas main air di kamar mandi, harus membuntuti sampai puas memanjat tangga, harus mengikhlaskan rumah berantakan, repot. tetapi ini memberikan sinyal kepadanya bahwa dirinya disayangi, didukung, dan boleh belajar.
mbak, intinya, menjadi ibu itu bisa saja tidak repot, tetapi jika ingin anaknya jadi anak yang berdaya kelak, ya harus mau repot. di tengah segala kemudahan yang ditawarkan zaman ini, menjadi ibu harus pintar-pintar memilih, harus banyak-banyak sabar, dan lebih banyak lagi memaafkan.“
demikian nasihat ibu untuk saya. sulit bagi saya membayangkan kerepotan yang saya timbulkan untuk ibu saat kecil dulu. ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah. semoga Allah memberikan cinta-Nya untuk ibu.
Aku nggak minta.
Dy cerita.
Aku bahagya.
goyah
Sejak berstatus warganet zaman now, bukan hal asing bagi kita untuk mengonsumsi potongan kisah hidup orang lain lewat linimasa. Sayang, mengonsumsi kisah hidup para karib, kerabat atau idola secara intens hari ini terasa tak seasyik dulu sebelum kita tumbuh dewasa karena rasa minder yang kadang mencuat kala mendapati hal-hal baik yang dicapai oleh orang lain dalam unggahannya.
Melihat foto mereka yang terlihat harmonis dengan keluarga kecilnya membuat kita sedikit resah dengan pikiran tentang pasangan hidup. Melihat video mereka yang tengah menempuh studi di luar negeri membuat kita lumayan gelisah dengan diskusi tentang titel idaman. Goyah. Perasaan itu bisa lumayan mengusik ketika rasa mindernya tumbuh sebagai penghambat produktivitas.
Maka, hal sederhana yang terbilang ampuh sebagai pelipur resah-gelisah dalam kondisi tersebut adalah menyadari bahwa tujuan, kondisi, ikhtiar, prioritas dan takdir setiap orang sedemikian berbeda.
Katakanlah kita memiliki sahabat yang bertujuan memiliki bisnis - sama seperti kita. Ketika sahabat kita giat mengembangkan diri dengan rajin mengikuti seminar kewirausahaan, membaca buku-buku penunjang hingga berkonsultasi dengan para praktisi, kita masih saja berkutat dengan prioritas lain. Dengan perbedaan tersebut, tentu wajar jika dalam perjalanannya ia lebih dulu meraih apa yang kita sama-sama inginkan.
Namun, contoh di atas hanya menekankan perbedaan poin ikhtiar dan prioritas atas tujuan yang serupa. Apa jadinya kalau tujuan, kondisi aktual dan takdir yang ditentukan-Nya pun berlainan secara keseluruhan bagi setiap orang? Tidak mengherankan kalau momentum pencapaiannya akan berbeda pula. Karenanya, tenanglah. Tak perlu kita berkecil hati apalagi sontak mengubah arah. Malah, perbedaan tersebut layak menjadi lecutan bagi kita untuk terus memacu diri dalam kesabaran dan kesyukuran.
Akhirnya, capaian siapapun dalam bentuk apapun yang terlihat di linimasa hanya perlu dikembalikan pada fungsi asalnya yakni sebagai kabar berita. Kita perlu turut bersukacita dengan capaian para karib-kerabat lewat ucapan selamat juga doa baik yang diikutsertakan. Dengan begitu, raihan mereka takkan sedikitpun menyulitkan hati apalagi menghambat laju proses yang tengah kita tempuh kini.
Kalaulah unggahan-ungggahan tersebut masih saja menyulitkan hati, tentu menekan tombol unfollow tetap mudah untuk dilakukan. Toh unfollow di dunia maya takkan serta merta dimaknai sebagai upaya pemutusan hubungan di dunia nyata. Selebihnya, cek hati kita. Mungkin selama ini perasaan insecure hadir dalam hati karena kurangnya rasa syukur atas apa yang kita miliki. Lagipula, setiap orang memiliki hak untuk menghiasi linimasa dengan unggahan-unggahannya dalam bentuk apapun.
Kita sederhanakan dengan simpulan bahwa selera bermedia sosial setiap orang pasti berbeda agar kita tak mudah menyalahkan orang lain yang tak sepemahaman. Dengannya, media sosial tetap baik, ringan, asyik lagi menyenangkan untuk disimak - setidaknya bagi diri kita sendiri.
Terkadang, aku lebih memilih tidak tau, daripada sakit kedepannya.
Zam, gimana kalau di banyakin istighfar dan di doain aja?
Izam kepada izam
Dalam Kata-kata
“Mas, foto bareng yuk.”
“Ndak mau. Malu banyak orang.”
“Lah kenapa? Orang lain juga foto-foto.”
“Ya buat apa sih foto-foto begitu?”
“Supaya nanti kalau ini berakhir, ada yang bisa aku kenang.”
“Kalau memang berakhir, untuk apa dikenang?”
“…”
Benar juga. Mengapa pula orang-orang terobsesi mengabadikan waktu sementara menyadari bahwa waktu terus berjalan dan semuanya akan berakhir sama saja? Atau justru karena menyadari itu maka mereka berlomba-lomba menangkap segala peristiwa melalui lensa yang bukan mata?
Tidak ada foto bersama hari itu, esoknya dan seterusnya sampai mereka berpisah.
Tapi lelaki itu lupa satu hal. Ia jatuh cinta pada seorang penulis. Penulis tidak mengabadikan peristiwa pada sebuah gambar berbubuh tinta yang kelak menguar kebiruan dan kehijauan. Penulis menata waktu pada huruf dan kata dengan tinta yang kelak menguning dimakan kenangannya sendiri.
Ia tidak banyak menulis saat jatuh cinta. Adalah sebuah rahasia umum bahwa orang yang menulis hampir pasti sedih, kalau tidak gelisah. Maka ketika ia merasa akhir sudah dekat dan bahagia tinggal di langit-langit tak tergapai jemari, tumpahlah kata-kata di lantai kamarnya, berkumpul dan berbaris di agenda bersampul cokelat.
Jangan jatuh cinta kepada penulis, kecuali kau sanggup menanggung risiko hidup abadi dalam tulisan-tulisannya.
- Chandra Wulan (2018) -
Tidaklah Allah tutup 1 pintu bagi hamba dengan laranganNya; kecuali Dia bukakan tuk sang hamba 2 pintu dengan rahmatNya.
-Ibn Qayyim-
Di belahan bumi yang lain mungkin ada seseorang yang bahagia saat kau membuat story, selalu melihat storymu--tetapi menahan jemarinya untuk berkomentar, entah dengan alasan apa--dan bersyukur bahwa ternyata kau baik-baik saja di sana.
Di radius jarak yang berbeda, barangkali ada seseorang yang membuat story penuh dengan sesuatu yang kau suka, dengan harap kau melihatnya, lalu berbinar saat menemui namamu dalam daftar orang-orang yang melihat perasaan yang dia bagikan. Bahagia, pun meski kau tidak meninggalkan tanggapan. Dia hanya bahagia karena tahu itu artinya, kau masih dan tetap baik-baik saja.
Story sepertinya berhak menerima bingkisan terima kasih dari orang-orang yang ragu untuk sekadar bertanya kabar, orang-orang yang tidak bisa jujur dengan perasaannya masing-masing juga orang-orang yang saling (atau terus saja) menunggu untuk memulai.
--Zulfa, sedang dengar ada yang putar lagu Fiersa, setelah diminta bersabar sejenak karena (hanya) berjarak, "... sejauh apa pun kita, hatiku tertinggal di sebelahmu."
ps: nyomot dari timeline, mau ngode kamu