Rumah
Kau harus bisa jadi rumah untuk dirimu sendiri
Jadi jendela, memeluk kabar dari angin
Jadi pintu, menyambut datang dan merelakan pergi
Jadi teras, menjamu tamu-tamu
Jadi halaman belakang, lapang dan tenang
Jadi fondasi, kuat menjaga hati
2021

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
dirt enthusiast
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
sheepfilms

Product Placement

Kaledo Art
No title available
🪼
will byers stan first human second
hello vonnie

Andulka
noise dept.
Today's Document
todays bird

Discoholic 🪩
Show & Tell
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Switzerland
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Lithuania

seen from United States
seen from Netherlands
@chandrawulan
Rumah
Kau harus bisa jadi rumah untuk dirimu sendiri
Jadi jendela, memeluk kabar dari angin
Jadi pintu, menyambut datang dan merelakan pergi
Jadi teras, menjamu tamu-tamu
Jadi halaman belakang, lapang dan tenang
Jadi fondasi, kuat menjaga hati
2021
Kapal
pernah suatu masa pada puncak keberanianku,
aku bertanya,
“sayangkah kau kepadaku?”
jawabanmu seperti kata-kata penyair
tenang dan mengawang-awang
ketakutanku menjelma laut
pada bulan purnama
sejak itu aku tahu,
kepastian tak mesti lebih baik
dari apapun juga
keberadaanmu adalah mercusuar,
yang menuntunku berlabuh
atau menjauh
Yogyakarta, 2018
Catatan: puisi ini pernah dimuat di Tulis.me dan kibul.in.
(Cerpen) Parti dan Tijah
Purwokerto, 2000
Parti berjalan tergesa menuju toko tekstil di barat alun-alun. Sepatu tipisnya berderap-derap di paving trotoar. Sepuluh hari lagi lebaran, tapi bapaknya anak-anak belum juga memberi uang untuk membeli baju baru. Parti mengingat-ingat binar mata anak bungsunya kemarin sore.
Mereka melihat-lihat baju, tas, sepatu, dan macam-macam benda dijual di pasar kaget di alun-alun. Vara anak bungsunya memekik kegirangan saat menemukan terusan kuning pucat berbahan sifon dengan bunga-bunga berwarna putih tulang yang seolah terhambur di bagian depannya. Harganya dua puluh ribu rupiah dan tersedia juga ukuran yang cukup besar untuk Divya, anak sulungnya. Tapi Parti belum punya uang. Musim lebaran tahun ini jahitannya sepi.
Parti masuk ke toko tekstil itu dan langsung menuju meja kasir. Hanya ada babaeh di sana.
“Taci-nya mana, Bah?”
Babah memanggil istrinya dan dari pintu kecil di balik tumpukan kain, muncul seorang wanita mengenakan celana kargo warna hijau dan kaos krem. Kulitnya putih pucat seperti brokat untuk pemberkatan. Wanita itu menanyakan kabar Parti dan apa keperluannya. Parti meminta borongan yang kiranya dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu.
Pekerjaan borongan yang dia maksud adalah mengobras krah, lengan, atau menyambungkan satu bagian pakaian dengan bagian lainnya. Toko tekstil itu menerima pembuatan seragam TK, baju partai, dan seragam-seragam lainnya. Pemotongan polanya sudah dikerjakan oleh pegawai toko. Selanjutnya, potongan-potongan itu digarap dengan sistem borongan oleh penjahit-penjahit kecil macam Parti dalam jangka waktu yang telah disepakati sebelumnya. Misal, obras lima ratus kerah dalam seminggu.
Taci toko ini sangat disiplin namun baik hati. Parti tak sekali dua kali ngebon alias minta bayaran di awal sebelum pekerjaannya selesai. Aturannya, bayaran tak boleh diambil 100%. Misalkan upah yang seharusnya lima puluh ribu, Parti boleh ngebon dua puluh lima ribu sampai empat puluh ribu. Sisanya dibayarkan setelah pekerjaan selesai.
“Sebetulnya kemarin ada, Par. Aku sempat mikir mau kasih ke kamu, tapi akhirnya kuberikan kepada Tijah. Maaf ya, Par.”
Parti berpegangan ke gulungan bahan untuk menahan beban yang jatuh di pundaknya. Kepalanya sibuk mencari kemungkinan-kemungkinan cara menghadirkan terusan kuning berbunga putih itu ke hadapan Vara dan Divya.
“Apakah tidak ada yang bisa kukerjakan untuk lebaran?”
Taci menggeleng lemah. Parti pamit dan sempat menengok ke alun-alun sebelum melangkahkan kaki ke arah rumahnya.
Kalaupun aku dapat bayaran sebelum lebaran, belum tentu terusan itu masih ada, tapi setidaknya akan ada baju lebaran untuk Vara dan Divya.
Kemarin sore, Mba Ita tetangga yang tinggal berjarak tiga rumah dari rumahnya, bertemu dengan Parti setelah belanja untuk lebaran. Baju, sepatu, tas, hingga kue-kue kalengan dan kacang bawang satu stoples dibelinya. Mba Ita sempat bertanya saat bertemu Parti di depan gang, apakah Parti sudah belanja lebaran atau belum? Kue dan sirup di supermarket mulai menipis, katanya.
Parti hanya bisa menggeleng sambil pura-pura akan segera kembali ke rumah untuk menjahit. Suami Mba Ita adalah kenek angkot dan sopirnya adalah suami Parti. Parti tak habis pikir, ke mana uang hasil suaminya narik? Bulan puasa seperti ini angkot pasti selalu ramai penumpang, apalagi sudah sepuluh hari terakhir. Pertanyaannya terjawab oleh bau alkohol yang menguar dari tubuh suaminya saat lelaki bertubuh tinggi itu pulang ke rumah semalam. Parti tahu, ia kini hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Menjelang masuk gang menuju rumah, sebuah ide menyala di kepala Parti, seperti bohlam dalam film animasi. Tenggorokannya kering dan dahinya berpeluh setelah berjalan bolak-balik dua kilometer rumah-toko tekstil-rumah di siang hari bulan puasa, tapi langkahnya tetap tegap dan makin cepat. Parti melewati rumahnya sendiri dan terus berjalan menuju rumah Tijah di RT sebelah.
Beberapa kali Tijah meminta Parti berbagi garapan. Setelah mendapat material dari toko, Tijah mengambil sebagian di rumah Parti. Di atas kertas, nama Parti tetap satu-satunya yang tercantum. Nanti setelah diberi bayaran, Parti akan membaginya sesuai yang dikerjakan Tijah.
Tak ada salahnya aku yang minta tolong sekarang. Separuh garapan saja cukup. Toh, anak Tijah baru satu dan usianya belum genap dua tahun. Belum tahu yang namanya baju lebaran.
Kaos Parti kuyup di bagian punggung, menempel dan menampakkan jejak beha wanita 30 tahun itu. Sedikit lagi ia akan sampai di rumah Tijah. Satu belokan lagi di jalan setapak ini. Rumah Tijah, seperti juga rumah Parti dan rumah-rumah lainnya di kampung ini, terbuat dari anyaman bambu. Mereka menyebutnya gribig. Lantainya sudah diplester semen halus, namun belum dikeramik.
Tiga meter sebelum sampai, langkah Parti terhenti oleh pekik dan lengkingan Tijah dari dalam rumahnya. Sejurus kemudian terdengar suara piring dibanting dan dentum yang Parti sungguh-sungguh berharap bukan benturan kepala Tijah dengan benda keras apapun di rumah itu. Keadaan hening sejenak, lalu gumaman seorang lelaki terdengar dari rumah Tijah.
Pintu depan rumah Tijah terbuka. Suami Tijah keluar dari sana menggenggam beberapa lembar uang kertas menuju arah berlawanan dengan tempat Parti berdiri. Wajahnya berang, dia berjalan sambil mengancingkan kancing kemejanya yang sudah luntur di sana sini.
Parti masih membeku di tempatnya berdiri, seolah ada lem yang melekatkannya dengan tanah. Dia bisa mendengar Tijah menangis. Anak Tijah ikut menangis. Parti berusaha keras memroses apa yang baru saja terjadi, di hadapan matanya—meski tidak terlihat juga. Ia terkesiap saat setangkup tangan menepuk pundaknya. Sinta, tetangga Tijah.
“Sudah, Mbak Par. Sudah biasa kayak gitu. Saya dan beberapa tetangga sampai Pak RT juga sudah pernah menegur suaminya, tapi dia malah mengancam akan membakar rumah kami. Aku wedi, Mbak, mau menegur lagi. Tijah pun sudah pernah kusarankan cerai saja, tapi katanya dia khawatir anaknya tumbuh besar tanpa ayah. Lho, ya mending nggak punya bapak kan daripada punya bapak, tapi bapaknya nganggur, bisanya minta uang ke istri dan suka mukulin begitu. Ya gitu sih, Mbak. Kami juga bingung mau apa lagi. Ngomong-ngomong, Mbak Par ada perlu apa sama Mbak Tijah? Nanti aku bantu sampaikan kalau sudah agak tenang.”
Parti menggeleng, mencoba tersenyum namun gagal. Dia kembali melangkah ke rumahnya.
Tijah lebih butuh uang itu daripada aku.
Tijah lebih butuh garapan itu daripada aku.
Di rumah, suaminya menunggu.
TAMAT
Catatan:
Cerpen ini pernah dimuat di apajake.id.
Rezeki
Keyboard laptop saya rusak beberapa hari yang lalu. Ketika dibawa ke tukang servis, tukang servis bilang laptop saya tipe yang agak sulit dibetulkan. Mencoba memperbaiki keyboardnya akan memakan waktu lama dan nggak worth it, gitu. Dia lalu menyarankan saya untuk membeli keyboard eksternal.
Pikiran saya langsung tertuju kepada keyboard eksternal berbahan silikon yang bisa dilipat dan digulung. Seorang teman yang pernah memakai keyboard semacam itu tidak merekomendasikan, karena terlalu lentur dan tidak nyaman. Saya pun browsing sebentar, melihat sekilas harga keyboard eksternal berkisar antara Rp25.000-Rp200.000. Niat membeli online saya urungkan karena butuh mengerjakan sesuatu.
Saya pun mengunjungi satu toko peralatan komputer. Keyboard eksternal untuk laptop sedang kosong. Adanya untuk komputer, yang panjang dan ada beberapa tombol berwarna merah itu. Harganya Rp40.000.
Kayak di warnet.
Saya beralih ke toko lainnya dan menanyakan keyboard eksternal untuk laptop. Pelayan (atau pemilik) toko mengeluarkan sebuah keyboard berwarna dasar putih dengan tuts berwarna minty blue. Cantik sekali. Dilengkapi dengan mouse. Harganya di atas Rp200.000. Saya menolaknya dengan alasan sudah punya mouse.
Kemudian pelayan mengambilkan keyboard kecil warna hitam. Cocok dengan laptop saya. Panjangnya juga pas. Harganya Rp80.000. Aduh, jujur setelah melihat harganya di marketplace, budget untuk membeli keyboard eksternal ini saya perkirakan maksimal Rp50.000. Saya pun bertanya apakah ada yang lebih murah.
Ada, tapi yang panjang dan besar untuk komputer. Persis yang saya lihat di toko pertama tadi. Harganya Rp60.000. Karena hari sudah sore dan malas balik lagi untuk beli yang lebih murah, saya akhirnya membeli di toko ini. Keyboard eksternal Rp60.000.
Begitulah rezeki bekerja. Barang yang kamu jual bisa jadi lebih mahal dari yang lain dan ditawarkan dengan cara yang sama. Pembeli bahkan sudah melihat yang lebih murah, tapi akhirnya membeli punyamu yang lebih mahal entah karena sebab apa. Jadi ketika sedang berjuang untuk sesuatu dan merasa usahamu sudah maksimal, tapi kok nggak dapat-dapat, tenang aja. Belum rezekinya.
kau cahaya yang bersesaran lewat teralis dan jendela pagi hari
aku bayangan;
menaungimu dengan senang hati
--------------------------------------------------
- Chandra Wulan
"Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu."
- Chandra Wulan
Jelang Lebaran
cerek berdenging mendidihkan ingatan dan memanggil sore-sore yang ganjil
tapi kita bergeming
sibuk menyeduh masa lalu
dan melarutkannya bersama sesendok kopi, gula dan krimer
kita hirup bau masa depan
di antara nastar, kastengel, juga biskuit Khong Guan--yang di kalengnya, ada engkau
- Chandra Wulan
Bagaimana mungkin
bagaimana mungkin
ketika kita bertemu
dan sibuk menikam rindu
satu sama lain
mereka justru tak acuh
dan terus bertumbuh?
*
- Chandra Wulan
Mimpiku Terwujud
"Kita bertemu dalam mimpi saja, ya," katanya melalui WhatsApp.
Aku mengiyakan dalam hati, memejamkan mata dalam mobil travel yang mengantarku kembali ke perantauan. Travel ini berangkat dini hari pukul satu tadi. Sekarang hampir pukul dua. Ah, mataku perih karena semalam suntuk mengobrol dengan ibu--kebiasaan sejak pertama kali jauh dari rumah--mengobrol di hari terakhirku sebelum merantau lagi. Yang tadi itu, pesan dari kekasihku. Seperti biasa, aku memberi kabar singkat sebelum melakukan perjalanan. Ia pasti sudah amat mengantuk akibat begadang melulu. Kliennya kurang ajar, suka bertanya soal pekerjaan di tengah malam. Aku terbang melintasi kebun kentang, deretan kembang kol, bawang merah dan hamparan bunga-bunga Hortensia. Melayang, berputar di awang-awang, kedinginan. Apa ini? Aku jarang bermimpi, lebih sering tidur nyenyak. Tak jarang, aku bangun kelelahan jika malamnya mimpi panjang. Tapi mimpi ini berbeda. Mobil travel itu juga melayang. Ringan sekali. Udara bertambah dingin. Aku menggigil.
Kekasih mengusap pipiku, pelan sekali seolah kulitku akan rontok jika ia menambah sedikit tekanan pada sentuhannya. Tangan kirinya membawa seikat bunga seruni warna putih, kesukaanku.
Ibu menggenggam tanganku, erat sekali, seperti saat aku masih TK dan kami akan menyeberang jalan untuk membeli es krim pelangi.
Kekasihku mengapa menangis? Ibuku mengapa menangis? Aku ingin bangun.
Udara makin dingin, kupeluk tubuhku sendiri, meredam gigil.
Samar-samar kudengar suara televisi dari ruang tengah.
Pemirsa / Sebuah mobil travel jurusan P-S masuk ke jurang setelah menabrak pembatas jalan di kawasan perkebunan D, Kabupaten B / Kamis dini hari tadi // Dua penumpang dan sopir tewas seketika di lokasi kejadian // Lima korban lainnya luka-luka dan telah dibawa ke rumah sakit terdekat //
*
Chandra Wulan (2019)
Kau memang terlalu baik untukku. Bagaimana jika, alih-alih menggunakannya sebagai alasan untuk meninggalkanmu, aku justru menjadikannya alasan untuk berusaha jadi manusia yang lebih baik?
Chandra Wulan
Dongeng Januari
Januari 2030 Ibu duduk di ruang baca, melanjutkan halaman kesekian buku yang sudah seminggu tak rampung-rampung dibaca. Baru dua halaman, anak bungsunya usia empat tahun masuk dan menggelayut di lengannya. "Buk, dongeng yuk?" Kata anak itu manja. Matanya yang belok mengingatkan Ibu pada Puss in Boots. Anak itu tak suka didongengi sebelum tidur. "Percuma Ibu baca kalau sebelum selesai aku udah tidur. Aku nggak ngerti ceritanya," kata anak itu suatu malam. Sejak saat itu, ritual mendongeng pindah ke sore hari. "Ayo, Buk! Ini ada buku baru dari Bapak." Sekonyong-konyong, Bapak sudah berdiri di ambang pintu, tersenyum mengangkat kedua alisnya. Ibu mengedikkan bahu, membuat tempat di sampingnya untuk Bapak. Di luar, matahari masih terik padahal sudah hampir pukul lima. Bapak memangku si Bungsu. Tulisan Dongeng Januari berwarna putih menghiasi kover buku abu-abu dan gambar tetesan air hujan. Ibu berdeham sebelum mulai membaca. Dongeng Januari Awan abu-abu berarak dari Utara ke Selatan, membawa rintik gerimis ke Kota Bianglala. Kota yang selalu cerah dan dipenuhi pasar malam itu, sepi pada bulan Januari. Januari: hujannya penuh sehari. Siang malam tiga puluh satu hari di awal tahun, hanya katak yang bersukacita di Kota Bianglala. "Pak, apakah benar, singkatan Januari itu? Kenapa sekarang setiap hari selalu panas?" Bapak memegang bahu si Bungsu dan mencium ubun-ubunnya. "Januari dengan hujan yang penuh sehari itu terakhir terjadi pada tahun pernikahan Bapak dan Ibu. Setelah itu, tak pernah lagi. Hanya panas, angin kencang, kadang petir, tapi hari hujan bisa dihitung dengan jari sepanjang bulan Januari," terang Bapak.
"Kok bisa gitu, Pak?" si Bungsu makin penasaran.
Bapak dan Ibu melempar pandang, menghindar, mencari cara untuk menjelaskan--atau tidak menjelaskan--bagaimana generasi mereka diam saja satu-dua dekade lalu saat Bumi mulai sakit parah akibat pemanasan global, sampah, emisi karbon, dan banyak lagi. Suhu rata-rata global naik dua derajat Celcius dalam satu dasawarsa terakhir. Dulu tak berbuat apa-apa, kini mereka harus menjelaskan kepada generasi selanjutnya: anak cucu mereka sendiri.
*
Chandra Wulan (2019)
Asrul dan Kania
Kania memeluk tubuhnya sendiri dalam balutan selendang tenun. Selendang atau selimut, entahlah. Kain 1x2 meter itu selalu ia bawa setiap bepergian. Angin muson Barat memainkan rambut cokelatnya jadi berantakan, malas membingkai wajah lusuh itu. Asrul di sebelahnya. Tubuhnya yang kurus ditampar-tampar angin, ingin ikut ke manapun bertiup. Mereka duduk di bukit yang menghadap sebuah pantai berpasir putih di pesisir Selatan Jawa. Di depannya, membentang Samudera Hindia, jauh dan dalam, seperti mimpi-mimpi sejoli itu. Musim ini tidak cocok untuk bepergian ke pantai. Bukan masalah bagi Asrul, asalkan Kania yang mengajak. "Rul, kalau kamu punya kesempatan dan waktu yang buaaanyak buat jalan-jalan, mau ke mana?" Kania menarik ujung-ujung rambut yang masuk ke mulutnya sendiri. Angin sialan! "Indonesia Timur, Ya. Cari tahu, benar nggak sih, yang disebut-sebut 'Indonesia' selama ini termasuk mereka-mereka yang di sana atau jangan-jangan orang-orang itu sama sekali nggak merasa di-Indonesia-kan. Makanya aku kepingin ikutan Indonesia Mengajar. Kalau kamu?" Asrul menelengkan kepala, menusuk mata Kania lewat tatapannya. Kania buru-buru mengalihkan pandangan dan membenarkan posisi duduknya. Ia berdeham meski tenggorokannya tidak gatal. "Inggris! Biar bisa lihat kehidupan Princes and Princesses in real life. Menetap di sana aja sekalian kalau bisa. Biar nggak harus repot-repot menegur orang yang nggak bisa antre. Doain aku lolos beasiswanya ya, Rul." Asrul mengangguk. "Rul..." "Hmm?" "Kamu tahu, kan, kita--hubungan ini--nggak akan bisa selamanya?" Asrul mengangguk lagi. "So what do we do, Asrul? Satu-satunya yang sama adalah sifat keras kepala kita. Apa nggak sebaiknya kita sudahi sebelum terlalu jauh, biar nggak sakit-sakit banget gitu?" "Kania, Kania. Pergi dari kamu akan sama saja sakitnya, sekarang atau besok lusa. Kita jalani saja, sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya. Jangan mendahului takdir, ya?" Kania membuka setengah selendangnya. "Kamu nggak kedinginan? Sini..." Asrul beringsut masuk dan merangkul Kania. Selendang dirapatkan. Di depan sana, Cumulonimbus tengah bersiap melahirkan badai.
*
Chandra Wulan (2019)
Bukan Prioritas
Hidupmu akhirnya berjalan baik. Pekerjaan, meski belum sesuai impian, bisa menghidupi sementara waktu. Punya waktu luang untuk membaca, berjalan-jalan, berkumpul dengan keluarga. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kau ingin jadi orang baik. Kau merasa cukup dengan kenakalanmu sejak usia belasan tahun. Sudah waktunya menata hidup, memulai kebaikan demi kebaikan. Kau sudah siap. Tiba-tiba, hidup mencundangimu sekali lagi. Kau bukan prioritas. Atau prioritas, tapi nomor kesekian. Uang, pendidikan, keluarga ada di atas namamu. Padahal, ia nomor 1, teladanmu. Otakmu paham, tapi hatimu tak terima. Pikiranmu mampu membayangkan perdebatan itu akan sia-sia. Kau bahkan bisa mendengar argumennya sekarang berdenging di telingamu. Argumen yang benar, sebab yang dia katakan memang selalu benar. Hatimu berdebar, menolak untuk mengerti. Kau berharap bisa tenang. Ya, mau bagaimana lagi? Pecundang, kalau tidak tenang, bagaimana mau menghadapi kekalahan?
*
Chandra Wulan (2019)
Kita; Puisi
kau dan aku; kita lahir dalam malam gerah pada penghujung Februari di bibir gelas teh manis hangat bangku panjang angkringan dikepung asap rokok selinap pembatas buku gang sempit bernama bunga jabat erat tangan sepasang manusia sayu nyala asa kau dan aku; kita lahir dari sini dan menjadi --puisi.
*
Chandra Wulan (2019)
Perkabungan Berwarna
Sudah dua tahun ia selalu memakai baju hitam. Setiap hari. Atas bawah, setelan, terusan, ikat rambut, sandal, sepatu, tas--semua hitam. Padahal dulu warna kesukaannya merah muda dan peach. Beberapa teman pernah bertanya padanya, mengapa? Pada hari-hari santai, ia menjawab "lebih gampang mix and match, nggak perlu mikir nanti pakai baju yang mana, orang semuanya item." Di hari lain, matanya menerawang selagi bibirnya bergerak pelan, "bolehkah manusia berkabung untuk dirinya sendiri?" dan teman-temannya tak tahu harus menjawab apa. Genap 750 hari ia lewati dengan berpakaian serba hitam. Hari ini, tiba-tiba ia ingin kembali berwarna. Dikeluarkannya blus peach dengan polkadot putih dari lemari paling bawah. Ia memadukannya dengan rok A-line merah marun, tas selempang cokelat dan loafers berwarna senada. Ia lalu menyumpal telinganya dengan headset, full volume, dan memutar daftar lagu favoritnya. Ada dua jalan yang bisa ia lewati setiap berangkat kantor, keduanya melewati perlintasan kereta api. Yang satu di jalan raya, satunya di gang kecil. Ia memilih yang kedua karena yang pertama pasti macet. Dari jalan besar ia membelok ke kiri, masuk gang. FSTVLST - Mati Muda bertalu di dalam telinganya. Dari arahnya maupun arah sebaliknya tak ada motor lain yang hendak menyeberangi rel. Ia tersenyum bangga, membatin bahwa pilihannya lewat jalan ini memang benar. BRAAAAKKKK. Warga sekitar mengaku mendengar suara seperti tumpukan batu bata dihantam kayu. Perlintasan kereta api itu tak punya palang pintu. - 🎧 nyala takkan terlalu lama, padam akan datang lebih segera
*
Chandra Wulan (2019)
Nyala Matamu
Tiga musim telah berlalu sejak pertemuan terakhir kita. Aku tahu kabarmu dari cerita-cerita yang kau unggah. Jarang, sebenarnya. Cerita-ceritamu juga sebagian besar bukan tentangmu. Aku ingat, kau kurang suka dipotret, mungkin malu. Padahal, jika lensa kamera adalah mataku, ia pasti selalu bersyukur setiap menangkap citraanmu, gurat-gurat yang terbentuk dari lengkung senyum bibirmu, dan bagian favoritku: nyala matamu. Tiga musim lalu, aku sendiri yang memadamkannya. Aku air yang keluar dari matamu hingga sinarnya sirna. Kau gelembung udara dari busa sabun, aku tangan anak-anak kecil yang buru-buru dan penasaran. Kau jati, aku kemarau. Sore tadi aku baru saja hendak mendorong pintu kaca kafe ini untuk memesan dan kulihat kau di sana: duduk berhadapan di sofa panjang dekat rak buku bersama seorang yang entah siapa. Matamu sudah menyala lagi, bukan dari baraku.
*
Chandra Wulan (2019)
Retak
Di rumahku, ada vas bunga yang retak. Vas bunga itu terbuat dari porselen berwarna putih, berbentuk tinggi ramping dengan mulut seperti bunga bakung. Ia retak di salah satu sisi mulutnya, memanjang ke bawah hingga separuh tubuhnya. Retak itu tidak berbahaya. Tidak pecah juga. Belum perlu dilem. Belum perlu diperbaiki. Namun jika kulihat-lihat, kadang retak itu mengganggu juga. Begitu inginnya vas itu kuperbaiki, tapi berkali-kali juga aku mengerti bahwa itu tidak perlu. Maka, terkadang kutambah beberapa tangkai bunga seruni lebih banyak dibandingkan biasanya. Daun-daunnya juga tak semua kupotong. Kerapatan bunga-bunga itu dapat menutupi retak vas jika dilihat dari atas, tapi...kelopak mereka saling bertindihan. Kasihan. Akhirnya aku kembali menata bunga seperti biasanya, renggang dan tidak rapat agar mereka lebih leluasa bernapas. Retak di vas itu semakin kentara, baik dari depan maupun dari atas. Jika kau memutarnya sedemikian rupa beberapa derajat, baru lenyaplah retak itu dari pandangan. Semakin hari semakin biasa saja kupandang vas retak itu. Jangan-jangan, memang tidak semua yang retak perlu diperbaiki, cukup diterima saja. *
Chandra Wulan (2019)