Setelah satu tahun tanpa posting apapun tiba-tiba ngasih tau kalau udah hamil? Ferzya, kamu...
No, no. Jadi gini ceritanya..
Hafizt meminta izin kepada Ayah dan akhirnya Ayah saya menikahkan kami pada tanggal 25 Agustus 2017 lalu. Kala itu saya baru saja selesai menstruasi, kami sempat khawatir kalau-kalau saya masih mens menjelang akad nikah. Karena prosesi khatam Qur’an bisa-bisa tidak terlaksana, dan saya tidak diizinkan untuk masuk Masjid Raya Baiturrahman.
Syukurlah akhirnya prosesi berjalan lancar dengan segala cerita dibaliknya. Untungnya agenda resepsi dilaksanakan esok harinya, 26 Agustus 2017 jadi kami punya waktu untuk foto post-wedding dan beristirahat.
Kemudian tibalah waktu yang seharusnya saya ‘didatangi bulan’, tapi ‘bulan’ ga datang! Umh, oke.. beli test pack, 2 pack, kali-kali yang pertama salah. But it turn into double strips. Dengan mata yang masih kricep-kricep, antara ngantuk baru bangun dan ngerasa bingung saya balik ke kamar.
Bang Hafizt lagi golek-golek di kasur, karena waktu itu hari sabtu. Saya ngelendot masuk ke dalam pelukannya, dan kasih kabar bahwa test pack menunjukkan 2 strips yang artinya positif hamil.
Dia kaget, bingung, dan senang. Semua perasaan campur jadi satu! Sama! Saya juga gitu! Dan akhirnya kami memutuskan ke dokter SpOG hari rabunya, voila, beneran ada dong.
Jujur, kala itu saya bingung, senang, syok, takut. What if, what if, what if? Waktu itu juga suami (cie) sedang sibuk mempersiapkan materi conference-nya, jadi terkadang saya merasa kurang diperhatikan (ini sih kayaknya hormonal, sebenarnya suami berupaya sebisa mungkin).
Kurang pengetahuan berakibat saya seringkali cemas atas kehamilan ini. Apalagi awal-awal kehamilan (sekitaran week 4) saya kerap sulit tidur, telinga super sensitive di malam hari, bahkan saat suami menyalakan aplikasi pengusir nyamuk, telinga saya ikut mendengarkan frekuensi yang sama. Vertigo, kram kaki, pusing, lemas, semuanya datang bergantian bahkan terkadang berbarengan.
Saat masuk week 6 ini merupakan puncak ‘lemas’ yang paling hebat - 3 hari ga bisa kemana-mana, di kasur, tergeletak, shalat aja tiduran. Ya Allah, suami ampe bingung harus gimana. Week 6 adalah saat si embrio mulai berkembang, dia membutuhkan banyak nutrisi sekaligus mengaktifkan hormon-hormon lainnya.
Saya selalu berusaha menguatkan diri, meyakinkan diri dan suami juga bahwa saya tidak sakit tetapi sedang hamil. Hamil, dengan segala sensasi perubahan tubuh yang naik-turun. Syukurlah saat momen ini tiba suami sudah selesai dari acara conferencenya dan bisa memperhatikan saya & calon anak dengan penuh cinta (cie).Masak sarapan, makan siang, makan malam, cuci piring, beresin rumah - semua dikerjakan oleh suami tanpa mengeluh (Ya Allah, ini orang terbuat dari apa sih?).
Akhirnya setelah bisa kembali bergerak, saya memutuskan untuk pergi ke dokter, sebenarnya penasaran juga atas keberadaan calon anak ini, beneran ada ga sih? Apa perubahan hormonal ini cuma pikiran saya aja ya.
Dan voila, ternyata si calon anak beneran ada di dalam tubuh saya, bahkan sekarang dia sudah punya jantung! Jantungnya berdetak 133rpm, gila ada dua jantung dalam satu badan saya. It turn everything out, we feel blessed.
Suami merasa lega saat melihat sosoknya, “ternyata beneran ada ya, ga sia-sia perjuangan (ngurus saya) hafizt selama ini”, dia terdiam sebentar, mungkin terharu, lalu bilang “rasanya kayak amoeba yang bisa membelah diri”.
Hehe, dasaaaar. Ya begitulah, saya masih berusaha untuk menghadapi dengan baik TM1 ini, semoga kami semua sehat fisik dan mental. Aamiin, doakan ya :)