. Pendaki, pejalan, dan petualang itu ibarat lokomotif. Mereka kuat, tangguh, serta memiliki kemampuan bertahan hidup yang tidak diragukan lagi. Akan tetapi, sekuat-kuatnya lokomotif, ia juga membutuhkan rel, karena lokomotif tanpa rel akan menimbulkan kerusakan: segala yang ada akan diterobosnya hingga hancur lebur. . Novel Kekal, membicarakan tentang itu. Bagaimana tiap-tiap yang kita kenal dengan manusia ini memiliki akal, nafsu, dan perasaan, hingga yang kita kenal dengan peradaban menjadi kekuatan serupa lokomotif tadi. . Peradaban menciptakan banyak hal, seperti industri, politik, hingga bahkan hobi, rekreasi, serta wisata. Lantas, jika peradaban manusia serupa lokomotif yang kuat, maka apakah relnya? . Sudah bisa kita lihat, karena perkembangan peradaban yang memengaruhi dunia pendakian semakin pesat, para pejalan, pendaki, dan petualang saat ini sudah tampak kuat, juga diperkuat oleh sosial media. Namun nyatanya, ia belum memiliki relnya, sehingga cagar alam yang ada, terkena terobosnya juga. Gunung Guntur misalnya, atau Tegal Panjang di Garut, atau Telogo Dringo, dan lain sebagainya, diterobos oleh orang-orang kuat ini. . Di dalam novel inilah apa yang dimaksud dengan ârelâ itu dibahas. Bagaimana para pegiat alam bebas memperjuangkan eksistensi ârelâ yang kelak membuat para pendaki, pejalan, dan petualang itu tidak menerobos apapun seperti lokomotif tanpa jalurnya. . Terima kasih @anak_bebek sebagai petualang, pejalan, dan pendaki yang sudi mengamati ârelâ yang aku maksud dalam novel tersebut. . Lestari! (at Bandung) https://www.instagram.com/p/B9wSNTWg1gt/?igshid=1b1htz3kzc6h9