Dear sisters,
Rohana Kuddus lahir di kota Gadang, Minangkabau, pada 20 Desember 1884. Ia mendapat nama Kuddus dari suaminya yang bernama Abdul Kuddus.
Saat Rohana kecil, sang Ayah memiliki banyak koleksi buku, majalah, surat kabar. Rohana antusias menikmati bacaan itu, favoritnya adalah membaca surat kabar dengan suara lantang.
Adat istiadat saat itu, anak perempuan hanya belajar agama yang terkait sholat dan menghafal Al-Qur'an. Maka mereka tidak bisa baca-tulis huruf Arab. Sedangkan Rohana tidak mau sekedar menghafal. Dia baca-tulis Al-Qur'an beserta tafsirnya. Rohana pun di daulat menjadi "Guru Mengaji Cilik" bagi teman sebayanya dan bahkan bagi para remaja.
Kiprah Rohana diawali dari dunia pendidikan. Melalui proses yang tak mudah, Rohana Kuddus mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (S-KAS) pada 11 Februari 1911.
Selanjutnya Rohana merintis pendirian sebuah surat kabar pada 10 Juli 1912, terbitlah Soenting Melajoe, yang memiliki arti Perempuan Melayu.
Melalui surat kabarnya Rohana menyuarakan pembebasan perempuan dalam lingkup syariat Islam. Ia juga ber-amar ma'ruf nahi munkar tentang perbedaan pendapatnya dengan surat kabar lain (Soeara Perempuan) yang berhaluan liberal. Salah satu contohnya di edisi 23 April 1920 Soenting Melayu memuat kritik terhadap perempuan yang kebablasan dalam mempraktikkan apa itu "kebebasan".
Memang, secara teoritis, jurnalis dituntut netral. Namun, pada kenyataannya, media (dan jurnalis di dalamnya) pasti memiliki kepentingan masing-masing yang sesuai dengan "pandangan hidup" keagamannya.
Terkait ini, tampaknya Rohana memilih untuk memihak kepada usaha perbaikan nasib perempuan dan untuk kesemuanya itu harus disandarkan kepada agama Islam.
Uniknya sejak awal Rohana tak pernah bercita-cita menjadi jurnalis. Adapun ketika dia terjun di dunia jurnalistik, maka tujuan utamanya adalah semata-mata untuk mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya.
Baginya, jurnalistik adalah media untuk menyampaikan ilmu. Sementara, aktivitas memberikan ilmu kepada orang lain adalah amal shalih.
Berkat tulisan yang dipublikasikannya lewat media cetak, buah pikiran Rohana tersebar hingga lintas Pulau.
Rohana wafat pada 17 Agustus 1972. Berkat dedikasinya yang tinggi di dunia jurnalistik, Rohana Kuddus dinobatkan sebagai wartawati pertama di negara ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya.
Semoga kedepannya semakin banyak jurnalis perempuan yang menyuarakan kebaikan dan membawa kebermanfaatan bagi sekitar.
Frasa: Perempuan, Ilmu, dan Rasa















