Meninjau Buku On the Philosophy of Communication Karya Gary Radford
Tulisan ini merupakan ulasan yang mengelaborasi bab 1 dan 6 buku On the Philosophy of Communication karya Gary Radford. Bab 1 dimulai dengan afirmasi Radford terhadap hasil observasi Barnett Pearce mengenai orang-orang yang secara sama mendefinisikan komunikasi sebagai teori transmisi. Radford kemudian berusaha menggiring pembaca untuk memahami arah tulisannya melalui pemaparan dialog yang terbentuk antara dirinya dan murid-muridnya dalam sebuah diskusi kelas. Radford memaparkan pertanyaan-pertanyaan berikut jawaban-jawaban yang hadir dalam diskusi tersebut. Hal ini terkait pembahasan lebih lanjut mengenai teori transmisi dalam gagasan komunikasi, serta konsep ide sebagai hal yang dipertukarkan dalam proses komunikasi.
Hasil diskusi menunjukkan betapa komunikasi secara konsisten dikaitkan dengan teori transmisi ide, perpindahan pesan dari pengirim ke penerima untuk mencapai kesepahaman ide. Sementara pada konsep ide yang didiskusikan setelahnya, diskusi mengalami kebuntuan. Radford tampaknya ingin membuat pembaca ikut mempertanyakan hal-hal yang selama ini telah diyakini melalui diskusi yang dianggap Radford sebagai permainan bahasa ketimbang pikiran. Berdasarkan penilaian subjektif pengulas, Radford berhasil membawa atmosfer permainan itu kepada para pembaca.
Mengacu pada kebuntuan diskusi tersebut, Radford kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan apa yang disebut Grossberg sebagai “rezim komunikasi”, sebuah kerangka logika tertentu yang melihat bagaimana kita dipaksa untuk membicarakan komunikasi dengan cara tertentu, dan batasan pada cara membicarakan tersebut telah membebankan kita. Radford yakin bahwa murid-muridnya, yang pengulas interpretasikan sebagai sample nyata atas mayoritas populasi manusia, telah terperangkap dalam rezim tersebut. Menantang rezim sama dengan menantang realitas itu sendiri yang kerap menimbulkan reaksi emosional. Sulit untuk membicarakan komunikasi menggunakan cara lain, cara yang tidak melibatkan proses transmisi karena sudah mendarah daging.
Akibat rezim komunikasi, orang-orang cenderung berfokus pada proses transmisi pesan ketimbang pesan/ucapan itu sendiri. Hal inilah yang menjadi gugatan Radford. Radford ingin pembaca tidak lagi berfokus pada realitas apa yang dibentuk oleh komunikasi, melainkan mengapa membicarakan transmisi dalam komunikasi. Hal ini menjadikan Michel Foucault sebagai filsuf yang dipilih Radford dalam mengembangkan tulisan dan gugatannya atas rezim komunikasi.
Layaknya Foucault, yang dijadikan tujuan inti Radford bukan lagi pada apa yang dikatakan dalam wacana, melainkan pada wacana itu sendiri, bagaimana wacana berfungsi untuk menghasilkan berbagai objek pengetahuan yang kemudian dipelajari oleh ilmuan sosial. Radford ingin menjadikan pandangan transmisi (rezim komunikasi) sebagai “objek wacana” untuk menghasilkan wacana tentang wacana komunikasi/wacana tentang rezim komunikasi dengan mengesampingkan kaitan komunikasi dengan realitas dunia, lalu fokus pada apa yang diucapkan dan mengapa diucapkan. Radford meyakini bahwa pembahasan dan pemahaman mengenai rezim komunikasi akan membantu setiap orang memahami aktivitas komunikasi dan menjawab berbagai pertanyaan yang muncul, termasuk pertanyaan apa itu ide seperti yang dipaparkan di awal. Radford mengajak pembaca mencari tahu asal usul rezim komunikasi, alasan dominasi rezim komunikasi, hubungannya dengan pengalaman, serta kemungkinan untuk menentangnya.
Dalam bab 6, Radford mengatakan selama ini asumsi transmisi pikiran pada rezim komunikasi merupakan asumsi tanpa bukti langsung yang dianggap alamiah. Radford mengangkat pandangan Ludwig Wittgenstein untuk menjelaskan hal tersebut. Wittgenstein menganggap proses transmisi pesan antara pengirim dan penerima dalam komunikasi merupakan bagian dari proses mental untuk menghidupkan simbol-simbol bahasa, sedangkan simbol-simbol bahasa juga berguna untuk menciptakan proses mental tersebut. Sehingga komunikasi dianggap sebagai hasil dari dua bagian, yaitu inorganic (simbol) dan organic (pemahaman simbol). Bagian organic merupakan bagian abstrak terpenting untuk menghidupkan komunikasi, karena bagian ini melibatkan akal dan pikiran dalam memahami simbol. Namun penulusuran bagian abstrak inilah yang menimbulkan kebuntuan, persis pada diskusi ide di bab 1. Hal ini juga membawa Wittgenstein pada rasa frustasi. Wittgenstein kemudian mempertanyakan apa pentingnya melakukan pencarian sia-sia tersebut.
Pengulas mencoba mengaitkan pandangan Wittgenstein dengan Radford dalam konteks rezim komunikasi dan bagaimana rezim tersebut membelenggu manusia. Rezim komunikasi telah membakukan konsep komunikasi dalam definisi transmisi ide, yang tanpa disadari membuat manusia hanya mampu menjelaskan realitas apa yang dibentuk oleh komunikasi dan bukan menjelaskan apa sebenarnya komunikasi itu. Inilah penyebab kebuntuan diskusi, persis setelah semua kata dan istilah dilontarkan namun masih belum menemukan jawaban. Alhasil tak ada objek nyata untuk menopang istilah tersebut. Sementara reaksi frustasi Wittgenstein setelahnya adalah bentuk reaksi emosional yang sudah diprediksi Radford di bab 1 ketika menantang rezim komunikasi.
Bagi Radford, argumen Wittgenstein yang mengaitkan komunikasi dengan aktivitas mental adalah sesat, menjelaskan “berpikir adalah proses di dalam otak” hanyalah hipotesis yang diekspresikan dengan bahasa. Hipotesis tersebut telah membatasi artikulasi makna karena adanya keyakinan bahwa makna dari suatu kata terkadang dapat melampaui keberadaan kata itu sendiri. Meyakini berpikir (proses mental) sebagai entitas linguistik yang tidak memiliki makna linguistik melainkan sekedar proses fisik di dalam otak telah mengurung manusia dalam batasan rezim komunikasi. Wittgenstein percaya proses mental telah terjadi dalam komunikasi, hanya saja dia merasa tidak perlu mendalilkannya. Proses mental cukup dilihat dari ekspresi yang dihasilkan saja.
Radford tidak setuju pada argumen Wittgenstein karena baginya sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata adalah sesuatu yang tidak nyata, sehingga proses mental dan pemikiran adalah sesuatu yang tidak nyata. Untuk beberapa level, argumen Radford masuk akal dan disetujui murid-muridnya. Namun Radford khawatir argumennya dapat kembali dikesampingkan oleh argumen Wittgenstein dan rezim komunikasi. Radford berupaya mencari solusi untuk mengukuhkan argumennya dengan berpedoman pada cara yang dilakukan karakter O’Brien kepada Winston dalam novel 1984 karya George Orwell.
Radford menggunakan O’Brien sebagai representasi dirinya, serta Winston untuk murid-muridnya dan orang-orang yang terjebak dalam rezim komunikasi. Sejenak pengulas melihat apa yang dilakukan O’Brien atas Winston adalah bentuk pencucian otak. Namun Radford menyangkalnya. Radford menganggap O’Brien hanya berusaha memisahkan realitas lama Winston yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya agar tidak lagi menjadi realitas, dan kemudian menawarkan hal baru sehingga realitas lamanya tidak lagi masuk akal. Intinya sama dengan apa yang dikatakan Radford di awal, bahwa untuk menyusupi realitas baru haruslah melepaskan realitas lama. Dan ketika telah memasuki realitas baru belum menjamin seseorang seterusnya akan meyakini realitas tersebut, maka orang tersebut harus menyangkal realitas lamanya tanpa alasan, hal ini yang diyakini Radford berdasarkan buku Orwell dapat membuat realitas baru akhirnya dipercayai dan menetap.
Sebagian besar pemaparan Radford memang cukup logis dan meyakinkan, berhasil menyentak pandangan lama dan membuka pandangan baru yang selama ini tidak terpikirkan. Meninjau tulisan Radford, pengulas melihat Radford sebagai seorang postmodernis. Asumsi ini didasari atas kritiknya terhadap rezim komunikasi yang selama ini mendominasi pandangan komunikasi. Rezim yang merupakan produk modernis ini digugat karena sifatnya yang tersentralisasi secara universal telah memberi batasan pada perkembangan, pemikiran dan diskusi mengenai wacana komunikasi itu sendiri. Untuk itu pengulas melihat bahwa konsep postmodernisme dapat memperkuat pandangan Radford, termasuk untuk menempatkan perspektifnya agar relevan, baik dalam menjawab permasalahan kontemporer, maupun permasalahan untuk konteks, waktu dan ruang berbeda.
Permasalahan kontemporer erat kaitannya dengan struktur dinamika sosial masyarakat. Kehendak atas kesetaraan, keterbukaan ruang dialog dan inklusivitas, serta penolakan atas segala bentuk dominasi adalah beberapa permasalahan kontemporer yang juga sedang diupayakan Radford maupun para pendukung postmodernisme melalui tulisan-tulisannya, mencoba membuka ruang dan pandangan masyarakat agar tidak lagi terkungkung dalam dominasi modernisme. Sementara untuk konteks, waktu dan ruang berbeda, postmodernisme dapat diandalkan karena sifatnya yang menghargai perbedaan dan penghormatan kepada hal-hal khusus yang bersifat partikular dan lokal.
Namun pengulas menemukan paradoks dalam tulisan Radford. Seorang postmodernis sudah selayaknya menentang konsep kebenaran tunggal yang selama ini dipegang oleh modernis. Namun dalam tulisannya, pemilihan tokoh O’Brien untuk merefleksikan dirinya yang ingin menumpas kebenaran tunggal rezim komunikasi dan menggantikannya dengan kebenaran baru untuk ditanamkan pada para murid dan juga pembacanya, bagi pengulas sama saja sebagai upaya menggulingkan rezim lama untuk mendirikan rezim baru. Terlepas benar tidaknya asumsi pengulas atas paradoks tersebut, pengulas mengharapkan adalanya tulisan lanjutan dari buku pertama Radford.
---
Sumber referensi lain:
Muhlisin. (2000). “Postmodernisme dan Kritik Ilmu Pengetahuan Modern”, dalam Artikel Jurnal Dikti, Vol. 1, No. 1. Diakses dari http://artikel.dikti.go.id/pelatihan/index.php/pojs40/article/view/570/248









