Menemukan kejenuhan dalam perkuliahan
Ada banyak hal yang turut meramaikan pikiran jika berbicara soal ini. Tentang harap yang aku tumbuhkan dan orang-orang terdekatku tumbuhkan, dan tentang diri yang menemui hal-hal berat dan kehilangan kepercayaan dirinya dalam perjalanan.
Bagiku, untuk bisa tetap berjalan membutuhkan banyak hal. Lisan yang meredam lelah, afirmasi bahwa memang hari kita berat, dan penyokong dalam berbagai macam bentuk.
Namun, tidak dapat ditolak bahwa apa yang kita pikir tidak akan selalu berjalan sesuai. Terkadang, kita hanya mendapat bagian kecil yang membuat kita bisa bertahan. Tidak ada yang bisa disalahkan juga, karena ini adalah pilihan kita dan tanggung jawab kita.
Ada satu hal yang dapat kupelajari dari kejenuhan ini, ya bahwa pada dasarnya mau kamu sekuat apapun hari kemarin, besok atau lusa kita tidak bisa menjamin akan memiliki energi yang sama.
Tak jarang, rasanya kita ingin keluar dari hal-hal yang sedang kita bawa saat ini. Dan, terasa semakin berat ketika kita mulai menyadari bahwa bahwa kita terpaksa menampungnya sendiri. Saat ingin bercerita pun, rasanya kita hanya akan mendapatkan siraman rohani bahwa kita dituntut untuk lebih kuat lagi.
Padahal yang paling dibutuhkan adalah rasa untuk didengarkan, ditemani, dan dipertunjukkan hal-hal konyol agar bisa mengundang sudut garis senyum pada wajah.
Tulisan ini mungkin terlihat mengambang. Tak heran, karena yang menulis jelas sedang kalut.
Untuk yang sedang di posisi yang sama, aku harap kita masih bisa menguatkan diri. Tidak memilih keluar. Dan, mencoba membereskannya satu per satu. Saat rasa tidak percaya dirimu datang, itu adalah hal yang diterima, wajar, dan bukan karena kamu lemah. Istirahat sebentar... mungkin kita ingin ditunjukkan kembali sisi-sisi bahwa kita cuma manusia.