GAK MAU SABAR CAPEKKK 😭😭 Kenapa harus ada sabar di dunia ini, kenapa harus sabar terus dari lahir kayak mau gila rasanya.
Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong.
Show & Tell
No title available
Xuebing Du
$LAYYYTER
Keni
Alisa U Zemlji Chuda

ellievsbear
Lint Roller? I Barely Know Her
Cosmic Funnies
Jules of Nature
No title available
No title available
Cosimo Galluzzi

shark vs the universe

Love Begins
Monterey Bay Aquarium

tannertan36
RMH
Claire Keane
we're not kids anymore.

seen from Spain
seen from United States
seen from Spain

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Thailand
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Poland
seen from China
seen from Japan
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Belarus

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
@jianarami
GAK MAU SABAR CAPEKKK 😭😭 Kenapa harus ada sabar di dunia ini, kenapa harus sabar terus dari lahir kayak mau gila rasanya.
Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong.
Seringkali sikap baik kita kepada orang lain malah disalahartikan. Dikira naksirlah, caperlah, cari muka dan sebagainya. Padahal niatnya, yaudah cuma berbuat baik aja.
Sesimple aku nawarin mau pinjem mobil nggak, ke temen yang mau pindah kost, ya karena aku dulu juga pernah mendapatkan hal baik itu dari orang lain dan aku mencoba untuk menerapkannya. Bukan karena naksir.
Kenapa saat kita mencoba untuk menolong atau membantu orang lain, selalu aja ada orang yang mengubahnya menjadi sesuatu yang bukan itu?
Padahal dengan bersikap baik ke orang lain itu bukan cuma akan mengubah hari kita sendiri, tapi juga mungkin akan mengubah hari mereka. Dan kita nggak tahu apa yang sedang mereka hadapi. Fakta bahwa kalo kita nemenin ngobrol, atau nolong mereka sekecil apapun itu mungkin bisa bener-bener bikin hari mereka jadi lebih baik.
Kemarin pas lagi burnout banget, aku pergi ke klinik eksekutif. Sebenernya niatnya mau kontrol pakai umum biasa aja, tapi ternyata sekarang sistemnya kalau pakai umum harus di eksekutif. Dan itu lebih mahal. Total tagihan aku bisa 800 ribu sekali dateng, dan aku perlu dateng seminggu sekali. OMG. Menyalaa dompetku. Tapi pada hari itu dokter spesialisnya bilang, ini bayar tindakannya aja ya, konsulnya gak usah bayar. Hah? Lho?
Padahal aku dan dokter spesialisnya tidak saling kenal, kami juga tidak pernah bekerjasama dalam satu RS. Tapi kenapa beliau baik bangett omo omo omoo. Bahkan beliau nganterin dari lantai atas ke bawah, ke atas lagi, bulak-balik. Dan menyediakan diskusi terbuka, “Kamu mau pake obat apa, Mi?” Hahahaa karena udah tahu mungkin suka menyanggah.
Terus beliau juga bulak-balik ke adm. “Ini dia gak usah bayar konsul dan jasa sayanya ya … pokoknya tiap dia ke sini yang diinput tindakannya aja kalo ada tindakan.”
“Kamu boleh ke sini mau seminggu sekali, atau seminggu dua kali juga gak papa, Mi.”
Masyaallah tabarakallah bener-bener mengubah hari aku yang tadinya prengat-prengut jadi cukup bingung. Ini kenapa tiba-tiba aku mendapatkan hal baik. Ini kenapa dokternya baik banget, padahal gak kenal. Tapi gak papa, thank youuu horang-horang baikk 🫶🏻 aku jadinya di eksekutif cuma bayar 200ribu doang yuhuyy.
Bangun sore, inget ada yg harus diupload. Gak bisa ngapload karena jaringan indosat sangat lemot membagongkan. Menangis. Heh!! Beneran menangisss perkara begitu doang. Dan tiba-tiba inget kenapa aku nggak seberuntung orang-orang. Terus ngobrol sama ikan yang hidupnya enak cuma berenang aja, sekarang ikan-ikan itu udah bisa minta makan kalo aku nyamperin, mereka ngerti. Ngerti mau dikasih makan, bukan ngerti tentang .perasaan aku hahaha.
Lanjut ngobrol sama galon yang masih disegel. “Kamu beruntung banget jadi air, bisa ngasih kehidupan. Kamu enak nggak perlu merasakan pahit, manis, sedih, seneng, capek, bingung, pusing. Bermanfaat untuk sekitar, jadi air yang baik-baik ya.” am I crazy? Tidakk kata buku yg aku baca, itu termasuk usaha-usaha mengatur emosi. Tapi tetap sangat sediihh, tidak tahu kenapa.
Berhenti menangis karena harus berangkat kerja, dan kalo udah burnout di awal, di tempat kerja selalu lebih diuji lagi. Kek tiba-tiba banyak yg harus dilapor, banyak pasien baru. Pasien dehidrasi berat yg udah rehidrasi, harus rehidrasi lagi, rehidrasi lagi, apasih inii, dahal udah DMC-in aja 24 jam sekalian.
Dan bener aja tiba-tiba dateng bulan banyakk bangettt woyy. Pantesan sangat aneh hari ini. Tapi bagaimana ya tidak membawa pembalut, akhirnya keluar jam 2 malem. Biasanya nyeri haid di hari kedua, ini hari pertama udah nyeri banget karena langsung banyak. OMG. Apakah harus injeksi keterolak. Tapi bentar dulu, sayangi ginjal Anda, seperti tidak ada sanmol forte aja di dunia ini, main suntik-suntik. Sip. Tetap tidak ngaruh.
Akhirnya shift malem ini tidak bisa tidur -_- tapi nggak papa bonusnya besok libur, bisa tidur sepuasnya yuhuu.
Kamu ingin gak menyakiti siapa pun, itu niat yang indah. Tapi jangan sampai dalam prosesnya, kamu justru menyakiti dirimu sendiri terus-menerus. Kamu juga berhak untuk diperlakukan dengan lembut, termasuk oleh dirimu sendiri.
Tak semua bagian dari hidup kita harus diceritakan kepada orang lain, ada yang harus disimpan sendiri, ada yang harus dikisahkan, dan ada yang hanya bisa kita ceritakan pada seseorang yang istimewa bagi kita.
Dulu, belum terlalu mengerti mengapa harus memahami kalimat-kalimat ini, tapi seiring berjalannya waktu dan usia, barulah tahu, ternyata perjumpaan kita dengan banyaknya manusia, dan beragamnya latar belakang mereka, menjadikan kita harus waspada dan memilih kisah mana yang layak kita bagi kepada mereka.
Aku pernah berjumpa pada seorang yang introvert luar biasa, menutup dirinya dengan sangat-sangat menutup. Namun karena seringnya berjumpa, seringnya aku mengajaknya bicara dan terkadang ia menjadi teman yang mendengarkan semua kisahku, aku memang ekstrovert, mungkin bisa dibilang ekstrovert parah.
Pada satu titik, ia membuka sebagian kisah hidupnya, ia menangis...
Dan aku baru pertama kali melihatnya menangis sembari bercerita, dan aku akhirnya tahu mengapa ia begitu banyak diam. Bukan karena pahitnya luka masa lalu, atau sakitnya hidup di masa lampau. Tapi... ah, aku bingung menjelaskannya.
Dan kamu tahu, bisa jadi, seseorang yang terbiasa menjadi pendengar yang baik, ia juga butuh didengarkan kisahnya. Dan sesekali, seseorang yang terbiasa bercerita, ia harus menjadi pendengar yang baik, agar lebih arif dan bijaksana dalam mendengar dan berbicara.
@jndmmsyhd
Di tempat kerja gak perlu terlalu baik dan pintar nanti dimanfaatin gen vintage yg bisanya cuma nyuruh-nyuruh doang sambil lempar bola panas.
Tapi mamaku juga sudah tua, dan jadilah gaptek, sementara masa kini zaman teknologi. Jadi mamaku juga suka minta tolong - minta tolong honorer kalo ada sesuatu berhubungan dengan teknologi. Kalo dulu waktu kita tinggal serumah ya nyuruh aku. Tapi aku juga sekarang suka ngingetin, “Ma, dikasih lebih uang honornya. Ma, minta tolong yg masih muda-muda aja gak papa, tapi nanti dibayar.”
Bukan artinya aku juga ingin dibayar, tapi kadang yang melimpahkan tugasnya juga gak vintage-vintage banget, masih cukup muda, milenial. Kalo beneran udah tua mah juga pasti aku bantu dengan lapang karena inget ibukkk, biar ibu di sana juga ada yang bantu.
Dan kalo udah tahu sama-sama butuh orang lain, gak usah sambil lempar-lempar bola panas makanya, kayak lu mantep aja.
Sebenernya gambar ini mengganggu mata bgt, ejaannya tidak sesuai PUEBI wkwk.
Tapi yaudahlah ya, ternyata banyak juga anak kedua yg muncul karena kebobolan dan selalu berdampingan dengan kalimat: “Dulu mama pernah berkali-kali coba gugurin kamu, tapi kamunya kuat.”
👩🏻 : Aku gak bisa bayangin sih mi, apa rasanya jadi orang itu, yang harus nyimpen cerita itu di kepalanya sepanjang hidupnya. Sepakat sama Marchella PF, aku kira kalimat paling nyakitin tuh perkataan guru aja ketika kita bandel, kamu gak akan sukses.”
👱🏻♀️ : Kalo jadi orang itu … ya, gak papa sih, toh ketika di dalam kandungan kita nggak punya perasaan, gak tau rasanya sedih, sakit, dan lain-lain. Orang tua kita berhak bahagia atau minimal hidup damai tanpa beban tambahan. Tapi kadang kalo lagi capek, lagi sedih, lagi berat banget, atau lagi kacau, pasti yg diinget ya itu. Kenapa harus terlahir ya? Padahal kalo gak lahir juga gak papa kok, malah enak gak perlu melalui semua ini.”
Meski begitu, temen-temen aku yang punya anak kedua yg selalu bilang, “Iya mi, duh kebobolan.” Tetep selalu aku yakinin dengan happy kiyowo, “it’s okay it’s okay, kamu bisa kok, bisa bisa pasti bisa kok. Kalo butuh bantuan apa-apa bilang aja ke aku, nanti aku usahain. Asal jangan pinjem duit aja, heheee.”
Apa efek samping makan semangka sekilo lebih sendirian habis dalam satu kali duduk?
Yeah, this is yummy!
tidak pernah semalas ini mau berangkat liburan bareng orang. I know that at a time like this, what I really need is a solo trip.
Katanya manifesting itu nyata, bismillah mutasi 🙏🏻🥹
aku rindu menuliskan semuanya disini
You cried when you realized that your love was so immense—greater than anything you had ever felt before. This can’t be, you said. No, it shouldn’t be. This is far from the ideal life you once imagined. Out of billions of people on Earth, why did it have to be that person? Damn! This is messed up.
Belakangan ini ada beberapa 'kebetulan' dalam hidup yang benang merahnya kurang lebih sama; mempertanyakan
self-worth
Semua bermula dari beberapa hari sebelum libur panjang mayoritas. Hari itu tidak seperti biasanya gue jaga pagi, tapi karena udah mulai sepi jalanan dan kebetulan weekend juga, jadi gue ngga nuker. Kondisi pasien-pasien bangsal emang lagi pada dar der dor. Gue sehari bisa 2-3x intubasi.
Salah satu momen intubasi itu ternyata membekas banget di kepala gue, sampe rasanya gue 'baper' lagi ke pasien setelah sekian lama engga. Jadi pasien ini tuh di shift gue sebelumnya sebenernya belum se-critical itu. Tapi perasaan gue ngga enak, kayak ada sebersit firasat kalo ini tuh bakal ngga bagus, bakal pro ICU. Tapi bukan di shift gue. Tapi akan. Gimana ya jelasinnya wk. Gitu deh. Jadi pas gue operin ke temen gue yang sore, gue bilang kalo ini tuh kayanya akan perburukan, jadi plis prioritasin.
Long story short, sampe di shift gue besokannya, tu pasien masih di bangsal. Pas gue visit, kondisinya exactly yang gue bayangkan. Perburukan. Pro ICU.
... and that didnt end well. That patient went to the light.
Gue paham, dia memang akan meninggal di tanggal dan hari itu. Tapi di kepala gue banyak sekali kegelisahan. Kenapa begini? Kenapa begitu? Kenapa ngga gini? Kenapa ngga gitu? Kenapa jadinya gini ngga gitu?
... dan tentu aja yang paling nempel di kepala gue: penyesalan kenapa gue ngga memaksakan kehendak berdasarkan firasat gue kemarin.
Sampe pulang ke rumah, gue masih resah. Ditambah lagi annual trigger yang bikin isi kepala makin penuh. Masih gue tahan, gue berharap bisa mengurai ke ybs malemnya supaya lebih lega. Tapi tiba-tiba respon ybs tidak sesuai yang gue harapkan. Boom. Gue meledak. The very first breakdown in 2026.
Capek banget nangis sampe sakit kepala. Itu juga pas tidur mimpinya kayak 'medley', dengan banyak potongan ingatan tentang pasien tadi; mulai dari mulutnya yang penuh gumpalan darah, warna selang NGT yang item pekat, muntahan darah gelap di sekitar kepalanya, badannya yang dingin, bahkan tekstur rambutnya yang kasar. Bangun-bangun badan gue rasa kayak abis digebukin warga.
Di momen nangis malem itu, ada satu suara di kepala gue yang berulang terputar sampe kusut:
maybe I dont deserve this. I dont deserve any of this.
Walaupun terlihat seperti momen-momen low self esteem seperti biasanya saja, tapi gue masih tetap merasakan nyeri tajam yang muncul berulang di tengah-tengah dada setiap kali suara itu terputar. Ngilu sekali.
Beberapa hari setelahnya, sembari menyetrika, gue nonton salah satu favorite podcast yang ngomongin self-worth. Ada banget momen bengong dan heningnya setiap kali podcaster-nya bahas soal gimana kita menilai diri sendiri, gimana kita bersikap interpersonal dengan tetap mempertahankan nilai-nilai diri, belum lagi soal self-sabotaging atau simply ngata-ngatain diri sendiri in some sort of situations. Rasanya kayak lagi terapi.
Lalu kemarin, gue dan ybs nonton TASN. Gue pikir gue ngga akan kesentil sama ceritanya. Tapi ternyata ada banget momen gemeter nahan rembes dikit pas adegan di meja makan pas tokoh utamanya minta maaf di depan ortu dan adiknya. Dialog ortunya menanggapi si tokoh utama tuh rasanya kayak ngga relate sama sekali di hidup gue tapi sepertinya itu yang gue mau dengar. Itu yang gue BUTUH dengar.
Hhhh.
Detik gue menuliskan ini sebenarnya kondisi kepala gue sudah tidak se-berisik saat gue breakdown itu. Gue sudah mengelola emosinya. Gue sudah memproses kejadiannya, mengurai sendiri harus apa dan bagaimana setidaknya dalam waktu singkat karena gue masih harus kerja dan beraktifitas. Gue sudah berfungsi seperti sedia kala. Yah masihlah mimpi-mimpi buruk dikit mah biasa.
Tapi isi podcast dan potongan adegan TASN itu membuat gue kembali merenung dan menilik ulang sejauh mana perjalanan gue menyusun 'self worth' from scratch ini.
Gue kembali mengurai, apa yang menurut gue layak dan ngga layak buat diri gue. Kalo ngga layak, kenapa? Apakah gue mau menjadi layak? Kalo mau, gue harus apa supaya nanti layak? Kalo sudah layak, apakah gue merasa senang atau nyaman dengan 'kelayakan' ini? Kalo ngga, kenapa?
Gue kembali mengingat-ingat, momen dimana gue merasa kembali rendah, merasa tidak berharga dan tidka bernilai. Ketika momen itu muncul, triggernya sama atau sejenis ngga? Kalo iya, kenapa? Apakah bisa gue kelola agar trigger itu tidak lagi menjadi trigger, atau agar bentuk kerusakan setelahnya setidaknya berkurang?
Ternyata mikirin itu semua juga triggering, wk. Jadi gue lambat banget progress-nya.
Di tengah nonton TASN tuh ybs sempet nyeletuk; 'kalo gue sih ngga kan ngerasa rendah ya kalo lagi direndahin orang'. Gue secara sadar, menyahut:
'Iya, kalo ngga insecure mah emang ngga bakal tersinggung mau dikata apa juga mah'.
Kalimat gue sendiri itu bergema di kepala gue. Kalo gue udah merasa 'cukup' dan ngga merasa insecure sama hal tertentu, apapun kejadian dan omongan sekitar ngga akan menyentil 'self worth' gue. Kalo pada akhirnya gue kesentil, berarti memang ada yang salah dari 'nilai diri' gue.
Tapi kayanya, gue belum sepenuhnya menemukan titik-titik mana saja dalam 'nilai diri' gue yang salah. Beberapa mungkin sudah gue perbaiki, sudah bukan lagi trigger. Tapi beberapa lainnya ada yang baru muncul, atau bahkan ada dari dulu tapi ngga selesai-selesai gue perbaiki, jadi akan selalu kesentil trigger.
Sebenernya ini semua bisa aja di 'yaudahlah'-in aja, toh semuanya temporary aja gejalanya, ngga seberat dulu juga, ngga sampe 'attempt' lagi juga. Tapi kalo inget yang udah-udah mah semua juga bermula dari 'yaudahlah' yang prematur, yang ngga dipikir dulu, yang ngga dianalisis dulu, yang biar cepet aja. Tau-tau numpuk. Tau-tau boooooooom! Meledak lebih kencang seperti genderang mau perang 💃🏻
Menilai rendah diri sendiri atau bahkan tidak menghargai diri sendiri itu sebenernya juga kan udah 'lagu lama'. Udah berulangkali terjadi. Rasanya masih sama nyeri, masih sama ngilu, masih sama meresahkan. Tapi setidaknya, dalam beberapa hal memang sudah ada yang remisi, atau setidaknya terkendali. Gue memang akan butuh waktu seumur hidup untuk mengendalikan semuanya. Tapi setidaknya, kali ini frekuensi 'serangan'-nya berkurang jauh sekali dibanding dulu, after effect-nya masih bisa gue kendalikan, pun gue juga ngga nyalahin pihak manapun setiap kali serangannya dateng. That also a progress anyway.
Toh mungkin memang di beberapa kasus gue memang tidak layak, tidak berharga, dan 'rendah', sedangkan di kasus lain tidak. Ya memang akan kerasanya sedih, helpless. Perasaan gue tidak salah. Tapi gue tetep merasa perlu melakukan sesuatu, memperbaiki sesuatu, setidaknya supaya gue bisa kembali pada perasaan 'cukup'.
Cukup layak. Cukup berharga. Cukup percaya diri.
Karena ketika gue sedang dalam state 'cukup', gue jadi punya perspektif yang sehat dalam menilai diri, membuat boundaries, dan menerima reaksi orang lain entah itu positif atau negatif.
Sehingga mungkin instead of bilang 'I dont deserve this', gue bisa bilang;
'this doesn't deserve me'.
Jalan mana saja sudah tidak masalah. Aku membawa diriku yang sama, dengan daya dan upaya yang sama. Kupastikan, di sisi bumi mana saja aku tetap seseorang yang terus berjuang dan tetap menikmati hidup dengan bergembira, lagi.
Ya Allah sabarkan hamba dari mulut bacot luar biasanya orang tua pasien anak, atau selamatkan hamba dari ruangan terkutuk itu.
baby blues karena orang tuanya ini mah 😪
Berbahagialah, agar hancurku tidak sia-sia.
“Terima kasih untuk tetap hidup, bertahan, dan berjuang sejauh ini, sampai menjadi seseorang yang sangat aku kagumi.” ucapku pada diri sendiri <3