Dengarkan kata hujan
Dengarkan kata hujan
Langit memberitahuku sisa kegundahan seorang tamu dengan kamera. Pinta langit tangisi masa lalu. Rindu sesekali terasa matang di masa depan. Waktu cepat berlalu seperti halnya cuaca. Perihal cuaca kau bosan membicarakannya. Cuaca tentang kebahagiaan yang menipu hingga punggungmu selalu berada dihadapanku. Tegas penamu mengisahkan pentingnya waktu. Waktu dan cuaca adalah kedua hal yang enggan dipisahkan. Lalu kau bercerita tentang musim kemarau. Kutebak cepat kau sedang merencanakan tamasyamu pekan depan. Rentet waktu dan kepergianmu menyisakan tanda. Bahwa kau pernah mengagungkan musim hujan.
Dengarkan kata hujan
Tanda rintik hujan jatuh ke atap rumah. Hujan pernah melewati perpustakaan kota dan kedai kopi yang menjadi singgah utama kita kala itu. Tersisa udara dingin yang menjadi ingatan lalu menyusup dalam tubuh seorang petualang yang redam. Tertidur pulas dalam hangat ternyata aku bermimpi. Sedang mesra kau dekap hangat melingkari leherku. Buru-buru kau melakukannya mengalahkan bara api penghangat ruangan kamarku. Aku teringat langkah-langkah yang hendak berkemas dan mencium tangan dengan jari gemetar yang tidak kutahu bayanganmu. Beberapa langkah tadi, pelankanlah dan berpikirlah untuk mencari ke lain arah, seperti jalan yang pernah kau lewati sekali dan dua kali










