That burger shop in Wilderness is called Acala
Claire Keane
RMH
Lint Roller? I Barely Know Her
will byers stan first human second
occasionally subtle
hello vonnie
todays bird

ellievsbear

izzy's playlists!
taylor price
Game of Thrones Daily
KIROKAZE
No title available
tumblr dot com
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available

Janaina Medeiros
🪼

blake kathryn
h

seen from Algeria

seen from United States
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Italy
seen from Argentina

seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from Portugal

seen from Singapore
seen from Zambia
seen from France

seen from United States
@johanfjr
That burger shop in Wilderness is called Acala
Kedai Burger di Belantara itu bernama Acala
Let's see what's on Gettsee
Nostalgia Rasa di Seblak Asgar
Lagi-lagi tipikal makanan yang enak disantap ketika hujan. Seblak Asgar yang pernah saya coba di dekat kampus beken Yogyakarta. Sampai sekarang, rasa di beberapa outlet masih konsisten, seperti di cabang ini. Dan seperti biasa, warung seblak akan menyediakan opsi a la carte atau paketan. Karena seblak bukan makanan pokok, tentu saya ambil paket. Menu yang saya pesan Special Jeletot dengan level…
Mengitari Menoreh dengan Tambora A5
Nest Coffee & Donuts: Galeri Kriya dan Furnitur yang Menjelma Toko Pastry
View On WordPress
Really? 10 images max on single post?
Hotel Pailit Karena Covid
Terlepas dari bagaimana massif dan serampangannya pembangunan hotel di DIY, kita tidak dapat menutupi fakta bahwa ada ribuan orang yang ekonominya bergantung pada industri perhotelan.
ID // 04.04.2020
Malam ini, sewaktu bersepeda pulang dari kediaman Habib Wibowo, saya melihat salah satu pemandangan unik di Kota Jogja dan Sleman urban. Hotel-hotel bintang tiga ke atas serempak menyalakan lampu kamar mereka sehingga berbentuk hati apabila dilihat dari sisi luar gedung. Konon tindakan ini dilakukan 58 hotel di Jogja dengan tajuk 'From Jogja with Love', bertujuan mengembalikan spirit untuk kota Jogja.
Di sisi lain, pagebluk Covid-19 menjadi pukulan keras bagi kota-kota yang pendapatan utamanya bersumber dari sektor turisme dan pariwisata. Di Jogja sendiri, sudah banyak pekerja di sektor ini yang dirumahkan sehingga mengandalkan gaji 25 Maret plus pesangon (bila ada) untuk bertahan. Ketika wabah berangsur selesai, perlambatan ekonomi akan membuat sektor pariwisata sedikit sulit untuk kembali pulih.
Mereka yang bekerja di sektor formal, sudah sangat rentan, apalagi dengan yang bekerja di sektor informal? Pemerintah memang selalu abai dan lamban bergerak untuk keselamatan dan keberlangsungan kesejahteraan masyarakatnya.
Namun di sisi lain, saya melihat jalanan yang relatif sunyi di malam Minggu, serta lanskap perkampungan pinggir Kali Code yang tetap bertahan menjaga eksistensi peradaban mereka di tengah gempuran investasi tak terkendali di DIY—dari perhotelan, perbelanjaan, hingga ritel modern. Ada beberapa warga yang aktif menjalankan tradisi jimpitan, memungut koin dari rumah ke rumah sembari menghimbau warga untuk tetap di rumah mereka.
Omong-omong, lebih dari separuh sektor industri Dunia bergerak di atas pondasi yang rapuh—rentan remuk bila terjadi hal-hal yang tidak terprediksi, seperti pandemi pada saat ini.
ID // 02.04.2020
Hari kesekian kebijakan #physicaldistancing ditetapkan, saya kira Jogja bakalan benar-benar jadi kota mati setelah Malioboro steril dari pedagang dan wisatawan. Justru keadaannya sebaliknya.
Sore tadi sambil bersepeda, saya lihat beberapa toko sudah kembali buka, khususnya usaha-usaha yang ada di daerah permukiman dominan pendatang. Warung makan, warung tenda, sampai laundry kembali beroperasi. Seperti biasa, momen wabah yang jarang-jarang terjadi ini eksperimen sosial saya.
Beberapa orang saya ajak bicara, mulai dari pemilik warung sampai penjaja sate keliling di Alun-alun Kidul. Alasan mereka nekat keluar rumah dan kembali berjualan sederhana: harus memutar uang. Mereka keluar, karena keterpaksaan, tidak seperti saya yang punya 'hak istimewa' sehingga bisa mengerjakan tugas kantor di atas kasur.
Ya, saya belum tahu mekanisme jaring pengaman sosial seperti apa yang bakal diterapkan pemerintah, dan assesment serta data apa yang akan digunakan (apakah PKH) untuk mencatat mereka yang berhak dan diprioritaskan mendapat bantuan sosial—setidaknya hingga pandemi berakhir serta perekonomian pulih. Padahal sebenarnya pendataan akan jauh lebih mudah karena tatanan masyarakat sudah terstruktur berjenjang dari tingkat RT hingga kelurahan. Harusnya mudah untuk tahu siapa yang benar-benar membutuhkan asal solidaritasnya kuat, dan tidak melakukan mobilitas geografis dalam rentang waktu tertentu.
Memang konsekuensi menyepelekan wabah yang sudah ada sejak dua bulan sebelumnya benar-benar merugikan negara secara ekonomi. Tapi setidaknya, kita sudah tahu cara membangun ulang perekonomian, namun tidak akan pernah tahu cara menghidupkan lagi nyawa manusia.
ID // 25.03.2020
ETAPE JOGJA - WATES TERCAPAI!
Hari ini, seminggu yang lalu bertepatan dengan Hari Raya Nyepi Saka 1942. Hari libur—sesempit apapun itu biasa saya jadikan waktu untuk rehat dan bersepeda. Kala itu, saya mematok target kalau bisa bersepeda sampai di Alun-alun Wates, Kulon Progo. Bila sebelumnya trek sepedaan terjauh hanya sampai Pleret (PP: 30 kilometer), bikin target harus dua kali lipatnya dong. 😗
Berangkat Rabu pagi, saya bisa merasakan sensasi segarnya udara pedesaan tanpa polusi udara. Ya, wabah dan anjuran #physicaldistancing membuat banyak orang enggan keluar rumah untuk urusan tidak perlu. Perjalanan dari kosan, ke Simpang Bugisan, lalu menuju Alun-alun Wates hanya butuh waktu 2 jam saja karena rute jalanan menurun. Arah sebaliknya, saya butuh waktu tiga setengah jam untuk kembali ke kota. Capek cuy rutenya nanjak. Mana karakteristik sepeda fixed gear nggak bisa ganti gigi pula. 😅
Besok kemana lagi? Klaten? Bantul kota? Target sampai Solo kalau wabah sudah berakhir, atau Magelang? Tapi nanjak banget. 🚲😁
Yuk bersepeda. Jangan lupa maskernya dipakai ya ~ 😷
ID // 30.03.2020
Hari kelima belas isolasi diri, hidup benar-benar terasa penat. Setiap hari cuma memandangi tembok kamar yang kusam, bermandikan sorot mentari tanggung dari lubang atas. Sepi, sunyi, kadang bingung sampai ngobrol sendiri.
Rasanya ingin segera bersepeda lagi. Di tengah pandemi, memang keluar pun jadi khawatir walau sebentar. Padahal sepeda adalah satu-satunya olahraga yang bisa membuat saya kenal dan menyapa lingkungan sekitar—walau sebenarnya keluar aman-aman saja selama menerapkan aturan yang dipandu WHO terutama untuk menjaga jarak dan membersihkan area potensi kontak virus.
Kapan bersepeda lagi, tanpa rasa takut dan gundah gulana? Sudah bosan jadi burung dalam sangkar.
ID // 24.03.2020
Rehat.
Masih membekas dalam ingatan, November lalu saya membaca beberapa artikel dan jurnal ilmiah yang menyinggung soal dampak sekunder dan tersier dari #krisisiklim. Ya, semenjak bergabung sebagai anggota biasa di Greenpeace Youth Jogjakarta, saya semakin bersemangat dalam menajamkan keilmuan terutama dalam bidang geografi—rumpun ilmu yang sudah saya sukai sejak SD.
Dari kecil, sama memang suka ilmu geografi. Waktu itu, Jojo kecil hanyalah anak ingusan biasa yang suka membawa atlas murah hadiah ulang tahun dari sang ibu kemana-mana. Dilihatnya nama-nama provinsi se-Indonesia, lalu nama-nama kota dan kecamatan bahkan ikut dihafalnya. Nama-nama sungai dan gunung-gunung sudah di luar kepala. Bahkan bagaimana perbedaan bentuk topografi Jawa - Sumatera - Kalimantan, Ia cukup paham walau usianya masih sangat belia. Hingga pada akhirnya atlas itu rusak, Jojo kecil masih memperbaiki lembaran buku itu dengan lem dan tanpa malu membawanya hingga ke SMP favorit kota.
Memasuki jenjang SMP di sekolah asrama, memang Dunia menjadi kian terbatas. Jojo sering merenung di balkon lantai tertinggi asrama sembari tertegun melihat lansekap hutan jati di timur asrama, dengan jaringan sutet yang membentang jauh di atasnya. Asrama memang mengekang, tapi cakrawala ilmunya terus menerus berkembang begitu perpustakaan Ia jadikan tempat singgah harian. Majalah National Geographic adalah favoritnya sebelum diikuti majalah Tempo dan ensiklopedi lainnya.
Jenjang SMP-SMA, Ia mengikuti banyak sekali olimpiade di bidang geografi. Di tingkat SMP, memang masih gagal menyabet predikat jawara. Namun di jenjang SMA, Ia menjuarai tingkat 10 Nasional meskipun mungkin jadi satu-satunya kejuaraan akademik yang pernah diraih.
Masuk ke perguruan tinggi dan dunia kerja, rupanya semangat itu masih ada. Beberapa kali Jojo dewasa diundang untuk menjadi pengisi atau pemantik diskusi terkait dengan ekologi dan sosial. Tidak banyak yang istimewa karena sejatinya Ia hanya menceritakan ulang apa yang pernah dibaca. Kebebasan berpikir di jenjang perguruan tinggi membuatnya lebih suka menjelajah Dunia sendiri, mengeksplorasi bentang alam dan korelasi kebudayaan sosial yang berkembang di dalamnya.
ꦮꦶꦗꦶꦏ꧀ꦔꦁꦒꦺꦱꦧꦸꦤ꧀꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦻꦁꦢꦶꦠꦸꦠꦸꦥ꧀꧉
#Covid19
EN // 8.02.2020
The highest temperature of the Antarctican surface recorded at 18,3 Celcius. It means that Antarctica has the same warmth as Bandung.
More fossil fuels mean more droughts, fires, hurricanes and other extreme weather events. Stopping fossil fuels means clean air and winning the fight against the climate crisis.
We demanding to anybody to stop investing in the coal-based energy sources.
EN // 15.01.20
Last night, I came to the Garuk Sampah movement as usual. Yep, I've set my Wednesday night to be on this movement, to take some photographs of the volunteer while in action, and of course, do clean up. Garuk Sampah already did this more than 250 times/weeks. But the movement last night is special, at least to me. The leader of the movement, Bekti Maulana, and the senior who joined the movement earlier in 2016, Mr. Elang Parikesit, has chosen me to be a 'Most Contribute Volunteer of the Year'.
At first, I thought that I'm not deserved this kind of award. I joined Garuk Sampah for the first time in August 2019 or the #235 movement. I see that the leader, Bekti Maulana having difficulties to handle all of the jobs. He had to make a poster of the next movement, take care of the tools that we use, come to every event's invitation (mostly to be a speaker), and manage the volunteer on our WhatsApp group. He takes all of the jobs, alone. So I think I should help him so he could be more focused on some little things. And voila, I am the admin of Garuk Sampah's website and social channels, and also the one who makes a weekly poster of our next movement. That's why they have chosen me as the Most Contribute Volunteer. Am I really deserve this? Dunno. 😅
Thank you Garuk Sampah for recognized me, and the things I did.
EN // 11.01.20
Yesterday, I and my colleagues in Greenpeace Youth Yogyakarta has been invited to be a collaborator on the event made by Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), Universitas Islam Indonesia (UII). Our leader Madda Aisar helped the committee to give the opening speech, Zinda directing the planting tree process, and I do explain about the current environmental crisis, as usual.
In the first fifteen minutes I used for an introductory, and the second fifteen minutes for open discussion. Around 7 people ask me about several things, like how the implementation of environmental regulation in Indonesia—especially in Jogjakarta, until oligarchy that shackles the environmental progress made by the Indonesian government. Well, another weekend spent on kindness.