PERBEDAAN PENDAPAT FUQAHA MENGENAI MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU SEBELUM BERQURBAN
http://islamedia.id/menyikapi-hadits-larangan-memotong-rambut-dan-kuku-sebelum-qurban/Islamedia โ Akhir-akhir ini, setidaknya ketika akses internet mulai merebak, terutama di kalangan terpelajar dan professional dan seiring dengan keinginan mereka menimba ilmu agama, mulai banyak beredar dakwah (ajakan) dan juga peringatan dari beberapa orang agar orang yang hendak berqurban jika sudah masuk tanggal satu Dzul Hijjah agar tidak memotong rambut dan kukunya sehingga setelah hewan qurban disembelih. Jika ditelusuri dasar pilihan hukum di atas adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA yang dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. ุนููู ุฃูู ูู ุณูููู ุฉู ุฑุถููู ุงููููู ุนูููููุง ููุงููุชู: ููุงูู ุฑุณูููู ุงูููููู ุตูููู ุงูููู ุนููููููู ูุณููููู : โู ููู ููุงูู ูููู ุฐูุจูุญู ููุฐูุจูุญูููุ ููุฅูุฐุง ุฃูููููู ูููุงูู ุฐูู ุงูุญูุฌููุฉุ ูููุง ููุฃูุฎูุฐูููู ู ููู ุดูุนูุฑู ูููุง ู ูู ุฃูุธูููุงุฑูู ุดูููุฆุงู ุญูุชููู ููุถูุญูููู โุฑููุงูู ู ูุณูููู Dari Ummu Salamah radhiyallahu โanha berkata: Rasulullah Shallallahu โalayhi wa Sallam bersabda: โBarangsiapa yang memilihi sembelihan yang akan disembelihnya, maka jika sudah masuk hilal Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun sehingga ia menyembelihโ HR. Muslim. Jika membaca hadits seperti ini dengan lafadz yang mengandung penekakanan โjangan sekali-kaliโ yang di dalam ilmu nahwu โnunโ pada lafdz โtaโkhudzannaโ dinamakan โnun taukidโ nun yang berfungsi memberikan penekanan pada kata kerja, pembaca yang awam tentu akan segera mengambil kesimpulan hukum โharamโ dari larangan dalam matan hadits dengan berdasar hadits yang shahih. Dan bisa jadi tidak ingin ketinggalan kesempatan ia akan segera memberikan peringatan dan berdakwah ke sanak saudara dan sahabat yang akan berqurban dengan niat yang tulus ingin mencegah kemunkaran. Hadits di atas ada di dalam shahih Muslim, hadits yang terkenal, bahkan di banyak pesantren di Indonesia kitab shahih Muslim juga dikaji sampai tuntas, tidak hanya itu, hadits ini juga dimuat di dalam kitab โRiyadhus Shalihinโ yang hampir seluruh pesantren tradisional maupun modern di Indonesia mengaji kitab ini, di samping itu ibadah qurban di hari raya โidul Adha sudah ada ratusan tahun di semua negara Islam, namun mengapa hukum larangan memotong rambut dan kuku nyaris tidak terdengar? Pertanyaan yang sangat wajar dan tentu ada sesuatu yang menyebabkan hukum tersebut kurang popular, meskipun termuat di dalam kitab hadits yang shahih sekelas shahih Muslim. Hadits ini bisa dijadikan pelajaran berharga, untuk menyikapi banyak lagi hadits lainnya yang berkaitan dengan hukum, bahwa tidak semua lafadz-lafadz lahiriah (dzahiriah) sebuah hadits bisa langsung dijadikan dalil hukum, para ulamaโ hadits selalu mengaitkan dengan dilalah (maksud) lafadz tersebut dan di samping itu juga dicari dalil-dalil pembanding, sebab bisa jadi ada taโarudh (kontradiksi) dengan dalil yang lain sebagai bahan untuk jamโ (mengkompromikan) atau men-tarjih (memilih yang kuat) dari sekian banyak dalil, tanpa proses tersebut dipastikan seseorang yang membaca dalil hukum dari teks al-Qurโan ataupun Sunnah akan terjebak dalam kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan. Kembali ke hadits Ummu Salamah di atas, derajat hukumnya dipastikan shahih, namun bukan berarti jika hadits yang shahih kemudian dilalahnya (maksudnya) menjadi qathโi (pasti dengan satu arti), nash di dalam al-Qurโan ataupun hadits yang mutawatir dan shahih, maksud dan kandungannya memiliki dua sisi, ada yang qathโi (pasti) dan ada yang dhanni (relatif). Hadits ini, meskipun lafadz dzahirnya ada penekanan kuat, โjangan sekali-kaliโ, namun para ulamaโ tidak kemudian membiarkan arti ini dilanjutkan ke ranah hukum tanpa proses, namun ada sekian banyak pertimbangan sebelum mengambil kesimpulan, di antaranya: Ada beberapa riwayat dari โAisyah radhiyallahu โanha yang dimuat oleh Imam al-Bukhari di dalam shahihnya dan juga di muat oleh imam-imam muhadditsin lainnya, menerangkan bahwa Rasulullah saw mengirimkan hadyu (hewan sembelihan) melalui Abu Bakar yang mana hadyu tersebut dikirimkan ke Baitullah, dan Nabi saw masih muqim di Madinah, Nabi saw tidak mengharamkan apapun sebagaimana pantangan yang dihindari oleh orang yang sedang berihram. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Aisyah, istri dan sahabat yang paling mengetahui seluk beluk Nabi saw di rumahnya, oleh karenanya Imam as-Syafiโi berkomentar: โDan mengirimkan hadyu (hewan qurban) lebih dari sekedar ingin berqurban, maka ini menjadi dalil bahwa hal itu (memotong rambut dan kuku) tidak diharamkanโ. Abu al-Walid al-Baji mengatakan: โUcapan Aisyah: โKemudian Nabi saw mengirimkan hewan qurbannya melalui ayahkuโ, (dengan menyebut melalui ayahku) ia sebenarnya ingin menerangkan bahwa Nabi saw melakukan itu semua pada tahun ke 9 H, juga ingin memberitahukan bahwa beliau mengerti semua permasalahnnyaโ. Artinya, perbuatan Nabi saw dengan tidak meninggalkan pantangan apapun sebelum berqurban terjadi di akhir hayat beliau, sebab pada tahun berikutnya beliau naik haji. Hal ini menunjukkan bahwa hadits Aisyah hukumnya tetap, tidak dimansukh (tidak dihapuskan). Di samping itu riwayat Aisyah ini demikian masyhur di kalangan sahabat dan tabiโin bahkan kemasyhuran riwayat ini sampai pada kelas mutawatir, berbeda dengan riwayat Ummu Salamah, oleh karenanya al-Imam al-Laith bin Saโd ketika disampaikan kepada beliau tentang hadits Ummu Salamah ra beliau berkata: โ(Hadits) ini telah diriwayatkan, namun orang-orang melakukan selain yang terkandung dalam hadits iniโ. Imam al-Laits sepertinya ingin berkesimpulan, meskipun hadits ini shahih tapi orang-orang mengamalkan hadits shahih yang lain. Menunjukkan maksud dan kandungan hadits Ummu Salamah kurang kuat jika dibandingkan dengan riwayat-riwayat yang lainnya, dan bahkan banyak ulamaโ muhadditsin yang tidak mengamalkan isi kandungan hadits Ummu Salamah. Di sudut lain ada juga ulamaโ tabiโin yang menggunakan qiyas, โIkrimah murid dan mantan hamba Ibnu Abbas yang juga ulama besar Makkah ini ketika disampaikan kepada beliau hadits Ummu Salamah, beliau mengakatan: โTidaklah sebaiknya orang itu meninggalkan berhubungan badan dan wewangianโ. Maksudnya, jika memotong kuku dan rambut dilarang tentu berhubungan badan harus dilarang juga, sebab lebih berat. Qiyas ini diperkuat lagi oleh Ibnu โAbdil Barr, tokoh penting madhab Maliki, beliau berkata: โSemua ulamaโ telah berijmaโ (konsensus), bahwa berhubungan badan di sepuluh awal Dzul Hijjah bagi yang ingin berqurban diperbolehkan, maka yang kurang dari itu hukumnya mubahโ. Logika Ibnu Abdil Barr juga sangat relevan, dari sekian banyak pantangan ihram, berhubungan badan tidak sebanding dengan memotong rambut dan kuku. Adapun yang berpendapat bahwa larangan tetap berlaku dengan mendasarkan kepada hadits Ummu Salamah, mereka menyikapinya sebagai berikut: Pertama, teks dzahir dari hadits Ummu Salamah berpendapat bahwa hadits Aisyah sangat umum sedangkan hadits Ummu Salamah untuk peristiwa yang khusus, sesuai dengan kaidah yang khusus harus didahulukan dari pada yang umum. Hadits โAisyah menerangkan perbuatan Nabi saw, sedangkan hadits Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi saw, dan dalam istinbath hukum dari hadits, ucapan Nabi saw lebih didahulukan daripada perbuatannya, sebab boleh jadi perbuatannya hanya khusus untuk beliau. Imam Ahmad yang berpendapat haramnya mencukur rambut dan memotong kuku membedakan hukum bagi orang yang berqurban dengan mengirimkan ke Makkah dan tetap tinggal di rumahnya dan orang yang berniat ingin menyembelih. Meskipun alasan ini sudah terjawab dengan komentar Imam as-Syafiโi di atas. Dari metode istinbath yang berbeda-beda ini maka kesimpulan hukumnya juga berbeda, inilah yang disebut ijtihad ulamaโ dalam memutuskan hukum, meskipun sudah ada nash, ijtihad dalam persoalan ini tetap diperlukan sebab meskipun ada nash agama, namun dalilnya bukan dalil yang qathโi, sehingga maksud dari isi kandungannya masih multi tafsir. Oleh karenanya para ulamaโ berbeda dalam memutuskan hukum memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban jika hilal bulan Dzul Hijjah sudah terlihat, minimal ada empat pendapat: 1. Abu Hanifah dan jumhur Hanafiyyah: Hukumnya boleh, tidak makruh dan tidak ada masalah apapun. 2. Pengikut Abu Hanifah yang mutaโakkhirin: Tidak apa-apa, tidak makruh namun khilaful aula (meninggalkan yang mustahabb). 3. Al-Malikiyyah dan As-Syafiโiyyah: Disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan tidak memotong kuku bagi yang hendak berqurban dan jika memotongnya termasuk makruh tanzih, namun bukan haram. 4. Imam Ahmad, Dawud ad-Dzahiri dan beberapa ulama lain menyatakan hukumnya haram jika memotong rambut dan kuku. Dari paparan di atas, yang menyatakan hukumnya haram sangat sedikit, bahkan dari ulamaโ madzhab hanya Imam Ahmad yang bersikukuh hukumnya haram, adapun jumhur ulamaโ madzhab lebih cenderung memutuskan hukumnya adalah makruh, bahkan makruh karahah tanzih, yang berarti seyogyanya tidak dilakukan. Pelajaran penting dari hadits ini Terlepas dari pilihan-pilihan hukum yang sudah matang dan dikaji dengan mendalam oleh para ulamaโ hadits dan juga fuqahaโ dan diskusinya sudah dibahas tuntas di dalam kitab-kitab fiqih dan syarah-syarah hadits, ada pelajaran penting dari hadits ini: 1. Memahami teks agama tanpa bimbingan ulamaโ adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Belajar sendiri dari nash-nash al-Qurโan dan hadits tanpa merujuk ke tafsir dan syarah-syarah hadits adalah tindakan yang sangat gegabah. 2. Nash al-Qurโan dan nash hadits-hadits Nabi yang berupa larangan, belum tentu kesimpulan hukumnya adalah haram. Sebab kata larangan memiliki indikasi makna yang bermacam-macam, untuk mengetahui hal ini, seseorang perlu mempelajadi dilalatul alfadz di dalam disiplin ilmu ushul fiqih. 3. Tidak semua nash dalam al-Qurโan dan hadits mengandung maksud qathโi (hukumnya pasti, tidak menerima perbedaan), namun kebanyakan nash dalah dhanni (relatif). 4. Para salafusshalih, dalam hal ini para sahabat dan tabiโin juga terbiasa berbeda dalam masalah ijtihadiyyah. Hal ini bisa dilihat dari sikap para tabiโin yang melaporkan persoalannya kepada Aisyah ra juga sikap para ulamaโ tabiโin dalam menyikapi hadits Ummu Salamah ra. 5. Pilihan hukum tertentu dari masalah-masalah khilafiyyah tidak boleh mengganggu muslim yang lain yang berbeda pilihan. Bahkan tidak diperlukan amar maโruf dan nahi munkar dalam persoalan seperti ini. Sebab semuanya berdasarkan dalil yang sama-sama dianggap kuat. 6. Hadits ini hanya satu dari beratus-ratus hukum yang di dalamnya terjadi khilaf di kalangan ulamaโ, sehingga semakin luas wacana berpikir seseorang dalam dalil-dalil agama, maka akan semakin berlapang dada dalam menyikapi persoalan umat. 7. Merasa paling di atas sunnah hanya dengan berpihak pada satu pilihan hukum yang dhanni tanpa toleransi akan memicu perselisihan di antara umat Islam. 8. Ilmu agama demikian luas, dalil agama juga demikian banyak, akan sangat berbahaya jika hanya berpegang kepada satu dan dua dalil dan tidak mau mencari yang lain dan menutup hati dari kaluasan ilmu yang tak berbatas. 9. Terkadang seseorang sudah merasa paling benar dalam pilihan hukum di satu masa, namun lambat laun seiring dengan berkembangnya wawasan keagamaan, maka dada juga akan semakin luas untuk menerima perbedaan yang dalam ranah khilafiyyah yang muโtabar. 10. Masalah ijtihadiyyah seperti di atas bukanlah tolok ukur al-haqq dan al-bathil, namun ranahnya adalah al-shawab (benar) dan al-khathaโ (salah), yang berijtihad dan benar akan mendapat dua pahala dan yang berijtihad dan tersalah tetap mendapatkan satu pahala. Wallahu aโlam, Alfaqir ilallah, Dr. Muntaha
Dosen Fiqh International Islamic University Malaysia
#ilmu #artikel
















