Lagi liatin suami tidur, sambil dalem hati mengucap syukur berkali2 karna tuhan jadikan dia jodohku. Alhamdulillah terimakasih ya Allah
Sade Olutola
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
dirt enthusiast
Cosmic Funnies
cherry valley forever

★

No title available

blake kathryn

No title available
Peter Solarz
he wasn't even looking at me and he found me
🪼

PR's Tumblrdome
DEAR READER
No title available

pixel skylines
taylor price

oozey mess
Jules of Nature
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Lithuania

seen from Uzbekistan
seen from Bangladesh
seen from United Kingdom
seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from Vietnam

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Russia
seen from Türkiye
@journalsoflife
Lagi liatin suami tidur, sambil dalem hati mengucap syukur berkali2 karna tuhan jadikan dia jodohku. Alhamdulillah terimakasih ya Allah
Alhamdulillah terimakasih ya Allah, aku dicintai sebesar ini 🥺♥️
saya, si istri berpendidikan lebih tinggi. (terus kenapa?)
Apa benar istri berpendidikan lebih tinggi membuat minder suami?
Saya ingat ketika papasan dengan seorang psikolog senior. Beliau pernah menulis soal status kontroversial tentang perempuan yang meraih gelar S3 sebelum menikah.
By default, kata beliau, para perempuan S3 ini juga secara sadar maupun tak sadar punya standar tertentu. Ini yang bikin sulit, kata beliau.
Dan, secara fakta, perempuan-perempuan S3 ini datang pada beliau. Menyesal karena proses pencarian suami menjadi lebih sulit. Ada semacam gap atau minder dari si lelaki.
Di hari yang sama, kemudian saya bertemu dengan calon suami. Kami memutuskan untuk menikah dua bulan kemudian. Saya, saat itu tengah menyelesaikan studi S2. Suami saya sedang sibuk berkiprah menjadi pekerja sosial, dengan titel S1.
Kemudian beberapa bulan kemudian saya meraih gelar master. Suami saya belum berkuliah lagi.
Kemudian saya berkeinginan ambil S3. Respon suami saya? Mendukung! Bahkan ia lebih senang saya S3 kemudian jadi dosen ketimbang tok jadi wirausaha.
Mengapa?
Sepanjang perjalanan rumah tangga kami, saya tidak pernah merasa titel pendidikan saya yang secara permukaan lebih tinggi — menjadi legitimasi kalau saya lebih wow ketimbang suami saya.
Suami saya juga sadar betul akan hal itu. Di matanya, mungkin saya pintar, tapi saya juga rapuh, dan memang saya menyediakan kerapuhan saya untuk ia lengkapi. Seperti ia rela berbagi kerapuhannya untuk saya lengkapi. Saling berbagi kerapuhan untuk diisi, justru akan saling menguatkan bukan?
Dalam konteks hubungan pertemanan, senior-junior, ataupun rumah tangga — saya lebih suka memperlakukan rekan saya sebagai rekan setara. Kendati ia tukang cilok sekalipun. Atau adik saya sendiri. Mindset yang saya selalu camkan pada diri: Mereka pasti punya apa yang saya tak punya, seperti saya punya apa yang mereka tidak punya.
Saya memang bergelar S2. Beliau S1, tapi beliau sangat familiar dengan realita masyarakat (saya kurang begitu terjun). Saya perasa. Ia taktis dan logis. Saya pintar bikin nasi goreng. Ia pintar bikin steak. Rank Mobile Legendnya sudah sampai Mytic. Saya mentok di Grandmaster (itu juga dijokiin suami). Hahaa.
Saya jadi ingat, ketika Ustman bin Affan menikahi Nailah binti al-Farafishah yang dikenal cerdas. Ustman tidak malu dan minder. Justru senang memiliki istri yang dapat memberikan sumbangsih terhadap cara pandangnya.
Hal ini membuat saya berpikir, bahwa benar bahwa perempuan berpotensi sebagai ‘fitnah’ (ujian) bagi laki-laki. Ya, adakalanya ‘fitnah’ tersebut bersumber dari perempuannya (pakaiannya, gerak-geriknya, aksinya).
Tapi bisa jadi, ‘fitnah’ tersebut ialah sempitnya perspektif laki-laki terhadap perempuan, sehingga mereka memandang dan memperlakukan perempuan secara salah.
Beruntung suami saya, dan Ustman bin Affan — dapat lolos dari ‘fitnah’ perspektif terhadap perempuan. Semoga banyak lelaki di luaran sana yang dapat berpikiran holistik mengenai kiprah perempuan dalam bingkai keimanan, ya!***
Ilustrasi dari ballandus.wordpress.com
Keluarga yang solutif, kerabat yang solutif, teman yang solutif, sampai kenalan baru yang solutif itu menentramkan.
Jadi memang yang solutif itu yang dicari. Karena hidup sendiri, tidak pernah cukup.
Tentu di sisi lain jangan pernah lupa, Tuhan lah tempat terbaik dalam meminta solusi.
@faramuthiaa
Bogor, 23 Agustus 2020 || 00.48 wib
“Jangan sampai suatu saat nanti kalau kita sudah memiliki anak, untuk masalah ngaji, yang ngajarin bismillah dan fatihah orang lain. Tapi harus kita sendiri sebagai orang tuanya.”
—
Setidaknya, setiap mereka membaca bismillah dan fatihah sejak masih kecil sampai dewasa bahkan sampai nafas diambil, kita yang dapat aliran pahalanya terus menerus tanpa putus. Meskipun kita sudah meninggal. Pahala itu akan mengalir bak sungai yang tak pernah kering. Kita tidak pernah tau bukan, jika ternyata amalan-amalan kita yang kurang, dibantu dengan amalan-amalan anak (sholih/sholihah) kita, yang telah kita ajarkan kepada mereka?
Makanya. Ngaji yang sungguh-sungguh. Biar enggak rugi. Biar enggak menyesali masa depan.
catatan penting untuk kehadiran kakak Al.
Hidup sendiri tidak cukup.
Maknailah setiap pertemuan, dengan siapapun itu.
Dan keluarga, tentu adalah tempat terbaik untuk berpulang.
Apapun bentuknya, meski hanya daring ataupun bertatap muka langsung, ciptakanlah kebersamaan.
Merantaulah, agar tau dimana sebenar-benarnya tempat berpulang.
Meski terhalang jarak, perantau yang baik tidak akan kehabisan cara untuk tetap melihat keadaan keluarganya.
Secara langsung, maupun tidak langsung.
Dimanapun kita berada, jangan lupa berkabar dan mengirim doa. Untuk mereka yang tak pernah henti mendoakan.
Sudah saling berkabarkah hari ini?
@faramuthiaa
Bogor, 20 Agustus 2020 || 22.13 wib
Masih ga percaya sama apa yang udah ane lewatin di beberapa bulan terakhir. But, it happened in my life and make me more happy. So, bismillah mari kita mulai proses selanjutnya.
Semoga selalu bahagia, seperti ini, selamanya.
Gagal dapet Univ. Terbaik (?)
Terlalu sibuk mengejar yang terbaik, kadang bikin kita lupa arti terbaik itu sendiri Padahal, kita tau, terbaik menurut kita belum tentu terbaik dalam pandanganNya
Tempat terbaik kadang tak selalu bergengsi, tapi yang mampu buatmu tumbuh
Berada di lingkungan luar biasa, lalu tumbuh jadi luar biasa, itu biasa
Tapi berada di lingkungan yang biasa, lalu mampu tumbuh jadi luar biasa, ini baru hal yang tak biasa Bloom where ever you are planted
©Quraners
Jangan suka iri dengan kebahagiaan orang lain. Nikmati saja perjalanan hidupmu.
Allah bless us in different ways 🤍
“Kalau rasanya gak tenang, mungkin tanda tawakal kita yang kurang. Terlalu jauh ikutan mikir, dengan apa yang tertulis di dalam takdir.”
— ©Quraners
09-08-2020
Im so happy to be yours ♥️
Untuk Sahabatku yang Bahagia,
Rasa-rasanya bentuk ucapan yang populer lewat IG story bukan wadah yang cocok buat aku hari ini. Terlalu banyak euy yang mau disampein. Ray, selamat ya atas pertunanganmu hari ini. Dengan orang yang belum sepenuhnya aku kenal, tapi sudah aku yakini pilihanmu yang terbaik. Melihat untuk pertama kalinya wajah laki-laki yang kamu pilih di hari pertunangan kamu, dengan jarak memisahkan antara Sumatra dan Jawa, ada rasa sesal dan sedih. Tapi penuh dengan bahagia. Aku ga berhenti degdegan sejak dua hari yang lalu. Udah mulai sakit perut kaya mau ujian padahal engga. Aku kira mau dapet tapi terlalu jauh dari jadwal menstruasi. Iya, aku degdegan menghadapi hari ini.
13 tahun kalau kita itung dari semenjak masuk DA, temenan udah jorok banget. Segala macem perasaan udah kaya masuk tong sampah. Euforia masa muda yang penuh keculunan, seolah idup cuman buat ketawa. Sedihnya dan galaunya ketika pertama kali kita belajar patah hati. Gamang ketika dituntut untuk dewasa dan profesional saat bekerja. Perasaan-perasaan yang remeh temeh udah kita lalui kurang lebih 13 tahun ini. Aku gamau nulis sesuatu yang rasanya seperti perpisahan dan rasa kehilangan. Tapi aku selalu ingin jujur. Memang khawatir dan sedih berpikir akan berpisah jauh. Tapi perasaan itu juga kalah saat melihat dan mendengar betapa bahagianya kamu dengan semua proses yang serba cepet ini. Lalu aku berpikir kamu akan baik-baik saja. Kamu akan selalu baik-baik saja. Dijaga seseorang yang terbaik.
Selamat ya Roy, tunggu aku pulang di hari pernikahan kamu.
Salam rindu, selalu
Win 🥺🥺🥺
balas dengan doa
pesan ayah, apa pun yang diucapkan oleh orang lain kepada kita, balas dengan doa.
kalau ada orang yang memberikan kebaikan kepada kita, balas dengan doa. doakan agar Allah melipatgandakan pahala kebaikannya.
kalau ada orang yang ngomongin kita karena keadaan kita, balas dengan doa. semoga keadaan yang sama tidak menimpa dirinya sehingga dirinya tidak perlu mengalami yang kita alami.
"kok mukanya jerawatan? jarang cuci muka ya?"
"ya Allah, semoga dia nggak perlu ngalami muka jerawatan."
"kok anaknya kurus banget?"
"ya Allah, semoga dia kalau punya anak, anaknya nggak kurus."
"emangnya nggak sayang apa, udah sekolah malah nggak kerja."
"ya Allah, semoga dia nggak perlu pusing antara bekerja dan menjadi ibu rumah tangga."
"perasaan gajimu banyak. kok habis terus?"
"ya Allah, semoga dia nggak perlu ngalami menanggung beban keluarga besar."
membalas dengan doa, kata ayah, artinya memaafkan. memang sih tidak akan mudah di awal, tapi kalau sudah dipraktikkan, diri sendiri yang menjadi lega. tidak perlu menyimpan rasa kesal, rasa iri, apalagi rasa dendam. lebih dari itu, kita justru mendoakan kebaikan--yang semoga memantul kepada diri kita.
malam ini, kalau masih ada kata-kata siapa pun yang pernah menyakiti hatimu (dan belum kamu maafkan), ayo kirimi dia doa.
untukmu, yang punya jiwa ksatria, terima kasih telah menjaga hatimu dengan memaafkan kata-kata itu. oh ya, jangan lupa melupakannya juga. maafkan dan lupakan.
Sebenarnya, dunia bukan tempat buat ngejar kesenangan.
Nikmati sekedarnya, tunda yang sia-sia dan bikin terlena.
©Quraners
Tentang waktu dan kesempatan yang selalu penuh misteri.
Keluarga adalah harta terindah, begitupun waktu. Setiap orang pasti memiliki keluarga, tapi tak semua orang bisa mendapatkan waktu kebersamaan yang maksimal.
Ada yang sempat memiliki waktu, tapi kini kandas dan kesempatan untuk bersama itu berakhir.
Ada yang sedari awal tidak mendapat kesempatan untuk bersama di dunia, namun ia mencarinya dalam do'a.
Pada akhirnya, kebersamaan keluarga hanyalah soal memanfaatkan waktu dan kesempatan.
Entah bagaimana bentuknya, di dunia maupun hanya dalam do'a, saat ini atau dulu, langsung maupun tidak langsung, kita semua tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kebersamaan itu.
Sekali ada peluang, jangan lewatkan.
Belum ada peluang, usahakan.
Sudah habis peluang, tak mengapa, ada jalur kebersamaan lain dalam do'a.
Maka, dengan jenis kebersamaan apapun itu, jangan pernah menjauh dari keluarga. Selagi kita masih diberi waktu untuk menyusuri perjalanan hidup.
@faramuthiaa
Merak, 29 Juli 2020
Cerpen : Siang yang Penat dan Malam yang Sendirian
Masalah-masalah yang kita hadapi, sejatinya hanya kita hadapi sendiri. Semua orang yang ada disekitar kita, mereka tidak benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Meski, harus kita akui. Kehadirannya setidaknya membuat kita merasa tenang karena bisa bercerita.
Setelah kita berpisah dengan mereka, pulang ke rumah, menemukan kembali masalah-masalah yang berisik, berteriak di setiap sisi dinding, dari setiap sudut lantai. Aku segera berlari ke kamar, membanting pintu, menutup telingaku dengan bantal. Bahkan, saat malam yang harusnya aku bisa tidur dengan tenang. Pintu kamarku tak mampu menghalangi kebisingan itu, menembus pikiranku yang hendak tidur. Membuat mimpiku menjadi buruk, tidur yang gelisah.
“Kamu kapan nikah, udah mau 30 tahun lho, keburu ketuaan!” “Ngapain sih kerja mulu, ga kasihan apa sama anakmu?” “Kamu keasyikan kerja sih, kecapekan, makanya ga hamil-hamil.” “Ku kasih tahu nih gaya-gaya yang bisa dipakai, biar cepet hamil kayak aku.” “Kenapa ga nyicil rumah aja, daripada ngontrak mulu.” “Ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga didapur, nanti pada jiper tu cowok-cowok.” “Eh, jadi perempuan itu harus pinter biar bisa jadi madrasah buat anak-anak.” Lah tadi katanya ga boleh sekolah tinggi-tinggi?
* * * * * Aku ingin tidur nyenyak sekali saja, boleh? ©kurniawangunadi | yogyakarta, 24 juli 2020
Tidak ada tempat dimana kita bisa benar-benar egois kecuali di dalam doa
@syazzahra