Kuliah 2: Memahami Karakter Anak ala Rasulullah
โPendidikan yang keras dan kasar hanya akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menumbuhkan kemalasan dan karakter dusta, sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan sikap licik. Jika hal ini menjadi kebiasaan dan akhlaknya, niscaya rusaklah nilai kemanusiaannya.โ
โ Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah
Bismillaahirrahmanirrahimโฆ
Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Kuliah 1. In syaa Allaah akan ditulis berkesinambungan. Semoga bermanfaat. :)
Pada dasarnya, metode Nabawiyah menekankan aspek dasar pendidikan adalah dengan kelembutan. Meski demikian, pendidikan Nabawiyah pun tidak menafikan adanya hukuman, bahkan dengan pukulan. Hal ini agaknya berseberangan dengan teori psikologi Barat yang bahkan โmengharamkanโ mengucapkan kata โjanganโ pada anak-anak. Padahal Al-Qurโan telah berkali-kali merangkumkan kalimat larangan dan penegasan yang diawali dengan kata โjanganโ.
Namun, penetapan hukuman dalam pendidikan pun harus dilakukan dengan tahapan. Jelas tidak dapat dibenarkan ketika ada anak yang berbuat salah, kemudian tanpa tedheng aling-aling sang guru maupun orangtua memukulnya dengan dalih mengikuti sunnah Rasul. Jelas tidak dapat dibenarkan menghukum dengan keras tanpa mempertimbangkan karakter anak maupun tingkat kesalahannya. (Tentang tahapan menghukum ini, in syaa Allaah akan saya ringkaskan pada artikel selanjutnya).
Pada artikel ini, in syaa Allaah pembahasannya mengerucut pada cara Rasulullah dalam memahami karakter anak. Rasulullah adalah suri teladan final dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya begitu terkesima ketika mendengar kisah-kisah Rasulullah yang begitu lembut ketika membersamai anak-anak. Sungguh, beliau adalah seorang panglima dan punggawa di medan perang, namun di sisi lain, beliau pun telah menjadi pemenang di hati seluruh umat manusia. Maa syaa Allaah. Shalaatu wassalaam โalayk yaa Rasulullaahโฆ :โ)
Setidaknya ada 5 hal yang perlu kita perhatikan, sebagai orangtua, calon orangtua, maupun orang yang menggeluti dunia anak-anak; para pendidik misalnya.
Pernah dengar kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya saat Hasan atau Husein sedang asyik menaiki punggung beliau? Kemudian ketika para shahabat bertanya mengapa sujud beliau lebih lama dari biasanya, apa jawaban beliau?
โSesungguhnya tadi cucuku sedang menaiki punggungku. Aku hanya tak ingin mengganggunya hingga mereka puas melakukan itu.โ
Bagaimana? Terkesima? Sabar dulu. Itu baru contoh pertama di poin pertama. :)
2. Memeluk dan mencium anak
Rasulullah, sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, tentu saja beliau adalah orang yang dianugerahi kecerdasan dan keluasan ilmu yang luar biasa. Namun, di hadapan anak-anak, beliau tak pernah merasa โjaimโ untuk โmenurunkan derajatโ keilmuannya itu. Beliau tak pernah jaim untuk berbaur bersama anak-anak. Beliau tak pernah bermuka masam kepada anak-anak. Beliau tak pelit dalam menyatakan rasa sayang. Bahkan beliau adalah orang yang paling murah dalam mengulurkan tangannya untuk menggendong, memeluk, atau sekadar mengelus kepala anak-anak.
Saya kutipkan sebuah hadits berisi cuplikan kisah yang dibawa oleh Anas bin Malik, asisten kesayangan sekaligus orang kepercayaan Rasulullah.
โAku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak daripada Rasulullah shallallaahu โalayhi wasallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Nabi pun berangkat (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap, karena suami ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabi pun segera mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali.โ (HR. Muslim)
Atau dalam kisah yang lain, Rasulullah di tengah kesibukannya dalam tugas kenabian ternyata sempat meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Usamah bin Zaid pernah bercerita, โRasulullah pernah mendudukkanku di satu pahanya dan mendudukkan Hasan di paha yang satunya. Kemudian beliau merangkul kami berdua sambil berdoa,
โYa Allah cintailah keduanya, sungguh aku mencintai mereka berdua.โ (HR. Bukhari)
3. Melayani imajinasi anak
Pikiran anak-anak ibarat lemari yang berisi segudang imajinasi. Ada sebuah kisah menarik lainnya yang kali ini terjadi antara Rasulullah dan salah seorang istri tercintanya; Ummul Mukminin โAisyah radhiyallahu โanha. Kisah ini diceritakan oleh โAisyah sendiri.
โRasulullah shallallahu โalaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar โAisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka โAisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, โWahai โAisyah, apa ini?โ โAisyah menjawab, โItu mainan bonekaku.โ
Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, โLalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?โ โAisyah menjawab, โBoneka kuda.โ Beliau bertanya lagi, โLalu yang ada di bagian atasnya itu apa?โ โAisyah menjawab, โDua sayap.โ Beliau bertanya lagi, โKuda mempunyai dua sayap?โ
โAisyah menjawab, โTidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?โ โAisyah berkata, โBeliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.โ (HR. Abu Daud)
Lihat, bagaimana Rasulullah menanggapi imajinasi โAisyah yang kala itu masih berusia belia. โAisyah berimajinasi bahwa boneka kuda memiliki sayap (dalam siroh dijelaskan bahwa imajinasi ini ternyata dibenarkan dengan dalil bahwa kuda Nabi Sulaiman memang memiliki sayap). Beliau mendengarkannya dengan seksama, bahkan menimpalinya dengan tawa. Tak sedikitpun mematahkannya.
4. Jangan pernah berbohong pada anak
Rasulullah telah mengajarkan bahwa ternyata memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersebut dinilai sebagai sebuah kedustaan, dan itu dilarang. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir radhiyallahu โanhu.
โRasulullah shallallahu โalayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Ibuku pun memanggilku, โHai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. Kemudian, Rasulullah bertanya, โApakah kamu benar-benar ingin memberinya sesuatu?โ
Ibuku menjawab, โAku akan memberinya kurma.โ
Rasulullah pun bersabda, โJika saja kamu tidak memberinya apa-apa, niscaya dicatat atasmu perbuatan dusta.โ (HR. Abu Daud).
5. Menjaga lisan terhadap anak
Termasuk bentuk menjaga lisan terhadap anak adalah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak menggunakan bahasa โalayโ, dan lebih baik menggunakan bahasa baku. Sebab Rasulullah telah menjadi teladan bagi kita sebagai seorang yang memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik.
(Materi ini disampaikan oleh Ust. Galan Sandy; Manajer Kuttab Al-Fatih)
Sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan disebarkan. Allaahu aโlam. :)